Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Al Berkunjung (Part2)


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi Al sudah sampai ketujuan. Al dan


penumpang yang lainnya bersiap untuk turun. Al keluar dan menyapa kota yang


sebelumnya tidak pernah dia kunjungi ini, senyumnya mekar ketika membayangkan


sebentar lagi akan bertemu dengan Joo, Fani dan keluarganya. Al bergegas keluar


dari bandara dan mencari taxi yang bisa mengantarkan kealamat rumah Fani. Alamat


yang dikirimkan oleh Joo seminggu yang lalu.


“ Pak bisa antarkan saya kealamat ini?.” Ucapnya kepada


salah satu pengemudi taxi yang ada dibandara. Tangannya menyodorkan ponsel dan


menunjukkan alamat yang diberikan oleh Joo.


“ Bisa nak, masuklah.” Jawab bapak itu setelah melihat


kemana penumpangnya minta diantarkan.


“ Jauh dari sini pak? Kira-kira berapa menit?.” Ucapnya bertanya


kepada supir. Sudah sangat tidak sabar ingin menemui Fani dan keluarganya.


“ Dekat kok nak, hanya sekitar 30 menit saja.” Jawab pengemudi


taxi itu.


“ Oh gitu ya pak.” Lanjutnya mengerti. Senang ketika


mendengar jarak rumah Fani dengan bandara hanya sekitar 30 menit saja, berarti


dalam waktu kurang dari satu jam lagi dia sudah bisa bertemu dan melepas rindu


dengan Fani.


“ Pak boleh antarkan saya ketoko kue?.” Ucapnya setelah lama


tidak mengatakan apa-apa. Teringat jika dirinya harus membeli kue untuk kejutan


ulang tahun Fani.


“ Tentu saja.” Ucap supir yang tampak sangat supel itu.


Taxi yang ditumpangi Al melaju dijalanan, melintasi pusat


kota menuju tempat tujuannya. Sepanjang perjalanan Al menikmati suasana kota


yang bersih dan rindang, tidak melihat sampah dijalanan apalagi tumpukan


sampah. Kota yang ditata dengan baik oleh pemerintahnya, benar-benar rapi dan


bersih.


“ Nyaman sekali ya tidak seperti kotaku.” Gumamnya tersenyum


melihat suasana yang bersih dan rindang.


“ Pasti Fani dan Joo bersyukur pindah kesini. Aku juga kalau


bisa mau deh tinggal disini.” Lanjutnya tidak henti-henti memuji keindahan kota


yang menjadi tempat tinggal Joo dan Fani saat ini.


Taxi yang ditumpangi Al berhenti tepat disebuah toko kue


terkenal, sesuai permintaannya tadi. Al segera keluar dan membeli kue ulang


tahun untuk Fani, melihat dan memilih kue dengan gambar yang lucu. Kali ini Al


memilih kue dengan gambar beruang, pasti Fani suka. Senyummnya terus mekar

__ADS_1


seiring semakin dekatnya dia menuju rumah Fani.


“ Ini mau ditulis atau tidak mas?.” Ucap karyawan toko


tersebut.


“ Tulis saja selamat ulang tahun cantik.” Jawabnya sambil


tersenyum dan segera membayar dikasir.


Al kembali menuju taxi dan meminta sang supir untuk segera


mengantarnya ketempat tujuan. Tidak sabar ingin bertemu dengan orang-orang yang


sudah amat sangat dirindukannya. Sesekali menatap kotak kue dan bag yang berisi


hadiah untuk gadis yang dia sebut cantik itu.


“ Sudah sampai nak.” Ucap supir taxi itu. Tak sadar ternyata


sudah sampai ketempat tujuannya.


“ Benar pak ini alamatnya.” Tanya Al memastikan, takut jika


nantinya salah alamat dan bisa-bisa nyasar nantinya.


“ Benar nak sesuai dengan alamat yang kamu tunjukkan tadi.” Ucap


sang supir meyakinkan jika ini adalah alamat yang sesuai dengan yang tadi


ditunjukkan.


“ Oh gitu ya pak, terimakasih pak.” Jawabnya percaya. Kemudian


merogoh kocek, mengeluarkan selembaran uang berwarna biru dan menyerahkan


kepada supir taxi itu.


Al sudah berdiri didepan sebuah rumah yang tampaknya cukup


rindang. Al menikmati udara segar, udara yang sangat jarang dia dapatkan dikota


tempatnya tinggal. Al mencoba meraih ponselnya, meletakkan semua barang yang


memenuhi kedua tangannya. Mencoba menghubungi Joo dan memastikan jika dia


diantar kealamat yang benar.


“ Hallo Joo, gue udah sampai ni. Benar gak sih ini rumah lo?


Gue kirimin fotonya nih.” Ucapnya kemudian mengirimkan foto rumah yang ada


didepannya itu kepada Joo. Takut jika dia ditinggalkan dialamat yang salah.


“ Itu bener gak? Takut deh gue ditinggal dialamat yang


salah.” Lanjutnya bertanya. Namun karena sudah lama tidak menjaili Al, akhirnya


Joo pun menjahilinya dengan menyebutkan jika itu bukan rumahny dan dia


diturunkan dialamat yang salah.


“ Eh Al lo turun dimana? Itu bukan rumah gue deh, lo dimana


sih?.” Sahutnya dari telpon, menutup mulutnya menahan tawa.


“ Wah sumpah lo Joo? Gue salah alamat? Mati deh gue, gue gak


tau nih gue dimana.” Ucapnya terdengar agak cemas sembari berputar dan menatap


sekelilignya.


“ Tadi gue juga udah ragu, gue tanya lagi tu sam asupir taxi

__ADS_1


tapi katanya ini bener kok alamat yang lo kiirm.” Lanjutnya tampak semakin


cemas. Menatap sekeliling yang hanya ada bangunan-bangunan, tidak tau dimana


dirinya sekarang.


Dari balik jendela Joo terkekeh melihat Al yang masih


berdiri didepan rumahnya. Merasa senang saat melihat Al yang kebingungan dan


cemas karena salah alamat. Berdiri seperti orang **** dengan tas yang


tersandang dipunggung, membawa bag dan beberapa kantong plastik yang entah apa


isinya. Joo terus menakut-nakuti dan menanyakan dimana sebenarnya dia berada,


semakin cemas Al semakin terkekeh Joo tertawa.


“ Gimana Joo, gue gak tau dimana ni yang jelas gue terdampar


didepan rumah yang banyak pohon-pohonnya.” Ucap Al yang masih kebingungan


dimana dirinya berada. Sinar matahari yang terik membakar tubuhnya, keringat


bercucuran membasahi tubuhnya.


“ Ya gue juga gak tau lo dimana bro, kan gue juga baru


beberapa bulan disini.” Jawabnya pura-pura tidak tahu. Terus menjaili Al dari


sebalik jendela, berulang kali terkekeh menatap Al yang berjemur dibawah


matahari. Tidak tega tapi hasratnya untuk menjahili Al lebih besar daripada


rasa kasihannya hingga jadilah Al disambut dengan kejahilan Joo.


****** deh lo Al, siapa suruh lo menghilang kemarin-kemarin. Nah sekarang gue sambut lo dengan kejahilan hahahahaha. Jadi ikan asin deh lo Al, berdiri terus noh dibawah matahari.


“ Etdah Joo jadi gelandangan dong gue. Mana gue udah beli


kue ulang tahun buat Fani  lagi. Meleleh


dah ni kue dimakan matahari.” Ucapnya terdengar kesal. Mengingat kue ulang


tahun yang dibelinya bisa saja sewaktu-waktu mencair karena matahari yang


bersinar cerah.


Joo mendadak kaget saat mendengar Al membawa kue ulang


tahun. Menimbang karena ada kue ditangan sahabatnya itu akhirnya Joo memutuskan


untuk menyelesaikan permainannya yang sudah pasti membuat Al kesal. Membuka


pintu rumahnya kemudian berjalan mendekat dan melambaikan tangan kepada Al yang


masih bersantai menikmati cahaya matahari yang membakar tubuhnya.


“ Wei enak banget ya yang lagi berjemur hahahaha.” Ucap Joo


tertawa saat mendekati Al yang masih berdiri dibawah terik matahari.


“ Emang sialan lo ya, lo biarin gue berjemur sampai 10 menit


disini. Gak ada akal banget sih lo Joo.” Ketusnya kesal. Kemudian mengikuti Joo


berjalan dan masuk kedalam rumah yang disana sudah ada seluruh anggota


keluarganya.


“ Gapapa bro, berjemur biar sehat.” Lanjutnya masih tertawa


melihat wajah Al yang memerah dan ditekuk masam. Tidak ada lagi perlawanan dari

__ADS_1


Al karena lelah dan tidak ada lagi tenaga. Apalagi tubuhnya merasa sangat panas


sekali karena sengatan matahari. Hanya diam dan mengikuti langkah Joo.


__ADS_2