
“ Ha? Apa-apaan ini. Ternyata tu cewek sialan emang
lagi ada disini ya. Dasar gak punya harga diri.” Sophia berteriak hingga
teman-teman yang ada didekatnya juga terperanjak kaget.
“ Kenapa sih Sop?.” Tanya Dila, wanita muda yang
menjadi teman Sophia berlibur.
Sophia menatap dengan sinis, membesar dan
mengecilkan layar ponselnya. Memastikan jika foto itu beneran dan bukan hanya
editan semata. Lagi-lagi Andry mengunggah foto mesra mereka berdua ketika
sedang merayakan ulang tahun Fani dengan sangat sederhana.
“ Sop? Lo gapapa kan?.” Tanya teman Sophia yang
lainnya.
Sophia terdiam, hanya sorot mata dan wajahnya yang
ditekuk masam. Dapat ditebak jika Sophia sedang kesal dengan seseorang, hanya
saja kedua temannya tidak tau siapa yang sedang mengganggu ketenangan Sophia.
“ Sop, lo tenang dulu dong. Carita sama kita, siapa
yang bikin lo sekesal ini. Mana tau kita bisa bantu.” Dila mencoba menenangkan
Sophia yang menatap dengan seram seperti orang yang sedang kesetanan.
“ Fan, ini akan jadi kencan terakhir kita.
Mungkin kita baru bisa kencan setahun lagi, atau bahkan tidak pernah berkencan
lagi.” Endrico merunduk mengiba. Kedua tangannya masih menggenggam erat tangan
Fani, berulang kali masih menciumnya.
“ Kak Endi,” Fani
bergumam lirih, tidak nyaman berasa disituasi seperti ini.
“ Kak Endi, kak.” Fani
mencoba mengangkat dagu Endi. Wajahnya benar-benar terlihat sedih, matanya
berkaca-kaca seolah ditolak cintanya. Padahal Fani belum menjawab apapun, apa
yang akan dia jawab pun masih bingung. Setengah hatinya ingin menolak, namun
setengah hatinya juga ingin menerima. Dibalik rasa jijiknya dengan latar
belakang Endrico yang sering disebut lelaki baji*gan, Fani juga menyimpan rasa
diam-diam, rasa sayang.
Apa
ini trik baru agar tidak ditolak wanita? Atau dia tau kalau aku ini manusia
pengiba? Apa yang harus aku katakan? Aku tolak? Tapi aku juga sayang, ya
sekalipun aku gak tau rasa ini hadir sejak kapan.
“ Fan, jawab aku.
Bersediakah kamu aku cintai? Bersediakah kamu menjadi mentariku? Bersediakah kau
menjadi bulatan hitam dibola mataku? Bersediakah?.” Endrico semakin merunduk,
tubuhnya lesu. Kepalanya diletakkan tepat dipangkuan Fani, mengiba dan memohon.
“ Kak Endi, jangan.
Jangan begini, aku tidak enak hati.” Fani mengangkat paksa dagu Endrico, menarik
perhatian Endrico agar beralih padanya, menatap wajahnya. Kedua tangannya
lembut Fani berganti mengelus pipi Endrico, wajah yang tampak seperti menangis
meringis.
“ Fan.” Endrico
menghambur memeluk Fani. Memeluk dengan erat, sangat erat. Fani hanya diam dan
membalas pelukannya, sembari sesekali mengelus punggung lelaki yang mengiba
rasa padanya.
Entah
ini bagian dari naskahmu, atau memang kau mengiba rasa padaku. Lalu jika aku
berikan cinta, kau suguhkan jarak? Kau minta kunci, tapi kau bawa gemboknya.
Lalu apa yang akan kita buka? Lembar kesedihan? Menulis kejamnya jarak? Atau
kau memintaku menghitung mundur hari? 365?
“ Kak, ini diluar
dugaan. Terkait perasaan memang gak ada yang bisa memberi batasan ataupun
larangan. Hanya saja untuk apa kita bangun hubungan, jika akhirnya kita
membentang jarak secara bersamaan?.” Fani menarik tubuh Endrico menjauh,
memaksa tubuh kekar itu melepaskan diri dari pelukannya.
“ Tapi Fan, jarak bukan
halangan. Kita bisa saling menabung rindu, kemudian bertemu. Kita bisa berkasih
sayang meski hanya lewat pesan dan panggilan.” Endrico bergumam lirih. Terus
mencoba meyakinkan Fani jika dirinya benar-benar mencintai.
“ Kak, untuk apa? Kita
buka lembaran baru hari ini, tapi besok jarak sudah membentang, menentang. Lalu
hal pertama yang akan kita tulis adalah kejamnya jarak? Bagian awal saja sudah
rumpang, bagaimana selanjutnya? Ingin seberapa banyak rumpang dalam hubungan
ini nantinya? Bukan hanya masalah jarak kak, ini juga menyangkut masalah hati
yang terlalu lama ditinggal pergi, nanti bisa mati.” Fani tersenyum tipis,
kemudian menggenggam erat tangan Endrico.
“ Kamu nolak aku Fan?
Kamu benar-benar gak ada rasa sama sekali?.” Endrico menghela nafas panjang.
Suaranya yang semula lirih berganti menjadi lantang nyaring.
“ Bukan begitu kak
Endi. Apapun yang berhubungan dengan hati, dengan perasaan kita harus
hati-hati. Harus dipikirkan baik-baik, persentase kebahagiaan, kesedihan hingga
dengan kekecewaan. Aku hanya gak mau kecewa karena jarang yang membentang,
rindu yang menjulang.” Fani berbicara dengan sangat manis, senyum tipis dan
sedikit puitis. Mencoba menenangkan Endrico, menenangkan hatinya sendiri,
menenangkan rasa yang menggebu-gebu dalam hati.
“ Fan, jarak bukan
penghalang. Meskipun membentang ribuan atau jutaan hasta, rasa yang ada juga
tetap sama. Jadilah rumah untuk aku kembali, jangan biarkan aku lupa diri.”
Endrico terus memohon, mengiba dan mencoba meyakinkan Fani. Ini adalah
kesempatan terakhirnya sebelum besok sudah harus pergi mengejar cita-citanya.
Fani terdiam seketika,
mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut manis Endrico. Entah dia
benar-benar serius atau tidak, itu hanya dia dan tuhannya lah yang tau. Rasa
yang Fani punya menggebu-gebu tidak tentu makna, ingin membaur dan betemu
dengan cintanya. Makin jauh memikirkan kemungkinan, makin kencang nafas Fani,
makin tidak beraturan. Nafasnya tersengal-sengal bak orang habis dikejar setan,
suaranya denguhan nafasnya lantang.
“ Fan, kamu gak apa-apa
kan? Aku salah ngomong ya? Maaf Fan, maafin aku ya.” Endrico mendadak panic
melihar reaksi Fani, kalang kabut menanyakan sembari menggosok-gosok punggung
Fani agar sadar. Malam ini sudah berapa kali dia dibuat panic oleh Fani, entah
sakit atau kesurupan setan.
__ADS_1
Kau
kenapa? Tadi juga seperti ini. kau memang sakit atau kau punya riwayat penyakit
lain? Apa pernafasanmu bermasalah.
“ Fan,” Endrico
mengambur memeluk Fani lagi. Sejak tadi sudah tak terhitung berapa kali dia
memeluk dan mengecup Fani. Selagi Fani tidak merasa terganggu, dia akan terus
melakukannya, selagi bisa, selagi ada kesempatannya.
“ Kak Endi, jangan
rengkuh aku terlalu kuat, aku sulit bernafas.” Sahut Fani yang kemudian membuat
Endrico buru-buru merenggangkan pelukannya dan terkekeh geli melihat tingkah
Fani.
“ Fan, jawab. Jangan biarin
aku pergi membawa harapan.” Endrico meringis dipundak Fani, terus mengiba dan
memohon agar diterima cintanya.
“ Fan, kamu mau kan
jadi pacar aku?.” Lanjutnya terus meringis.
“ Kak Endi, beri aku
waktu 2 hari untuk memikirkan jawabannya.” Fani mendorong tubuh Endrico agar
menjauh dari tubuhnya.
“ Terlalu lama Fan, aku
kasih kamu waktu 5 menit untuk mikirin jawabannya. Aku mau dengar jawabannya
sebelum aku berangkat, apapun jawaban kamu aku bakal terima. Setidaknya aku
bisa pergi dengan perasaan tenang.” Ucap Endrico, kemudian menggenggam tangan
Fani erat-erat. Tubuh Fani seolah sudah diklaim menjadi hak milik, sentuh sana
sentuh sini.
“ Kak, terlalu singkat
waktunya. Beri aku waktu sampai besok. Aku harus mikirin jawabannya baik-baik,
bagaimana resikonya.” Fani tersenyum manis, kemudian membalas genggaman tangan
Endrico.
“ Gak Fan, kamu harus
jawab sekarang juga, malam ini juga. Kalau kamu gak jawab sekarang aku gak
bakal jalan, kita disini aja semalaman.” Endrico mendengus, wajahnya sebentar
panic sebentar sedih. Pandangannya diedarkan keseliling, menatap mobil-mobil
yang satu persatu mulai pergi, seolah mengatakan apa kau mau kita tidur didalam
mobil diparkiran ini?.
“ Hem, Kak,,” Fani
hendak bicara, namun gantian Endrico yang menyela pembicaraan. Hanya dalam
waktu beberapa jam mereka bersama, namun sudah sama-sama jadi manusia dengan
hobi menyela.
“ Gak, gak ada
tapi-tapian. Aku kasih waktu 5 menit, titik.” Endrico menegaskan jika dia tidak
ingin menunggu terlalu lama. Kesannya sangat memaksa, namun Fani masih saja
tidak memberi respon apa-apa. Segitu cintakah dia dengan lelaki yang ada
dihadapannya ini?.
“ 15 menit?.” Sahut
Fani menawar.
“ 5 menit.” Ketus
Endrico.
Fani terus menawar waktu.
“ Hem baiklah 10 menit
ya, mulai dari sekarang.” Endrico mencium punggung tangan Fani secara
bergantian. Kemudian keluar dari mobil, membiarkan Fani memikirkan jawaban
dalam waktu yang cukup singkat ini. Mungkin dia perlu menyendiri memikirkan
jawaban.
Fani masih terdiam dan
enggan bergeming. Membalas lekatnya pandangan Endrico, saling menatap, saling
merasa, kemudian tanpa sadar Fani sudah tenggelam dalam pelukan Endrico.
Berulang kali kepala dan keningnya dikecup bergantian. Fani hanya bisa memeluk
Endrico erat, merasa nyaman, merasa mendapatkan kasih sayang yang sudah
beberapa bulan ini tidak pernah dia rasakan.
“ Sayang, tetaplah
begini untuk beberapa saat. Aku benar-benar nyaman.” Endrico memeluk erat tubuh
Fani sembari mengecup rambutnya lagi dan lagi. Fani tidak mengatakan apapun,
hanya membalas dengan pelukan yang semakin erat. Benar-benar sudah gila, dia
tenggelam dalam cumbu rayu yang Endrico berikan. Bahkan Endrico sudah berani
memanggilnya dengan sebutan sayang, mungkin melihat sinyal positif yang
diberikan Fani.
“ Ah aku mencintaimu.”
Endrico tak henti-hentinya membuat Fani terbang melayang dengan bujuk rayunya.
“ Kak Endi, jangan
paksa aku mengatakan iya.” Tiba-tiba Fani bersuara. Apa yang dia katakan
benar-benar menjadi sinyal bagi Endi, bau-bau jika cintanya tidak bertepuk
sebelah tangan.
“ Kamu mau kan jadi
pacar aku?.” Ucapnya tersenyum lebar. Tangannya yang melingkar ditubuh Fani
terasa bergetar karena kegirangan.
Fani tidak mengatakan
apapun, hanya mengangguk mengiyakan sembari tersenyum senang. Kali ini dia
menerima seseorang memang berdasarkan rasa cinta dan sayang yang dimiliknya.
Berbeda dulu sewaktu menerima cinta Andry, penuh dengan drama dan keterpaksaan.
Walaupun akhirnya dia jatuh cinta dan saling mencinta. Tapi akhirnya Andry
tetap sama saja, menjadi baj*ngan, menyia-nyiakan cinta tulusnya. Itu sih
katanya, asumsinya saja. Padahal kenyataan berbeda, sangat berbeda dari semua
yang dipikirnya.
“ Serius?.” Endrico
mendorong tubuh Fani pelan, menatap dengan penuh rasa senang. Mereka saling
menatap, saling tersenyum, saling bahagia dan saling dimabuk cinta.
“ Iya kak,” Fani
tersenyum meyakinkan Endrico jika dia benar-benar menerima cinta lelaki yang
ada dihadapannya itu, dan sekarang mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih.
“ Aaaa terimakasih
sayang.” Endrico kembali merengkuh Fani kedalam pelukannya, memeluk dengan
sangat erat, penuh cinta dan kasih sayang. Kemudian Endrico mendorong kembali
tubuh Fani, menatap sang gadis yang sudah resmi menjadi kekasihnya dan
menghujaninya dengan ciuman, berkali-kali, berulang kali dan banyak kali.
__ADS_1
“ Aku sangat bahagia.”
Lanjutnya sembari terus menghujani Fani dengan ciuman dibagian kening dan pipi.
Hubungan gila, baru diterima menjadi pacar saja sudah ikhlas digayang-gayangi
seperti ini.
Endrico terus memeluk
Fani, mencium kening, rambut, pipi kiri dan kanan. Bahkan Endrico juga tidak
segan-segan mencium bibir gadis yang kini sepenuhnya jadi miliknya ini.
Lagi-lagi tidak ada penolakan dari Fani, dia hanya diam tersenyum dan menikmati
apa yang dilakukan Endrico.
“ Maaf ya sayang aku
sampai acak-acakin rambut kamu. Habisnya aku seneng banget nih.” Endrico
melepaskan pelukannya sembari terkekeh, kemudian memberikan satu kecupan lagi
dikening Fani.
“ Kita jalan ya kak,
udah malam nanti ibu khawatir.” Fani menggenggam tangan Endrico.
Endrico mengangguk dan
kemudian melajukan mobilnya dijalanan. Duduk dibelakang kemudi dan mengemudi
dengan tenang, dalam hatinya sudah tidak karuan, jingkrak-jingkrak kesenangan.
Akhirnya dia bisa mendapatkan Fani, wanita yang diincarnya sejak 2 bulan lalu.
Dengan susah payah dan penuh kesabaran Endrico menabung cinta, menabung berani
hingga akhirnya mala mini dia berani mengungkapkan perasaanya didetik-detik
sebelum keberangkatannya.
Akhirnya
aku mendapatkamu. Betapa bahagianya aku. Jadilah baik, biar aku cinta selalu.
Sementara dikursi
sebelah Fani sibuk berkecamuk dengan hatinya. Setelah menerima cinta Endrico
malah ada rasa penyesalan pula. Diterima salah, ditolak juga salah. Pikirannya memaksa
terima, apalagi perlakuan Endrico yang membuat hatinya kembang kempis. Tapi
apalah, menyesal pun tiada artinya. Dia sudah resmi menjadi kekasihnya. Tidak
mungkin diputuskan sekarang juga, bahkan hubungannya belum sampai hitungan jam.
Maafkan
aku hati, kali ini akulah yang berkhianat. Padahal biasanya kau yang selalu
kurang ajar, biasanya kau yang berkhianat. Maaf, maafkan aku. kali ini aku
termakan omongan, kali ini aku termakan bujuk rayuan. Ah maafkan aku, semoga
lain kali kita tidak pernah saling berkhianat lagi, semoga lain kali kita
saling sejalan. Kali ini biar lah aku jalani, entah bagaimana nanti, bahagia
atau tidak biarlah jadi rahasia semesta. Semoga pengkhianatan seperti
sebelumnya tidak kembali berulang.
**
Fani bersandar
diranjang, tertegun diam memikirkan. Pikirannya tertuju pada hubungan yang baru
saja dia resmikan. Tiba-tiba teringat tentang siapa Endrico yang sebenarnya,
bagaimana Endrico yang dia tau dari orang-orang. Seperti apa perlakuannya pada
wanita, bagaimana dia merayu wanita. Risau mulai menggeliak dihatinya, takut
dia yang akan dijadikan target permainan selanjutnya.
“ Kenapa aku semacam
tersihir sih? Tiba-tiba aku langsung mengiyakan, menerima cintanya.” Batin
Fani. Merasa aneh dengan dirinya yang tadi, seolah tersihir dan tidak bisa
menolak apapun yang Endrico lakukan.
“ Aaaa sekarang aku
udah resmi jadi kekasihnya. Aaaa apa yang harus aku lakukan, aku udah jadi
pacarnya. Aaa aku udah jadi sayangnya, cintanya kasihnya.” Fani meraung-raung
dibalik bantalnya. Menyesali semua yang terlah terjadi, padahal tidak ada
gunanya.
Ah
matilah, biar saja semua berjalan semestinya. Mudah-mudahan aku benar-benar
dicintainya, benar-benar disayanginya.
“ Aaaaaaaaaaaaa.” Teriak
Fani terjaga dari tidurnya. Nafasnya memburu dan keringatnya bercucuran.
“ Ya tuhan kenapa aku
mimpi buruk sih.” Gumamnya sesenggukan.
Fani mengusap wajahnya
yang dipenuhi keringat, sudah lama dia tidak pernah mimpi buruk begini. Meskipun
yang dimimpikan Fani adalah saat Endrico menyatakan cinta padanya, tidak
terlalu buruk sih. Mungkin karena seharian ini dia memikirkan tentang bagaimana
dia menemukan alasan yang tepat untuk melepaskan Endrico hingga terbawa-bawa
kedalam mimpinya. Atau bisa jadi ini adalah perasaan bersalah Fani karena akan
meninggalkan Endrico dengan cara yang sadis.
“ Maafkan aku kak Endi.
Tapi aku memang ingin kembali dengan Andry. Meskipun kalian sama-sama mengisi
hatiku, tapi Andry lebih banyak menguasai ruang hatiku. Maafkan aku.” Ratap
Fani sendu. Tangannya menjambak rambut frustasi.
“ Maafkan aku kak,
maafkan aku.” Ratap Fani semakin sendu.
Fani menangis
tersedu-sedu, sesekali matanya menatap jam disebelah ranjangnya, sudah pukul 2
malam. Fani terus menangis, kepalanya terasa berat memikirkan Andry dan
Endrico. Ingin memilih salah satu diantara mereka berdua tapi Fani tidak bisa. Ingin
meninggalkan kedua-duanya juga Fani tidak bisa. Jadi apa yang harus
dilakukannya, haruskah dia terus-terusan dihantui rasa bersalah? Hanya karena
cinta, hanya karena rasa.
“ Aaaaaaa lama-lama aku
bisa gila hanya karena cinta. Alih-alih nanti aku tinggalkan kedua-duanya.” Teriak
Fani menggema memenuhi ruang kamarnya.
Fani menenggelamkan
wajahnya kedalam bantal empuk miliknya, sengaja membuat nafasnya sesak, tidak masalah
yang penting tangisnya bisa menjadi reda, yang penting bisa tenang.
Ya
tuhan, gila aku karena cinta. Menjauhlah kalian, enyahlah kalian semua.
**
Hallo pembaca setia
Suamiku Hasil Taruhan, apa kabar? semoga kalian sehat selalu yaa. Hari ini aku
crazy up, semoga bisa menemani kebosanan kalian. Jangan lupa tinggalkan jejak
ya, jangan lupa like, koment dan vote serta kasih bintang 5 ya. Terimakasihh
semuanya. Salam cinta dari author untuk kalian semuanya. Luv.
__ADS_1