
Sophia terkejut mendengar alarm ponselnya, menatap jam yang ada diposelnya, sudah pukul 8 pagi. Sophia melompat dari ranjang, bergegas meraih handuk dan mengurung diri didalam kamar mandi.
“ Gila, udah jam 8. Bisa-bisanya gue kesiangan, padahal gue setelah alarm jam 6 pagi.” Gumamnya sembari membasahi tubuhnya.
“ Apa karena semalaman gak bisa tidur mikirin gimana rasanya ketemu Fani setelah sekian lama. Gimana sih rasanya baikan lagi sama orang yang udah lama banget musuhan sama kita.”
Setelah 10 menit mengurung diri didalam kamar mandi, Sophia keluar dengan handuk yang melilit ditubuhnya. Mendekati lemari pakaian dan berdiri cukup lama sembari menatap baju-bajunya yang bergelantungan.
“ Hem mau pakai baju yang mana ya? Duh.” Gumam Sophia dengan tangan yang bertengger didagunya, pose orang yang sedang kebingungan.
“ Pakai yang ini cocok gak ya? Eh jangan deh terlalu norak.” Lanjutnya, bertanya kemudian menjawab sendiri.
Cukup lama Sophia menggayang-gayang didepan lemari bajunya, beberapa baju sudah dicobanya, berkali-kali pula Sophia melepaskannya. Tidak cocoklah, kurang oke lah, terlalu alay lah, terlalu simple dan banyak lagi penolakan-penolakannya. Entah kenapa Sophia terlalu ribet kali ini, padahal hanya masalah pakaian dan penampilan. Biasanya jika pergi dengan Fani dia tidak pernah seribet ini, malahan tidak peduli dengan penampilannya. Namun kali ini Sophia benar-benar berbeda, sudah seperti ingin bertemu dengan orang yang sangat penting saja. Ya mungkin karena canggung dan sebagainya, setelah lama tidak berjumpa tentu penampilan yang akan disorot nantinya.
Duh kenapa ribet begini sih? Kan gue Cuma mau ketemu Fani doang. Udah setengah jam milih-milih baju, eh masih ngerasa enggak cocok juga. Bener-bener ya, udah kayak mau ketemu calon mertua aja.
**
Fani memarkirkan mobilnya dirumah makan seafood langganan. Bergegas masuk kedalam, takut jika dia sudah terlambat dan membuat Sophia menunggu lama.
“ Loh, mana Sophia?.” Batin Fani bertanya. Pandangannya menyapu sekeliling, berjalan perlahan dan terus mengedarkaan pandangannya. Dari depan hingga belakang rumah makan, namun Fani tidak menemukan sosok yang diajaknya bertemu.
“ Belum sampai ternyata, yah guenya aja kali yang buru-buru. Heheheh mungkin terlalu excited kali ya, gak sabar mau ketemu Sophia. Kangen banget sama temen gue yang be*at itu.” Gumamnya sembari senyum terkulum. Fani melangkah mendekati sebuah meja yang cukup untuk dua orang. Sengaja dia pilih bagian sudut dekat jendela, supaya sesekali diterpa angin.
“ Kenapa lama banget ya? Apa Sophia kejebak macet?.” Fani melirik pergelangan tangannya, sudah lewat 25 menit dari waktu yang dijanjikan. Mulai gelisah, Fani berulang kali menatap layar ponselnya. Ingin menghubungi Sophia dan bertanya ada apa, apa yang menyebabkannya terlambat selama ini.
Saat asyik menatap layar ponsel, tiba-tiba sebuah tas mini mendarat diatas meja. Seseorang datang, Fani tersenyum simpul, pasti orang yang datang ini adalah Sophia. Orang yang sudah ditunggunya sejak beberapa puluh menit yang lalu. Fani mendongak keatas, melihat siapa sosok yang datang mendekatinya. Ternyata benar itu adalah Sophia, orang uang dinanti-nantikannya. Fani menatap Sophia yang masih berdiri kaku, garis bibirnya sedikit ditarik dan tampak seperti tersenyum paksa. Lebih tepatnya tersenyum malu-malu, wajar saja jika ada rasa canggung diantara mereka.
“ Hai.” Sapa Sophia sembari melambai-lambaikan tangannya pelan. Bibirnya gemetar, Sophia tampak pucat pasi. Pertemuan kali ini jauh berbeda dari pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya. Jika biasanya mereka bertemu dengan suara melengking dan kehebohan peluk-peluk, cium pipi kiri, cium pipi kanan dan sebagainya. Namun saat ini berbeda, pertemuan mereka dipenuhi rasa canggung, bahkan untuk berbicara pun diperhitungkan.
“ Hai.” Balas Fani tak kalah canggung.
“ Duduk Sop.” Fani mempersilahkan Sophia untuk duduk dihadapannya. Diikuti anggukan oleh Sophia kemudian duduk ditempat yang telah disediakan.
“ Iya terimakasih.” Sahut Sophia tetap canggung.
Fani melambaikan tangannya, memanggil pelayan dan segera memesan. Senyumnya seolah enggan luntur dari wajah Fani. Sementara dihadapannya, Sophia hanya tertunduk malu. Jari-jemarinya saling memelintir satu sama lain. Sophia benar-benar gugup, canggung, malu dan sebagainya. Sophia perlahan-lahan mengatur pernafasannya, sejak tadi jantungnya berdetak kencang seolah baru saja ikut lomba lari berkilo-kilo meter.
“ Gila! Belum pernah aku segugup ini. Bahkan ketika aku guru disuruh maju kedepan kelas sekalipun aku tidak segugup ini. Lalu kenapa seperti ini sih? Padahal kan hanya ketemu Fani, orang yang aku kenal, orang yang dekat denganku sebelumnya.” Batin Sophia.
“ Aku harus apa? Canggung sekali rasanya.” Lanjutnya membatin.
“ Sop mau pesan apa?.” Tanya Fani sembari mengulurkan buku menu. Namun Sophia tidak menjawab, dia masih saja tertunduk.
“ Sop. Mau pesan apa?.” Fani mencuil siku Sophia pelan dengan buku menu yang ada ditangannya. Sontak membuat Sophia kaget dan terperanjak.
“ Eh. Iya Fan. Sorry-sorry gue malah jadi bengong.” Sophia yang kaget langsung menarik buku menu dari tangan Fani.
__ADS_1
“ Hehehehe.” Fani hanya tertawa cengengesan.
Kenapa jadi canggung gini ya? Gue kangen kita yang dulunya ugal-ugalan Sop. Gak ada rasa canggung sama sekali antara kita. Gue bebas mau mukul, jewer atau ngejeplak kepala lo. Gak nyangka ya kalau semua bisa berubah 360°. Tapi gue bersyukur lo masih mau ketemu sama gue, gak musuhan selamanya.
Setelah memesan makanan, semua senyap sepi tak bersuara. Hanya ada kecanggungan antara Fani dan sophia, saling terdiam, tetunduk dan sesekali mereka saling beradu pandang. Seolah tidak ada salah satu yang ingin mulai membuak suara. Hanya terdengar riuh dari pelanggan lain, suara-suara berisik yang menemani kecanggungan mereka. Sophia dengan segala ilmu yang dimilikinya, mencoba memilah-milah kata. Bagaimana caranya dia untuk membuka suara, kemudian perlahan-lahan mengutarakan permintaan maafnya.
Hufffhhhhh. Ternyata semua berbanding terbalik ya dengan mimpi gue. Pertemuan ini sama sekali gak seindah, semulus dan semenyenangkan yanh ada dimimpi gue. Aih kenapa lo juga diam sih Fan? Kan lo yang ngajak gue ketemu. Terus kita diam-diaman, saling tatap-tatapan aja gitu sampai pulang?.
“ Hem, gimana kabar lo sekarang?.” Akhirnya Fani buka suara. Akhirnya kecanggungan dan ketegangan antara mereka terpecahkan juga.
“ Ba..baik kok Fan.” Sahut Sophia terbata-bata.
“ Lo gimana? Maksudnya kabar lo gimana?.” Lanjut Sophia balik bertanya. Bibirnya bergetar hebat, Sophia tidak berani menatap mata Fani lama-lama. Hanya sesekali melihat lalu kemudian kembali membuang pandangnya.
“ Gue juga baik kok.” Jawab Fani tak kalah gugup. Fani tersenyum paksa, sementara Sophia hanya mengangguk-angguk saja. Entah apa yang dianggukkannya.
Setelah itu suasana kembali senyap, hening. Tidak ada lagi pembicaraan antara mereka, padahal ada banyak hal yang bisa mereka bicarakan. Lagi-lagi ini wajar, rasa canggung itu wajar.
“ Permisi mbak, pesanannya.” Seorang pelayang datang dengan membawa beberapa piring makanan dalam nampan. Piring demi piring sudah mulai memenuhi meja.
“ Terimakasih.” Ucap Fani dan Sophia serentak, melayangkan senyuman manis sebagai ucapan terimakasih kepada pelayan tersebut.
Tanpa ada basa-basi, Fani dan Sophia saling menyantap makanan yang mereka pesan masing-masing. Kembali hening, Sophia dan Fani malah tampak saling berlomba-lomba menghabiskan makanan mereka.
**
“ Iya, kenapa Sop?.” Tanya Fani sembari tersenyum tipis, raut wajahnya masih memperlihatkan adanya rasa canggung.
“ Hem, Fan. Maafin gue ya, gue banyak salah sama lo. Maafin gue ya Fan.” Sophia menarik tangan Fani, menggenggamnya dengan erat.
“ Eh jangan gitu Sop, gue gak enak. Gue udah maafin lo kok. Gue juga minta maaf ya, semuanya berawal dari gue, gue yang salah.” Fani menarik tangannya, tidak membiarkan Sophia memohon-mohon meletakkan kepala ditangannya.
“ Gak Fan, ini semua salah gue. Gue yang salah.” Mata Sophia mulai berkaca-kaca. Akhirnya dia bisa meluahkan semua rasa sesal dan rasa bersalah yang dia pendam selama ini.
“ Sop, gue udah maafin lo kok. Makanya gue minta ketemuan, gue kangen banget sama lo. Udah berapa kali gue balik ke kota ini, tapi gue ngerasa ada yang kurang. Gue kangen banget main-main bareng lo Sop.” Fani ikutan bersedih, matanya juga ikut berkaca-kaca.
“ Gue juga kangen sama lo. Maafin gue Fan. Please tetap jadi sahabat gue.” Sophia beranjak, kemudian memeluk Fani dengan erat.
“ Gue bakal tetap jadi sahabat lo kok, meskipun lo nyakitin gue berkali-kali. Gue tetap sayang lo kok, sekalipun lo ngeselin, gue tetap bersedia kok sahabatan sama orang yang gak ada ahlaq kayak lo.” Ucap Fani. Masih memikirkan perasaan Sophia, meluahkan kekesalannya dengan candaan. Kemudian tertawa geli.
“ Aaaa emang gue jahat banget ya, sekali lagi maafin gue.” Sophia semakin memeluk Fani erat, hingga membuat Fani sulit bernafas.
Haru biru antara mereka berdua, akhirnya kesalah pahaman antara mereka ada ujungnya juga. Sophia dan Fani amat sangat bahagia, sekalipun mereka pernah menjadi musuh tapi itu hanya sesaat saja. Sampai kapan pun akan menjadi sahabat, selamanya kata mereka.
“ Ternyata akhirnya bahagia juga ya seperti dimimpi gue, kenyataan lebih menguras emosi. Haru, bahagia dan sebagainya bercampur menjadi satu. Gue gak nyangka akhirnya gue bisa jadi orang baik juga. Akhirnya gue bisa mengatakan maaf juga, gue gak malu mengakui kesalahan gue. Ternyata selama ini gue yang terlalu egois, gue terlalu angkuh, terlalu mementingkan diri gue sendiri.” Batin Sophia merasa lega, memuji dirinya sendiri atas keberaniannya.
“ Oh iya sampai kapan lo disini?.” Sophia kembali duduk dikursi miliknya. Sudah puas berpelukan dengan sahabatnya ini.
__ADS_1
“ Sampai minggu depan, balik kesini karena kangen ibu, kangen nenek dan kangen rumah.” Sahutnya sembari merapikan rambut yang kusut masai setelah dipeluk dan diuyel-uyel Sophia.
“ Loh, ibu lo masih tinggal disini? Bukannya lo sekeluarga pindah keluar kota?.” Sophia menyeruput minuman yang ada dihadapannya.
“ Hem iya sih. Terus waktu itu nenek gue sakit. Setelah berapa minggu nenek dirawat, akhirnya ibu mutusin buat tinggal disini bareng nenek. Bang Joo juga disini setelah lulus sekolah, gue juga bakal balik kesini lagi kayaknya setelah kelulusan.” Ucapnya.
“ Serius lo bakal balik dan tinggal disini lagi?.” Sophia tersenyum riang, mendengar Fani akan balik dan tinggal kembali dikota ini membuatnya bahagia bukan kepalang. Sudah seperti orang yang menang lotre saja.
“ Niatnya sih gitu, tapi lihat nanti deh. Gue harus mempertimbangkan suasana dan lingkungan gue dulu. Soalnya gue disini sepi gak ada temen.” Fani menyindir Sophia secara terang-terangan. Menyindir tapi seolah tidak melakukan apa-apa, Fani terlihat santai dan biasa saja.
“ Jadi maksud lo gue bukan teman lo? Dih apaan sih lo?.” Ketus Sophia.
“ Gak tau sih, gue belum yakin kalau lo itu temen gue.” Fani masih menjawab dengan santai, tidak perduli dengan wajah Sophia yang kesal karena ucapannya.
“ Parah ya lo. Gue udah baik eh malah lo yang jahat. Sengaja lo ya mau balas dendam, mau bikin gue malu ya.” ketus Sophia. Tubuhnya sudah mengancang-ancang ingin beranjak dan pergi karena kepalang kesal dengan Fani yang ada didepannya.
“ Hahahaaha becanda kali Sop. Selama gue tinggal ternyata lo gak berubah ya, masih aja baperan.” Fani menahan tangan Sophia yang hendak beranjak, kemudian tertawa terbahak-bahak.
“ Ngeselin lo ya, beneran deh kesel gue.” ketusnya masih bermasam muka.
“ Oh iya, lo dapet undangan dari kak Ardy gak sih?.” Tanya Fani tanpa rasa bersalah, mengabaikan Sophia yang tengah bermuram durja.
“ Hem.” Hanya deheman yang menjadi jawaban Sophia.
“ Gila ya, kaget gue. Dulu aja waktu satu sekolah, kerjanya mah minta cariin pacar melulu sama gue. Eh tiba-tiba dia ngabarin mau nikah. Dunia emang lucu ya, takdir gak bisa ditebak, banyak rahasianya.” Fani menggeleng-gelengkan kepalanya.
“ Gak percaya gue, baru lulus berapa bulan aja dia udah mantap buat nikah. Pikirannya yang sempit apa pikiran gue yang sempit sih sebenarnya?.” Fani bertanya-tanya.
“ Pikiran lo aja yang sempit. Emang kalau mau nikah harus nunggu umur sekian, harus punya uang sekian dulu gitu? Kalau mereka yakin buat nikah ya gak masalah sih, menurut gue ya sah-sah aja.” Ujar Sophia.
“ Hem iya sih. Apa jangan-jangan karena susah dapat pacar, terus sekalinya dapat pacar eh kak Ardy langsung ngajak nikah. Soalnya kalau gak diikat terus lepas, eh kan susah lagi nyari pacarnya hahahahaha.” Fani tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan asumsinya.
“ Jangan ngejek lo. Jangan karena lo gampang nyari pacar terus lo seenaknya mikir setengah mateng tentang orang lain. Nanti kualat, gak selamat hidup lo.” Kata-kata Sophia terdengar ngeri.
“ Astagfirullah, Fan. Ampun ya allah, gak lagi deh ngehina orang lain. Ngeri gue dengar kata-kata lo Sop.” Fani mengatupkan kedua tangannya, seolah memohon ampun pada tuhan atas ucapannya barusan.
“ ****** deh lo. Udah dikeep malaikat balasan buat hinaan lo barusan. Hahahahha.” Sophia tertawa, berbalik dia yang menertawai Fani.
“ Amin amit, jangan sampai.” Fani mengetuk kepalanya pelan kemudian berulang kali mengucapkan kata yang sama.
“ Kasih kado yang gede buat Ardy dan bininya, biar lo kagak disumpah bumi hahahaha.” Sophia makin keras tertawa, puas sekali mengerjai Fani.
“ Hem.” Ketus Fani.
Fani dan Sophia menghabiskan waktu mereka bersama seharian. Mulai dari makan, jalan-jalan sampai dengan membeli gaun untuk dipakai dipesta pernikahan Ardy besok. Tak lupa mereka juga membeli hadiah untuk diberikan kepada Ardy yang akan menjadi pengantin baru.
Ternyata memaafkan itu lapang, meminta maaf itu lega. Akhirnya aku bisa menjadi orang yang keras, mampu melawan ego dan rasa benci yang mendalam. Semoga seterusnya bisa menjadi manusia yang pemaaf dan senantiasa meminta maaf, meskipun hanya untuk secuil kesalahan.Fani.
__ADS_1
Bersambung...