
Pagi ini Fani terlihat lebih bersemangat. Hari ini dia akan pergi sekolah setelah tiga hari dikarantina. Meski bahagia akan kesekolah hari ini, Fani juga sedih dan gelisah. Semalaman dia tak bisa tidur memikirkan dua kejutan diluardugaan kemarin. Perkara Andry yang mendadak mengejar-ngejar dirinya, lalu perkara Al yang menyatakan cintanya.
Aku tak tidur semalaman memikirkan dua manusia yang saling berbalik dengan perasaan.
*****
Dari kejauhan terlihat Sophia melangkah melenggang menyapa beberapa teman dimuka kelas, tersenyum manis khas Sophia yang centil. Melewati pintu kelas dan teriak histeris saat mendapati sahabatnya Fani sudah masuk sekolah hari ini. Seolah tubuhnya mengatakan selamat tinggal kesepian. Sophia berlari da menghamburkan badannya diatas Fani yang sedang duduk bersandar dikursi. Fani yang kaget tak dapat menahan tumpuan Sophia, alih-alih badannya ambruk dan mereka terjatuh dilantai.
Brukkkk....
Fani sontak mendorong Sophia yang menimpa badan kecilnya. Mukanya semakin ditekuk, kusut masam. Kesalnya makin bertumpuk melihat ulah temannya itu.
" Lo ngapain sih? Gila lo ya." Ketusnya sambil mendorong kuat tubuh Sophia.
" Lo mau bikin gue gak masuk sekolah lagi ya?." Fani menekuk muka sambil mengelus pelan sikutnya yang kotor.
" Hehehe sorry Fan. Ga nyangka bakal jatuh kelantai gini." Sophia berdiri dan menyeringai.
" Ngapain lo nyeruduk gue?." Tanya Fani ketus sambil duduk bersadar lagi dikursinya.
" Heheheh gue seneng banget Fan, ya ampun demi apa seneng banget sih." Sophia menggeram dan menggenggam kuat jari-jari tangan Fani.
" Ih kenapa sih lo. Sakit tau gak sih !." Fani menepis tangan Sophia dan meninggikan nada suaranya.
" Kok lo jadi marah gini sih Fan." Sophia memanyunkan bibirnya.
" Lagian lo bikin gue tambah kesal aja." Ketusnya.
" Ih lo ya ngeselin. Eh tau gak gue seneng banget aaaa." Sophia melonjak-lonjak senang. " Coba cubit gue cubut dong Fan." Sambungnya masih tetap melonjak pelan.
Plaakkk ....
Sebuah tamparan keras dan cubitan kecil mendarat ditangan Sophia. Membuat si empunya tangan tersentak dan meringis kesakitan.
" Aw sakit." Sophia meringis kesakitan dan mengibaskan tangan Fani yang masih menempel ditangannya.
__ADS_1
" Biar lo gak halu." Fani menatap sinis.
" Aaaa Fani, gue seneng banget tau gak sih." Sophia mendekatkan wajahnya kewajah Fani.
" Gak tau." Jawabnya ketus.
" Yang gue tau lo lupa minum obat jadinya gini, kumat deh gak waras lo." Sambungnya ketus.
" Ih lo ya emang ngeselin." Meletak kan kedua tangannya ke dada dan membuang muka. Kemudian kembali lagi dengan kesenangan yang sejak tadi ingin dia katakan.
" Eh Fan gue seneng banget Fan." Sophia memejamkan matanya dan menggoyang tubuhnya sambil berkhayal.
" Andry Fan, Andry." Sambungnya terhenti.
" Andry kenapa?." Fani menjawab dengan cepat.
" Andry tadi malam nelfon gue. Aaa seneng banget. Usaha emang gak mengkhianati hasil, gue usaha cari kontak dia kemarin eh sekarang dia datang dengan sendiri." Sophia menjelaskan.
" Ngapain dia nelfon lo?." Tanya Fani penasaran.
" Nanyain gue pulang jam berapa hari ini hehehe." Sophia menjawab riang.
Flashback on
Sepulangnya dari rumah Fani, Andry mengganti pakaian dan merebahkan diri diranjang. Memuji kerja kerasnya hari ini, dia berhasil mendekati Fani. Berkunjung, berkenalan dengan keluarga bahkan memberikan setangkai mawar. Andry merenung memikirkan rencana selanjutnya, semakin cepat membuat gadis itu takluk mungkin akan semakin baik. Membaca beberapa situs tentang tips-tips mendekati wanita yang paling manjur. Ide biasa saja terlintas dikepalanya, ingin mengajak Fani pulang dan makan berdua. Namun Andry ragu tentang jam pulang Fani esok. Pasalnya ada beberapa hari yang jadwalnya berbeda dengan jam pulang Fani. Andry takut untuk menanyakan hal ini pada Fani, dengan cepat terfikir untuk menanyakan ini pada Sophia. Jempolnya menekan tombol panggil dan mencoba menghubungkan.
" Hallo." Sahut Sophia dari telepon.
" Hallo Sophia ini gue Andry."
" Eh iya kak, ada apa lagi. Tumben nelfon malam-malam begini." Tanya Sophia heran bercampur senang.
" Gue mau tanya besok lo pulang jam berapa?." Andry langsung pada tujuannya.
" Oh besok pulang jam 3 kak." Sophia menjawab cepat.
__ADS_1
" Oke, makasih ya. Bye." Andry memutuskan sambungan telfon.
Flashback off
Fani masih mengutuk tingkah Andry yang mendekati banyak wanita. Kata-kata playboy berkali-kali menyeruak dibatinnya. Tak habis fikir jika lelaki yang katanya paling cuek dan jaim malah menjadi nelayan seketika, menangkap ikan sana-sini.
" Eh kok lo malah bengong sih." Sophia mengagetkan Fani yang sedang asik menngutuk dan berasumsi buruk tentang Andry.
" Eh gapapa kok." Fani tersentak kaget.
" Fan, menurut lo ngapain kak Andry nanya gue pulang jam berapa hari ini?." Sophia tersenyum bahagia mengingat pertanyaan Andry tadi malam.
" Ya, mana gue tau." Jawabnya ketus.
" Apa jangan-jangan dia mau ngajak gue pulang bareng. Eh atau mau kencan?." Sophia mengandai-andai.
" Gak tau. Semoga aja ye." Fani meninggalkan Sophia yang berbicara penuh kehaluan itu.
" Seneng banget lo ya kutu kupret. Sampai lupa deh lo sama taruhan kita." Gumamnya berjalan keluar dari kelas.
*****
Bel istirahat sudah berbunyi. Beberapa siswa berhamburan menuju kantin untuk mengisi kekosongan perut atau hanya sekedar melepas dahaga. Fani dan Sophia pun sama, berjalan cepat menuju kantin yang dipenuhi dengan gerombolan siswa. Fani berjalan dengan sangat cepat, meninggalkan Sophia yang berjalan pelan sambil mengedarkan pandangannya keseliling sekolah. Ya benar saja, Sophia mencari sosok lelaki yang menelfon nya tadi malam. Tak peduli dengan Sophia yang tertinggal jauh dibelakang, Fani tetap melangkah dan membeli beberapa makanan yang dia inginkan.
" Mati kelaparan deh lo ntar." Fani berpapasan dengan Sophia yang masih saja berjalan pelan sambil melihat kiri dan kanan.
" Eh gak jadi kantin Fan?." Tanya Sophia kaget.
" Udah balik malahan. Lo nya aja yang lamban." Fani mengangkat sekantong makanan yang dibawanya, menunjukan kepada Sophia.
" Lah kok cepet banget sih." Sophia setengah berlari dan mensejajari langkah Fani.
" Gue kan belum jajan Fan," Fani mendengus.
" Bodo amat." Fani masuk kedalam kelas sedangkan Sophia berbalik menuju kantin untuk berbelanja.
__ADS_1
Fani duduk dikursi miliknya, perlahan membuka bungkusan makanan yang dibelinya tadi. Menggigit sedikit demi sedikit sosis bakar kesukaannya. Fani meraih ponsel yang sejak pagi belum disentuhnya, mendapati beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Andry.
" Ngapain nih nelayan." Gumamnya dengan mulut dipenuhi sosis bakar.