
"Abang kenapa sih judes banget ama kuman? Kasian tau". Saat ini Kara beserta Gaara dan Baim ada didalam satu mobil. Mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah tadi mampir ke sebuah restoran untuk merayakan kelulusan dan kesuksesan anak kembar itu.
"Jangan sebel-sebel bang. Nala juga baik kok". Imbuh Kara membuat Gaara menghela nafas panjang.
"Gue kaga nyaman deket dia. Dia agresif banget". Keluh Gaara membuat Kara justru terkekeh.
"Kenapa lo?". Tanya Gaara heran karena Kara justru terkekeh.
"Jangan kelewat sebel bang. Ati-ati ntar kemakan omongan". Peringat Kara membuat Gaara mencebik.
"Heuh, kaga bakal lah". Gaara mendecih menyepelekan. Ia yakin tak akan pernah jatuh hati pada gadis agresif seperti Nala. Sangat jauh berbeda dengan gadis yang ia sukai. Dan Kara tahu siapa gadis itu. Gadis yang sudah memberi harapan besar pada sang kakak dan kemudian meninggalkannya begitu saja hingga membuat Gaara semakin dingin dan tak tersentuh oleh makhluk bernama wanita.
"Jangan jadi orang b*go bang. Nungguin yang jelas nggak bisa ditunggu". Karaa tersenyum sinis. Meski Gaara adalah kakaknya, namun Nala adalah sahabat baiknya. Dan Kara tidak akan diam saat Nala tersakiti hatinya.
"Lo tau apa sih, santen. Lo kaga ngerti apa-apa. Lo masih kecil". Karena gemas, Gaara menoleh ke belakang dan mengusak kepala Kara hingga rambut gadis itu berantakan.
"Kecil-kecil juga, gue udah bisa bikin anak kecil bang". Gaara langsung mendelik menatap adiknya dan Baim bergantian dengan tatapan curiga.
Baim menghela nafas panjang. Kekasihnya selalu berbicara seenaknya tanpa berpikir jika pemikiran orang lain bisa saja membuat semua runyam.
"Sayang.." Panggilan lembut Baim sudah cukup untuk menyadarkan Kara atas kesalahannya dalam berbicara. Gadis itu langsung menampakkan gigi putihnya sambil menatap kekasih hatinya yang selalu sabar menghadapi kekonyolannya.
"Maaf kak..becanda". Baim hanya menggeleng pelan dengan senyum tipis.
"Iya deh iya. Gue mah masih kecil. Lo yang udah tua". Telak, Kara balas Gaara hingga membuat pemuda tampan itu mendelik kesal. Sementara Baim? Lelaki itu kembali diam seperti biasa, menjadi pendengar yang baik saat kekasihnya berdebat dengan saudara-saudaranya.
"Ini sih cuma saran bang. Saran dari anak kecil.." Kara menekankan kata anak kecil membuat Gaara mendengus.
"Lupain yang nggak bisa balik bang. Masa lalu kok diinget terus. Lo jalan ke depan bang, kaga mundur ke belakang." Gaara kembali menghela nafas. Bukan tidak ingin, namun terlalu sulit melupakan orang yang dicintai sekian lama.
"Nggak segampang itu, Ra". Ucap Gaara pelan membuat Kara mendengus.
"Dasar aki-aki gagal move on". Cibir Kara membuat mata sang kakak kembali melebar.
"Udah-udah. Lo juga, Ga. Sama aja kaya Raffa, kalo deket Kara kerjaannya ribut mulu". Lerai Baim sebelum pembahasan keduanya semakin jauh dan berakhir dengan perdebatan sengit.
__ADS_1
"Dengerin tuh kata calon suami aku.." Gaara mendengus, menatap jengah adiknya yang selalu membanggakan Baim.
Setelah ucapan Kara, tak ada lagi suara yang keluar dari mulut ketiganya. Gaara yang heran karena sang adik tiba-tiba diam, menengok ke belakang.
Ia berdecak dan menggeleng pelan melihat adiknya yang sudah terlelap dibangku belakang.
"Lo kuat-kuatnya sih, Im". Baim menoleh sekilas dan kembali fokus pada kemudinya.
"Kuat apanya?". Tanya Baim bingung
"Kuat-kuatnya lo jadi pacarnya si santen. Heran gue sebenernya. Ni bocah dari mana dapet tenaganya, bisa diem cuma kalo makan ama tidur doang". Gaara kembali menggeleng. Menatap sang adik penuh kasih sayang.
"Kuping lo kaga sakit apa dengerin ni bocah ngoceh mulu?". Tanya Gaara penasaran yang justru membuat Baim tersenyum.
"Namanya juga cinta, Ga. Diemnya dia tu malh bikin gue takut". Baim terkekeh mengingat diamnya Kara yang berarti sedang marah pada dirinya.
"Hih..geli gue". Gaara bergidik. Tak terbayangkan jika saudara angkatnya bisa secinta itu pada santen sachet kesayangannya.
"Gue bukan mau ikut campur Ga..cuma apa yang dibilang Kara bener. Buat apa nunggu masa lalu? Sementara yang kita hadapi masa depan". Wajah Gaara berubah, kembali dingin tanpa senyuman.
"Tapi dia udah punya keluarga sendiri, Ga. Nggak mungkin lo jadi orang ketiga kan?". Gaara dan Baim begitu kompak menghela nafas panjang.
Gaara yang sebelumnya sempat menghangat, kini kembali menjadi manusia dingin tak tersentuh oleh wanita setelah hatinya dipatahkan oleh seorang wanita yang merupakan gadis pertama yang mampu mengetuk hati Gaara.
Mobil kembali hening, tak ada satupun yang bersuara baik Gaara maupun Baim. Keduanya sama-sama larut dalam pikiran mereka masing-masing.
.
.
"LENGKARAAAAA!!!". Kara menutup kepalanya dengan bantal saat teriakan melengking itu kembali terdengar setelah beberapa waktu tak pernah lagi terdengar.
"RAFFAAAA!! Astaga, kenapa kalian bikin mama sakit kepala sih". Diandra memijit kepalanya yang terasa pusing. Dua anak kembarnya benar-benar membuatnya pusing.
Diandra pikir, setelah keduanya masuk di bangku perkuliahan, kelakuan keduanya akan berubah. Namun semua harapannya pupus, karena ternyata tak ada perubahan pada kedua anak itu.
__ADS_1
"Jangan teriak-teriak ma..nanti kerutan nambah". Diandra melotot pada Gaara yang justru terkekeh. Anak lelakinya itu sudah rapi dengan kemeja kerja nya.
"Dasar kalian sama-sama bikin kepala mama pusing". Diandra yang lelah sejak pagi berteriak, akhirnya memilih menyerah membangunkan si kembar dan kembali ke dapur untuk melanjutkan kegiatannya menyiapkan sarapan.
"Assalamualaikum..calon mantu dateeeeeng.." Sebuah salam dari luar pintu membuat Diandra menoleh. Tak lama muncul sosok cantik dengan senyum cerahnya masuk.
"Wa'alaikumsalam.." Diandra tersenyum melihat Nala yang sudah berjalan mendekatinya. Sudah dua tahun ini gadis itu begitu rajin datang kerumah nya dengan berbagai alasan.
Gaara mendengus kesal melihat Nala sudah datang ke rumahnya pagi-pagi. Pemandangan yang setiap pagi ia lihat hampir dua tahun lamanya.
"Assalamualaikum calon imam.." Nala berdiri didepan Gaara dan menatap lelaki itu penuh kekaguman.
"Dosa kalo nggak jawab salam tau, abang ganteng".
"Wa'alaikumsalam". Gaara menjawab lagi meski masih dengan suara yang pelan. Sebenarnya sejak tadi pun Gaara sudah menjawab salam dari Nala. Namun hanya dirinya saja yang mendengar.
"Masyaallah..adem banget sih denger suara abang. Tambah cinta deh gue.." Gaara mencebikkan bibirnya. Benar-benar kesal setiap hari selalu digoda oleh gadis cantik ini.
"Abang pergi dulu ma.." Gaara yang enggan berada di satu tempat yang sama dengan Nala memilih pergi bekerja meski sebenarnya ia tidak terburu-buru.
"Makan dulu bang. Kata ayah kamu, nggak ada yang mendesak di kantor beberapa minggu ini". Abi yang baru bergabung ikut angkat suara.
"Iya nih si abang..jangan lari mulu lah bang. Ntar gue capek ngejarnya". Keluh Nala membuat Gaara melirik sekilas.
"Om sama tante aja udah acc loh bang gue jadi istrinya abang". Nala menampakkan senyum sempurna.
"Calon menantu idaman nih bang.."
...___***___...
Oke, meskipun cuma sedikit yang komen..tapi makasih banyak yaaa..
Dan othor yang galau ini sudah memutuskan akan melanjutkan kisah cinta anak-anaknya mak Diandra disini aja. Sarap juga nanti diceritain, jadi dua-duanya diceritain meski ga sedetail si santen ama kakak ya..
Pliis terus dukung karya aku..berhubung sekarang lagi mudik, jadi cuma bisa up 1bab sehari. Nanti kalo udah pulang, insyaallah dikasih crazy up..
__ADS_1
Othornya lagi nyari ilham dirumah orang tua😂😂