Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
Hanya sebatas adik?


__ADS_3

Kara mematung saat melihat sosok tampan yang sedang bersandar pada mobil berwarna putih didepan gerbang sekolahnya. Dilihat dari jarak yang cukup jauh saja lelaki itu sangat menyilaukan. Hingga membuat jantung Kara yang tadi berdetak normal kini bekerja dua kali lipat.


"Lo dijemput? Katanya mau nge mall". Nala menyadarkan Kara dari keterkejutannya.


"Gue udah bilang nggak usah jemput". Sahut Kara menatap Nala yang berdiri disampingnya.


"Kara..duluan ya cantik". Kara tersenyum tipis dan mengangguk pada teman sekelasnya yang memang suka menggodanya.


Sosok lelaki yang sudah menunggu Kara sejak 15menit lalu mengarahkan pandang pada gadis nakal yang membuat dirinya pusing sejak pagi tadi. Dengan langkah lebarnya ia berjalan menghampiri Kara yang terlihat terkejut.


"Ayo pulang.." Ajaknya membuat sudut bibir Nala sedikit terangkat.


"Kan aku udah bilang, kakak nggak perlu jemput. Aku bisa naik taksi". Orang yang tak lain adalah Baim, menatap tak suka pada Kara yang masih saja ngeyel.


"Kita pulang sekarang". Sesekali Baim menatap galak pada siswa yang melewati Kara dan menatap penuh damba pada adiknya itu. Terlebih saat ini pakaian Kara benar-benar...


"Aku mau ngemall sama Nala, kak". Kara masih coba menolak ajakan Baim.


"Ke mall? Pake seragam ini?". Mata Baim memicing, memindai sekali lagi tampilan Kara yang..ah sudahlah, Baim pusing dibuatnya.


"Iya..kan biasanya juga aku sama Nala langsung nge mall dari sekolah". Dengan wajah polosnya Kara berkata dengan ringan. Sedangkan Nala berusaha menahan tawanya saat melihat wajah polos Kara dan wajah frustasi Baim.


"Pulang dulu. Nanti kakak anter ke mall". Baru Kara hendak membuka mulutnya untuk kembali menolak, Baim sudah lebih dulu mengultimatum.


"Nggak ada bantahan, Lengkara". Baim menekankan nama Kara hingga membuat bibir Kara mengerucut karena kesal rencananya pergi dengan Nala gagal.


"Kamu juga pulang dulu, La. Ganti pakaian dulu kalau kalian mau pergi lagi". Nala hanya mengangguk saja tanpa bantahan membuat Kara semakin kesal.


"Pulang sekarang". Baim menarik tangan adiknya, membukakan pintu mobil dan memaksa adiknya masuk dengan wajah masamnya.


"Dasar tukang maksa". Gerutu Kara yang sudah duduk dikursi penumpang. Ia melirik kesal kakaknya yang sedang berlari kecil mengitari mobil.


Kara membuang pandangan keluar kaca mobil saat Baim mendaratkan tubuhnya dikursi kemudi.


"Kamu marah sama kakak?". Tanya Baim lembut.


"Engga". Sahut Kara pendek masih dengan tatapan melihat pemandangan luar mobil.


"Pulang dulu ya..nanti kakak anterin kalo cuma mau belanja. Tapi jangan pake seragam..oke". Baim mengelus sayang pucuk kepala adiknya yang mengangguk perlahan.

__ADS_1


"Yaelah..dielus ama denger suaranya aja gue meleleh gini sih. Makin mencair aja gue lama-lama deket ama elo, kak". Batin Kara bahagia.


"Sekarang gue harus ngartiin gimana perhatian kak Baim ke elo ya Ra? Dia juga tertarik ama elo? Atau dia lakuin semua karena rasa sayang dia sebagai kakak yang ngelindungin adeknya?". Nala yang masih berdiri ditempatnya menatap mobil Baim yang semakin menjauh.


Kini dirinya juga penasaran, seperti apa perasaan Baim pada sahabatnya itu. Suka? Atau hanya sekedar sayang sebagai kakak beradik bersaudara?


"Ngapain lo disini?". Nala menoleh, mendapati Raffa sudah disampingnya lengkap dengan motornya.


"Nungguin presiden lewat bagi-bagi duit". Sahut Nala ngawur membuat Raffa diam sesaat sampai ia merasakan ada seseorang naik ke atas motornya.


"Kuy balik.." Raffa menoleh ke belakang. Mendapati Nala sudah naik dan memakai helm.


"Ngapain lo naik, kuman?".


"Sarap yang ganteng..kan tadi pagi lo yang bawa gue. Sebagai seorang lelaki bertanggung jawab, lo kudu anter gue balik sekarang". Raffa mencebik mendengar ucapan Nala.


"Bilang aja lo nyari gratisan. Dasar anak sultan abal-abal". Cibir Raffa membuat Nala tertawa.


"Kalo ada yang hemat dan gratis, kenapa gue harus keluarin duit. Kasian bapak gue nyari duit susah-susah cuma gue hamburin". Kelakar Nala membuat Raffa mendengus kesal.


"Mana si santen?". Tanya Raffa yang ingat saudara kembarnya.


"Udah dijemput kak Baim". Raffa hanya mengangguk. Kara sudah pasti aman jika bersama sang kakak.


"Kamu masih marah sama kakak?". Tanya Baim memecah keheningan.


"Enggak". Sahut Kara acuh membuat Baim gemas dan kemudian mengacak pelan rambut Kara yang tumben sekali hari ini digerai.


"Kenapa rambutnya nggak diiket?". Tanya Baim membuat Kara menoleh. Rupanya Baim sangat memeperhatikan perubahannya. Bahkan sekecil itu,


"Gapapa..lagi pengen aja diginiin kak".


"Ehmm..kak". Baim menoleh ketika suara Kara terdengar ragu.


"Kenapa? Ada yang mau ditanyain? Atau pengen sesuatu?".


"Kalo tipe cewek idaman kakak yang kaya apa?". Baim mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Kara yang menurutnya aneh.


"Kenapa tiba-tiba nanya kaya gitu?". Baim balik bertanya.

__ADS_1


"Ya, nggak apa-apa sih. Nanya aja, pengen tahu". Kara bertanya senatural mungkin agar Baim tidak mencurigainya.


"Kakak udah ada orang yang di suka ya?". Tanya Kara saat melihat Baim diam dan justru tersenyum manis.


"Ehmm..ada engga ya?". Goda Baim yang senang melihat keingintahuan adiknya.


"Ish..aku beneran nanya kak". Kara semakin tak sabar. Bukan hanya itu, kini ia takut jika memang benar Baim sudah memiliki seorang wanita idaman. Akan semakin sulit baginya mendapatkan Baim jika lelaki yang berstatus kakaknya itu sudah memiliki gadis idaman.


"Emang kenapa sih? Hm?? Tumben-tumbenan tau kamu nanya kaya gini". Jujur Baim bingung karena tiba-tiba Kara menanyakan hal yang tidak biasa gadis itu tanyakan.


"Ya gapapa dong. Pengen tahu aja kaya gimana calon kakak ipar idaman kakak tuh". Meski mengatakan dengan menampakkan wajah sumringah dan sangat antusias, percayalah Kara merasa dada nya sesak.


"Ada..nanti kakak kenalin kalo udah waktunya ya". Kara menahan sesak di dadanya mendengar penuturan Baim. Kini bagaimana caranya ia bisa memiliki Baim jika ternyata Baim sudah memiliki gadis pujaan lain.


"Kenapa nggak sekarang aja kak?". Baim menoleh, raut wajah adiknya masih sama. Terlihat antusias dan ingin tahu.


"Kakak masih belum ngomong ke dia kalo kakak suka sama dia. Kakak belom punya keberanian, Ra". Kara masih tersenyum meski hatinya sudah tak berbentuk lagi.


"Emang kenapa? Kakak ganteng, pinter juga. Kakak sempurna..jadi kenapa kakak nggak berani bilang sama dia?". Baim tersenyum membuat hati Kara semakin sakit.


"Dia beda Ra..kakak harus jadi orang sukses dulu buat bisa mantasin diri bersanding sama dia". Hati Kara semakin sakit. Apalagi melihat Baim yang selalu tersenyum setiap membicarakan gadis itu.


"Kenapa? Dia nggak mau dampingin kakak kalo kakak nggak sukses?". Kara nampak tak senang.


"Bukan gitu, adikku sayang". Baim mengacak gemas rambut adiknya.


"Terus?". Desak Kara membuat Baim semakin gemas.


"Dia baik Ra..bisa dibilang sempurna". Mata Baim menerawang, membayangkan wajah gadis yang mampu membuat hatinya selalu hidup dan berbunga.


"Karena itu, kakak nggak mau dia menderita karena kakak nggak bisa memantaskan diri buat menjadi pemilik dia".


"Kakak keren. Kakak juga laki-laki sempurna, pasti kalian cocok banget deh". Bibirnya sangat lancar mengucapkannya, wajahnya pun menipu dengan sangat apik. Berbanding terbalik dengan hatinya yang kini begitu terasa sakit.


"Kakak emang nggak akan pernah liat aku sebagai perempuan. Jadi siapa gadis yang beruntung itu kak? Kenapa bukan aku? Kenapa harus perempuan lain". Batin Kara menangis


...---^^^---...


Holla semuaaaa..

__ADS_1


Santen patah hati nih, si kakak jahat amat. Kaga peka apa adeknya ngebet pengen jadi pacar si kakak😂


Happy reading semuaaaa..


__ADS_2