Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Pasang Dua?


__ADS_3

“ Dan lo kenapa? Lo


jatuh cinta pandangan pertama sama tu cowo?.” Irma semakin tidak sabar menunggu


jawaban dari Fani.


“ Dan gue gak sengaja


nabrak cowok tampan, dan itu ternyata Andry, lelaki yang gue hindari waktu


dirumah sakit. Eh malah ketemu di tempat makan.” Fani menghembuskan nafas


kasar. Seolah dia kesal dengan kejadian yang menimpanya.


“ Terus? Terus?.” Tanya


Irma. Suaranya tampak senang dan tidak sabar menantikan kelanjutan cerita


sahabatnya.


“ Terus gue sih maunya


menghindar, eh tapi gue gak bisa. Kaki gue terkilir dan gue dipaksa Andry buat


makan. Dia nemenin gue sambil cerita-cerita bertukar kabar. Huffhhhh.” Fani


menarik nafas panjang, wajahnya ditekuk sedih ketika mengingat Andry yang


menceritakan perjuangannya.


“ Dari situ juga gue


tau kebenaran yang sesungguhnya. Ternyata gue salah selama ini Ir, gue gegabah


dalam mengambil keputusan. Gue kekanak-kanakan. Lo benar, harusnya gue cari tau


dulu kebenaran, minta penjelasan dari Andry, bukan malah diam-diam memutuskan


hubungan sepihak. Awalnya gue gak percaya sama Andry, gue ngerasa itu Cuma


omong kosong aja buat balikin fakta. Alasan dia untuk menghindari kesalahannya,


tapi ternyata semua benar. Dia benar-benar nyamperin gue ke Pontianak, sampai


seminggu. Tapi sayang dia sama sekali gak ketemu gue.” Fani berhenti bicara,


sudah terlalu banyak dia bicara. Nafasnya sesak bak orang yang baru saja


berlari berkilo-kilo meter.


“ Huffhhh Fan, kan


waktu itu gue udah bilang sama lo. Sebaiknya lo minta penjelasan Andry, tapi lo


malah terlena sama Endi yang ada disamping lo. Sebenarnya wajar aja sih,


posisinya lo kan lagi patah hati sementara Endi selalu ada buat lo. Dia juga


gak perhitungan soal perhatian dan kepedulian, wajar juga kalau lo tertarik


sama Endi, wajar aja kalau lo nyamansama Endi. Itu manusiawi.” Irma menarik


nafas panjang, ada sedikit rasa kesal dalam hatinya. Sebelumnya dia sudah


pernah menasehati Fani, namun Fani enggan mendengarkan.


“ Iya Ir, gue nyesal


gak dengerin saran dari lo.” Ucapnya penuh rasa bersalah.


“ Terus gimana


kelanjutannya? Dia marah sama lo? Atau lo yang marah sama dia?.” Tanya Irma


yang masih penasaran dengan kisah cinta bersekat-sekat ini.


“ Dia masih sama Ir,


masih tetap sama kayak Andry yang dulu gue kenal. Sumpah dalam hati gue ngerasa


bersalah banget udah bikin dia tersiksa hanya demi mencari sebuah kepastian.”


Suara Fani mulai tidak normal, lirih seperti hendak menangis.


“ Dan dia masih sama,


masih cinta sama gue.” Akhirnya tangis Fani pecah, setelah cukup lama menahan


namun sudah tidak terbendung lagi.


“ Hei Fan, kenapa


nangis sih? Tenang dulu, gue gak ngerti apa yang bikin lo nangis. Lo tenang


dulu dong.” Irma mencoba menenangkan Fani, berharap sahabatnya masih meneruskan


cerita yang gantung ini.


“ Beberapa kali gue


sempat keluar jalan-jalan bareng Andry. Kita datang ketempat-tempat yang


bersejarah, tempat yang penuh kenangan bagi kita berdua. Seolah Andry sengaja


ingin mengulang kisah lama, dia semakin menumpuk cintanya sedangkan aku


berusaha menggali cinta yang aku timbun dengan uraian air mata.” Ucap Fani


tersedu-sedu.


“ Jujur gue masih cinta


sama Andry, bahkan tanpa perlu dia melakukan sesuatu. Hanya saja karena marah


aku mengatakan berulang-ulang disurat itu jika aku tidak lagi mencintainya. Ir


lo tau gak kesalahan terbesar gue saat ini? Gue terima lagi ajakan Andry untuk


balikan. Gue udah gak bisa lagi menahan diri, gue cinta dia Ir.” Fani semakin


kencang menangis, histeris. Tangisannya memenuhi seisi rumah yang sunyi tak


berpenghuni ini.


“ Fan, kenapa lo nangis


sih. Ini bukan kesalahan, ini namanya wajar. Apa yang salah dari kedua manusia


yang terpisah kemudian memutuskan untuk kembali bercinta?.” Ucap Irma dengan


bijak, tanpa mengingat ada satu cenangkik yang menyebabkan masalah.


“ Tapi Ir, lo kan tau


gue baru aja jadian sama Endi. Baru berapa bulan. Gue harus bilang apa sama


Endi? Gue gak tega. Apa gue harus mengulang kesalahan yang sama? Memutuskan


hubungan tanpa alasan yang jelas, lalu kemudian menumpuk sesal.”


“ Ya tuhan. Fan, gue


baru ingat. Bener ini masalah terbesar dalam hidup lo. Sebenarnya kalau gue


boleh jujur ni ya, kedua laki-laki itu adalah korban dari lo yang gak punya


pendirian. Lo tarik dua lelaki diantara lo, awalnya lo merasa adalah korban


dari percintaan yang kejam, padahal sebenarnya mereka berdua korban yang


sesungguhnya.” Irma tidak sungkan-sungkan langsung menyalahkan Fani ketika

__ADS_1


diingatkan tentang Endi. Rasa kasiannya seketika berubah menjadi geram, salah


siapa tidak ingin mendengarkan waktu itu.


“ Lo sendiri  yang menjebak diri lo dalam masalah,


seharusnya lo dengerin gue waktu itu. Kalau lo berhasil menahan diri dari


rayuan maut Endrico waktu itu, setidaknya lo gak perlu menghadapi situasi


seperti ini. Lo pasti jauh lebih bahagia ketika menemukan kembali cinta lo yang


udah jauh menghilang. Tapi liat sekarang, bahkan semesta pun enggan membantu,


ini murni kesalahan lo sendiri.” Irma semakin tidak bisa menahan diri. Semua


kesal yang selama ini dia pendam dengan lugas dia luahkan, tanpa dia sadar


bahwa dia membuat Fani semakin tersudutkan.


“ Gue gak bisa bantu


apa-apa Fan. Sebaiknya mulai sekarang lo pikirin baik-baik apa yang bakal lo


lakuin selanjutnya. Jangan sampai ada korban ketiga keempat dan seterusnya. Gue


harap lo bisa mengambil keputusan yang lebih bijak tanpa merugikan diri lo dan


siapapun.” Irma menarik nafas panjang, sudah tidak tau lagi harus mengatakan


apa. Bahkan stok kemarahannya saja sudah ludes dihempaskan.


“ Ir, kenapa lo malah


ikutan marah sih. Please bantu gue dong, gue harus gimana?.” Fani memohon agar


Irma membantunya untuk menyelesaikan permasalahan yang rumit ini.


“ Fan, gue gak bisa


bantu lo. Bukan karena gue gak mau, Cuma karena gue gak tau harus bantu apa.


Ini masalah hati lo, ini masalah percintaan lo.” Irma berusaha menolak. Tidak


ada salahnya yang dia katakan, memang dirinya tidak memiliki peran dalam


hubungan Fani selama ini. Bahkan sekalipun Irma adalah sahabat sejatinya, Irma


tetap tidak bisa mencampuri masalah hatinya.


Seketika suasana


berubah menjadi hening, tidak ada satupun yang berbicara. Sebelumnya masih


terdengar suara Fani yang tersedu-sedu, namun sekarang sama sekali tidak ada.


Hening bagai kuburan. Seolah-olah keduanya sedang berfikir. Cukup lama tidak


ada pembicaraan, mungkin hampir 5 menitan. Hingga tiba-tiba Fani buka suara,


mengatakan sesuatu yang membuat Irma mendidih kemarahannya.


“ Ir, bagaimana jika


aku pakai kedua-duanya. Tetap berhubungan seperti biasa.” Ucap Fani dengan


penuh semangat.


“ Ha? Maksud lo pasang


dua?.” Sahut Irma berteriak kaget.


“ Iya, gue pakai


kedua-duanya.” Ucap Fani dengan santai tanpa memikirkan ucapannya.


“ GILA YA LO! MAU


KAYAK LO. ARRGGHHH.” Irma berteriak penuh kemarahan kemudian tanpa aba-aba


langsung memutuskan sambungan telepon. Volume suaranya sudah kandas. Ucapan


Fani yang gila itu benar-benar membuat darahnya mendidih. Ingin rasanya memukul


kepala Fani berkali-kali agar dia sadar dengan kebodohan dirinya. Niatnya ingin


menyelesaikan masalah, alih-alih menyelesaikan masalah, yang ada malah menambah


masalah.


**


Fani terduduk sembari


menatap sang nenek yang terbaring lemah diranjang rumah sakit. Tatapannya saja


yang ada disana, pikirannya sih udah sampai kebelahan dunia lain. Matanya


sendu, bahkan berkedip pun sepertinya enggan. Yang ada dikepalanya hanya dua


lelaki yang saat ini menjadi kekasihnya. Serakah memang. Tapi ya tak bisa


dipungkiri, karena suka keduanya dan enggan kehilangan keduanya lah yang


membuat Fani nekad hingga melakukan semua ini.


“ Apa aku teruskan saja


ya? Aku pacaran sama keduanya, lagian gak ada yang tau selain Irma. Gak mungkin


juga dia sengaja ngehubungi Andry atau Endi hanya untuk mengadu hal yang


seperti ini.” Batin Fani sudah mulai tidak tahu diri.


“ Endi kan di Chicago


sekarang, si Andry juga dalam waktu dekat bakal terbang ke Chicago. Jarang


ketemu, dan bahkan susah nantinya. Jadi gak ada waktu buat mereka posesifin


aku, gak ada waktu buat check and recheck ponsel aku kan. Aman dong yaa.” Lanjutnya


semakin tidak tahu diri. Seperti sudah tidak ada jalan lain selain harus


menjalin hubungan dengan kedua lelaki ini, Fani benar-benar berubah menjadi


manusia yang serakah akan kasih sayang dan cinta dari pria.


“ Eh enggak, gak boleh.


Ini gak boleh terjadi. Aku gak boleh jadi wanita yang gila seperti ini. Tidak,


tidak.” Fani tersadar dari pikiran gilanya, kepalanya menggeleng cepat menolak


pemikiran gilanya itu.


“ Argghhh.” Gerutunya


menggeram, kemudian bergegas melangkah menuju kamar mandi.


“ Bisa-bisanya aku


berpikiran gila seperti ini.” ucapnya sembari mencuci wajahnya.


“ Pantas saja Irma


memakiku tadi. Ternyata pikiranku memang gila, layak untuk dicaci maki.” Fani


menarik nafas panjang, mengelus wajahnya hingga rasanya cukup tenang.


“ Pokoknya aku harus memilih

__ADS_1


salah satu diantara mereka, tidak ada yang namanya pasang dua. Bagaimanapun


caranya aku harus mencari jalan keluar dari masalah yang telah aku buat sendiri


ini.” Fani mengepalkan tangan, menyemangati diri sendiri agar segera menemukan


solusi untuk masalah yang rumit ini.


Fani berjalan


tergopoh-gopoh menuju kamar pasien, wajah lesu dan murungnya sudah tidak bisa


dipungkiri lagi. setiap orang yang melihatnya pasti sudah tau jika dia sedang


sedih dan galau. Fani meraih ponselnya, ingin mengajak Andry keluar dan


menghilangkan gundah gulana dirinya.


“ Mending keluar ajadeh


sama Andry, hitung-hitung nenangin pikiran.” Batinnya. Fani mencari kontak


Andry, menatap layar ponselnya lama sekali. Ingin menenangkan hati dan pikiran,


tapi Fani lupa jika orang yang akan dia ajak keluar adalah salah satu penyebab


kacaunya pikiran Fani.


“ Argghhh kenapa bodoh


begini sih. Kalau aku ajak Andry keluar, yang ada bukannya tenang nih pikiran,


malah makin banyak beban, makin mumet, sumpek.” Gerutunya pada diri sendiri.


“ Belum lagi jika nanti


dia menanyakan perihal Endi. Aku kan udah janji bakal putusin Endi secepatnya,


demi dia. Ahhhh mending aku mati saja daripada harus menghadapi kebodohan diri


ini.” Fani memukul-mukul kepalanya kesal. Menyesali pikirannya yang sudah tidak


jernih lagi.


**


“ Haaaaaahhh ingin


rasanya menikahi Fani saat ini, lalu dengan bebas dan penuh kekuasaan aku bisa


membawanya pergi bersama. Mengejar cita-cita bersama dengan cinta. Pasti aku


semangat kuliahnya setiap hari. Pergi bawa rindu, pulangnya ketemu penawar


rindu. Tinggal satu atap, bebas berpacaran, tidak ada larangan. Ah indahnya


menghayal.” Andry telentang diatas ranjang dengan kedua tangan yang merentang.


Matanya terpejam membayangkan semua yang dia ucapkan.


“ Hahahahah menghayal


aja dulu.” Ucapnya kemudian terkekeh geli setelah menyadari kekonyolannya


sendiri.


“ Andai aja Fani


seumuranku, pasti aku memohon membujuk rayu agar dia ikut bersama denganku.


Mengambil bidang yang sama di universitas yang sama. Jadi bisa ketemu tiap


hari, gak perlu kangen-kangenan lagi. Lagi, lagi, indahnya menghayal.” Andry


masih terkekeh mendengar ucapannya sendiri. Entah kenapa hari ini menghayal


adalah sesuatu yang paling menyenangkan baginya. Selain mendapatkan kebahagiaan


secara fiksi, dia juga bisa mengobati kekacauan hatinya sejak kemarin.


“ Menghayal lebih


menyenangkan daripada menghadapi kenyataan saat ini. kalau didunia khayalan gak


ada yang namanya perpisahan, tapi didunia nyata? Ah bahkan perpisahan


sudah  ada didepan mata. Hufffhhhh.”


Andry mendengus dan bangkit dari tidurnya. Meraih ponsel yang sejak tadi belum


dia sentuh. Teringat kekasihnya yang belum dia hubungi sejak kemarin malam.


“ Telepon atau ajak


ketemu ya? Kangen juga sih. Tapi kalau ketemu terus pasti Fani bakal ngerasa


kehilangan dan sedih banget waktu aku tinggal nanti. Hmm tapi kalau enggak


ketemu ya rindu.” Batinnya berkecamuk.


“ Haih kenapa sih maju


salah mundur salah.” Gumamnya kesal.


Sudah cukup lama Andry


berjibaku dengan pikirannya sendiri, akhirnya dia memutuskan untuk menelepon dan


mengajak Fani bermain ke pantai. Pantai lagi? ahh sudah seperti tidak ada


tempat lain saja didunia ini. Andry meraih ponselnya, bergegas menelepon


kekasih hati yang sudah sangat dirindukannya ini.


“ Hallo sayang,


dimana?.” Tanya Andry ketika telepon tersambung, tidak basa basi lagi. Padahal


bisa jadi Fani sedang menunggu penjelasan dan alasan kenapa Andry baru


menghubunginya siang ini.


“ Kamu dimana? Lagi


sibuk gak?.” Tanya Andry lagi, bahkan Fani belum sempat menjawab pertanyaannya


yang pertama.


“ Ini lagi dirumah


sakit, engga kok. Kenapa kak?.” Sahut Fani dari seberang sana.


“ Hem oke aku jemput


kamu ya. Kita makan siang sekalian aku mau ajak kamu main-main bentar.” ucap


Andry tanpa menunggu persetujuan Fani, bergegas menutup telepon dan pergi


menjemput sang kekasih hati.


“ Eh kak,” Fani


memanggil berulang kali, niatnya ingin menolak tapi belum sempat menyanggah


telepon sudah dimatikan oleh Andry.


Huffhh, bener-bener ya tu orang. Baru aja gue


mikirin dia, eh dia langsung nelfon. Ini kontak batin apa emang niat semesta


biar gue makin ketakutan karena bersalah ya.

__ADS_1


__ADS_2