
Fani menatap langit-langit kamarnya. Kedua tangannya direntangkan keatas, lalu tenggelam dalam lamunannya. Membayangkan jika Al bukan sahabat dekat abangnya, pasti mereka sudah resmi menjadi kekasih tanpa ada hambatan. Tapi sayangnya takdir tak bisa memilih letak, Fani terpaksa haru menelan perasaannya. Membalik kan kenyataan yang sebenarnya, mengatakan jika dia tak mencintai Al. Mungkin pengkhianatan paling buruk didunia adalah mengkhianati diri sendiri. Terus saja berandai-andai, jika begini maka begini. Tapi sayangnya semua malah jadi begini. Sebuah panggilan masuk membuyarkan lamunan Fani, panggilan dari lelaki yang sudah resmi menjadi kekasihnya sejak sore tadi. Meraih ponsel dan segera menghubungkan telepon.
“ Hallo kak.” Fani membuka pembicaraan.
“ Hallo cantik ku. Lagi ngapain? Aku udah sampai dirumah nih.” Sahut Andry dari dalam telepon.
“ Gak ngapa-ngapain sih kak. Cuma lagi istirahat aja.” Beranjak dan duduk bersandar diranjang.
“ Oh yaudah kamu istirahat dulu. Nanti aku telfon lagi ya. Aku mau ganti baju dulu.” Sahut Andry.
“ Oke kak. Bye.” Fani langsung memutuskan sambungan telepon dan kembali merebahkan diri.
Fani kembali menatap langit-langit kamarnya sambil memutar-mutar ponsel yang ada ditangannya. Kembali tenggelam dalam lamunan dan pengandai-andaian nya. Sementara Al hanya duduk diam terpaku diruang tengah. Menemani Joo yang masih saja bermain game. Pikirannya tertuju pada perlakuannya pada Fani tadi. Ada rasa penyesalan dalam hatinya, karena sudah berlaku demikian. Hatinya menjadi cemas, takut jika Fani benar-benar marah padanya.
“ Joo gue pulang dulu ya. Udah malam nih.” Al memecahkan kesunyian.
“ Tumben cepat banget. Baru juga jam segini.” Joo berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar yang ada didepannya.
“ Gue ada urusan mendadak nih. Gue cabut dulu ya Joo.” Al melangkah menjauhi Joo yang masih asyik dengan gamenya.
“Sering-sering kesini Al. Jangan malah kesini tahun depan.” Joo setengah berteriak.
__ADS_1
Al pulang dengan rasa kekecewaan dan penuh penyesalan. Entah apa yang dirasakan Fani setelah kejadian tadi. Al benar-benar takut jika Fani marah padanya. Belum sempat mendapat jawaban Al sudah mendapat masalah duluan. Lalu bagaimana dengan jawaban dari pernyataan cintanya? Bahkan jika Fani telah menyiapkan jawaban “ya” sekalipun, pasti dengan segera dia akan mengganti jawabannya dengan kata “ tidak “. Mengingat perlakuan Al tadi pasti membuat Fani kesal. Pasalnya selama ini Al selalu bersikap baik dan memanjakan Fani. Ini kali pertamanya dia membentak dan berlaku kasar pada Fani.
“ Gue harus gimana? Bahkan untuk mulai menghubunginya saja aku takut.” Al bergumam sambil menatap layar ponselnya. Terpampang kontak Fani dilayar ponsel berwarna putih itu.
“ Apa gue telfon aja ya? Gue minta maaf karena udah bentak dia tadi.” Al kembali bergumam dalam hatinya.
“ Tapi gue takut kalau dia beneran marah. Pasti kaget sama sikap gue yang tiba-tiba jadi ganas tadi.” Sambungnya. Beberapa saat Al berfikir dan memberanikan diri untuk menghubungi Fani. Hasrat hatinya tak puas dan ingin segera mendengar jawaban dari pernyataan cintanya. Al menghubungi Fani, tapi taka da jawaban. Al mencoba hingga hampir sepuluh kali, akhirnya Fani menjawab panggilan darinya.
“ Hallo Fan. Lagi apa? Sibuk gak?.” Al langsung menyahut saat telepon tersambung.
“ Gak kok kak. Cuma lagi istirahat aja, ada apa?.” Fani menjawab dengan santai.
“ Gak kok. Santai aja kak.” Jawab Fani seadanya.
“ Oh iya Fan, gimana sama jawabannya? Gue pengen lo jawab sekarang Fan. Gue udah gak bisa nunggu lebih lama lagi.” Al menarik nafas panjang. Lama Fani terdiam, tak menjawab apa yang ditanyakan oleh Al.
“ Fan? Lo gapapa kan?.” Al kembali membuka suara.
“ Kak, maafin gue ya. Gue gak bisa terima cinta lo, selama ini gue Cuma nganggap lo abang gue gak lebih. Sekalipun ada rasa, itu Cuma rasa sayang sebagai saudara.” Fani menjawab dengan lugas.
Jawaban Fani barusan tak membuat Al menyerah untuk mendapatkan wanita yang dicintainya. Baginya rasa cinta bukan sesuatu yang penting untuk memulai hubungan, yang penting adalah rasa nyaman. Jika Fani merasa nyaman didekatnya, bukan sesuatu yang sulit untuk membangun sebuah hubungan. Karena baginya rasa cinta bisa tumbuh kapan aja, seiring berjalannya waktu.
__ADS_1
“ Fan, kalau masalah cinta bisa tumbuh kapan aja. Yang penting lo nyaman sama gue.” Al masih memperjuangkan gadis yang dicintainya.
“ Tapi gue gak mau nngerusak hubungan kita selama ini. Jadi saudara itu udah lebih dari cukup kak. Gue gak mau nantinya lo ngejauh dari keluarga gue karena hubungan kita udah gak lanjut lagi.” Fani mencoba menjelaskan alasan sebenarnya pada Al. Andry benar-benar tak berguna untuk alasannya. Sama sekali dia tak menyebutkan jika dia telah memiliki kekasih hati.
“ Tapi Fan, gue cinta lo. Gue sayang lo Fan. Gue mau kita lebih dari sekedar saudara. Gue pengen milikin lo Fan. Tolong ngerti perasaan gue.” Suaranya lirih seolah membendung tangis.
“ Tapi kak, ibu bener. Kalau kita membangun hubungan diatas hubungan, nantinya jika rusak satu maka semuanya ikut rusak.” Fani tak sengaja mengatakan alasan penolakan yang sebenarnya.
“ Kita harus berani ambil resiko untuk menolak hubungan baru demi hubungan lama. Ibu yang ngelarang gue buat punya rasa sama lo kak. Karena takut jika nantinya akan merusak hubungan saudara yang ada diantara kita.” Omongan Fani semakin tak terkontol. Semua kebenaran dia katakan, ibu yang menentang hubungan diantaramereka.
“ Gue gak percaya.” Al berteriak frustasi. Dengan cepat dia mematikan sambungan telfonnya.
Fani terdiam kaku mengingat ucapannya pada Al barusan. Mengukuti mulut bodohnya yang tak bisa menjaga omongan. Bahkan dia mengatakan alasan sesungguhnya mengapa dia menolak cinta Al. Menyeret ibu dalam kasus penolakan cinta ini. Berulang kali Fani memukul pelan mulutnya, seolah dia benar-benar marah dan mengutuki kebodohan.
“ Lalu jika aku mengatakan alasan yang sesungguhnya kenapa aku harus menerima cinta Andry sore tadi.” Gumamnya kesal. Berkali-kali tangannya mengepal dan memukul ranjang kesal.
“ Bahkan lelaki yang menjadi kekasih dadakanku itu tak berguna sama sekali. Aku bahkan sudah mengumpulkan kalimat yang menegaskan kalau aku menolak Al karena sudah punya pacar. Ah sial, bahkan mulut bodoh ini meracau tanpa batasan.” Gumamnya semakin kesal.
Fani memejamkan matanya, mengepalkan kedua tangan dan mulutnya tertutup geram. Merasa dirinya adalah manusia paling bodoh yang menempati bumi ini. Menjebak dirinya sendiri dalam masalah yang tak berpintu ini. Ya, lihatlah dia menyeret Andry untuk menjadi pion menghadapi perasaan Al. Secara tak langsung sudah ada dua hati yang bersamaan akan dipathkan olehnya. Belum lagi dengan Sophia. Mungkin ini akan jadi cerita paling buruk dihidupnya.
“ Aaaaa sial !.” Fani membuka matanya dan berteriak. Lalu kembali memejamkan mata dan memutuskan untuk tidur saja. Mungkin melarikan diri kealam mimpi adalah hal yang paling tepat saat ini.
__ADS_1