Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
kejut--an


__ADS_3

"Udah Ra..Lo udah dua jam nangis. Bisa-bisa mata lo bengkak nanti". Nala menepuk beberapa kali punggung sahabatnya.


Dua jam lalu, Kara datang kerumahnya. Ia kira Kara akan mengajaknya jalan-jalan atau berbelanja. Namun sahabatnya itu justru menangis tiada henti sejak mereka sampai di kamar.


"Udah ya.." Nala terus mencoba menenangkan. Nala tak tahu apa yang terjadi pada Kara, karena sejak tadi Kara masih menangis dan belum menjelaskan apapun pada dirinya.


Akan tetapi Nala yakin jika permasalahan sahabatnya itu tak akan jauh-jauh dari lelaki yang sudah membuat sahabatnya itu tergila-gila sejak setahun belakangan.


"Nih minum dulu biar tenang". Kara menerima segelas air putih yang disodorkan Nala dan menenggaknya hingga habis tak bersisa.


"Jadi kenapa lo ujug-ujug nangis?". Tanya Nala saat melihat Kara sudah lebih tenang.


Kara menceritakan apa yang terjadi saat perjalanan pulang tadi. Nala hanya menghela nafas panjang mendengar cerita Kara yang sesekali diselingi isakan kecil.


"Udah lah, lo bilang aja ama kak Baim kalo lo suka ama dia". Kara melotot mendengar saran Nala.


"Yang penting lo udah coba. Nggak akan ada penyesalan sekalipun nggak berhasil". Kara memghela nafas panjang. Haruskah kini ia jujur pada Baim tentang perasaannya?


"Tapi kalo kak Baim ngejauh gimana?". Tanya Kara lemas.


"Ya berarti lo harus buka mata lo lebar-lebar. Tampar diri lo biar sadar kalo semua nggak bisa sesuai keinginan lo".


"Enak banget ngomongnya". Gerutu Kara


"Langkah gampangnya, buka hati lo buat laki lain. Toh banyak kan yang suka ama lo? Banyak yang antri juga". Nala berucap enteng.


"Nggak segampang itu, La". Lirih Kara sambil menghembuskan nafas kasar.


"Gini nih. Makanya gue ogah cinta-cintaan. Bikin pusing tau kaga". Gerutu Nala


"Jadi gue harus gimana La???". Tanya Kara menggoyangkan tubuh Nala meminta saran.


"Udah deh ngaku aja. Lusa ulang tahun kak Baim kan?". Tanya Nala yang teringat cerita Kara siang tadi saat sedang makan.


Kara mengangguk. Masih belum paham kemana arah pembicaraan Nala.


"Yaudah, lo kasih aja suprise. Dateng ke apartemennya, kasih kejutan ama bawain kado. Terus tinggal ngaku kalo lo suka ama dia". Saran Nala membuat Kara diam dan memikirkannya. Apa memang baiknya seperti itu? Pikirnya.


"Udah daripada nangis-nangis kaga jelas. Ayo belanja. Sekalian beliin kado buat pangeran berkuda putih lo itu". Nala menarik tangan Kara agar bangkit.


"Kalo nanti ditolak gimana??". Kara masih terlihat ragu membuat Nala gemas.


"Heh santen!! Lo kalo udah mutusin jatuh cinta ya siapin mental baja buat patah hatinya! Kalo kaga siap kaga usah cinta-cintaan!".

__ADS_1


"Pusing gue. Lo yang demen kok gue yang mumet mikirinnya". Oceh Nala membuat Kara memberengut.


"Galak ih. Orang sahabat minta saran malah diomelin". Keluh Kara membuat Nala memutar bola matanya, jengah.


Setelah dibujuk oleh Nala, akhirnya Kara menuruti semua saran yang Nala berikan. Esok lusa ia akan memberikan kejutan untuk Baim dan menyatakan perasaannya pada lelaki itu.


Keduanya terus berjalan, memasuki satu per satu toko hanya sekedar melihat-lihat saja. Bukan karena tak mampu membeli, namun memang inilah keduanya. Senang berjalan-jalan dan melihat-lihat saja.


"Eh, La. Ini bagus nggak kata lo?". Kara menenteng sepasang sepatu berwarna putih dengan sebuah garis biru.


"Ehmm..bagus. Ambil itu aja". Kara mengangguk. Dibesarkan bersama-sama membuat Kara paham selera Baim.


"Mbak saya ambil ini ya.."


Setelah mendapat apa yang Kara inginkan dan membayarnya. Keduanya kini mengisi perut mereka yang sejak tadi terasa kosong.


"Pasti kak Baim suka.." Kara menatap berbinar paperbag berisi sepatu yang baru saja ia beli.


"Kaga bakalan jadi emas tu sepatu kalo elo liatin mulu". Cibir Nala yang gemas karena sejak tadi Kara terus menatap kantong belanja yang diletakkan dikursi sampingnya.


"Ish, sirik aja si lo". Balas Kara membuat Nala mendengus.


---***


Hari ini Baim tepat berusia 21tahun. Seperti ulang tahunnya yang sudah-sudah, malam dihari ulang tahunnya, ia akan makan malam bersama keluarga angkatnya.


Kara sudah cantik dengan dress berwarna peach menempel sempurna di tubuh rampingnya. Tampilannya sangat sederhana namun tidak mengurangi kecantikannya.


Ditangannya ada sebuah paperbag berisi kado untuk sang kakak, dan tangan lainnya memegang kue ulang tahun untuk Baim. Ia sudah tidak sabar melihat wajah bahagia Baim saat mendapat kado dari dirinya.


Merasa kesulitan, Kara meletakkan paperbag berisi sepatu untuk Baim. Tangan lentiknya terulur memencet tombol disamping pintu apartemen sang kakak. Bukan hanya dirinya yang mengetahui kode akses masuk ke apartemen ini. Seluruh anggota keluarganya tahu.


"Kejut----an". Kara yang baru saja masuk kedalam apartemen sang kakak mematung didepan pintu. Niat hati ingin memberi kejutan pada pria yang ia gadang akan menjadi kekasihnya, kini justru ia yang terkejut.


Kara mengerjapkan matanya beberapa kali ketika melihat beberapa orang ada didalam apartemen kakaknya.


"Kara?". Merasa namanya dipanggil, Kara menoleh dan mendapati sang kakak baru saja keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi minuman. Namun bukan itu yang membuat lutut Kara terasa lemas, kehadiran sesosok wanita yang turut berjalan dibelakang sang kakak lah penyebabnya.


"Kamu disini?", Baim yang baru saja meletakkan minuman segera menghampiri Kara. Mengambil alih kue yang masih ada ditangan sang adik serta meletakkan paperbag yang ada ditangan kiri adiknya.


"Siapa nih? Kenalin boleh lah ke kita-kita". Seorang pria yang cukup tampan terlihat menatap Kara kagum.


"Jangan macem-macem lo". Ancam Baim menatap galak temannya.

__ADS_1


"Ini ya yang namanya Lengkara? Cantik banget.." Kara tersenyum kaku mendapat pujian dari gadis yang belum ia tahu namanya. Namun ia ingat dengan jelas bahwa gadis itulah yang pernah ia lihat berjalan dan tertawa bersama Baim.


"Apa mungkin dia?". Batin Kara menatap kagum wanita yang terlihat anggun. Bukan hanya penampilannya, suara nya pun begitu lembut. Satu kata yang bisa menggambarkan gadis yang saat ini berdiri anggun didepannya 'SEMPURNA' mungkin kata itu sangat cocok dengan gadis yang berdiri disamping kakaknya itu.


"Sini duduk.." Baim menuntun Kara untuk duduk di sofa.


"Hai cantik..siapa namanya?". Pria yang sejak ia datang sudah menatapnya kagum itu terus mendesak berkenalan dengannya.


"Kara, kak". Jawab Kara ramah. Memang pembawaan Kara yang selalu ramah pada siapapun seperti sang mama membuatnya mudah berinteraksi meskipun dengan orang yang baru kenal.


"Jangan gangguin dia, Ron". Baim kembali memperingati temannya.


"Galak banget sih. Emang siapa sih ini?".


"Udah deh Aaron, dasar kadal lo. Kaga bisa liat yang bening langsung belingsatan". Cibir teman yang lain.


Kara mengedarkan pandangan, disana ada dua orang gadis dan tiga orang pria termasuk kakaknya.


"Ehm, aku pamit aja kak. Takut ganggu". Kara bangkit namun Baim menahannya.


"Nanti aja pulangnya bareng sama kakak ya. Abang juga ada kok, cuma lagi keluar cari cemilan". Teman-teman Baim melongo melihat bagaimana lembutnya Baim memperlakukan Kara. Pasalnya selama ini, Gaara dan Baim sama-sama orang dingin yang acuh pada sekitar.


"Beneran si Baim itu?". Goda lelaki yang Kara tahu bernama Aaron.


"Gapapa kak. Kakak lanjut aja, aku nggak mau ganggu".


"Disini aja Kara..kita kan belum kenalan".


"Amandha emang paling tahu deh kalo babang Aaron pengen lama-lama liat neng Kara". Aaron mengedipkan sebelah matanya pada Kara yang terlihat risih.


"Amandha? Jadi namanya Amandha?". Batin Kara menatap gadis cantik yang sedari tadi tersenyum begitu manis menatap kakaknya. Membuat hati Kara terasa panas saja.


"Si Arron emang paling pede. Siapa juga yang mau bantuin situ deketin Kara. Kasian aja sama Kara kalo langsung pulang. Mending gabung pesta ama kita".


"Kenalin, nama gue Gia". Gadis yang satu mengulurkan tangannya pada Kara.


"Kara, kak". Kara menerima uluran tangan Gia.


"Kakak ambilin minum dulu ya". Baim mengelus lembut kepala Kara dan berlalu untuk mengambilkan minum adiknya.


...___^^___...


Segini dulu kayanya ya, nggak sanggup kayanya kalo satu bab lagi..

__ADS_1


Semoga sukaaa..jangan dibully ya othor amatiran ini😂


Lopelope reader semuaaaahh🥰💐💐


__ADS_2