
Pesawat yang ditumpangi Al sudah sampai ketujuan. Al dan
penumpang yang lainnya bersiap untuk turun. Al keluar dan menyapa kota yang
sebelumnya tidak pernah dia kunjungi ini, senyumnya mekar ketika membayangkan
sebentar lagi akan bertemu dengan Joo, Fani dan keluarganya. Al bergegas keluar
dari bandara dan mencari taxi yang bisa mengantarkan kealamat rumah Fani. Alamat
yang dikirimkan oleh Joo seminggu yang lalu.
“ Pak bisa antarkan saya kealamat ini?.” Ucapnya kepada
salah satu pengemudi taxi yang ada dibandara. Tangannya menyodorkan ponsel dan
menunjukkan alamat yang diberikan oleh Joo.
“ Bisa nak, masuklah.” Jawab bapak itu setelah melihat
kemana penumpangnya minta diantarkan.
“ Jauh dari sini pak? Kira-kira berapa menit?.” Ucapnya bertanya
kepada supir. Sudah sangat tidak sabar ingin menemui Fani dan keluarganya.
“ Dekat kok nak, hanya sekitar 30 menit saja.” Jawab pengemudi
taxi itu.
“ Oh gitu ya pak.” Lanjutnya mengerti. Senang ketika
mendengar jarak rumah Fani dengan bandara hanya sekitar 30 menit saja, berarti
dalam waktu kurang dari satu jam lagi dia sudah bisa bertemu dan melepas rindu
dengan Fani.
“ Pak boleh antarkan saya ketoko kue?.” Ucapnya setelah lama
tidak mengatakan apa-apa. Teringat jika dirinya harus membeli kue untuk kejutan
ulang tahun Fani.
“ Tentu saja.” Ucap supir yang tampak sangat supel itu.
Taxi yang ditumpangi Al melaju dijalanan, melintasi pusat
kota menuju tempat tujuannya. Sepanjang perjalanan Al menikmati suasana kota
yang bersih dan rindang, tidak melihat sampah dijalanan apalagi tumpukan
sampah. Kota yang ditata dengan baik oleh pemerintahnya, benar-benar rapi dan
bersih.
“ Nyaman sekali ya tidak seperti kotaku.” Gumamnya tersenyum
melihat suasana yang bersih dan rindang.
“ Pasti Fani dan Joo bersyukur pindah kesini. Aku juga kalau
bisa mau deh tinggal disini.” Lanjutnya tidak henti-henti memuji keindahan kota
yang menjadi tempat tinggal Joo dan Fani saat ini.
Taxi yang ditumpangi Al berhenti tepat disebuah toko kue
terkenal, sesuai permintaannya tadi. Al segera keluar dan membeli kue ulang
tahun untuk Fani, melihat dan memilih kue dengan gambar yang lucu. Kali ini Al
memilih kue dengan gambar beruang, pasti Fani suka. Senyummnya terus mekar
__ADS_1
seiring semakin dekatnya dia menuju rumah Fani.
“ Ini mau ditulis atau tidak mas?.” Ucap karyawan toko
tersebut.
“ Tulis saja selamat ulang tahun cantik.” Jawabnya sambil
tersenyum dan segera membayar dikasir.
Al kembali menuju taxi dan meminta sang supir untuk segera
mengantarnya ketempat tujuan. Tidak sabar ingin bertemu dengan orang-orang yang
sudah amat sangat dirindukannya. Sesekali menatap kotak kue dan bag yang berisi
hadiah untuk gadis yang dia sebut cantik itu.
“ Sudah sampai nak.” Ucap supir taxi itu. Tak sadar ternyata
sudah sampai ketempat tujuannya.
“ Benar pak ini alamatnya.” Tanya Al memastikan, takut jika
nantinya salah alamat dan bisa-bisa nyasar nantinya.
“ Benar nak sesuai dengan alamat yang kamu tunjukkan tadi.” Ucap
sang supir meyakinkan jika ini adalah alamat yang sesuai dengan yang tadi
ditunjukkan.
“ Oh gitu ya pak, terimakasih pak.” Jawabnya percaya. Kemudian
merogoh kocek, mengeluarkan selembaran uang berwarna biru dan menyerahkan
kepada supir taxi itu.
Al sudah berdiri didepan sebuah rumah yang tampaknya cukup
rindang. Al menikmati udara segar, udara yang sangat jarang dia dapatkan dikota
tempatnya tinggal. Al mencoba meraih ponselnya, meletakkan semua barang yang
memenuhi kedua tangannya. Mencoba menghubungi Joo dan memastikan jika dia
diantar kealamat yang benar.
“ Hallo Joo, gue udah sampai ni. Benar gak sih ini rumah lo?
Gue kirimin fotonya nih.” Ucapnya kemudian mengirimkan foto rumah yang ada
didepannya itu kepada Joo. Takut jika dia ditinggalkan dialamat yang salah.
“ Itu bener gak? Takut deh gue ditinggal dialamat yang
salah.” Lanjutnya bertanya. Namun karena sudah lama tidak menjaili Al, akhirnya
Joo pun menjahilinya dengan menyebutkan jika itu bukan rumahny dan dia
diturunkan dialamat yang salah.
“ Eh Al lo turun dimana? Itu bukan rumah gue deh, lo dimana
sih?.” Sahutnya dari telpon, menutup mulutnya menahan tawa.
“ Wah sumpah lo Joo? Gue salah alamat? Mati deh gue, gue gak
tau nih gue dimana.” Ucapnya terdengar agak cemas sembari berputar dan menatap
sekelilignya.
“ Tadi gue juga udah ragu, gue tanya lagi tu sam asupir taxi
__ADS_1
tapi katanya ini bener kok alamat yang lo kiirm.” Lanjutnya tampak semakin
cemas. Menatap sekeliling yang hanya ada bangunan-bangunan, tidak tau dimana
dirinya sekarang.
Dari balik jendela Joo terkekeh melihat Al yang masih
berdiri didepan rumahnya. Merasa senang saat melihat Al yang kebingungan dan
cemas karena salah alamat. Berdiri seperti orang **** dengan tas yang
tersandang dipunggung, membawa bag dan beberapa kantong plastik yang entah apa
isinya. Joo terus menakut-nakuti dan menanyakan dimana sebenarnya dia berada,
semakin cemas Al semakin terkekeh Joo tertawa.
“ Gimana Joo, gue gak tau dimana ni yang jelas gue terdampar
didepan rumah yang banyak pohon-pohonnya.” Ucap Al yang masih kebingungan
dimana dirinya berada. Sinar matahari yang terik membakar tubuhnya, keringat
bercucuran membasahi tubuhnya.
“ Ya gue juga gak tau lo dimana bro, kan gue juga baru
beberapa bulan disini.” Jawabnya pura-pura tidak tahu. Terus menjaili Al dari
sebalik jendela, berulang kali terkekeh menatap Al yang berjemur dibawah
matahari. Tidak tega tapi hasratnya untuk menjahili Al lebih besar daripada
rasa kasihannya hingga jadilah Al disambut dengan kejahilan Joo.
****** deh lo Al, siapa suruh lo menghilang kemarin-kemarin. Nah sekarang gue sambut lo dengan kejahilan hahahahaha. Jadi ikan asin deh lo Al, berdiri terus noh dibawah matahari.
“ Etdah Joo jadi gelandangan dong gue. Mana gue udah beli
kue ulang tahun buat Fani lagi. Meleleh
dah ni kue dimakan matahari.” Ucapnya terdengar kesal. Mengingat kue ulang
tahun yang dibelinya bisa saja sewaktu-waktu mencair karena matahari yang
bersinar cerah.
Joo mendadak kaget saat mendengar Al membawa kue ulang
tahun. Menimbang karena ada kue ditangan sahabatnya itu akhirnya Joo memutuskan
untuk menyelesaikan permainannya yang sudah pasti membuat Al kesal. Membuka
pintu rumahnya kemudian berjalan mendekat dan melambaikan tangan kepada Al yang
masih bersantai menikmati cahaya matahari yang membakar tubuhnya.
“ Wei enak banget ya yang lagi berjemur hahahaha.” Ucap Joo
tertawa saat mendekati Al yang masih berdiri dibawah terik matahari.
“ Emang sialan lo ya, lo biarin gue berjemur sampai 10 menit
disini. Gak ada akal banget sih lo Joo.” Ketusnya kesal. Kemudian mengikuti Joo
berjalan dan masuk kedalam rumah yang disana sudah ada seluruh anggota
keluarganya.
“ Gapapa bro, berjemur biar sehat.” Lanjutnya masih tertawa
melihat wajah Al yang memerah dan ditekuk masam. Tidak ada lagi perlawanan dari
__ADS_1
Al karena lelah dan tidak ada lagi tenaga. Apalagi tubuhnya merasa sangat panas
sekali karena sengatan matahari. Hanya diam dan mengikuti langkah Joo.