Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Pesan Ibu


__ADS_3

Mata Fani terbelalak dan memandangi ibu. Bagaiamana ibu mengetahui hal tersebut. Ibu memandang Fani tak kalah sinis. Seolah tau jika batin Fani bertanya-tanya bagaimana dia bisa tahu hal ini.


" Kenapa kaget? Ibu tidak menguping. Tapi karena ibu punya telinga wajar aja kalau ibu dengar. Jadi salahkan telinga ibu." Ibu memegang kedua telinga dan mengangkat alisnya.


" Ibu. Pasti sengaja menguping kan?." Fani menggenggam tangan ibu.


" Kan ibu udah bilang, yang salah itu telinga ibu." Ibu terkekeh.


" Kamu suka dia?." Pertanyaan ibu seolah menakuti Fani. Tak menjawab pertanyaan dari ibu, Fani hanya memilih diam tak bergeming.


" Fan, ibu gak nyangka kalau diantara kalian ada perasaan cinta. Ibu pikir kedekatan kalian selama ini sebagai kakak adik." Ibu mengelus rambut Fani.


" Ibu gak mau aja kalau nantinya kalian punya hubungan lebih lalu putus. Kamu bukan hanya kehilangan Al dalam wujud pacar, namun juga sebagai kakak." Ibu mencoba menjelaskan.


" Tapi bu," Fani mencoba membantah namun ibu kembali menyela pembicaraan.


" Kalian akan saling canggung dan sungkan nantinya. Walau bagaimana pun dia adalah teman baik abangmu, ibu pun sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Jangan merusak hubungan lama demi sebuah hubungan baru yang ujung-ujungnya kamu tidak mendapatkan apa-apa." Ibu menjelaskan panjang lebar.

__ADS_1


" Ibu.." Fani menghiba.


" Bukan ibu tak suka dengan Al, hanya saja kalian lebih cocok untuk menjadi saudara. Hubungan yang tak akan ada putusnya. Kalau kamu diam-diam berhubungan dengannya ibu akan marah padamu." Jawab ibu kesal.


" Aaaa ibu, aku kan tak menjawab apapun. Aku saja kaget dia ngomong begitu." Lirih Fani.


" Pokoknya ibu gak suka kamu punya hubungan lebih dengannya, hanya boleh sebagai kakak. Apapun perasaanmu padanya ibu minta tolak dia." Ibu beranjak meninggalkan Fani yang merengut.


" Iya bu," Jawab Fani merengut.


" Apa-apaan ini?" Batinnya.


Fani bergegas kembali kekamarnya, rasanya ingin melepaskan semua yang membengkak disebalik tulang rusuknya. Fani mengunci kamar dan menghantamkan tubuh lemah nya keranjang berwarna pink itu. Menyeka  ujung matanya bekali-kali agar buliran air tak jatuh kepipinya. Semua kata yang keluar dari mulut ibu seakan membombardir isi hati Fani. Memporak-porandakan perasaannya. Merengut jika semua ini tak adil baginya. Aaaaaa Fani ingin berteriak melepaskan semua kekesalannya.


Bahkan cintaku gugur sebelum mekar. Cintaku kandas sebelum berjalan. Hatiku roboh sebelum membangun hubungan. Aku yang malang, kasihan. Meski ingin, namun demi ibu dia harus ku lupakan.


Fani tenggelam dalam tidurnya. Membawa kekesalan dalam tidur nyenyak nya. Meratapi nasib perasaan nya yang malang itu. Tubuhnya menjerit histeris, kisahnya terbilang miris.

__ADS_1


****


Fani masih belum bangun dari tidurnya. Masih berdiam diri didunia peluntur kekesalannya. Disebelahnya sudah duduk seorang wanita parubaya dengan kompres ditangan. Tangannya menempel pada dahi Fani yang masih panas. Fani masih demam tinggi. Diletakkan kain basah itu kedahi Fani agar panasnya turun. Perlahan Fani membuka mata dan mendapati ibu tengan memijat tangannya. Matanya menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 07:00 WIB.


" Bu, kenapa gak bangunin aku? Aku bisa telat bu." Ucap Fani cemas. Tubuhnya merengkuh mencoba untuk duduk.


" Hari ini libur dulu ya. Badan mu masih demam tinggi." Ibu membalikkan kain basah didahi Fani.


" Tapi bu,," Fani mencoba membantah.


" Sudah. Jangan membantah. Ibu udah telfon gurumu untuk meminta izin. Jadi istirahatlah biar cepat sembuh."


" Tapi bu, aku mau kesekolah." Fani menghiba.


" Fani. Jangan membantah lagi. Diam ditempat tidurmu dan jangan kemana-mana." Ibu menatap Fani sinis dan berlalu meninggalkan Fani sendirian.


" Ibu aku udah sembuh. Aku mau kesekolah hari ini." Fani berteriak dengan suaranya yang parau.

__ADS_1


Fani menggerutu kesal, tidur dengan keadaan kesal dan bangun tetap dengan keadaan kesal. Meraih ponsel dan memutar music dengan keras. Tubuhnya masih lemah tapi inginnya tetap kesekolah.


__ADS_2