Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Ling lung


__ADS_3

Sudah hampir 7 jam Andry tenggelam dalam mimpinya, menebus rasa lelahnya. Matanya terbuka lebar menatap kamar yang sangat gelap, tidak ada cahaya disana. Hanya tampak  bayang-bayang cahaya bulan dari jendela kamarnya. Mencoba memastikan dimana dirinya yang sebenarnya, ling-lung dan bingung. Andry beranjak dan menyalakan lampu kamarnya, meminta penerangan dari lampu-lampu mungil dilangit-langit kamarnya.


" Ah duniaku terbalik. Harusnya jam segini aku baru mau tidur, tapi malah jam segini baru terbangun." Gerutunya sembari menggaruk-garuk kepalanya. Pandangannya beralih menatap meja sebelah ranjang, tampak jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Juga terdapat ponsel genggamnya disana, benda pipih yang hanya menambah kekesalannya saja.


" Enyah lah ! Tidak berguna ." Lanjutnya sembari mengibaskan ponsel hingga benda pipiph itu terjatuh dilantai.


Andry tampak masih kesal, mengingat betapa menyedihkan dirinya saat ini. Tidak bisa melakukan apapun, meskipun sudah berusah mencari tahu keberadaan Fani. Ingin bertanya kepada siapa lagi? Bahkan seharusnya dia yang paling mengetahui tentang kehidupan Fani. Sesal dan kesal bercampur menjadi satu, membuatnya terombang. Terkadang mencaci maki diri sendiri, namun terkadang juga mencaci maki Fani yang diaggap egois dan tidak bisa menyelesaikan masalah secara baik-baik.


Grkkkk.. Grrkkk...


Perutnya sudah bergejolak minta diisi, seolah cacing-cacing perutnya sudah jingkrak-jingkrak konser minta makan. Sejak kemarin Andry belum makan, wajar saja seluruh penghuni perutnya berteriak meminta haknya. Beruntunglah perutnya berbunyi-bunyi, setidaknya menghentikan racauan dan caci makinya untuk Fani. Andry akhirnya turun dan menyapa penghuni rumah yang lain, sudah gelap, sudah larut.


" Akhirnya, kenyang juga. Maafkan aku hei penghuni kampung tengah, aku terlalu sibuk berkelana mencari tahu tentang kekasihku hingga aku lupa jika kalian menumpang denganku." Ucapnya sembari tertawa dan mengelus-elus pertunya yang tampak membesar setelah diisi banyak makanan. Berjalan kembali meniti anak tangga menuju ruang semedinya, ruang berfikir dan ruang galaunya.


" Agak lumayan bagus ni pemandangan ya abis makan, ternyata gelap, kelam dan suram itu bisa disebabkan karena kelaparan juga ya." Lanjutnya berjalan menuju ranjang sembari meraih ponselnya yang tergeletak dilantai. Berlari dan melemparkan tubuhnya keatas ranjang, lumayan riang dari sebelumnya.

__ADS_1


Andry menyalakan ponsel, melihat beberapa pesan yang memenuhi layar ponselnya. Membaca dan membalas satu persatu pesan yang memang seharusnya dibalas, namun beberapa pesan juga diabaikan. Pesan yang paling pertama dan paling semangat untuk dia buka adalah pesan dari Sophia, berharap jika yang diberikan adalah sebuah informasi mengenai Fani. Namun ternyata bukan hal yang penting, bahkan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Fani.


" Ah, ternyata tidak penting. Kecuali kau bisa memberiku alamat pasti dimana tempat tinggal Fani. Jangankan untuk membantu mengerjakan tugas,  mengantar jemputmu kesekolah selama seminggu pun aku sanggup." Ucapnya tampak kecewa setelah membaca pesan dari Sophia.


****


Drttt...Drttt..Drttt. Suara ponsel yang berdering beberapa kali membuat Andry yang tengah tertidur sontak terperanjak dan membuka matanya. Meraba dan mencari dimana benda pipih yang bersuara lantang itu. Ternyata sebuah panggilan dari Alea, sigadis yang sudah dia kabulkan keinginannya kemarin.


" Hallo," Sahutnya dengan suara serak khas bangun tidur.


" Hallo Andry, jadi kan nanti kamu temenin aku ke pesta?." Tanya gadis itu dari telepon. Memastikan jika Andry benar-benar akan menemaninya nanti malam.


" Hallo Andry. Nanti jadi kan temenin aku ke pesta ulang tahun temenku?." Ucapnya mengulangi perkataan. Mengira jika Andry tidak mendengarkan apa yang dia katakan sebelumnya, bisa jadi karena sinyal yang kurang baik.


Sejenak Andry terdiam, mencerna semua yang dikatakan oleh Alea, mengingat kembali apa saja yang mereka bicarakan kemarin. Baru teringat tentang Alea yang memintanya utuk menemani kepesta, lalu kemudian dia mengiyakan. Pikiran dan tubuh yang terlalu lelah membuatnya tanpa sadar telah mengiyakan dan sama saja telah berjanji.

__ADS_1


Aduh aku lupa kalau kemaren aku mengiyakan permintaannya. Jadi aku harus menemaninya ke pesta malam ini? Hei aku saja masih belum merayakan pesta ulang tahun kekasihku. bahkan mengucapkan selamat untuk bertambahnya umur saja aku belum sempat mengatakan. Lalu aku harus menemaninya kepesta orang lain? Raga ku saja yang disana, tapi pikiranku sudah sampai dipontianak.


" Hallo Andry, gimana? Kamu jemput aku atau gimana?." Lanjut Alea ketika tidak mendapat jawaban apapun dari Andry.


" Eh iya Alea." Sahutnya kaget.


" Aku kurang enak badan nih, nanti siang aku kabari kamu lagi ya." Lanjutnya mencoba mencari alasan untuk mengelak dan menolak ajakan kepesta ulang tahun orang yang sama sekali tidak dia kenal itu. Lebih mementingkan ulang tahun kekasihnya yang sampai saat ini masih belum bisa dia berikan ucapan selamat.


" Oh gitu ya Andry, oke nanti siang aku hubungi lagi ya. Aku harap kamu bisa jadi pendampingku kepesta nanti malam, ini akan jadi sangat berarti buat aku, aku akan sangat berterimakasih." Ucapnya terdengar seolah mengiba. Berharap jika Andry akan kasihan dan menemaninya nanti.


" Oke Alea." Jawabnya singkat, mengakhiri obrolan sekalian mengakhiri telepon.


Andry kembali mengacak-acak ponselnya, mencari tahu jengkal demi jengkal kota pontianak. Mencoba menerka-nerka dimana kemungkinan Fani tinggal. Dalam hatinya bergejolak rasa ingin menemui, memaksa untuk segera pergi dan mencari dimana Fani. Andry juga mengobrak abrik seluruh sosial media, mencari tahu siapa saja yang kemungkinan menjadi teman Fani disana. Mencari tagar sekolah dan sebagainya, berharap mendapatkan informasi meskipun hanya secuil saja.


" Fix ni, aku harus kesana. Mau gak mau aku harus kesana, aku harus mengacak-acak seluruh isi kota dan mencari tahu dimana alamatnya." Gumamnya menggeram, tangannya mengepal dan giginya mengatup. Membulatkan tekad untuk segera berangkat dan mencari Fani.

__ADS_1


" Jika memang garis takdir menyambung dan searah, aku yakin langkah kakiku pasti akan mudah. Aku akan bertemu denganmu, mungkin secara tidak sengaja dan disangka-sangka, padahal sudah takdir dan jalannya. Beda hal jika takdir kita berpilin, mungkin susah. Yang penting usaha saja dulu." Lanjutnya semakin percaya diri. Pikirannya sudah mulai jernih dan tidak kusut lagi. Entah apa yang dia dapat dalam mimpinya tadi, seketika menjadi Andry yang optimis.


Andry menggenggam ponselnya kuat, tersenyum simpul membayangkan jika dia berhasil menemui Fani suatu saat nanti, entah minggu depan atau bulan depan atau entah kapan. Inginnya minggu depan, namun keadaan tidak memungkinkan karena beberapa minggu lagi mereka akan Ujian Nasional. Mungkin nanti setelah Ujian Nasional, Andry akan berkelana mengobrak abrik kota tujuannya, mencari cintanya, menemukan kekasihnya.


__ADS_2