
Sudah puas bermain dipantai, baju yang dikenakan pun sudah basah karena keringat dan air pantai. Andry dan Fani memutuskan untuk pulang, meskipun sebenarnya Fani ingin sekali melihat senja dipantai, tapi kali ini benar-benar harus dia lewatkan. Tubuhnya sudah menggigil kedinginan, pasir-pasir pantai juga tak sedikit yang menempel dikaki jenjangnya.
“ Kemana lagi?.” Tanya Andry sembari menggesek-gesekan kedua telapak tangannya, berusaha menghangatkan tubuhnya.
“ Hem gak kemana-mana, pulang aja.” Sahut Fani dengan bibir bergetar.
Andry mengemudi dengan santai, sebenarnya ada sesuatu yang masih mengganjal dihatinya. Padahal tujuan dia mengajak Fani keluar hari ini adalah untuk membicarakan masalah dirinya yang akan pergi ke Chicago dalam beberapa hari lagi. Namun Andry masih bingung, bagaimana dia mengatakan pada Fani, bagaimana cara dia meyakinkan Fani agar tetap setia selama dirinya tidak ada.
Bahkan aku yang tidak kemana-mana saja kau sanggup meninggalkan aku begitu saja, apalagi ini aku yang akan pergi dalam waktu yang lama. Bisa jadi ini adalah alasan paling tak terbantahkan ketika kau melakukan sesuatu yang salah nantinya.
“ Hemm,,” Andry berdehem, menggigit bibir bawahnya pelan. Masih ragu untuk mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat Fani kaget atau bahkan ilfee. Ya walaupun kemarin Andry sudah pernah mengatakan sekilas bahwa dirinya berniat untuk melanjutkan study di Chicago.
Baru beberapa hari yang lalu aku mendapatkan hatinya lagi, gak mau ah. Nanti malah dia jadi ilfeel, malah balik sama tu cowok perebut terus ninggalin gue. Gak, gak boleh terjadi.
“ Kenapa kak?.” Dahi Fani mengkerut, menatap Andry yang tampak sedang kalang kabut.
“ Ada masalah apa? Ada sesuatu yang mau kak Andry bilang? Yaudah bilang aja, aku siap dengerin kok.” Lanjut Fani yang sudah bisa menangkap sinyal dari wajah Andry.
“ Hem, Fan. Sebenarnya memang ada sesuatu yang mau aku bilang sama kamu.” Ucap Andry lirih, bibirnya tampak pucat dan begetar takut.
“ Tapi kamu jangan marah ya.” Lanjutnya. Mengantisipasi kemarahan Fani nantinya adalah sesuatu yang harus dia lakukan saat ini.
“ Hem.” Fani yang keheranan hanya menjawab dengan deheman dan sedikit anggukan.
“ Janji ya.”
“ Janji?.” Andry terus memaksa Fani untuk berjanji, jangan marah, jangan marah.
“ Ada apa sih? Iya iya aku janji gak bakal marah.” Ucapnya sembari menatap Andry dengan dahi yang mengkerut sempurna.
“ Sayangku, maaf ya. 4 hari lagi aku bakal berangkat buat lanjutin study ke Chicago. Maafin aku yang harus merentangkan jarak sejauh itu. Tapi aku gak ada pilihan lain, aku gak bisa batalin. Aku harap kamu masih tetap bersamaku setelah keputusanku ini.” Wajah Andry pias, sedih dan pucat. Entah ekspresi apa yang coba dia tunjukkan, tapi bisa disebut ekspresi kesedihan.
“ Maafin aku ya.” Andry menatap Fani yang tidak bergeming. Entah kaget atau sedih, gadis itu hanya merunduk sembari memilin jari jemarinya.
“ Kamu marah ya? Gapapa, kamu marahin aku aja. Kamu tampar atau pukul aja aku, gapapa. Asal kamu enggak berubah pikiran buat ninggalin aku lagi.” Mata Andry tampak berkaca-kaca, kakinya lemah seolah tidak sanggup lagi menginjak pedal gas. Mobilnya bergerak pelan, pelan sekali.
Andry memutar setir, menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Dari pada tidak konsentari mengemudi, lebih baik Andry berhenti dan membicarakan ini dari hati ke hati.
“ Huffffhh..” Andry menghela nafas panjang, mobilnya sudah terparkir dipinggir jalan.
“ Kamu marah ya?.” Ucap Andry sembari menatap Fani dengan wajah sendu.
“ Please jangan marah, jangan tinggalin aku ya.” Andry meraih tangan Fani, menghentikan gadis itu memilin jari jemari.
__ADS_1
Fani mencoba menghentikan kecamuk-kecamuk hatinya. Bukan karena sedih mendengar ucapan Andry barusan, tapi bingung apa yang harus dia katakan. Kalau masalah Andry akan melanjutkan studi ke Chicago adalah sesuatu yang membuatnya bahagia. Bahagia karena dia bisa pasang dua, tidak perlu lagi berseteru dengan batinnya untuk menentukan pilihan yang paling diinginkannya.
“ Hem, aku gak marah kok kak. Cuma sedih aja, belum lama kita memutuskan untuk kembali tapi kak Andry malah ingin pergi.” Shit! Fani malah makin mahir berdusta, bukan hanya menipu Andry bahkan yang paling buruk adalah dia menipu dirinya sendiri.
Gila! Mulut kurang ajar ini malah sudah makin lihai berdusta. Tanpa aba-aba, tanpa perintah. Beraninya dia mengatakan sesuatu yang tidak aku pikirkan sebelumnya. Aaahhh tuhan kenapa mulutku jadi kurang ajar.
“ Maafin aku ya Fan. Aku janji setiap libur semester aku bakal pulang untuk ketemu kamu, aku janji.” Andry mencium punggung tangan Fani berkali-kali, memohon agar gadis yang dicintainya ini tidak lagi meninggalkan dirinya hanya karena terpisah jarak.
“ Kak, jangan gini dong. Aku gapapa kok, aku Cuma sedih aja. Tapi aku juga gak bisa marah, karena ini semua keputusan kak Andry, ini yang terbaik untuk kak Andry, demi masa depan kak Andry.” Fani mencoba menenangkan Andry. Mengelus kepala Andry perlahan. Bukan dengan penuh kasih sayang, melainkan penuh beban pikiran.
“ Janji ya kamu gak marah. Kalau memungkinkan aku harap kamu yang datang menyusul aku, melanjutkan study ditempat yang sama dengan aku.” Andry mencetuskan sebuah ide, ide bagus bagi Andry namun ide buruk bagi Fani.
“ Oh iya, aku janji tahun depan bakal balik dan bawa orang tuaku buat ngelamar kamu. Sesuai janji aku, tahun depan aku bakal nikahin kamu.” Ucapnya penuh semangat, wajah sendunya bercampur dengan bahagia.
Duarr ! Hati Fani seolah dibombardir berulang-ulang. Ide Andry yang meminta dirinya untuk menyusul ke Chicago saja sudah membuatnya geleng kepala. Bagaimana mungkin dirinya, Andry dan Endi akan tinggal ditempat yang sama. Yang ada kedatangannya hanya akan menjadi suatu masalah, masalah besar. Belum hilang kaget yang satu, Andry malah membombardir Fani sekali lagi. Apa? Akan melamar dan menikahi dirinya tahun depan? Bukankah kemarin itu hanya candaan? Ternyata Andry benar-benar.
Ya tuhan. Kenapa hidupku dirundung banyak masalah. Perkara menetapkan pilihan antara mereka berdua saja aku belum bisa, sekarang Andry malah mengatakan ingin berumah tangga. Bahkan aku belum sempat mengiyakan, aku belum mengatakan sebenarnya apa yang aku inginkan. Kenapa banyak sekali masalah.
“ Ha? Menikah tahun depan? ini serius kak Andry? Jangan becanda dong.” Ucap Fani gelagapan. Masih berharap semua yang diucapkan oleh Andry hanyalah candaan.
“ Iya, tahun depan. Kenapa? Kamu gak mau ya? kamu gak suka ya?.” Sahut Andry. Wajahnya kembali berubah menjadi sendu.
“ Eh bukan gitu maksudnya kak,” Fani menggeleng-gelengkan kepala. Bukan maksudnya ingin menolak, Cuma kaget aja kenapa Andry terburu-buru ingin menikahinya.
“ Eh bukan kak, bukan gitu maksudnya.” Fani masih menggeleng-gelengkan kepala, bukan begitu maksud ku hei.
“ Huffhh maaf ya. Harusnya kan aku tanya dulu, Fan kamu mau gak aku seriusin? Kamu bersedia gak hidup denganku, kamu bersedia gak jadi ibu dari anak-anakku.” Andry tersenyum, ya meskipun terpaksa. Dibalik senyumnnya ada sedih yang sedang dia sembunyikan.
“ Maaf kak, bukan gitu maksudnya.” Fani semakin merasa bersalah.
“ Gapapa kok Fan, sebenarnya aku yang salah. Kita kan baru menjalin hubungan, masih banyak kekurangan, masih harus mengenal lebih dalam. Tapi aku malah ngebet mikirin masa depan, ya mungkin karena perasaan.” Andry kembali memegang setir kemudi. Sudah siap melanjutkan perjalanan.
Andry kembali melajukan mobilnya dijalanan, sejak mobilnya melaju Andry tidak lagi berbicara sepatah katapun. Hanya sesekali terdengar suara dia menarik nafas panjang, mungkin sedang mencoba memendam sedih dan kesalnya. Sementara dikursi sebelah, Fani hanya bisa terdiam menatap jalanan. Padahal dalam hatinya bercampur rasa bersalah, sedih dan kesal. Entah kenapa beberapa hari ini menjadi hari yang berat bagi dirinya. Terlalu banyak masalah yang menumpuk dikepalanya. Apalagi mendengar ucapan Andry tadi, Fani merasa bersalah setengah mati.
Bukan maksudku menolak, sebenarnya aku juga sangat ingin. Berarti kau benar-benar mencintaiku, bukan hanya sekedar cinta-cintaan, main-main doang. Aku Cuma merasa belum pantas, apalagi sekarang aku sudah berencana ingin memacari dua lelaki sekaligus. Lihatlah, betapa buruknya aku. Bahkan aku tidak bisa setia pada satu orang saja, lihatlah betapa buruknya aku. Jika aku hanya punya kau, sudah pasti aku jungkir balik senang karena akan segera melepaskan masa lajang.
“ Hem, kapan kak Andry akan berangkat?.” Fani memberanikan diri bertanya pada lelaki yang tampak murung sejak tadi, mencoba memecahkan ketegangan yang ada didalam mobil ini.
“ Sabtu, jam 1 siang.” Ucap Andry sekenanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
“ Oh gitu, aku ikut anterin kak Andry kebandara ya.” Ucap Fani gugup. Berbicara dengan Andry yang sedang tidak bagus suasana hatinya ternyata cukup menyeramkan juga ya.
“ Kalau kamu sibuk mending gak usah deh, lagian gak penting juga kan.” Ketusnya. Bicara dengan nada tidak biasa ditambah lagi tidak ingin menatap lawan bicara, sudah bisa ditebak jika Andry saat ini sedang marah.
__ADS_1
Fani terkekeh dalam hatinya, sudah lama dia tidak melihat Andry marah begini. Lucu ya. Fani memikirkan cara bagaimana agar Andry kembali seperti biasa, tidak lagi ketus dan sinis.
Hahahaha lelaki lagi ngambek makin ganteng ya. Hei biasanya kau yang menggodaku, apa saat ini harus aku yang menggodamu? Aha baik laa dengan senang hati akan aku goda dirimu.
“ Aaa sayang, udah dong jangan ngambek.” Fani bergelayut dan memeluk lengan kiri Andry. Satu-satunya cara yang menurut dia akan berhasil meluluhkan lelaki yang ada disebelahnya ini.
“ Aku gak nolak kamu kok, aku Cuma kaget aja. Kenapa kamu tiba-tiba pengen banget nikah muda. Aku pikir kemarin kamu Cuma bercanda, bahkan sekarang pun aku masih belum sepenuhnya percaya.” Lanjut Fani semakin manja, memeluk lengan Andry semakin erat.
“ Kamu beneran pengen nikahin aku?.” Tanya Fani untuk meyakinkan dirinya sendiri.
“ Kamu beneran sayang? Beneran pengen nikahin aku yang gak seberapa ini?.” Tanya Fani sekali lagi, meminta Andry untuk meyakinkan dirinya.
“ Kenapa ngomong gitu sih? Aku emang suka becanda masalah lain, tapi kalau masalah ini aku serius. Sama sekali gak becanda. Dari kemarin aku bilang pengen nikahin kamu, hari ini aku juga bilang sekali lagi. Tapi kamu masih gak percaya, masih nganggap ini becandaan aja.” Jawab Andry ketus, tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan yang cukup ramai.
“ Iya maaf, kan aku masih gak percaya. Masih berasa mimpi. Masih muda banget buat nikah, belum sampai 20 tahun malah.” Fani melingkarkan tangannya dileher Andry. Hanya memeluk lengan ternyata tidak mempan untuk membujuk Andry.
“ Aku mau kok, mau banget malahan.” Lanjutnya. Lagi-lagi dia berdusta. Padahal dirinya belum sanggup memikirkan masalah pernikahan.
“ Beneran? Serius kamu mau?.” Andry seketika menjadi riang, wajahnya kembali merah berdarah. Senyum manisnya merekah, menatap Fani yang tengah merangkul mesra dirinya.
“ Janji? Beneran ya kamu mau.” Lanjutnya. Harus bertanya berulangkali untuk meyakinkan dirinya sendiri dan Fani. Biar jawaban yang diberikan Fani ini benar-benar dari hatinya, bukan hanya untuk membuat dirinya senang semata.
“ Iya sayang.” Jawab Fani dengan penuh senyuman.
“ Yaaassshhh.” Teriak Andry kegirangan, kebahagian terpancar dari wajahnya. Akhirnya Fani menerima juga niat baiknya.
“ Gapapa kan kalau kita harus Ldr dulu? Gak lama kok, janji deh. Satu tahun doang, terus nanti abis nikah aku janji bakal bawa kamu ikut aku.” Ucapnya meyakini Fani.
“ Kamu mau kan berkomitmen, kamu baik-baik disini, aku baik-baik disana. Kamu setia disini, aku juga setia disana.” Andry menggenggam erat tangan kanan Fani. Kemudian membimbin tangan lembut itu menyentuh dadanya, seolah meminta Fani merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan, terlalu senang.
“ Iya kak, aku bakal setia disini, bakal jaga komitmen kita sampai nanti kak Andry pulang.” Ucap Fani lugas, semua kata-kata yang keluar dari mulutnya seolah benar. sekarang Fani benar-benar lihai dalam bersilat lidah.
“ Oh iya gimana? Kamu udah putusin tuh cowok kan?.”
Duarrr! Lagi-lagi Fani dibombardir oleh pertanyaan yang dia belum memiliki jawaban. Seketika jantung Fani berhenti berdetak, rasa takutnya semakin menjadi-jadi. Siapa sangka jika Andry masih mengungkit masalah ini. Memang dia telah berjanji akan memutuskan hubungan dengan Endi, namun kenyataannya dia belum bisa, belum sanggup.
Ya tuhan, rasanya tubuhku ini telah hancur berkeping-keping karena dibombardir berkali-kali. Berapa banyak lagi kebohongan yang harus aku mekarkan? Bisakah aku memutar waktu? Aku ingin menghindar dari masalah-masalah yang aku buat sendiri. Dasar bodoh, aku bodoh, bodoh bodoh. Batin Fani berteriak hebat.
“ Hemm, u..uu..udah kak.” Ucap Fani terbata-bata, bibirnya digigit kuat. Ingin menangis meraung rasanya, kenapa semua menjadi kacau begini.
“ Baguslah. Akhirnya kamu hanya milikku seorang.” Ucap Andry sembari terkekeh geli. Tanpa bertanya berulang kali, hari ini dia sangat mempercayai Fani. mungkin karena terlalu bahagia dengan pernyataan Fani yang bersedia dia nikahi.
“ Hehehehe.” Fani ikut tertawa. Padahal dalam hatinya meringis menangis, menyumpah serapahi kebodohannya sendiri.
__ADS_1
Mati saja kau Fani, kau sudah tidak layak lagi tinggal dibumi ini. Enyah saja kau Fani, enyah lah.