
Keseharian Diandra kini hanya seputar anak-anaknya saja. Wanita muda itu benar-benar menikmati perannya sebagai seorang ibu muda dengan empat orang anak.
Beberapa bulan awal Diandra merasa kerepotan membagi perhatiannya untuk keempat anaknya. Jika untuk Baim, anak itu benar-benar pengertian dan sangat dewasa. Ia tak pernah mempermasalahkan jika sang mama sibuk mengurus adik kembarnya.
Lain lagi dengan Gaara yang butuh waktu beberapa minggu untuk bisa membiasakan diri dengan kehadiran si kembar. Mau sedewasa apapun Gaara, ia sudah terlalu terbiasa mendapat limpahan kasih sayang dari Diandra. Perhatian sang mama yang selama ini hanya tertuju padanya kini harus ia relakan untuk dibagi dengan saudara dan kedua adik kembarnya.
Bukan hal mudah untuk Gaara karena sejak bayi Diandra begitu memanjakan Gaara dan selalu memprioritaskan anak kandung kakaknya itu.
Gaara sering merajuk jika Diandra sedang sibuk dengan dua adik kembarnya, untunglah ada si pengertian Baim. Ia selalu mengisi hari-hari Gaara, mengajak saudara angkatnya bermain bersama agar saudaranya itu tidak merasa diabaikan oleh siapapun. Padahal Diandra tetap perhatian pada Gaara, namun apa yang kita harapkan dari anak berumur lima tahun.
Abi pun ikut berperan aktif dalam menjaga keempat anaknya. Dan tentu saja princess Kara yang mendapat perhatian lebih dari sang papa. Bukan pilih kasih atau apa, tapi entahlah. Mungkin karena Kara adalah anak perempuan satu-satunya dan juga cucu perempuan satu-satunya dari kedua keluarga itu. Anak itu sangat manja pada sang ayah, bahkan sejak berumur 2tahun. Hingga kini umurnya menginjak 5tahun, Kara masih sangat manja pada papanya.
Seperti drama yang setiap pagi si princess ciptakan, ia akan merengek dan berujung tangisan jika keinginannya untuk diantar sang papa tak terpenuhi. Karena ada kalanya Abi tidak bisa datang ke kantor terlalu siang karena rapat-rapat penting.
Maka sudah menjadi tugas Diandra untuk menenangkan anak perempuannya yang manja itu. Tapi jangan salah, meskipun manja, Kara tumbuh menjadi anak tomboy yang suka mengikuti para kakaknya bermain bola. Berulang kali Diandra melarang, namun gadis berusia 5tahun itu selalu punya cara untuk ikut ketiga kakaknya bermain bola dilapang yang tak jauh dari rumahnya.
"Aku kan udah bilang sama kamu mas, jangan terlalu di manja. Nanti kelewatan manja nya sama kamu. Ya kalo kita pas bisa turutin maunya dia, kalo enggak kan repot". Kata-kata itu selalu keluar dari mulut Diandra saat Abi mengiyakan semua permintaan Kara.
"Nggak apa-apa sayang. Dia masih kecil, nanti ada waktunya dia ngerti kok". Dan jawaban itu pula lah yang selalu Diandra dapatkan dari Abi.
Akhirnya Diandra pasrah dan membiarkan suaminya memanjakan putri mereka. Jangan lupakan Baim dan Gaara yang juga menjaga si princess bak seorang putri raja. Apapun keinginan adik mereka, kedua bocah tampan itu akan melakukan apa yang diminta adik tercantiknya itu.
Namun meski begitu, Gaara adalah orang yang paling sering membuat Kara menangis meskipun pada akhirnya ia juga yang menenangkan adiknya itu.
Jika Sakha, jangan terlalu berharap pada anak itu. Umur yang hanya terpaut waktu 7menit membuat keduanya lebih sering berdebat daripada akur nya.
Dan saat ini Diandra sedang dipusingkan pada fase si kembar yang selalu ribut dan memperebutkan dirinya. Ditambah si kompor Gaara dan suaminya.
__ADS_1
"Mama Kara..huaaaaa". Tangisan gadis kecil itu melengking membuat Diandra sedikit pusing. Apalagi melihat Gaara dan Sakha yang saat ini sedang nemplok.
"Abang sama Rapa awaaaass!!!". Teriaknya namun Gaara justru mempererat pelukannya pada Diandra sambil meledek adiknya yang nangis kejer.
Oh ya, Kara paling beda, ia tak mau memanggil kakak kembarnya Sakha, melainkan Raffa. Dan entahlah, gadis kecil itu selalu menyebut Rapa, bukan Raffa. Karena itu pulalah, semua orang memanggil Sakha dengan panggilan Raffa. Agar semua yang mendengar tidak bingung. Toh disekolah sikembar juga ada anak bernama Sakha.
"Ini kan mamanya abang.." Tangisan Kara semakin keras saja. Sedangkan Baim hanya menggeleng menyaksikan kejahilan Raffa dan Gaara.
"Mamaaaa..." Suara Kara sampai hampir hilang karena terus menangis.
"Abang udah dong..kasian adiknya". Diandra melirik Gaara dan melambaikan tangan pada Kara yang sudah menjatuhkan dirinya dilantai sambil berguling.
"Abis gemesin sih kalo nangis". Jawab Gaara enteng membuat Diandra menggeleng dengan helaan nafas panjang.
"Udah cup cup..masa incess nangis sih. Sini sama kakak.." Uluran tangan Baim segera diterima oleh Kara, ia sudah nemplok digendongan kakak angkatnya.
"Aku juga mau digendong kakak.." Raffa melepaskan pelukannya dan mendekati Baim. Jelas saja hal itu kembali membuat Kara mengeluarkan suara melengking untuk memperingatkan saudara kembarnya.
"Nggak mauuuu!!!". Teriak Kara namun Raffa tetap mendekat. Sedangkan Gaara, anak itu seperti tak berniat sedikitpun untuk menolong saudaranya yang sedang diperebutkan oleh adik kembarnya. Melihat Raffa dan Kara seperti sekarang merupakan kesenangan tersendiri bagi Gaara.
Bukan karena tak menyayangi kedua adiknya, namun dia memiliki cara sendiri menunjukkan kasih sayangnya pada dua adiknya.
"Nggak mau! Rapa awas!!". Kara yang sedang digendong Baim berusaha menjauhkan kepala saudara kembarnya dari kakaknya, Baim.
"Iya sini nanti gantian gendongnya ya, sekarang Kara dulu, Raffa ngalah dulu ya". Baim benar-benar kakak siaga, oleh karena itulah si kembar memang lebih sering memperebutkan Baim dibanding Gaara yang memang lebih sering menjahili mereka. Meskipun begitu, Raffa dan Kara tetap sangat menyayangi abangnya itu.
Diandra menatap Baim, anak yang ia adopsi lima tahun lalu itu benar-benar bak malaikat dalam kehidupan keluarganya. Sikap sabar dan pengertiannya benar-benar membuat siapapun nyaman dekat dengannya.
__ADS_1
"Ibrahim Maulana Argantara.." Gumam Diandra menatap Baim yang masih diperebutkan oleh adik-adiknya.
Nama Argantara Diandra sematkan pada anak angkatnya itu setelah surat adopsi Baim ia kantongi. Ia benar-benar bahagia saat itu bisa menjadikan Baim sebagai anggota keluarga yang sah dimata hukum.
"Baim baik ya ma, sabar banget ngadepin Raffa sama Kara". Diandra menoleh, rupanya putra sulungnya juga tengah memperhatikan saudara dan adik-adiknya.
"Abang juga baik, cuma suka jail kaya papa". Diandra menarik pelan hidung mancung putranya.
Gaara dan Raffa benar-benar fotocopy Abi saat masih anak-anak. Semua yang ada pada mereka benar-benar milik Abi.
"Rame jahilin mereka ma, gemesin. Apalagi Kara suka nangis". Gaara menyandarkan kepalanya dipundak sang mama.
"Makasih ya ma, udah mau jadi mama abang. Jagain abang sama sayangin abang selama ini". Diandra terhenyak, ia merangkul putranya yang langsung memeluknya erat.
"Makasih juga, abang udah mau jadi anak mama". Diandra mengecup pucuk kepala Gaara dengan penuh kasih sayang.
Ibu dan anak itu berpelukan, hingga suara cempreng Kara membuyarkan suasana haru diantara Gaara dan Diandra.
"Mama akuuuu!!!" Dan mulailah keributan antara anak-anak Diandra.
---***___
okeee, kasih double up nih yaa..
Udah dipikir-pikir kayanya dibikin jadi bocah-bocah gemesin dulu sebelum jadi remaja yang tahu soal percintaan, ceritain mereka nya disini juga aja deh yaa..biar nggak usah bikin dilapak baru..
Jangan lupa dukungannya ya makemak semuaaa💐💐😘😘😘
__ADS_1