Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Mimpi Buruk


__ADS_3

“ Ha? Apa-apaan ini. Ternyata tu cewek sialan emang


lagi ada disini ya. Dasar gak punya harga diri.” Sophia berteriak hingga


teman-teman yang ada didekatnya juga terperanjak kaget.


“ Kenapa sih Sop?.” Tanya Dila, wanita muda yang


menjadi teman Sophia berlibur.


Sophia menatap dengan sinis, membesar dan


mengecilkan layar ponselnya. Memastikan jika foto itu beneran dan bukan hanya


editan semata. Lagi-lagi Andry mengunggah foto mesra mereka berdua ketika


sedang merayakan ulang tahun Fani dengan sangat sederhana.


“ Sop? Lo gapapa kan?.” Tanya teman Sophia yang


lainnya.


Sophia terdiam, hanya sorot mata dan wajahnya yang


ditekuk masam. Dapat ditebak jika Sophia sedang kesal dengan seseorang, hanya


saja kedua temannya tidak tau siapa yang sedang mengganggu ketenangan Sophia.


“ Sop, lo tenang dulu dong. Carita sama kita, siapa


yang bikin lo sekesal ini. Mana tau kita bisa bantu.” Dila mencoba menenangkan


Sophia yang menatap dengan seram seperti orang yang sedang kesetanan.


 “ Fan, ini akan jadi kencan terakhir kita.


Mungkin kita baru bisa kencan setahun lagi, atau bahkan tidak pernah berkencan


lagi.” Endrico merunduk mengiba. Kedua tangannya masih menggenggam erat tangan


Fani, berulang kali masih menciumnya.


“ Kak Endi,” Fani


bergumam lirih, tidak nyaman berasa disituasi seperti ini.


“ Kak Endi, kak.” Fani


mencoba mengangkat dagu Endi. Wajahnya benar-benar terlihat sedih, matanya


berkaca-kaca seolah ditolak cintanya. Padahal Fani belum menjawab apapun, apa


yang akan dia jawab pun masih bingung. Setengah hatinya ingin menolak, namun


setengah hatinya juga ingin menerima. Dibalik rasa jijiknya dengan latar


belakang Endrico yang sering disebut lelaki baji*gan, Fani juga menyimpan rasa


diam-diam, rasa sayang.


Apa


ini trik baru agar tidak ditolak wanita? Atau dia tau kalau aku ini manusia


pengiba? Apa yang harus aku katakan? Aku tolak? Tapi aku juga sayang, ya


sekalipun aku gak tau rasa ini hadir sejak kapan.


“ Fan, jawab aku.


Bersediakah kamu aku cintai? Bersediakah kamu menjadi mentariku? Bersediakah kau


menjadi bulatan hitam dibola mataku? Bersediakah?.” Endrico semakin merunduk,


tubuhnya lesu. Kepalanya diletakkan tepat dipangkuan Fani, mengiba dan memohon.


“ Kak Endi, jangan.


Jangan begini, aku tidak enak hati.” Fani mengangkat paksa dagu Endrico, menarik


perhatian Endrico agar beralih padanya, menatap wajahnya. Kedua tangannya


lembut Fani berganti mengelus pipi Endrico, wajah yang tampak seperti menangis


meringis.


“ Fan.” Endrico


menghambur memeluk Fani. Memeluk dengan erat, sangat erat. Fani hanya diam dan


membalas pelukannya, sembari sesekali mengelus punggung lelaki yang mengiba


rasa padanya.


Entah


ini bagian dari naskahmu, atau memang kau mengiba rasa padaku. Lalu jika aku


berikan cinta, kau suguhkan jarak? Kau minta kunci, tapi kau bawa gemboknya.


Lalu apa yang akan kita buka? Lembar kesedihan? Menulis kejamnya jarak? Atau


kau memintaku menghitung mundur hari? 365?


“ Kak, ini diluar


dugaan. Terkait perasaan memang gak ada yang bisa memberi batasan ataupun


larangan. Hanya saja untuk apa kita bangun hubungan, jika akhirnya kita


membentang jarak secara bersamaan?.” Fani menarik tubuh Endrico menjauh,


memaksa tubuh kekar itu melepaskan diri dari pelukannya.


“ Tapi Fan, jarak bukan


halangan. Kita bisa saling menabung rindu, kemudian bertemu. Kita bisa berkasih


sayang meski hanya lewat pesan dan panggilan.” Endrico bergumam lirih. Terus


mencoba meyakinkan Fani jika dirinya benar-benar mencintai.


“ Kak, untuk apa? Kita


buka lembaran baru hari ini, tapi besok jarak sudah membentang, menentang. Lalu


hal pertama yang akan kita tulis adalah kejamnya jarak? Bagian awal saja sudah


rumpang, bagaimana selanjutnya? Ingin seberapa banyak rumpang dalam hubungan


ini nantinya? Bukan hanya masalah jarak kak, ini juga menyangkut masalah hati


yang terlalu lama ditinggal pergi, nanti bisa mati.” Fani tersenyum tipis,


kemudian menggenggam erat tangan Endrico.


“ Kamu nolak aku Fan?


Kamu benar-benar gak ada rasa sama sekali?.” Endrico menghela nafas panjang.


Suaranya yang semula lirih berganti menjadi lantang nyaring.


“ Bukan begitu kak


Endi. Apapun yang berhubungan dengan hati, dengan perasaan kita harus


hati-hati. Harus dipikirkan baik-baik, persentase kebahagiaan, kesedihan hingga


dengan kekecewaan. Aku hanya gak mau kecewa karena jarang yang membentang,


rindu yang menjulang.” Fani berbicara dengan sangat manis, senyum tipis dan


sedikit puitis. Mencoba menenangkan Endrico, menenangkan hatinya sendiri,


menenangkan rasa yang menggebu-gebu dalam hati.


“ Fan, jarak bukan


penghalang. Meskipun membentang ribuan atau jutaan hasta, rasa yang ada juga


tetap sama. Jadilah rumah untuk aku kembali, jangan biarkan aku lupa diri.”


Endrico terus memohon, mengiba dan mencoba meyakinkan Fani. Ini adalah


kesempatan terakhirnya sebelum besok sudah harus pergi mengejar cita-citanya.


Fani terdiam seketika,


mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut manis Endrico. Entah dia


benar-benar serius atau tidak, itu hanya dia dan tuhannya lah yang tau. Rasa


yang Fani punya menggebu-gebu tidak tentu makna, ingin membaur dan betemu


dengan cintanya. Makin jauh memikirkan kemungkinan, makin kencang nafas Fani,


makin tidak beraturan. Nafasnya tersengal-sengal bak orang habis dikejar setan,


suaranya denguhan nafasnya lantang.


“ Fan, kamu gak apa-apa


kan? Aku salah ngomong ya? Maaf Fan, maafin aku ya.” Endrico mendadak panic


melihar reaksi Fani, kalang kabut menanyakan sembari menggosok-gosok punggung


Fani agar sadar. Malam ini sudah berapa kali dia dibuat panic oleh Fani, entah


sakit atau kesurupan setan.

__ADS_1


Kau


kenapa? Tadi juga seperti ini. kau memang sakit atau kau punya riwayat penyakit


lain? Apa pernafasanmu bermasalah.


“ Fan,” Endrico


mengambur memeluk Fani lagi. Sejak tadi sudah tak terhitung berapa kali dia


memeluk dan mengecup Fani. Selagi Fani tidak merasa terganggu, dia akan terus


melakukannya, selagi bisa, selagi ada kesempatannya.


“ Kak Endi, jangan


rengkuh aku terlalu kuat, aku sulit bernafas.” Sahut Fani yang kemudian membuat


Endrico buru-buru merenggangkan pelukannya dan terkekeh geli melihat tingkah


Fani.


“ Fan, jawab. Jangan biarin


aku pergi membawa harapan.” Endrico meringis dipundak Fani, terus mengiba dan


memohon agar diterima cintanya.


“ Fan, kamu mau kan


jadi pacar aku?.” Lanjutnya terus meringis.


“ Kak Endi, beri aku


waktu 2 hari untuk memikirkan jawabannya.” Fani mendorong tubuh Endrico agar


menjauh dari tubuhnya.


“ Terlalu lama Fan, aku


kasih kamu waktu 5 menit untuk mikirin jawabannya. Aku mau dengar jawabannya


sebelum aku berangkat, apapun jawaban kamu aku bakal terima. Setidaknya aku


bisa pergi dengan perasaan tenang.” Ucap Endrico, kemudian menggenggam tangan


Fani erat-erat. Tubuh Fani seolah sudah diklaim menjadi hak milik, sentuh sana


sentuh sini.


“ Kak, terlalu singkat


waktunya. Beri aku waktu sampai besok. Aku harus mikirin jawabannya baik-baik,


bagaimana resikonya.” Fani tersenyum manis, kemudian membalas genggaman tangan


Endrico.


“ Gak Fan, kamu harus


jawab sekarang juga, malam ini juga. Kalau kamu gak jawab sekarang aku gak


bakal jalan, kita disini aja semalaman.” Endrico mendengus, wajahnya sebentar


panic sebentar sedih. Pandangannya diedarkan keseliling, menatap mobil-mobil


yang satu persatu mulai pergi, seolah mengatakan apa kau mau kita tidur didalam


mobil diparkiran ini?.


“ Hem, Kak,,” Fani


hendak bicara, namun gantian Endrico yang menyela pembicaraan. Hanya dalam


waktu beberapa jam mereka bersama, namun sudah sama-sama jadi manusia dengan


hobi menyela.


“ Gak, gak ada


tapi-tapian. Aku kasih waktu 5 menit, titik.” Endrico menegaskan jika dia tidak


ingin menunggu terlalu lama. Kesannya sangat memaksa, namun Fani masih saja


tidak memberi respon apa-apa. Segitu cintakah dia dengan lelaki yang ada


dihadapannya ini?.


“ 15 menit?.” Sahut


Fani menawar.


“ 5 menit.” Ketus


Endrico.


Fani terus menawar waktu.


“ Hem baiklah 10 menit


ya, mulai dari sekarang.” Endrico mencium punggung tangan Fani secara


bergantian. Kemudian keluar dari mobil, membiarkan Fani memikirkan jawaban


dalam waktu yang cukup singkat ini. Mungkin dia perlu menyendiri memikirkan


jawaban.


Fani masih terdiam dan


enggan bergeming. Membalas lekatnya pandangan Endrico, saling menatap, saling


merasa, kemudian tanpa sadar Fani sudah tenggelam dalam pelukan Endrico.


Berulang kali kepala dan keningnya dikecup bergantian. Fani hanya bisa memeluk


Endrico erat, merasa nyaman, merasa mendapatkan kasih sayang yang sudah


beberapa bulan ini tidak pernah dia rasakan.


“ Sayang, tetaplah


begini untuk beberapa saat. Aku benar-benar nyaman.” Endrico memeluk erat tubuh


Fani sembari mengecup rambutnya lagi dan lagi. Fani tidak mengatakan apapun,


hanya membalas dengan pelukan yang semakin erat. Benar-benar sudah gila, dia


tenggelam dalam cumbu rayu yang Endrico berikan. Bahkan Endrico sudah berani


memanggilnya dengan sebutan sayang, mungkin melihat sinyal positif yang


diberikan Fani.


“ Ah aku mencintaimu.”


Endrico tak henti-hentinya membuat Fani terbang melayang dengan bujuk rayunya.


“ Kak Endi, jangan


paksa aku mengatakan iya.” Tiba-tiba Fani bersuara. Apa yang dia katakan


benar-benar menjadi sinyal bagi Endi, bau-bau jika cintanya tidak bertepuk


sebelah tangan.


“ Kamu mau kan jadi


pacar aku?.” Ucapnya tersenyum lebar. Tangannya yang melingkar ditubuh Fani


terasa bergetar karena kegirangan.


Fani tidak mengatakan


apapun, hanya mengangguk mengiyakan sembari tersenyum senang. Kali ini dia


menerima seseorang memang berdasarkan rasa cinta dan sayang yang dimiliknya.


Berbeda dulu sewaktu menerima cinta Andry, penuh dengan drama dan keterpaksaan.


Walaupun akhirnya dia jatuh cinta dan saling mencinta. Tapi akhirnya Andry


tetap sama saja, menjadi baj*ngan, menyia-nyiakan cinta tulusnya. Itu sih


katanya, asumsinya saja. Padahal kenyataan berbeda, sangat berbeda dari semua


yang dipikirnya.


“ Serius?.” Endrico


mendorong tubuh Fani pelan, menatap dengan penuh rasa senang. Mereka saling


menatap, saling tersenyum, saling bahagia dan saling dimabuk cinta.


“ Iya kak,” Fani


tersenyum meyakinkan Endrico jika dia benar-benar menerima cinta lelaki yang


ada dihadapannya itu, dan sekarang mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih.


“ Aaaa terimakasih


sayang.” Endrico kembali merengkuh Fani kedalam pelukannya, memeluk dengan


sangat erat, penuh cinta dan kasih sayang. Kemudian Endrico mendorong kembali


tubuh Fani, menatap sang gadis yang sudah resmi menjadi kekasihnya dan


menghujaninya dengan ciuman, berkali-kali, berulang kali dan banyak kali.

__ADS_1


“ Aku sangat bahagia.”


Lanjutnya sembari terus menghujani Fani dengan ciuman dibagian kening dan pipi.


Hubungan gila, baru diterima menjadi pacar saja sudah ikhlas digayang-gayangi


seperti ini.


Endrico terus memeluk


Fani, mencium kening, rambut, pipi kiri dan kanan. Bahkan Endrico juga tidak


segan-segan mencium bibir gadis yang kini sepenuhnya jadi miliknya ini.


Lagi-lagi tidak ada penolakan dari Fani, dia hanya diam tersenyum dan menikmati


apa yang dilakukan Endrico.


“ Maaf ya sayang aku


sampai acak-acakin rambut kamu. Habisnya aku seneng banget nih.” Endrico


melepaskan pelukannya sembari terkekeh, kemudian memberikan satu kecupan lagi


dikening Fani.


“ Kita jalan ya kak,


udah malam nanti ibu khawatir.” Fani menggenggam tangan Endrico.


Endrico mengangguk dan


kemudian melajukan mobilnya dijalanan. Duduk dibelakang kemudi dan mengemudi


dengan tenang, dalam hatinya sudah tidak karuan, jingkrak-jingkrak kesenangan.


Akhirnya dia bisa mendapatkan Fani, wanita yang diincarnya sejak 2 bulan lalu.


Dengan susah payah dan penuh kesabaran Endrico menabung cinta, menabung berani


hingga akhirnya mala mini dia berani mengungkapkan perasaanya didetik-detik


sebelum keberangkatannya.


Akhirnya


aku mendapatkamu. Betapa bahagianya aku. Jadilah baik, biar aku cinta selalu.


Sementara dikursi


sebelah Fani sibuk berkecamuk dengan hatinya. Setelah menerima cinta Endrico


malah ada rasa penyesalan pula. Diterima salah, ditolak juga salah. Pikirannya memaksa


terima, apalagi perlakuan Endrico yang membuat hatinya kembang kempis. Tapi


apalah, menyesal pun tiada artinya. Dia sudah resmi menjadi kekasihnya. Tidak


mungkin diputuskan sekarang juga, bahkan hubungannya belum sampai hitungan jam.


Maafkan


aku hati, kali ini akulah yang berkhianat. Padahal biasanya kau yang selalu


kurang ajar, biasanya kau yang berkhianat. Maaf, maafkan aku. kali ini aku


termakan omongan, kali ini aku termakan bujuk rayuan. Ah maafkan aku, semoga


lain kali kita tidak pernah saling berkhianat lagi, semoga lain kali kita


saling sejalan. Kali ini biar lah aku jalani, entah bagaimana nanti, bahagia


atau tidak biarlah jadi rahasia semesta. Semoga pengkhianatan seperti


sebelumnya tidak kembali berulang.


**


Fani bersandar


diranjang, tertegun diam memikirkan. Pikirannya tertuju pada hubungan yang baru


saja dia resmikan. Tiba-tiba teringat tentang siapa Endrico yang sebenarnya,


bagaimana Endrico yang dia tau dari orang-orang. Seperti apa perlakuannya pada


wanita, bagaimana dia merayu wanita. Risau mulai menggeliak dihatinya, takut


dia yang akan dijadikan target permainan selanjutnya.


“ Kenapa aku semacam


tersihir sih? Tiba-tiba aku langsung mengiyakan, menerima cintanya.” Batin


Fani. Merasa aneh dengan dirinya yang tadi, seolah tersihir dan tidak bisa


menolak apapun yang Endrico lakukan.


“ Aaaa sekarang aku


udah resmi jadi kekasihnya. Aaaa apa yang harus aku lakukan, aku udah jadi


pacarnya. Aaa aku udah jadi sayangnya, cintanya kasihnya.” Fani meraung-raung


dibalik bantalnya. Menyesali semua yang terlah terjadi, padahal tidak ada


gunanya.


Ah


matilah, biar saja semua berjalan semestinya. Mudah-mudahan aku benar-benar


dicintainya, benar-benar disayanginya.


“ Aaaaaaaaaaaaa.” Teriak


Fani terjaga dari tidurnya. Nafasnya memburu dan keringatnya bercucuran.


“ Ya tuhan kenapa aku


mimpi buruk sih.” Gumamnya sesenggukan.


Fani mengusap wajahnya


yang dipenuhi keringat, sudah lama dia tidak pernah mimpi buruk begini. Meskipun


yang dimimpikan Fani adalah saat Endrico menyatakan cinta padanya, tidak


terlalu buruk sih. Mungkin karena seharian ini dia memikirkan tentang bagaimana


dia menemukan alasan yang tepat untuk melepaskan Endrico hingga terbawa-bawa


kedalam mimpinya. Atau bisa jadi ini adalah perasaan bersalah Fani karena akan


meninggalkan Endrico dengan cara yang sadis.


“ Maafkan aku kak Endi.


Tapi aku memang ingin kembali dengan Andry. Meskipun kalian sama-sama mengisi


hatiku, tapi Andry lebih banyak menguasai ruang hatiku. Maafkan aku.” Ratap


Fani sendu. Tangannya menjambak rambut frustasi.


“ Maafkan aku kak,


maafkan aku.” Ratap Fani semakin sendu.


Fani menangis


tersedu-sedu, sesekali matanya menatap jam disebelah ranjangnya, sudah pukul 2


malam. Fani terus menangis, kepalanya terasa berat memikirkan Andry dan


Endrico. Ingin memilih salah satu diantara mereka berdua tapi Fani tidak bisa. Ingin


meninggalkan kedua-duanya juga Fani tidak bisa. Jadi apa yang harus


dilakukannya, haruskah dia terus-terusan dihantui rasa bersalah? Hanya karena


cinta, hanya karena rasa.


“ Aaaaaaa lama-lama aku


bisa gila hanya karena cinta. Alih-alih nanti aku tinggalkan kedua-duanya.” Teriak


Fani menggema memenuhi ruang kamarnya.


Fani menenggelamkan


wajahnya kedalam bantal empuk miliknya, sengaja membuat nafasnya sesak, tidak masalah


yang penting tangisnya bisa menjadi reda, yang penting bisa tenang.


Ya


tuhan, gila aku karena cinta. Menjauhlah kalian, enyahlah kalian semua.


**


Hallo pembaca setia


Suamiku Hasil Taruhan, apa kabar? semoga kalian sehat selalu yaa. Hari ini aku


crazy up, semoga bisa menemani kebosanan kalian. Jangan lupa tinggalkan jejak


ya, jangan lupa like, koment dan vote serta kasih bintang 5 ya. Terimakasihh


semuanya. Salam cinta dari author untuk kalian semuanya. Luv.

__ADS_1


__ADS_2