
Kedatangan Diandra dan Abi disambut hangat oleh Tama yang malam itu sedang berada diteras rumah bersama beberapa kerabat dekat.
"Assalamu'alaikum, malam om.." Sapa Diandra disertai senyum menawan.
".Wa'alaikumsalam, malam..Diandra ya?". Tama bertanya sambil menerima uluran tangan Diandra.
" Iya om.."
"Sudah ditunggu Naya dari tadi..nggak berhenti nanyain kamu". Diandra terkekeh, sejak sore sahabatnya itu sudah meneror dirinya dengan pesan dan telepon bertubi-tubi yang isi pesan dan percakapannya sama. Yaitu meningatkan Diandra untuk tidak lupa datang ke rumahnya malam ini.
" Diandra.." Bukan hanya Diandra, namun Abi juga menoleh. Mereka melihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik menghampiri mereka.
"Gimana kabarnya Di?". Tanya Kirei sambil bercipika cipiki.
" Alhamdulillah sehat tan.."
"Ini putramu?? Astaga..tampan sekali". Diandra hanya menanggapi ucapan Kirei dengan senyuman. Ia yakin ibu dari sahabatnya itu sudah sangat mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.
" Ayo kita masuk sayang.." Kirei sudah mengambil alih tubuh Gaara dan menciuminya.
"Sayang..ini tuan Abimana. Pengusaha muda sukses yang aku ceritakan.." Tama memperkenalkan Abi pada istrinya.
"Anda terlalu berlebihan pak Tama..panggil saja Abi". Sahut Abi merendah. Ia merasa tidak enak dipanggil tuan oleh seseorang yang mungkin seusia dengan ayahnya.
" Kamu beruntung sekali punya istri secantik Diandra.. untung anak cowok tante udah nikah semua. Kalo enggak pasti tante jadiin mantu". Kekeh Kirei dijawab tawa ringan Abi.
"Ya tante...saya memang sangat beruntung". Abi melirik Diandra yang tampak acuh saja.
" Yasudah..tante tinggal ya.." Abi mengangguk mengiyakan.
Diandra dan Kirei meninggalkan Abi yang langsung mengobrol dengan Tama. Tentu saja seputar bisnis dan hal-hal yang mungkin tidak Diandra pahami.
"Tante tinggal ya..masih banyak yang harus tante urus. Anak perempuan tante bikin pusing nggak bantuin". Keluh Kirei sembari menyerahkan tubuh Gaara pada ibunya.
" Oke tante.."
Sepeninggal Kirei, Diandra membuka pintu kamar Naya Perlahan. Ia takut Naya sudah tidur, namun rupanya gadis itu tengah melamun. Perlahan Diandra mendekat dan menepuk pelan pundak gadis itu.
"Diandra!!!". Pekik Naya kegirangan dan hendak memeluk Diandra namun ia urungkan karena melihat bayi tampan dalam gendongan Diandra.
" Dia???". Naya menatap bayi kecil itu dalam-dalam.
"Putraku..bukankah dia tampan?". Diandra ikut menatap bayi didalam dekapannya.
" Hmmm..tampan sekali". Naya yang sudah gemas akhirnya mendaratkan ciuman bertubi-tubi dipipi gembul.
"Siapa namanya Di??". Bayi mungil itu masih terlelap, tak sedikitpun terganggu dengan suara berisik Naya.
" Gaara..namanya Sagaara". Naya tersenyum melihat Diandra menyayangi bayi yang diberi nama Gaara itu.
"Namanya bagus..berapa usianya Di??".
" Bukankah aunty Naya sangat cerewet sayang??". Naya mencebik melihat Diandra seolah tengah membicarakannya dengan bayi mungil itu.
"Yaaa..cerewet-cerewet begini aku tetap aunty yang paling cantik". Ucap Naya membanggakan diri hingga membuat Diandra terkekeh pelan.
__ADS_1
" Usianya 4bulan..dia sangat menggemaskan". Diandra akhirnya tidak tahan dan ikut menciumi bayi mungil itu hingga menggeliat karena terganggu dengan apa yang dilakukan ibunya.
"Kamu sudah bisa menerimanya?". Tanya Naya menatap Diandra, tak ada sedikitpun yang terlewat oleh Naya. Meski Diandra sudah tidak bekerja, namun hubungan mereka terus terjalin apik. Keduanya selalu saling memberi kabar meski tak setiap hari.
" Dia tidak bersalah..mereka juga tidak. Aku lelah berperang dengan semua ini. Aku rasa berdamai dengan keadaan lebih baik untuk sekarang. Meski aku belum bisa memaafkan mereka sepenuhnya, apalagi melupakannya". Diandra tersenyum lembut, senyum yang menular pada Naya.
" Aku tidak peduli dengan mereka, aku ada disekeliling mereka hanya untuk Gaara, tidak lebih.."
"Aku tahu kamu kuat Di..kamu ibu yang hebat". Naya mengelus pundak Diandra.
" Kamu dengar Gaara..ibumu sangat menyayangimu. Dia akan melakukan apapun untuk dirimu.."
"Dengan siapa kamu kesini Di?? Jangan bilang kalau kamu hanya berdua dengan Gaara??". Mata Naya melotot sangar membuat Diandra terkekeh.
" Abi mengantarkan aku. Sepertinya dia mengenal daddymu. Mereka sedang berbincang". Naya menghela nafas lega mendengar penuturan Diandra.
"Kamu menginap saja disini ya?". Pinta Naya dengan wajah memelas.
" Aku tidak membawa baju ganti, pakaianku untuk besok juga ada di hotel Nay.." Diandra tidak berbohong. Ia memang hanya membawa perlengkapan Gaara.
"Lagipula akan saangat tidak lucu Nay. Yang ada nanti kita begadang". Bisik Diandra mengingatkan Naya kebiasaan keduanya saat ada diapartemen.
"Ayolaaaah...kumohon". Naya semakin menunjukkan wajah memelasnya hingga membuat Diandra menghela nafas panjang, jika sudah begini bisa dipastikan Naya akan terus merengek.
" Aku akan meminta ijin pada Abi dulu. Jika diijinkan, aku akan menginap". Senyum Naya mengembang mendengar ucapan Diandra.
Keduanya berjalan keluar dari kamar, sementara Gaara sejak tadi sudah dikuasai Naya yang sepertinya enggan melepaskan Gaara dari pelukannya.
Diandra menghampiri Abi yang tengah asyik mengobrol dengan Tama dan juga Ken serta Kai. Mereka seperti orang yang sudah lama mengenal.
"Oh gapapa Diandra..silahkan".
" Sini bentar mas.." Perasaan Abi menghangat mendengar Diandra berbicara lembut padanya, apalagi panggilan 'mas' yang Diandra sematkan terasa begitu menyejukkan baginya.
"Saya permisi sebentar pak Tama.." Tama mengangguk mengiyakan.
"Ada apa Di??" Tanya Abi setelah keduanya menjauh dari Tama dan kedua putranya.
"Naya memintaku menginap disini". Tak ada lagi suara lembut apalagi panggilan mesra seperti beberapa detik lalu. Diandra kembali menjadi wanita dingin tanpa ekspresi dihadapan Abi.
" Menginaplah. Aku akan mengantarkan kopermu kesini nanti.." Setelah menghela nafas panjang, Abi menjawab disertai senyum hangatnya. Ia sudah mulai terbiasa dengan sikap dingin Diandra. Ia yakin suatu saat Diandra nya akan kembali, meski dirinya harus gila karena tersiksa dengan sikap dingin istrinya, namun ia memahami jika semua itu karena dirinya.
"Terimakasih". Abi mengangguk.
" Aku akan ambilkan kopermu..Nanti aku antarkan kesini". Kini Diandra yang menganggukkan kepalanya.
" Lihat ibumu. Dia berbicara pada ayahmu seperti sedang berbicara dengan penjahat. Wajahnya datar banget kaya tembok dan dingin banget..kamu nggak kedinginan apa kalo didekat dia??". Naya mengajak bayi lucu itu berbicara ngawur, membicarakan ibunya yang sedang berbicara pada Abi. Sejak tadi interaksi antara Abi dan Diandra tak lepas dari penglihatan Naya. Ia bisa melihat jika sahabatnya itu masih menyimpan cinta pada laki-laki yang sudsh resmi menjadi suaminya itu. Diandra menutupinya dengan sikap dingin dan datarnya.
Naya berpura-pura mengajak Gaara mengobrol ketika melihat Diandra sudah selesai berbicara dengan Abi dan tengah berjalan menghampirinya.
"Dia mengijinkan". Ucap Diandra membuat Naya senang.
" Yes..." Pekiknya kegirangan membuat Diandra menggeleng melihat kelakuan Naya.
Malam ini Naya menghabiskan waktunya dengan bercengkrama dengan Diandra. Ia bahkan terlihat paling sibuk membuatkan susu jika bayi lelaki tampan bernama Gaara itu menangis karena haus.
__ADS_1
"Kamu udah siap banget jadi ibu kayanya ya?". Goda Diandra membuat Naya tersipu malu.
Keduanya tengah memandangi wajah tampan baby Gaara, alisnya yang tebal serta hidung mancungnya benar-benar persis seperti ayahnya.
" Bukankah dia wanita kejam Nay?". Ucapan Diandra membuat atensi Naya beralih padanya. Ditatapnya wajah Diandra yang terlihat menerawang, menatap langit-langit kamar miliknya.
"Dia sudah mengambil cintaku..dan setelah aku mencoba mengikhlaskannya, dia dengan tega pergi meninggalkan nya". Diandra tersenyum kecut.
" Bahkan dia ibu yang kejam..dia tega meninggalkan bayi tidak berdosa ini". Sudut mata Diandra mulai menggenang air.
"Di.."
"Sekarang dia dengan mudahnya menitipkan Gaara untuk aku jaga. Apa dia benar-benar manusia?". Diandra mulai terisak hingga membuat Naya bangkit dan memeluknya.
" Dimana hatinya? Kenapa dia menitipkan Gaara padaku. Tidak tahukah dia jika ini membuat lukaku kembali menganga lebar??". Naya mengelus punggung Diandra.
Selama hampir tiga bulan ini, Naya selalu menjadi tempat Diandra mencurahkan keluh kesah dan kesedihannya.
"Aku yakin kamu mampu Di. Dan apa yang sudah kamu pilih adalah yang terbaik.." Diandra mengangguk dalam pelukan Naya.
"Apa Dimas juga kamu undang?". Diandra menghapus sisa air mata dipipinya.
" Ya..tentu saja. Dia juga teman baikku Di".
"Kamu yakin memangnya kalau dia pasti datang??". Goda Diandra
" Awas saja kalau dia tidak datang. Aku akan menghajarnya". Ucap Naya berapi-api.
"Memangnya kamu berani??". Tanya Diandra membuat bahu Naya merosot.
" Ya enggak. Mana berani aku sama anak konglomerat kaya dia". Diandra terkekeh pelan. Dirinya sama terkejutnya mengetahui identitas sebenarnya seorang Dimas.
"Nggak nyangka ya..kita temenan sama anak pengusaha kaaya raya". Keduanya tergelak ketika mengingat bagaimana kurangajarnya sikap keduanya pada Dimas. Jika sejak awal mereka tahu siapa Dimas, mungkin mereka akan sedikit segan pada lelaki itu. Atau mungkin akan sama saja.
Keduanya berbincang hingga lewat tengah malam. Entah jam berapa keduanya benar-benar terlelap.
Diandra terbangun saat sayup-sayup ia mendengar suara adzan dari masjid yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah keluarga Naya. Ia melirik Naya yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
" Morning anak mama.." Diandra memberikan kecupan lembut didahi putranya. Ia beralih menatap Naya yang masih belum ada tanda-tanda akan bangun. Padahal hari ini gadis itu akan melepas masa lajangnya.
"Nay bangun.."
"Hmm.." Naya hanya bergumam dan merapatkan selimut nya. Diandra hanya tersenyum melihat tingkah Naya. Diandra memutuskan membersihkan dirinya dulu sebelum nanti kembali membangunkan calon pengantin pemalas itu.
"Astaga..dia tidur apa pingsan sih?". Gumam Diandra yang sudah selesai membersihkan dirinya.
" Hai gantengnya mama, udah bangun.." Diandra segera mengangkat tubuh mungil Gaara sebelum dia menangis.
"Kita bangunkan dia yang mengaku sebagai calon mertuamu itu ya.." Diandra membawa Gaara mendekat pada Naya.
"Onty..bangun lah. Apakah onty ingin uncle Yohan dibawa kabur orang". Diandra menirukan suara anak kecil. Sementara yang dibangunkan hanya menggeliat kegelian sat merasakan benda kecil memegang pipinya.
" Calon mertuamu kebluk ya sayang.."
"Jangan mengajarkan calon menantuku menjadi menantu nakal Di.." Diandra terkekeh mendengar suara serak Naya. Rupanya Naya terbangun saat Diandra menggunakan tangan mungil Gaara untuk mengelus pipinya.
__ADS_1
"Astagaaaaa...Kanayaaaaa bangun!!!". Suara Kirei langsung memenuhi seluruh penjuru kamar Naya.