
"Sabar ya sayang.." Saat ini Abi dan Diandra tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Abi yang duduk disamping sang istri terus mengelus perut buncit itu.
Sementara Diandra hanya bisa mengangguk sambil berusaha mengatur nafasnya. Sejak semalam memang ia sudah merasakan kontraksi diperutnya, namun jarak waktunya cukup lama. Tapi saat ini, rasa sakit itu menyerangnya terus menerus tanpa henti.
Kadang hanya berselang 5menit dan kembali terasa sakit. Abi hanya bisa mengelus punggung bawah Diandra serta perutnya secara bergantian. Sejak tadi tangannya sudah jadi tumpuan sang istri ketika sakit mendera.
"Masih jauh nggak sih mas?". Tanya Diandra sedikit sewot. Rasa sakit yang teramat membuatnya mudah marah.
" Enggak..sabar ya.."
"Sakit mas". Lirih Diandra yang semakin mencengkeram kuat lengan sang suami.
Perjalanan yang sebenarnya tidak lama itu terasa begitu lama dan menyiksa bagi Diandra. Namun mengingat jika setelahnya ia akan bertemu dengan dua malaikat penghuni rahimnya, Diandra menguatkan diri dan terus berdoa pada sang pencipta untuk kelancaran dan keselamatannya dengan kedua buah hatinya.
Ini bukan kali pertama Abi menemani seorang wanita akan melahirkan, namun dulu saat Dea melahirkan, Abi tidak disampingnya. Pasalnya istri pertamanya itu melahirkan melalui sebuah operasi caesar. Jadi Dea tidak sempat merasakan kontraksi seperti Diandra saat ini.
" Pak lebih cepet ya.." Perintah Abi pada pak Salim yang tengah mengemudi. Lelaki paruh baya itu mengangguk patuh dan menambah kecepatan kuda besi yang tengah ia kendarai.
Setelah beberapa saat mengalami sakit yang teramat, Diandra melepaskan cengkeramannya di lengan sang suami. Wajahnya pun tak terlihat tegang dan menahan sakit seperti beberapa detik lalu.
"Pelan-pelan aja gapapa pak.." Pak Salim melirik dari kaca, melihat nyonya mudanya sudah lebih tenang.
"Sayang.." Abi menghapus keringat yang ada diwajah sang istri.
"Udah nggak sakit kok mas.." Diandra tersenyum membuat Abi bernafas lega.
Melihat Diandra tersiksa dengan rasa sakit itu membuat Abi juga merasa sakit. Andai bisa, ia mau menggantikan sakit yang Diandra rasakan saat ini.
"Maaf sayang.." Alis Diandra berkerut mendengar permintaan maaf Abi.
"Kamu sakit karena hamil anak aku.." Abi kembali mengelus perut buncit itu dan menciumi nya.
"Anak kita mas.." Ralat Diandra dengan senyum lembutnya.
__ADS_1
"Aku seneng bisa hamil anak ini mas..mereka akan melengkapi kebahagiaan kita. Dan pasti Gaara dan Baim juga.." Diandra mengelus kepala Abi.
Hingga mobil memasuki lobby rumah sakit, Diandra tidak mengalami kontraksi lagi. Disana sudah ada Alvin yang menunggu kedatangan keduanya.
"Udah beres semua?". Tanya Abi yang tengah membantu Diandra keluar dari mobil.
Alvin mengangguk, namun matanya melirik lengan atasannya yang sudah mirip seperti macan. Loreng dimana-mana karena cakaran dan cengkeraman Diandra selama kontraksi. Tak lama Alvin melirik tangan istri bos nya itu. Sudut bibirnya sedikit terangkat.
" Pantes aja udah kaya bajunya trio macan. Lah kuku bini nya udah lebih-lebih dari macan". Batinnya tersenyum puas.
Turun dari mobil, Diandra sudah mendapat sambutan istimewa dari paramedis rumah sakit ternama itu. Jelas karena Abi yang seorang pengusaha ternama serta sahamnya yang bisa dibilang besar dirumah sakit itu.
Di temani dokter dan beberapa perawat, Abi mendorong kursi roda Diandra menuju kamar rawat yang sudah ia pesan sejak 3bulan lalu itu. Kamar rawat dengan fasilitas mewah bak hotel bintang lima yang bersebelahan langsung dengan kamar bersalin Diandra.
Ya, Abi memang sengaja memesan kamar yang bersebelahan langsung dengan kamar bersalin. Bahkan kedua kamar itu sengaja dibuat ada pintu penghubung agar memudahkan Diandra saat akan melahirkan.
Abi mengangkat tubuh Diandra dan merebahkannya keatas brangkar bersalin. Tak lama dokter kandungan Diandra dan beberapa bidan serta perawat segera mendekat. Dokter ingin memeriksa jalan lahir calon ibu itu.
"Tadi sakit banget dok.." Keluh Diandra membuat si dokter tersenyum.
"Kita periksa dulu jalan lahirnya ya.." Awalnya Diandra enggan membuka kakinya saat dokter hendak memeriksa bagian bawahnya itu.
Namun kontraksi yang kembali datang membuatnya langsung membuka lebar kakinya tanpa protes dan membiarkan dokter melihat bagian bawahnya.
"Wah, sudah pembukaan empat ya.." Diandra meringis sambil meremas kuat lengan sang suami saat dokter memasukkan tangannya untuk memeriksa jalan lahirnya, ngilu dan sedikit sakit.
"Pembukaan apa maksudnya dok?". Tanya makhluk paling tampan didalam ruangan itu membuat dokter dan perawat serta bidan tersenyum.
" Pembukaan itu artinya pembukaan serviks atau leher rahim. Ehm misal contohnya pembukaan satu, itu artinya leher rahim melebar sekitar satu centimeter, begitu seterusnya sampai pembukaan sempurna, pembukaan sepuluh. Begitu bapak". Dokter wanita bername tag Stevi itu tampak tenang menjelaskannya.
"Lalu berapa lama istri saya harus nahan sakit kaya gini?!". Abi sedikit emosi, ia sudah tak tega melihat istrinya tersiksa setiap kali kontraksi itu datang.
Tak lama mama Dita masuk, ia menyusul lebih dulu bersama supir yang lain. Sementara mama Ana bertugas menjaga dan menyiapkan pakaian Abi dan kedua cucunya.
__ADS_1
" Tenang Bi.." Mama Dita mengelus pundak menantunya yang emosi.
"Mama..sakit.." Rintih Diandra berderai air mata menatap sang ibu.
"Sabar ya sayang..sebentar lagi nggak akan sakit". Mama Dita mengecup lembut kening putrinya.
" Apa nggak ada cara supaya istri saya nggak terlalu lama sakit seperti ini dok?". Abi benar-benar tidak kuasa melihat Diandra kesakitan.
"Diandra ini terhitung cepat loh, dulu saat mama hamil Diandra malah sampai berhari-hari sakitnya." Jelas mama Dita membuat Abi sedikit tenang.
"Semua ibu yang melahirkan normal akan merasakan seperti bu Diandra, pak. Tapi ibu hebat loh, saat banyak perempuan memilih jalan cepat dengan operasi, ibu tetap memilih melahirkan secara normal. Pasti si kembar bangga punya mama Seperti ibu". Ucap Dokter Stevi membesarkan hati Diandra.
Karena masih pembukaan empat, Diandra kembali ke kamar rawatnya yang hanya bersebelahan dengan kamar yang baru saja dipakai untuk memeriksa dirinya.
Sesuai anjuran dokter, Diandra berjalan bolak-balik didalam kamar untuk melancarkan persalinan nanti. Dan Abi dengan setia menjaga istrinya itu.
" Sini.." Alvin melambaikan tangannya pada Abi yang baru saja membantu Diandra duduk.
"Apaan?". Tanya Abi dengan kening berkerut.
" Nih..!". Alvin meletakkan sesuatu ditelapak tangan Abi. Kerutan dikening Abi semakin jelas terlihat saat benda yang diberikan Alvin terlihat.
"Buat apaan?". Tanya Abi bingung. Sedangkan Alvin hanya merotasikan bola matanya.
" Lo beneran mau jadi anggota trio macan?". Alvin melirik lengan Abi hingga si pemilik lengan ikut melihat lengannya sendiri.
Abi meringis saat menyentuh kulit yang mengelupas karna kuku istrinya yang sejak tadi menancap indah dilengannya itu.
Tanpa banyak bertanya lagi, Abi membawa gunting kuku itu. Benar apa yang dikatakan Alvin, bisa-bisa dirinya dikira memakai pakaian tentara saat keluar ruang bersalin nanti.
#######
**Lahirannya pending bab selanjutnya aja ya..othornya masih mumet mikirin nama si kembar soalnya hahaha
__ADS_1
Mohon bersabar ya semuaaa..
Makasih buat semua dukungannya..maaf nggak bisa bls satu-satu komennya**..