
Fani sudah bangun dari tidurnya yang lelap, perlahan membuka mata dan melihat keluar jendela. Nampaknya sudah sore dan hampir gelap. Bergegas dia keluar dan mencari penghuni rumah, didapatinya Joo juga tengah tertidur diruang keluarga. Mencari sosok ayah, ibu dan yang lainnya ternyata juga sama, tertidur didalam kamar mereka. Mungkin semua merasa kelelahan hingga tertidur pulas sampai sore begini. Fani bergegas mandi dan membasuh diri, kemudian mengenakan baju santai. Berjalan menuju ruang tv dimana Joo tengah asyik bermimpi. Fani menyalakan tv dan menonton sembari menunggu penghuni rumah yang lain terbangun dari tidur.
“ Capek banget ya sampai terkapar semua. “ Gumamnya sambil menatap layar lebar yang ada dihadapannya itu.
*******
Andry sudah bersiap-siap menuju rumah Fani. Janji dan rindu yang membawanya untuk segera kesana. Andry meraih kunci mobilnya yang ada diatas meja, bergegas menuju garasi dan menyalakan mesin mobilnya. Andry melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang ramai menuju rumah kekasih yang dirindukannya. Andry tampak keren malam ini, mengenaka kaos hitam dipadu dengan jaket yang diberikan oleh Fani. Andry berencana akan mengajak Fani untuk kencan malam ini, ingin menikmati cahaya kemerlap kota dibawah indahnya langit malam.
Andry memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Fani, tampak hening dan sunyi. Andry mengetuk pintu dan menekan bel. Cukup lama dia menunggu, akhirnya terdengar suara sahutan dari dalam rumah.
“ Aaaa udah datang.” Sahut Fani saat pintu terbuka dan mendapati tamu itu adalah kekasih yang ditunggu tunggunya.
“ Ayo masuk.” Menarik tangan Andry untuk masuk ke dalam rumah. Andry hanya tersenyum dan mengikuti langkah kekasihnya itu.
“ Bu, yah. Lihat nih siapa yang datang.” Fani setengah berteriak sambil mendekati keluarganya yang asyik berkumpul bersama diruang keluarga. Semua orang disana menatap datangnya sumber suara, ternyata Andry yang dibawanya.
“ Wah Andry, kebetulan datang kesini.” Ucap ayah saat melihat sosok Andry datang besama Fani.
“ Hehehe iya om.” Sahut Andry cengengesan. Mendekat dan ikut berkumpul dengan keluarga cemara itu.
Mereka semua berbincang-bincang ria, sesekali tergelak tawa. Andry menikmati moment keluarga yang jarang dia dapatkan dirumahnya. Mengingat kedua orang tuanya yang sibuk mengurusi pekerjaan dan perusahaan. Pergi pagi dan pulang larut malam, selalu berulang. Disini Andry benar-benar merasa indahnya berkumpul bersama keluarga, andai dirumahnya juga begini mungkin rasa bosan tak pernah menghampirinya.
“ Oh iya bu, aku tetap pergi besok ya.” Sahut Joo tiba-tiba saat mengingat tentang rencana liburan kepulau.
__ADS_1
“ Iya tapi aku ikut kan.” Sahut Fani pula mengingatkan persyaratan yang disebutkan ibu dan ayah saat tadi diperjalanan.
“ Gak. Lo gak boleh ikut gue.” Jawabnya ketus sambil mengunyah cemilan yang ada ditangannya.
“ Bu, lihat bang Joo. Jangan kasih izin dia pergi bu.” Fani memasang muka cemberut sedih. Berharap ibu dan ayah akan memarahi Joo.
“ Joo.” Suara ibu terdengar ingin marah, namun dia tak melanjutkan lagi bicaranya. Fani menatap ayah, berharap ayah juga akan memarahi Joo yang enggan membawanya pergi bersama.
“ Joo, bawa adikmu atau kau pun tak di izinkan pergi.” Sahut ayah menatap Joo dengan tatapan yang marah. Fani tersenyum gembira dalam hatinya karena akhirnya dia berhasil mendapat pembelaan dari kedua orangtuanya.
Joo menatap Fani dengan tatapan kesal, wajahnya ditekuk sempurna dan mulutnya mengatup menggeram. Melihat kedua orangtua nya yang memberi pembelaan kepada Fani. Padahal Joo ingin membuat Fani meringis menangis baru kemudian dia akan menyetujui keikutsertaan Fani dalam rencana liburannya. Andry hanya menatap bingung dengan apa yang diperdebatkan oleh keluarga ini. Mencoba menerka-nerka kemana Joo akan pergi besok.
“ Gak. Pokoknya lo gak boleh ikut titik.” Ucapannya terdengar lebih ketus lagi. Kedua tangannya dilipat kedada, menatap Fani tajam lalu membuang pandangannya.
“ Aaaa ayah ibu kenapa diam sih. Marahin bang Joo dong bu. Aku mau ikut pokoknya.” Matanya mulai berkaca-kaca. Merasa jika impiannya berlibur kepulau akan segera sirna.
“ Gak.” Sahut Joo ketus. Namun tetap melirik Fani yang tampak berkaca-kaca. Didalam hatinya tertawa senang, akhirnya dia akan segera berhasil menjahili adik perempuan satu-satunya itu.
“ Bu. Ayah.” Lagi-lagi Fani merengek dikaki kedua orang tuanya. Namun ibu hanya diam tak berkata, menatap layar tv yang ada didepannya. Begitupun ayah hanya sibuk menatap layar ponselnya. Fani merasa kesal dengan kedua orang tuanya yang memberi pembelaan setengah-setengah. Matanya berkaca-kaca, khayalannya tentang bermain dan menikmati indahnya pulau pun perlahan sirna bersama diamnya ayah dan ibu. Tak dapat membendung lagi, Fani menangis tersedu-sedu. Merasa semua keluarganya tak menyayanginya, tega. Berkali-kali Fani menyeka air matanya.
Andry yang menatap drama ini pun bingung saat melihat Fani menangis tersedu-sedu. Menatap ayah dan ibu yang hanya diam tak menghibur. Disebelahnya ada Joo yang tampak tersenyum tipis saat melihat Fani yang menangis itu.
“ Ini kenapa jadi nangis sih? Emang mau kemana?.” Tanya Andry benar-benar kebingungan.
__ADS_1
“ Mau ikut gue kepulau.” Tiba-tiba Joo mendekatkan wajahnya dengan teling Andry dan berbisik pelan.
“ Sebenarnya gue mau kok ajak dia, Cuma udah lama gak lihat dia nangis. Kan jadi pengen.” Sambung Joo sambil terkekeh. Andry hanya mengangguk karena sudah mengerti alur drama ini.
“ Oh iya itu kenapa om dan tante diam-diam aja?.” Tanya Andry lagi.
“ Iya dong. Kan gue udah kompromi sama ibu dan ayah.” Lagi-lagi Joo terkekeh.
Fani tiba-tiba beranjak dengan wajah yang dipenuhi air mata. Berlari dan membanting pintu kamarnya, cukup lama dia disana. Terlihat semua orang yang ada diruang keluarga itu tersenyum dan tergelak tawa. Benar-benar mereka sudah merencanakan ini semua untuk menjahili Fani. Namun tak lama kemudian Fani keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapi. Berjalan mendekat dan tiba-tiba mengajak Andry untuk pergi. Fani tak menatap keluarganya yang lain, berlalu pergi dan melangkah menuju mobil Andry. Andry tampak bingung harus melakukan apa, namun dia segera bergegas memnyusul kekasihnya saat ayah dan ibu Fani memintanya untuk pergi bersama Fani.
“ Mau kemana sayang?.” Tanya Andry saat dia mendekati Fani.
“ Kemana ajadeh. Yang penting gak disini.” Jawabnya sambil bergegas masuk kedalam mobil. Andry hanya mengikuti Fani dan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Fani.
“ Sayang kita mau kemana?.” Tanya Andry lagi saat melihat Fani yang diam menatap jalanan. Matanya masih sembab karena menangis tadi.
“ Kemana aja yang penting gak kesal lagi.” Jawabnya ketus.
Andry melajukan mobilnya menuju pinggiran kota. Berhenti disebuah dataran tinggi yang menyuguhkan pemandangan riuhnya kota. Menatap indahanya kemerlap cahaya dari gedung dan rumah-rumah yang menjamur dikota.
“ Indah kan?.” Tanya Andry memecahkan keheningan diantara mereka.
“ Iya sayang. Terimakasih ya udah bawa aku kesini.” Tersenyum dan bergelayut manja di bahu Andry. Memeluk erat tangan Andry yang nyaman itu. Saling menatap dan tersenyum dibawah langit, berpelukan dan memadu kasih dibawah indahnya langit malam.
__ADS_1