Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
menyenangkan


__ADS_3

"Kumaaaaannn!!!!". Nala menolehkan kepalanya, mendapati seorang gadis seusianya yang tengah melambaikan tangannya dengan begitu semangat, gadis yang tak lain adalah sahabatnya, Lengkara alias santen sachet kesayangan semua orang.


"Santeeeen!!!!". Keduanya sama-sama berlari menyongsong kedatangan orang yang mereka sayangi itu dengan penuh kebahagiaan.


Sementara beberapa orang yang ada disekitar mereka menatap keduanya dengan tatapan aneh. Apalagi mendengar panggilan kedua gadis itu yang terdengar sangat aneh.


"Kangeeen!!!". Ucap keduanya kompak saat masih berpelukan. Keduanya lantas melepaskan pelukan, saling menatap dan kemudian tertawa bersama.


"Susah kalo udah se frekuensi". Gumam seorang lelaki yang memperhatikan tingkah keduanya dari jarak yang dekat. Kadang ia berpikir jika kedua gadis itu lebih cocok jika dilahirkan kembar.


"La..." Nala menoleh, menatap seorang lelaki yang ia kenal.


"Kak Baim? Apa kabar kak?". Nala tersenyum ramah, dibalas senyuman tipis oleh Baim.


"Alhamdulillah baik. Kabar kamu gimana?". Nala menekuk muka. Sebenarnya ia bahagia bisa bertemu kembali dengan Kara, namun mengingat ancaman Nick membuatnya sedikit kesal.


"Nggak terlalu baik kak". Dahi Baim berkerut. Bukankah pindah adalah keinginan Nala sendiri, lalu kenapa saat ditanya kabarnya menjawab kurang baik.


Namun begitu, Baim tak ingin merusak mood gadis itu dengan menanyakan alasannya. Ia segera mengalihkan pembicaraan dengan meminta koper Nala.


"Sini kopernya". Baim meraih dua koper besar Nala.


"Bawa apa La ampe dua koper". Tanya Baim yang penasaran.


"Gorilla". Sahut Nala dan Kara bersamaan hingga membuat keduanya kembali terbahak. Keduanya lantas berjalan, dengan Kara merangkul erat lengan Nala. Keduanya meninggalkan Baim yang hanya bisa menghela nafas dan menggeleng pelan melihat kelakuan keduanya.


"Beneran se frekuensi sih". Gumam Baim dengan seulas senyum tipis.


"Kakak ayo..." Teriak Kara yang melihat Baim masih diam ditempatnya.


Perlahan Baim mulai melangkahkan kakinya, mengikuti dua gadis yang terlihat tak berhenti bercakap itu.


"Tunggu sini sebentar. Aku ambil mobil". Kompak Nala dan Kara mengangguk dan melanjutkan percakapan.


Tak butuh waktu lama, Baim sudah datang dengan mobilnya. Lelaki itu turun dan membuka bagasi untuk memasukkan koper Nala yang katanya berisi gorilla itu.

__ADS_1


"Makasih kak". Ucap Nala sungkan.


"Nggak masalah". Sahut Baim tenang.


"Aku duduk belakang aja sama kuman ya kak". Itu bukan meminta izin, lebih tepatnya sebuah pemberitahuan. Karena sebelum Baim menjawab, si santen sudah lebih dulu masuk kedalam mobil bersama Nala dan duduk dibangku belakang.


Yang bisa Baim lakukan hanya pasrah saja. Ia merasa senang melihat kekasih hatinya bahagia dengan kedatangan Nala.


"Kok tiba-tiba pindah lagi, La?". Tanya Kara yang sesungguhnya begitu penasaran dengan alasan kepindahan Nala yang terkesan tiba-tiba.


"Abang tau nggak kalo kamu pindah??". Tanya Kara lagi. Padahal pertanyaan pertamanya saja belum dijawab.


"Eh tapi kayanya nggak tau ya. Kalo tau pasti tu orang udah nangkring di bandara dari tadi subuh". Cerosos Kara yang membuat Nala dan Baim menghela nafas panjang sambil menggeleng heran.


"Udah deh, kamu ngobrol aja itu ama pintu mobil. Nanya sendiri jawab sendiri". Ketus Nala membuat Kara nyengir.


"Ihh..galak banget sih. Kamu kelamaan jauh dari aku, makanya sekarang galak ya?". Nala mencebikkan bibirnya.


"Justru kalo deket kamu aku tuh mendadak galak. Kamu bikin darting mulu". Bukan merasa bersalah, si santen sachet malah tertawa keras melihat wajah kesal Nala.


"Mau kemana dulu?". Tanya si supir dadakan.


"Makan!". Sahut kedua penumpang cantik itu kompak membuat bibir Baim melengkungkan sebuah senyum.


"Oke. Mau makan apa?". Baim bertanya lagi, ia ingin lihat, apakah kini jawaban kedua juga akan sama. Jika iya, fix keduanya memang sudah sangat satu frekuensi.


"Bakso!!!". Seru keduanya bersamaan yang membuat Baim melongo sesaat, namun langsung tersadar saat kedua gadis itu kembali tergelak. Baim hanya bisa tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Bakso mang Raji.." Usul Kara cepat


"Sama es campurnya.." Timpal Nala dengan wajah berbinar membayangkan bakso langganannya dan Kara.


"Kasih saos, sambel yang banyak terus dikasih cuka..." Ucap keduanya kompak dengan wajah yang sudah membayangkan bagaimana nikmatnya bakso langganan mereka. Harusnya mereka lahir manjadi anak kembar. Bagaimana bisa semuanya bisa sama, bahkan sampai selera makan saja sama persis.


"Oke tuan putri..hamba akan mengantar". Kelakar Baim yang disambut tawa kedua gadis itu.

__ADS_1


"Oke fix..kayanya emang kutub utara udah pada mencair". Batin Nala yang sejak tadi merasa Baim lebih banyak bicara dari biasanya. Persis seseorang yang kini tiba-tiba terbayang olehnya.


Sementara disebuah ruangan, tampak seorang pria yang uring-uringan tak jelas hingga membuat asisten dan sekretarisnya pusing tujuh turunan. Eh, tujuh keliling.


"Bagaimana? Pak Marco kapan bisa diajak meeting?". Nick menghela nafas panjang.


Ya, lelaki yang sejak tadi uring-uringan itu adalah Gaara. Membuat Nick ingin sekali melemparkan bosnya itu keluar jendela ruangannya yang berada di lantai 5.


"Kan baru minggu kemarin meeting bos. Memang mau membahas apa lagi? Kan semua sudah disepakati". Gaara menatap tajam Nick


"Ada sesuatu yang harus diperbaiki". Kilah Gaara membuat Nick melirik sinis bos nya.


"Udah gue pindah kesini juga masih aja mau disusul kesana. Mau nyusulin siapa lagi sih bos????". Jerit batin Nick yang tahu jika Marco hanyalah alasan Gaara untuk ke kota dimana Nala berada.


"Kamu dengar saya enggak sih?". Sentak Gaara tak sabar.


"Sabar Nick..sabar. Inget..lo masih butuh gaji dari ni orang". Batin Nick mencoba kuat menghadapi bos nya itu.


"Satu minggu ke depan, pak Marco sedang berada diluar negeri bos. Kita tidak bisa meeting dalam waktu dekat". Jelas Nick junur, karena memang benar jika orang yang ingin ditemui Gaara itu tengah bepergian.


Gaara kembali mencak-mencak karena sudah tak memiliki alasan untuk menyusul Nala ke kotanya. Apa yang dipikirkan asistennya itu memang 100% benar. Marco hanya alasannya untuk bisa menyusul Nala.


"Kaga bakal gue kasih tau kalo pawangnya udah gue pindah kesini. Biarin deh tuh sakit kepala berhari-hari". Nick ingin berteriak keras dan tertawa puas. Namun sebisa mungkin ia tahan.


"Biarin deh dosa dikit ngerjain bos nya. Ya kali gue mulu yang dia kerjain suruh pontang-panting ngurus percintaan ni orang". Nick mengulum senyum melihat bibir Gaara tak henti mengomel. Sangat menyenangkan bagi Nick.


"Ya sudah kamu keluar. Ngapain masih disini kalo nggak bisa secepatnya meeting sama pak Marco" Usir Gaara yang membuat Nick menunduk dan segera undur diri.


Diluar ruangan Gaara, Nick melebarkan senyumnya. Benar-benar sangat menyenangkan melihat bos nya pusing karena tak bisa menemui gadis idamannya padahal gadis itu sudah ia pindahkan paksa kembali ke kota yang sama dengan bos nya.


...¥¥¥•••¥¥¥...


Holla hollaaaaa readers tersayangkuh🥰🥰


Nih sini kumpul siapa yang sependapat ama tu asisten koplak? Bener-bener si Nick bikin othor seneng aja😂😂

__ADS_1


Kira-kira gimana ya si kang gara-gara pas ketemu Nala nanti? Kira-kiranya juga si Nick dapet bonus apa dapet hukuman nih ngerjain si abang??🤔🤔🤔


__ADS_2