
Fani berbalik kekiri dan kanan, merasa bosan karena tidak ada kegiatan. Hanya ada dirinya dan ibu dirumah,
itupun ibu sibuk menonton berita. Fani hanya diam dikamar, sembari menanti pesanannya tiba. Tidak ingin memainkan ponselnya sama sekali.
“ Huffhhh membosankan. Kalau tau aku sudah agak enakan hari ini mending aku sekolah saja tadi.” Ucapnya menyesal. Mungkin jika hari ini dia berangkat kesekolah pasti dia tidak akan bosan seperti ini.
Fani berdiri, mondar mandir berputar-putar depan kaca meja rias lalu kembali keranjang. Berdiri lagi dan mengulangi hal yang tidak bermanfaat itu selama beberapa kali. Tiba-tiba Fani teirngat dengan kantong plastic yang diberikan Endrico padanya, sama sekali belum dia lihat apa isinya.
“ Wah, jangan-jangan makanan. Aku kan belum sempat melihatnya kemarin.” Seketika cemas dan menghambur meraih plastik yang dia letakkan diatas meja belajar. Dengan cepat membuka dan mengambil isinya.
“ Hufhhh untung hanya setangkai bunga dan sebuah buku. Syukur deh.” Ucapnya sambil mengelus pelan dadanya.
Fani duduk ditepi ranjang, pandangannya tertuju pada sebuah buku yang ada ditangannya. Matanya juga sesekali mengarah pada setangkai mawar yang sudah tidak lagi segar, sudah setengah layu. Menatap kedua benda yang ada ditangannya, kemudian mengingat sosok lelaki yang memberinya. Lagi-lagi pandangannya terfokus pada judul buku itu, ‘ Cinta dan Diam’. Dahinya mengkerut sambil memikirkan maksud dan tujuan Endrico memberikan buku dan bunga ini, bukan seperti memberi buah tangan untuk orang sakit pada umumnya.
“ Ini maksudnya apaan sih? Kenapa dia bawain bunga sama buku? Ya sah-sah aja deh kalau bunga, tapi kan buku kayaknya gak pernah deh. Kecuali ulang tahun atau sebagainya. Mana judulnya berat pula hem gak ngerti deh, malas ambil pusing juga.” Ucapnya menggidikkan bahu. Memilih untuk tidak memikirkan apa dan kenapa Endrico memberinya buku itu.
Fani menatap langit-langit kamar, tidur telentang dengan sebuah buku ditangan. Akhirnya ada juga sesuatu yang bisa dia lakukan agar tidak bosan hingga pesanannya tiba. Fani mulai membaca buku dengan judul berat katanya itu, membaca perlahan, kata demi kata, lembar demi lembar. Semakin lama dia membaca semakin mengerti maksud dari buku itu, apa isinya dan bagaimana perasaannya.
__ADS_1
Huh semoga aku bukanlah orang yang pengecut nantinya, jika nanti aku menyukai seseorang. Tolong lah ini sangat menyakitkan, kau hanya tinggal katakan jika kau menyukainya.
Buku itu sudah mulai mengaduk-aduk emosionalnya, kadang-kadang wajahnya tampak kesal, kadang juga berkaca-kaca hingga berlinang air mata. Mungkin menyeret dirinya dalam cerita yang menyakitkan itu. sudah banyak lembar yang Fani baca, tiba-tiba suara ketukan pintu mengagetkan dirinya yang tengah serius membaca. Tersentak dan pandangannya langsung tertuju pada pintu kamarnya.
“ Dek.” Sahut Joo dari luar.
“ Dek, gue masuk ya.” Sahut lelaki itu lagi. Tanpa menunggu jawaban dan persetujuan Fani dia langsung membuka pintu dan masuk. Melangkah mendekati sang adik yang tengah terbaring diranjang dengan sebuah buku ditangan.
“ Ih nangis lo dek?.” Sambungnya ketika melihat Fani menyeka kedua ujung matanya. Tampak juga matanya sembab seperti orang yang menangis.
“ Engga kok.” Jawabnya ketus. Mencoba berkilah dan tidak mau menatap Joo yang tetawa pelan.
“ Ah mau tau aja lo.” Ketusnya lagi, merasa malu karena ketahuan menangis hanya karena membaca sebuah buku.
“ Mana pesanan gue.” Lanjutnya tetap ketus. Sebelah tangannya menampung meminta pesanannya segera.
“ Iya ah sabar. Ni gue beliin spesial buat lo.” Ucapnya sembari meletakkan sebuah kertas berbentuk persegi panjang keatas telapak tangan Fani yang menampung.
__ADS_1
“ Hihihi terimakasih abangku yang baik hati.” Ucapnya bermanis muka. Dengan segera membuka bungkusan itu, ternyata adalah sebuah sim card. Bergegas memasukkan kedalam telepon dan segera mengaktifkannya.
“ Lo kenapa sih tiba-tiba ganti nomor?.” Tanya Joo keheranan. Pasalnya Fani sangat mendesak agar dirinya membelikan sim card tadi. Harus membeli, tidak boleh menolak apapun yang dia pinta. Bahkan tadi Fani juga terdengar mengancam dirinya, jika tidak membeli maka Fani tidak akan lagi menyapa dirinya.
“ Gapapa kok, lagi pengen ganti nomor aja.” Jawabnya singkat. Pandangannya tidak beralih dari tangannya yang sibuk memasukkan simcard kedalam telepon genggamnya.
“ Pakai ngancam-ngancam gue juga lagi. Durhaka lo.” Ucap Joo menatap Fani dengan sinis, kesal dengan sang adik yang berani-beraninya mengancam, tidak sabaran pula.
“ Hehehehe abangku terbaik, ah love you.” Sadar akan kesalahannya, Fani mengeluarkan jurus ampuh untuk menghindar dari kemarahan Joo. Bermanis muka dan bermanja-manja, serta memeluk sang abang yang tampak marah padanya.
“ Kan aku lagi sakit, wajar dong kalau aku marah-marah hehehe.” Sambungnya mencoba mencari pembelaan.
“ Hem yaudah.” Benar-benar gampang luluh dengan sifat manja adiknya. Kemudian beranjak pergi keluar dari kamar Fani.
Fani masih sibuk dengan ponsel dan simcardnya yang baru, pantas saja sejak tadi dia tidak memainkan ponsel. Ternyata karena simcard yang lama sudah dia buang keluar jendela. Fani mengaktifkan simcard barunya, mengambil sebuah buku kecil dari laci lemari yang ada disebelah ranjangnya. Menyalin beberapa kontak yang sangat penting baginya, mulai dari keluarga, teman hingga gurunya. Kontak yang sengaja dia tuliskan sebelum melepas simcardnya tadi. Namun Fani tidak menyalin kontak Andry dan Sophia. Tidak ingin kedua manusia itu masuk dan mengganggu ketengangan hidupnya. Fani mencoba mengirimkan beberapa pesan kepada kontak-kontak itu, mengatakan jika ini adalah nomor barunya dan yang lama sudah tidak aktif lagi.
“ Huffhhh semoga ini adalah awal yang baik, aku akan memulai kehidupan baru tanpa rasa benci dan sakit hati.” Gumamnya sambil tersenyum dan membolak-balikkan ponselnya.
__ADS_1
Semua benda yang berhubungan dengan Andry sudah Fani singkirkan dari kamarnya yang nyaman ini, namun belum dengan memori dan kenangan yang ada didalam ponselnya. Teringat jika banyak sekali memori dan kenangan didalam galerinya, Fani segera membuka galeri dan menatap semua foto-fotonya. Foto yang dengan sengaja dia buat didalam sebuah album, Fani dan Andry. Matanya kembali berkaca-kaca menatap kenangan-kenangan itu. Namun mau tidak mau dia harus tetap membuang semua kenangan yang lalu. Jari jemarinya dengan lihai menghapus satu persatu foto-fotonya bersama Andry. Semua hingga tidak tersisa lagi. Tidak ada lagi kenangan apapun yang dia bawa bersama dirinya, hanya kenangan dalam ingatan saja.
Mari mulai hidup baru. Lupakan semua kenangan yang baik dan buruk. Lupakan orang-orang yang pernah menyakitimu, bergerak, bangkit dan tunjukkan kalau kau mampu. Nanti hingga kau lebih bahagia dari pada mereka yang mengharap uluran maaf darimu.