
Adzkia Afsheen Sanjaya
"Cantik banget sih kamu..." Gumam Kara yang sejak tadi tak beralih dari sisi box bayi keponakan pertamanya itu.
"Kakak lihat, dia gerak.." Baim mengalihkan pandangannya, dan berjalan mendekati istrinya.
"Lucu banget kan kak.." Baim mengangguk, fokusnya juga ada pada bayi mungil didalam box itu.
"Namanya siapa, La?". Tanya Kara yang memang belum mengetahui siapa nama bayi mungil itu.
"Adzkia.."Bukan Nala, tapi ayah dari bayi itu yang menjawabnya.
"Adzkia Afsheen Sanjaya.." Gaara kembali bersuara.
"Adzkia...nama yang cantik. Secantik orangnya.." Gumam Kara mengulangi nama yang disebutkan Gaara.
"Hallo Kia..ini aunty Kara. Aunty yang paling cantik seantero negeri". Ucap Kara memperkenalkan diri.
"Ini suami aunty..namanya uncle Baim. Suami aunty ganteng kan?". Seloroh Kara membuat Baim tersenyum dan kemudian mengusap lembut kepala istrinya.
"Cantik banget ya kak.."Ucap Kara dijawab anggukan kepala oleh Baim. Keduanya nampak terpukau melihat bagaimana rupa putri pertama Gaara dan Nala itu.
"Siapa dulu dong mommy nya.." Ucap Nala sombong. Wanita yang beberapa jam lalu terus berteriak kesakitan itu kini sudah tampak jauh lebih segar dan rapi.
"Cih..orang apa-apanya kaya abang gini". Kara berdecih pelan sambil terus memperhatikan keponakannya yang kini membuka mata.
"Ck..nggak usah diperjelas kenapa sih". Nala berdecak kesal. Setiap orang yang melihat wajah putrinya selalu mengatakan betapa miripnya wajah bayi mungil itu dengan sang daddy.
"Itu karna abang yang lebih bekerja keras sayang".
"Terus aja ngomong gitu. Terus yang ngegembol dia 9bulan sama lahirin nggak bekerja keras gitu?". Sengit Nala. Dan selanjutnya, sepasang orang tua baru itu kembali memperdebatkan perihal siapa yang sebenarnya paling bekerja keras hingga lahirlah buah hati mereka.
Kara mengelus pipi keponakannya dengan sangat hati-hati. Betapa mengagumkan makhluk mungil itu. Tak peduli dengan perdebatan sahabatnya dan kakaknya.
"Jangan bersedih sayang.." Baim tahu ada kesedihan yang Kara sembunyikan dibalik senyumnya.
Hampir satu tahun pernikahan, dan hingga kini Kara belum juga hamil. Sementara Nala yang menikah hanya selisih satu minggu dengannya sudah menjadi wanita sempurna dengan melahirkan seorang putri.
"Aku nggak apa-apa kok kak.." Kara memaksakan senyumnya.
"Tapi..."
__ADS_1
"Aku juga nggak masalah, Lengkara. Selagi aku masih bisa hidup bersama denganmu, aku akan selalu baik-baik saja". Kara tersenyum penuh syukur. Rasanya tak akan cukup hanya berterimakasih setiap hari. Pengorbanan, cinta dan kasih sayang yang Baim berikan padanya terlalu besar jika hanya dibalas dengan ucapan terimakasih.
oeek..oeek..
Kara tersentak saat suara tangis keponakan cantiknya menggema. Pun Gaara dan Nala yang berhenti berdebat karena suara tangisan anak mereka.
Dengan sangat hati-hati, Kara mengangkat tubuh mungil keponakannya itu. Merengkuhnya penuh kasih, menimangnya sesaat dan kemudian berjalan mendekati ranjang rawat Nala.
"Makasih aunty cantik..." Kara terzenyum, masih berdiri disamping ranjang Nala yang kini terlihat hendak menyusui putrinya.
"Sayang..kakak tunggu diluar ya". Kara menoleh dan mendapati suaminya sudah berdiri didepan pintu sambil membelakanginya.
"Iya.." Setelah mendengar jawaban istrinya, Baim segera keluar.
"Abang juga diluar ya. Nemenin Baim, kasian nggak ada temen". Nala mengangguk saja karena ia sibuk dengan putri kecilnya.
"Rasanya gimana La?". Nala menatap Kara sekilas kemudian kembali fokus pada putrinya.
"Bukan rasa pas bikinnya. Jadi nggak usah ngadi-ngadi jawabnya". Kara kembali bersuara sebelum Nala menjawab. Ia tahu isi kepala sahabat baiknya itu. Sudah pasti jawabannya nyeleneh.
"Haha..kok tau sih aku mau jawabnya pas bikinnya". Nala tak bisa menyembunyikan tawanya saat Kara sudah bisa menebak isi kepalanya.
"Gue khatam ama itu isi kepala". Dengus Kara membuat Nala kembali tertawa.
"Jangan terlalu dipikirin, Ra. Dia putri kita..kita akan merawat dia bersama bukan?". Kara tetap tersenyum meski matanya mulai berembun.
"Ah..maafin aku. Kok aku jadi melow gini sih". Dengan punggung tangannya, Kara menyeka ujung matanya.
"Harusnya aku nggak kaya gini. Maafin aku, La". Nala tersenyum meski hatinya ikut merasa pilu. Ia yakin bukan hal mudah bagi Kara melewati masa ini. Disaat dirinya sudah dikaruniai seorang anak, dan Kara yang masih menanti hadirnya buah hati.
"Ra.." Nala menggenggam tangan Kara yang ada disampingnya dengan sebelah tangan. Sementara tangan yang lain, ia gunakan untuk menopang tubuh putrinya, Kia.
"Aku oke, La. Nggak usah khawatir". Kara tersenyum lebar, coba meyakinkan sahabat yang merangkap sebagai kakak ipar bahwa dirinya baik-baik saja.
Dirinya bukan bersedih karena Nala sudah melahirkan, sama sekali bukan. Bahkan dirinya termasuk orang yang paling bahagia dengan kelahiran keponakannya itu.
Namun sebagai wanita, ia tak bisa membohongi perasaannya. Ada sekelumit rasa sakit yang menjalari hatinya karna belum bisa mengandung anak dari lelaki yang ia cintai dan juga mencintainya.
"Aku tau, kakak juga pasti ingin memiliki anak seperti abang.." Batin Kara yang kini fokus menatap Kia yang tengah menyusu.
"Meskipun kakak selalu bilang baik-baik saja dan nggak masalah selagi hidup bareng aku. Tapi aku tau, kakak juga pengen cepet punya anak". Batin Kara kembali bergejolak, jika ditanya apakah ada ketakutan. Maka jawabannya jelas, ya.
__ADS_1
Ia takut Baim nya akan bosan menunggu dan akhirnya meninggalkan dirinya untuk mencari wanita sempurna yang bisa cepat memberinya keturunan.
"Nggak usah overthinking, Ra. Aku yakin kak Baim emang nggak mempermasalahkan soal anak. Jadi jangan mikir yang enggak-enggak". Kara tersentak saat Nala tiba-tiba berkata demikian.
Apakah sebegitu terlihatnya di wajah Kara jika ia sangat ketakutan dan gundah? Atau karena memang kedekatannya dengan Nala yang membuat sahabatnya itu bisa tahu persis isi hatinya.
"Apa sih, enggak lah". Nala menggeleng pelan. Meskipun Kara berkata tidak, tapi Nala tahu ada beban yang mengganggu pikiran sahabatnya itu.
Tak berbeda jauh dengan istrinya, diluar ruang rawat inap istrinya, Gaara tengah menatap Baim yang lebih banyak diam.
"Ada yang dipikirin?". Baim menoleh, menatap Gaara yang juga menatapnya.
"Kara.." Hanya menyebut nama adiknya saja, Gaara tahu apa yang tengah dipikirkan Baim.
"Dia lebih kuat dari yang kita kira, Im. Jangan terlalu khawatir". Ucap Gaara menenangkan sambil menepuk pelan pundak Baim.
"Justru karena itu. Dia selalu ingin terlihat baik-baik saja. Padahal aku tau dia tidak sekuat itu". Gaara tersenyum, jika boleh jujur..ia juga mengkhawatirkan kondisi batin adiknya itu.
"Percaya padanya..dia pasti akan baik-baik saja. Dia Lengkara.." Baim menghela nafas panjang. Mencoba meyakinkan diri jika yang dikatakan Gaara adalah benar.
Keduanya kembali mengobrol hingga suara teriakan Nala membuat keduanya bergegas masuk.
"Ada apa?". Tanya Gaara panik. Dan kepanikan itu semakin menjadi saat melihat adiknya tergolek tak berdaya di lantai.
"Lengkara!!". Teriak Baim yang langsung berlari dan mengangkat tubuh istrinya
"Hey..sayang. Bangun..kamu kenapa?". Baim yang sudah menidurkan tubuh lemas Kara disofa menepuk pipi istrinya perlahan sambil terus memanggilnya.
"Kenapa bisa gini sayang?". Nala menggeleng, ia masih syok melihat Kara yang tadi baik-baik saja jatuh pingsan dihadapannya.
"Panggil dokter, Ga! Cepet!!", Seru Baim yang membuat Gaara sadar dan segera berlari keluar. Ia bahkan tak terpikir untuk menelpon dengan telepon yang disediakan diruangan istrinya. Ia terlalu panik melihat adiknya pingsan.
Nala pun sama paniknya, namun dirinya tak bisa berbuat banyak. Karena saat ini dirinya masih duduk diatas brangkar menggendong baby Kia.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Nah loh gimana nih? Santen pingsan kebanyakan pikiran🥺🥺...
...Santen yang sabar ya..nanti mak othor kasih dede yang gemesh deh ya🥰🥰...
...readers yang menggemaskan juga jangan lupa tampol like nya, komen sama votenya jangan ditinggal. Intipin juga karya baru aku yang udah up beberapa bab🤭🤭 sambil menyelam minum air dong ya kan, eh..kembung lah orang nyelem minum air mah😂😂...
__ADS_1
...Pokoknya happyhappy deh buat readers ya..moga nggak keder kebanyakan baca tulisan aku😅😂...
...Sarangheo banyakbanyak kalian semuah🥰😘😘😘💐💋♥️...