
Fani meraih ponselnya yang dari tadi berdenting. Ada banyak pesan masuk. Matanya hanya tertuju pada dua nama yaitu Andry dan Al. Kali ini Fani memilih untuk membalas pesan dari Andry terlebih dahulu. Ada tiga pesan yang membuat dahi Fani mengerut dan disusul dengan matanya yang membulat sempurna. Pesan yang mengejutkan, kemaren tiba-tiba mengajak makan siang dan sekarang malah ngajak kesekolah bareng.
" Hai Fan, udah lama gak ada kabar. Kamu baik-baik aja kan? "
" Oh iya, karena udah lama gak ketemu gimana kalau besok aku jemput kamu. Kita kesekolah bareng, gimana?"
" Itu sih kalau kamu mau. Biar lebih akrab sih. Kan katanya tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta makan ta'aruf hehehe."
Tiga pesan yang cukup memporak poranda kan benteng hati Fani yang tipis. Antara geli dan jijik, itulah yang dirasakan oleh Fani saat membaca pesan itu.
" Ihhh. Naj*s deh. Kemaren ngajak makan bareng, sekarang malah ngajak ke sekolah bareng. Kenapa sih kok jadi dia yang ngejar-ngejar gue." Gumamnya sambil menyisir rambutnya itu. Terus berfikir kenapa Andry sangat pasrah menyerahkan diri pada Fani.
Kenapa karma datangnya cepat banget sih. Gue cuma mau kontaknya, bukan sama orang nya juga.
Fani sudah 10 menit memikirkan jawaban dari pesan Andry. Takut jika menolak dengan bahasa yang kurang baik nanti karma nya double, pikirnya.
" Maaf kak, aku setiap hari biasanya bareng Sophia temanku. Aku gak bisa berangkat sama orang lain, kecuali Sophianya sedang tak masuk sekolah. Sampai ketemu disekolah kak." Fani menolak kembali ajakan dari mangsa nya sendiri.
Fani menyesal menerima tantangan dari Sophia. Meskipun sebenarnya dia menang, tapi Fani tetap menyesal menerima sesuatu yang membuatnya terjebak dalam permainan nya sendiri.
__ADS_1
" Sop, gue gak suka dia. Tolong dong gue pemenangnya." Fani menggerutu. Sebenarnya Fani ingi mengatakan kepada Sophia jika dia sudah berhasil bertukar kontak dengan Andry. Namun, Fani takut jika nantinya Sophia merasa sedih. Bukan perihal hadiah pertaruhan, namun perihal merasa dunia tak adil. Tak ingin membuat sahabatya sedih, namun Fani yang menderita saat dikejar-kejar oleh mangsanya itu.
Bahkan aku tak perlu mengejar. Ternyata dikejar dari segi perasaan juga bikin capek ya.
Kemudian Fani membalas pesan dari Al dan lainnya. Menghabiskan waktu dengan membalas pesan sambil menunggu senja meningkhianati langitnya. Tak lama masuk sebuah pesan dari Andry.
" Oh gitu ya. Padahal ada yang pengen aku bicarakan sama kamu Fan. Tapi yasudahlah, lain kali aja." Pesan dari Andry.
" Sampai ketemu disekolah ya." Dari Andry lagi. Dengan cepat Fani membalas pesan dari senior sok cool itu. Fani hanya memilih untuk mengabaikan pesan Dari lelaki itu.
Seperti biasa, sekolah akan melakukan upacara bendera setiap hari Senin. Siswa-siswi sudah mulai membuat
barisan di tengah lapangan. Pak guru pun sudah memberi intruksi agar segera berbaris karna upacara akan segera dimulai. Fani dan Sophia berada dibaris paling belakang. Jarak antara kelas Fani dan Andry juga tidak terlalu jauh. Sama-sama dibarisan paling belakang memudahkan Andry untuk melihat Fani, begitupun sebaliknya.
" Sop, gue sebenarnya lagi gak enak badan ni. " Tiba-tiba Fani menyentuh bahu sahabatnya itu.
" Lah kenapa lo disini? Sana di UKS aja. Mumpung upacara baru mulai." Sophia mendorong-dorong pelan tubuuh Fani.
__ADS_1
" Nanti kalau udah gak kuat gue ke UKS kok." Lirih Fani dengan muka yang sudah memucat.
" Lo yakin sanggup berdiri dibawah terik gini Fan." Tanya Sophia meyakinkan.
" Iya gue kuat kok." Ketusnya.
" Yaudah lo kalo udah gak kuat bilang ya." Ucap Sophia.
Andry terus saja memperhatikan Fani yang berada dibarisan paling belakang. Sesekali Andry melemparkan senyum pada Fani. Sama halnya Fani juga mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Dia terperanjak kaget saat mendapati Andry yang berdiri tidak jauh dari nya. Dengan cepat Fani membuang pandangan kearah lain. Tapi lagi-lagi Fani memandang ke arah yang sama, sementara Andry tetap melempar senyum manis pada Fani.
" Ya tuhan ngapain sih dia pake senyum segala." Kembali membuang pandangan kearah lain.
Andry masih saja memperhatikan Fani yang salah tingkah dari tadi. Masih menunggu gadis itu memandangnya dan bersiap untuk melempar senyum termanisnya. Sesekali terkekeh melihat tingkah mangsanya itu.
Mangsaku. Aku siap menerkam mu.
"Ayolah cewe tengil lihat gue lagi dong. Kali ini gue pastiin meleleh deh lo liat senyum manis gue." Batin Andry sambil tersenyum jahat. Namun Fani tak kunjung melihat ke arahnya.
" Apa dia grogi gue senyumin terus dari tadi?." Batin Andry. Dengan pede mengatakan bahwa Fani akan meleleh saat melihat senyuman nya.Sebenarnya Andryhanya mengutip kata-kata dari cewe-cewe yang mengaguminya. Yang mengatakan Andry memiliki garis bibir yang sempurna, Hingga senyumnya terlihat manis sekali.
__ADS_1