
Hari ini Andry bangun pagi sekali karena akan pergi menyusul Fani dikampung. Andry memeriksa kembali barang-barang bawaannya, kemudian bergegas menuju mobilnya. Tak lupa Andry juga berpamitan kepada kedua orangtua nya.
“ Bun, aku pergi dulu ya.” Mendekati kedua orang tua nya yang tengah sarapan.
“ Sarapan dulu.” Sahut wanita yang dipanggil bunda itu.
“ Nanti aja bun. Aku pergi dulu ya.” Mencium tangan bunda dan beralih ketangan ayahnya.
“ Hati-hati. Jangan lupa bawa sesuatu untuk Fani.” Sahut bunda saat Andry sudah melangkah menjauh. Andry hanya mengangkat jempolnya dan kembali melangkah dengan cepat.
Andry melajukan mobilnya meninggalkan rumah dan mencari sesuatu untuk dibawa kerumah nenek Fani. Akhirnya Andry mampir ditoko kue dan toko bunga. Membeli kue untuk keluarga dan bunga untuk sang pujaan hatinya. Andry melajukan mobilnya mengikuti maps yang dikirim Joo kemarin sore. Andry menikmati pemandangan yang makin lama makin menyejukkan mata. Sudah hampir 3 jam Andry melipir dari perkotaan. Memasuki perkampungan yang makin lama makin indah. Andry meraih ponselnya dan menghubungi Joo untuk menanyakan dimana Fani. Sejak kemarin Andry dan Fani tak berkomunikasi lagi.
“ Hallo Joo, Fani dimana? Gue udah hampir sampai ni.” Sahut Andry saat telepon terhubung.
“ Fani pergi kesawah dari pagi tadi. Gak tau deh sama siapa. Baru bangun gue.” Jawab Joo dengan suara khas baru bangun tidur.
“ Oh iya lo udah dimana? Gue tunggu dirumah. Udah gue bilang juga sama ibu kalau lo mau kesini.” Sambung Joo bertanya.
“ Udah masuk perkampungan. Jemput gue ditugu padi dong Joo. Takut nyasar gue.” Pinta Andry menghetikan mobilnya didepan tugu padi.
“ Iya, lo tunggu disana ya. Gue otw nih.” Joo memutuskan sambungan telepon dan bergegas melajukan motor legend kakeknya.
******
Sejak pagi-pagi sekali Fani sudah berkeliling kampung. Menikmati udara segar dipagi hari sembari ditemani kicauan burung-burung yang indah. Berjalan pelan menyusuri setiap jengkal perkampungan. Sesekali menatap layar ponselnya yang sejak kemarin tak ada notif dari kekasihnya. Ingin menghubungi duluan tapi rasa gengsi menyelimutinya.
“ Tega banget sih ni cowok gak kabarin gue. Masa harus gue yang hubungi duluan. Ih sorry ya gengsi dong.” Gumamnya sambil menatap wallpapernya yang terpampang foto mereka berdua.
“ Aaaa jahaatt banget sih lo Andry.” Gumamnya sambil meringis.
__ADS_1
Fani duduk disebuah gubuk yang ada dipinggir persawahan, menatap langit biru dan burung-burung yang berterbangan. Menunggu ponselnya berdering, berharap Andry akan segera menghubunginya. Angin yang berhembus kencang menerbangkan rambut bergelombang Fani. Matanya menyipit karena hembusan angin yang kencang pagi itu. Tak lupa dia juga mengabadikan moment indah itu, berselfie dengan latar hamparan sawah yang luas.
“ Udah jam 10 nih, aku kerumah paman ajadeh. Mau ketemu bang Rafi. Aaaa kangen.” Beranjak dan meninggalkan gubuk yang disinggahinya tadi. Berjalan menyusuri jalanan menuju penghujung kampung. Saat melihat rumah
berwarna cokelat diujung, Fani berlari pelan tak sabar ingin bertamu. Tampak pintu samping terbuka, berarti ada penghuninya.
“ Paman, bibi.” Teriaknya didepan pintu. Tampak seorang wanita berjalan mendekat dan tersenyum menatap kedatangan Fani.
“ Wah sejak kapan anak cantik bibi ada disini.” Wanita itu memegang pundak dan langsung memeluk Fani.
“ Sejak kemarin bi. Aku udah kesini tapi gak ada siapa-siapa dirumah.” Protesnya kesal karena gagal memberi kejutan kemarin sore.
“ Oalah, bibi dan paman baru pulang dari kota. Habis jual hasil panen yang kemarin.” Wanita itu mengelus rambut Fani dan menariknnya untuk masuk kedalam rumah.
“ Paman mana bi?.” Tanya Fani sambil mengedarkan pandangannya.
“ Tunggu disini, bibi ambilkan minum ya.” Sambungnya sambil melangkah menjauhi Fani yang duduk dikursi.
“ Eh gak usah bi. Nanti kalau haus aku ambil sendiri, jangan repot-repot bi.” Fani menolak dan menghentikan langkah bibinya.
“ Yaudah bibi masak dulu ya. Ada abangmu dikamar masih tidur, bangunin sana.” Wanita itu melanjutkan langkahnya kedapur dan tersenyum pada Fani.
Fani yang sejak kemarin sudah tidak sabar ingin menemui pria bernama Rafi itu pun terlonjak senang dan berlari menuju kamar. Didapatinya lelaki itu tengah tertidur pulas diatas ranjang. Rasa rindu yang sudah tak tertahankan membuat Fani segera mendekat dan mengganggu lelaki itu. Dicubitnya hidung pria itu hingga tak bisa bernafas, Rafi hanya menggeliat mencoba melepas tanpa membuka matanya. Lagi-lagi Fani menekan kuat hidung dan menutup kedua mata Rafi dengan tangannya. Rafi semakin memberontak dan tersentak duduk. Mulutnya meracau mengutuki siapa pelaku dari semua ini. Fani hanya terkekeh geli sambil tetap menutup kedua mata Rafi.
“ Eh apa-apaan sih ini. Ini siapa sih?.” Tanya Rafi sambil melepaskan tangan yang menghalangi pandangannya itu. Pegangan Fani pun terlepas, Rafi dengan jelas bisa melihat sosok pengganggu tidurnya ini. Wajah kesalnya seketika berubah menjadi senyum senang dan langsung menghambur memeluk wanita kecil yang menjahilinya ini.
“ Aaaa adek.” Rafi memeluk erat tubuh mungil Fani.
“ Aaaa kangen.” Sahut Fani ikut memeluk erat. Rasa rindu yang besar membawanya kedalam pelukan lelaki ini.
__ADS_1
“ Sejak kapan disini. Adek abang udah gede banget sih.” Rafi mencubit pelan kedua pipi Fani. Kemudian menariknya gadis itu kembali dalam pelukannya.
“ Aaa kangen sekali. Udah setahun gak ketemu.” Fani pun tak kalah dramatis.
Rafi adalah sepupu Fani. Mereka sudah terbiasa saling manja sejak kecil, hingga terpisah semenjak Fani pindah ke kota 7 tahun yang lalu. Sudah setahun mereka tidak bertemu, tentu saja membuat kedua manusia ini saling merindu. Rafi melanjutkan kuliahnya di UTM Malaysia, karena jarak cukup jauh menyebabkan Rafi hanya pulang setahun sekali.
“ Abang mandi dulu ya. Abis itu kita jalan-jalan keliling kampung. Adek abang udah gede banget sih.” Lagu-lagi mencubit pipi Fani karena gemas.
“ Iya buruan ya.” Tersenyum girang melebihi ketemu kekasih hatinya.
Sementara ditempat lain, Andry sudah sampai disebuah rumah yang berukuran besar dengan hamparan sawah disekelilingnya. Andry mengikuti langkah Joo dan masuk kedalam rumah besar itu. Disana sudah ada ayah, ibu dan nenek Fani yang menunggu kedatangannya. Andry diterima dengan senang hati disini.
“ Eh nak Andry sudah datang.” Sahut ibu mendekat.
“ Iya pas banget nih lagi libur sekolah kan. Om mau ajak kamu menikmati indahnya kampung ini.” Sahut ayah Fani .
“ Hehehe tapi aku Cuma dua hari disini om.” Andry tersenyum cengengesan melihat antusias keluarga Fani.
“ Hallo nek.” Sapa Andry mendekat dan menunduk sopan.
“ Hallo nak Andy, jangan sungkan-sungkan ya dirumah nenek.” Wanita tua itu tersenyum kepada Andry.
“ Yasudah ayok masuk. Istirahat dulu pasti kamu capek.” Ibu menarik Andry masuk dan membawanya keruang makan.
“ Makan dulu. Habis itu baru jalan-jalan keliling kampung sama Joo.” Meminta Andry untuk duduk dikursi dengan beberapa makanan yang tersaji dimeja makan.
“ Iya tante.” Andry duduk dan mengambil beberapa makanan dipiringnya.
Mereka semua mengelilingi meja makan dan saling bertanya kabar. Bersenda gurau dan tergelak tawa. Menikmati makan ditemani hembusan angin alami dan disuguhkan hamparan sawah yang menyejukkan. Andry merasa benar-benar nyaman jika tinggal diperkampungan yang asri seperti ini.
__ADS_1