
Fani terbangun dari tidurnya dan terperanjak saat melihat kamarnya yang gelap. Lampu kamarnya belum dinyalakan, hingga membuat seluruh bagian kamar menjadi gelap. Hanya ada pantulan cahaya dari lampu dapur yang menerangi sisi kamar Fani. Melangkah pelan mencari dimana sakelar untuk menghidupkan lampu. Fani berjalan menyusuri dinding dan menemukan apa yang dia cari. Akhirnya kamar Fani sudah tidak gelap lagi. Fani membuka pintu kamar dan berjalan menuju dapur.
“ Kenapa ibu gak bangunin aku?.” Tanya Fani sambil mengucek-ucek matanya.
“ Kamu yang tidurnya pulas banget. Ibu udah bangunin kamu kok tadi.” Ibu berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari adonan kue yang dibuatnya.
“ Kue buat apa sih bu? Kok banyak gini sih?.” Mendekat dan menicipi kue buatan ibunya.
“ Besok mau dibawa kerumah nenek.” Memasukkan kue yang sudah dingin kedalam toples kaca.
“ Loh kok ibu gak bilang kalau kita mau pulang kerumah nenek.” Protesnya terdengar tak senang.
“ Sengaja gak bilang biar jadi surprise,” Tertawa kecil sambil meneruskan pekerjaannya.
Fani mengerutkan keningnya tak senang, ibu mengatakan ini semua mendadak. Hatinya menolak untuk pergi karena takut jika nanti merindukan Andry. Fani menbongkar isi kepalanya mencari alasan yang tepat agar dirinya tak ikut pulang kerumah nenek.
“ Sana siapkan barang-barangmu.” Ujarnya membuyarkan lamunan Fani.
“ Aku boleh dirumah aja bu?.” Jawabnya terdengar memohon.
“ Gak. Kamu harus ikut karena semuanya pergi kerumah nenel, termasuk abangmu.” Memandang Fani dengan sinis karena permintaannya yang ingin tinggal itu.
“ Tapi bu,” Mencoba untuk merayu ibunya lagi.
“ Fani. Tidak ada yang tinggal. Sana siapkan barang-barangmu untuk satu minggu disana.” Ibu menatap Fani dengan serius hingga membuat Fani tak berani lagi menolak. Fani beranjak kembali ke dalam kamarnya dan menyusun beberapa baju didalam koper berwarna pink miliknya itu. Benar-benar berat hatinya untuk pergi, tentu saja karena Andry.
Aku harus memikirkan cara agar tidak ikut dengan ibu dan yang lain.
Fani menutup kopernya yang sudah diisi beberapa baju dan celana itu. Menghamburkan tubuhnya keatas ranjang dan berfikir sembari menatap langit-langit kamarnya yang berwarna ungu.
“ Apa yang harus aku lakukan supaya bisa tetap tinggal.” Memukul pelan kepalanya dengan jari telunjuk.
__ADS_1
“ Masa satu minggu aku harus mengeramkan rindu? Apalagi dikampung jaringannya kurang bagus.” Gerutunya kesal.
Fani meraih ponselnya dan ternyata ada banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan dari kekasihnya Andry. Fani baru ingat jika dia menggunakan mode senyap saat tidur tadi. Dengan cepat Fani menelfon balik kekasihnya itu, namun tidak dijawab. Fani mencoba berulang kali tapi tetap saja tak ada jawaban dari Andry. Mungkin Andry sedang sibuk pikirnya. Fani mengirim sebuah pesan yang menyebutkan jika dirinya dengan terpaksa harus ikut ibu dan yang lain pulang kampung untuk mengunjungi nenek.
“ Kemana sih nih cowok.” Gumamnya setelah mengirim pesan kepada Andry.
“ Apa mungkin dia lagi sibuk? Tadi aku telepon gak dijawab, giliran aku tidur malah dia yang sibuk nelfon. Kemana sih? Apa jangan-jangan memang lagi diluar sama wanita lain. Awas aja ya.” Batinnya mulai berfikiran buruk. Melahirkan asumsi yang sudah pasti menjadi boomerang untuk hubungannya nanti. Curiga dan rasa cemburu sudah tumbuh dihatinya, takut jika Andry akan melakukan sesuatu yang menyakitinya.
“ Mandi dulu deh, nanti habis makan malam aku video call. Awas aja kalau beneran lagi diluar.” Gumamnya kesal.
Fani beranjak dan masuk kedalam kamar mandi. Bermain-main air untuk menyegarkan tubuhnya yang lelah hari ini. 15 menit kemudian dia keluar dengan handuk yang melilit dibadan, ponselnya tiba-tiba berbunyi dan ternyata video call dari Andry. Fani terlonjak cemas karena dia masih mengenakan handuk. Dengan cepat dia memakai baju kaos longgar dan berlari meraih ponselnya. Saat hendak menggeser tombol jawab, mendadak panggilannya sudah mati. Fani mennggerutu kesal dan menunggu Andry menghubunginya lagi.
“ Ih kok gak ditelfon lagi sih. Aku kan udah buru-buru pakai baju tadi, malah panggilannya mati.” Gerutunya kesal sambil menekan pelan layar ponselnya. Fani kembali meraih handuk dan mengeringkan rambutnya yang pendek dan bergelombang. Duduk dimeja rias sambil melihta-lihat dirinya, mengangkat alisnya dan berfikir ternyata cantik juga dirinya.
“ Ternyata aku cantik juga ya.” Fani tersenyum dan terkekeh didepan kaca. Mengambil sisir dan mulai menyisir rambut kusutnya. Pikirannya masih enggan untuk pulang kerumah nenek, dia masih enggan meninggalkan Andry yang mudah merindukan. Sebenarnya sama aja, sama-sama demam cinta.
Fani membuka pintu kamar dan menuju dapur untuk makan malam. Disana sudah ada semua anggota keluarga kecuali dirinya. Fani bergegas duduk dan melengkapi formasi. Seperti biasa, makan malam mereka ditemani dengan canda tawa dan ejekan dari masing-masing annggota keluarga. Harus kuat batin kalau berbicara dengan keluarganya, karena suka mencemooh dan mengejek.
“ Udah bu.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari piring makannya.
“ Oh iya kak Joo ikut?.” Tanya Fani menghentikan langkah Joo yang ingin pergi kembali kekamar.
“ Ikut lah, kan yang lain ikut semua.” Sahut Joo melanjutkan langkahnya.
“ Yah, terpaksa deh ikut pulang kampung. Lagian mana berani aku tinggal sendirian dirumah.” Batinnya sambil menekuk wajahnya kesal karena harus ikut pulang kampung.
Fani segera menyelesaikan makan malamnya, membatu ibu membereskan piring dan meja. Kemudian kembali kekamarnya untuk mengecek ponselnya. Berharap ada banyak notif dari kekasihnya, namun tak satupun didapati Fani. Mulutnya mendadak maju 5 centi karena kesal, dengan tergesa-gesa Fani menekan tombol telfon. Fani
melakukan panggilan video call dengan wajah yang ditekuk kesal. Tiba-tiba panggilan tersambung dan Andry langsung disuguhkan dengan pemandangan yang menggemaskan. Senyum Andry terukir lebar dilayar ponsel Fani, sebaliknya dilayar ponsel Andry terpampang wajah cemberut Fani. Menggemaskan.
“ Sayang? Apa kau ingin membuatku datang dan memelukmu mala mini?.” Andry terkekeh melihat wajah Fani yang masih cemberut.
__ADS_1
“ Diam.” Bentak Fani kesal.
“ Menggemaskan. Aku ingin menggigit pipimu.” Andry membuka dan mengatupkan giginya seolah ingin menggigit Fani.
“ Hemh.” Fani hanya mendengus dan memalingkan wajahnya. Dari samping mulutnya tampak lebih monyong dibandingkan dari depan.
“ Hehehehe jadi makin rindu. Gemes banget sih sayangku.” Andry mencoba merayu kekasihnya itu. Meskipun dia tak tahu apa yang menyebabkan gadis itu langsung cemberut dan tampak kesal.
“ Kamu kenapa? Jangan cemberut dong nanti cantiknya hilang.” Sambungnya menggoda. Sesekali dia tak dapat menahan gelak tawanya saat melihat wajah lucu kekasihnya itu.
“ Tersenyum atau habis kau aku gigit.” Mengancam akan menggigit, kembali membuka dan mengatupkan giginya.
“ Aku marah.” Jawabnya sekenanya.
“ Marah kenapa sih cantik?.” Andry benar-benar tak tahu apa salahnya.
“ Kau bahkan hanya menelfon sekali. Aku berharap mendapat banyak notif darimu ketika selesai makan malam tadi.” Wajahnya semakin ditekuk. Namun Andry semakin tak dapat menahan gelak tawanya, Andry tertawa terbahak-bahak mendengar alasan kemarahan wanitanya itu.
“ Maafkan aku tuan puteri. Lain kali aku akan memberi banyak notif.” Andry mengangkat 2 jarinya seolah berjanji. Fani yang mudah dipujuk itu pun tersenyum bahagia.
“ Aku besok harus pulang kerumah nenek. Semua keluarga ikut pulang, aku gak mungkin tinggal sendirian.” Lirih suaranya mengatakan.
“ Iya gapapa, kamu ikut aja ya.” Andry menjawab dengan santai.
“ Kamu gapapa aku tinggal?.” Fani bertanya keheranan.
“ Engga. Besok kalau kangen kan tinggal nyusul doang.” Andry terkekeh dan Fani tersenyum girang.
“ Janji ya kamu nyusul kerumah nenek.” Pintanya kegirangan.
“ Janji tuan puteri.” Mengangkat kembali 2 jarinya sebagai symbol janji.
__ADS_1
Mereka berbincang dan melepas rindu dengan bertatap muka via telepon. Menghabiskan malam dengan canda tawa dan curhatan. Bertatap muka hingga ketiduran, hem wajar saja namanya juga sedang dimabuk cinta.