Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
Sedikit serangan


__ADS_3

Papi Andre terlihat mengetatkan rahangnya. Tangannya terkepal kuat hingga otot-otot tangannya menyembul.


Sedangkan mami Nita, wanita itu sudah berpindah duduk disamping Nala dan memeluk putrinya dengan air mata membasahi pipinya.


Baik papi Andre maupun mami Nita tak menyangka sedikitpun Haikal akan memiliki perasaan terlarang itu pada putri mereka. Ditambah permasalahan yang timbul akibat lelaki itu. Tak terbayangkan oleh kedua orang tua Nala bagaimana tertekannya Nala saat semua orang menyudutkan dan menyalahkannya atas apa yang tidak pernah ia perbuat.


"Kenapa kamu nggak pernah cerita sayang". Mami Nita menangis masih sambil memeluk Nala.


"Aku baik-baik aja mi..semua udah terlewati". Nala tampak lebih tegar daripada sang ibu. Ia mengelus punggung sang mami. Kini ia sudah lebih kuat, tak lagi cengeng seperti dulu. Ditambah lagi ada Gaara disampingnya.


"Maafin aku pi. Aku nggak bilang ke papi..aku nggak mau mami sama papi khawatir". Papi Andre masih terlihat emosi.


"Apa yang sudah dia dapatkan setelah kejadian itu?". Tanya papi Andre menatap Gaara.


"Dia lebih cerdik, pi. Dia lebih dulu mengundurkan diri sebelum aku berhasil membuatnya didepak dari kampus". Tatapan Gaara berubah dingin. Ia menatap lurus ke depan hingga matanya dan papi Andre bertemu.


"Abang.." Lirih Nala menatap tak percaya pada Gaara. Ia tak tahu jika Gaara melakukan banyak hal hanya untuk membalas Haikal.


"Mami nggak terima pi. Papi harus bikin laki-laki itu menyesal membuat anak kita dalam kesulitan". Mami Nita melepaskan pelukannya pada Nala dan menatap suaminya.


"Udah mi, pi. Yang penting aku udah nggak ada dikampus tempat dia ngajar". Nala coba menenangkan kedua orang tuanya. Bukan tak ingin Haikal diberi pelajaran. Tapi Nala sudah enggan berurusan dengan lelaki itu.


"Yang penting dia nggak ganggu aku". Imbuhnya lagi mengelus punggung tangan sang ibu yang kini tengah menatapnya.


"Kenapa?? Kamu kasian kalo papi bikin perhitungan sama dia?". Tanya Papi Andre menatap Nala.


"Ck, bukan gitu. Aku udah males berurusan sama dia pi". Nala berdecak kesal, benar-benar malas membahas perihal Haikal.


"Nia? Bagaimana dengan Nia?". Tanya mami Nita yang mengingat istri Haikal.


Nala menggeleng tak tahu. Namun jawaban Gaara membuatnya melebarkan mata karena sangat terkejut.


"Nia sudah mengajukan permohonan cerai, pi". Ucapan Gaara membuat Nala menatapnya. Bagaimana laki-laki itu bisa tahu semua yang bahkan ia tak ketahui.


"Laki-laki itu tidak datang pada sidang pertamanya. Nia juga tidak menginginkan mediasi. Kemungkinan sidang keduanya sudah ada keputusan hakim", Jelas Gaara panjang lebar membuat papi Andre mengangguk.


"Bagus. Memang sebaiknya laki-laki seperti itu ditinggalkan". Mami Nita terlihat sangat emosi.

__ADS_1


"Abang..." Gaara menoleh, ia tahu yang ditakutkan Nala.


"Kamu harus siap, La. Dia pasti semakin gencar mengejarmu". Mami Nita menatap cepat pada Gaara.


"Kenapa begitu?". Rupanya mami Nita belum menyadari imbas apa yang akan Nala terima dengan adanya perceraian Nia dan Haikal.


Papi terlihat menghela nafas panjang. Istri cerdasnya itu selalu lama berpikir jika sedang diliputi amarah.


"Itu artinya dia tidak terikat dengan wanita manapun dan status apapun, mi. Sudah bisa dipastikan dia akan semakin gencar mendekati dan mengganggu anakmu". Mami Nita terbelalak. Mengapa dirinya tak terpikirkan hal itu.


"Lalu bagaimana ini??". Bukan hanya mami Nita yang panik, dalam diamnya pun Nala juga sama paniknya seperti sang ibu.


"Aku akan menikahi Nala, pi". Semua mata menatap Gaara yang terlihat yakin dengan ucapannya.


"Menikah?". Seru Nala dan kedua orang tuanya.


"Hanya itu cara terbaik untuk membuat laki-laki itu menjauh dengan sendirinya, pi". Papi Andre terdiam. Berpikir adakah cara lain selain menikahkan Nala.


Bukan karena tak ingin, tapi ia tak ingin terburu-buru. Takut nantinya keduanya akan kembali saling menyakiti.


"Kamu yakin Ga?". Kini mami ikut angkat suara.


"Aku mencintai Nala, pi, mi. Aku tidak mau ada siapapun yang merebut Nala dariku. Ataupun sekedar mengganggu dan membuat dia tidak nyaman". Dari suaranya, papi dan mami tahu jika Gaara tidak sedang main-main.


"Jadi Gaara mohon..ijinkan Gaara menikahi Nala secepatnya". Mata Nala melebar


"Assalamualaikum.." Semua orang yang fokus pada Gaara dan menunggu jawaban papi teralihkan dengan suara didepan pintu rumah.


"Wa'alaikumsalam". Sahut mereka kompak.


Baik Nala maupun Gaara juga kedua orang tua Nala terlihat saling menatap. Mereka saat ini tengah duduk diruang keluarga yang tak jauh dari ruang tamu hingga suara salam tadi terdengar.


"Pak..ada tamu". Seorang perempuan yang mungkin berusia 40an tahun itu datang, membungkuk dan memberitahu tuannya jika ada tamu.


"Siapa mbak?". Tanya mami


"Itu yang tadi pagi kesini kalau nggak salah bu.." Jawab si embak sambil berusaha mengingat wajah tamu dari tuannya.

__ADS_1


"Yang tadi pagi?". Gumam Nala dan mami bersamaan. Sesaat kemudian mata kedua perempuan itu terbuka lebar saat menyadari siapa tamu yang dimaksud asisten rumah tangganya.


"Haikal". Gumam Gaara dengan senyum miring. Rupanya lelaki tak tahu malu itu benar-benar berniat mendapatkan Nala setelah lepas daei istrinya.


"ba ji ngan!". Umpat Gaara mengepalkan tangannya erat.


"Abang..." Gaara menatap Nala yang saat ini wajahnya terlihat gelisah. Tangannya pun memegangi lengan Gaara dengan kuat.


"Nggak usah khawatir sayang..abang disini". Gaara mengelus tangan Nala yang terasa dingin menempel dilengannya.


"Biar mami kasih pelajaran si kunyuk itu". Mami Nita yang emosi sudah bangkit dari duduknya. Namun papi Andre mencegahnya.


"Jangan gegabah mi. Biar papi yang temui". Papi memberikan senyumannya untuk menenangkan pujaan hatinya.


"Tapi mami mau bikin perhitungan sama itu orang pi. Berani-beraninya bikin anak mami susah". Si ibu negara sudah merepet kemana-mana omelannya.


"Kita beri dia shock theraphy dulu mi..papi keluar dulu". Meski bingung, mami Nita mengangguk.


"Ikuti permainan papi ya. Mami keluar kalo udah papi panggil". Mami Nita kembali mengangguk.


"Dan kalian berdua. Juga bersiap..kita beri sedikit serangan untuk laki-laki itu". Seolah sudah memahami jalan pikiran calon mertuanya itu.


"Ambilkan pakaian rumahan untuk Gaara, dek". Nala menelengkan kepalanya menatap papi.


"Papi tahu kamu menyimpan beberapa pakaian rumahan milik Gaara". Nala melotot tak percaya sedangkan sang Papi tersenyum jahil. Darimana papinya tahu jika ia menyimpan beberapa pakaian rumahan milik Gaara.


"Ikut Nala dan ganti baju kamu..jangan keluar kamar Nala sampai kami panggil". Gaara mengangguk dan segera berdiri. Sepertinya papinya adalah juru strategi handal.


"Ayo.." Gaara mengulurkan tangannya pada Nala yang masih diam ditempatnya. Nala menatap kedua orang tuanya dan berdiri setelah melihat papi dan maminya mengangguk.


"Kenapa papi harus bilang sih kalo ada beberapa baju abang yang aku simpen. Kan aku malu". Batin Nala berteriak.


...¥¥¥••••¥¥¥...


Eeeaaaaa...kasih serangan tipis-tipis dulu yang penting bisa bikin si Haikal kaki ditempatnya ya😂😂


double up nih, like komennya juga double ya manteman🥰😁☺️

__ADS_1


happy reading dan semoga syukaaaa🤗🤗


Saranghae sekebon apalagi ya??? Saranghae banyak-banyak deh pokoknya buat readersku🥰🥰💋😘😘💐💐💐


__ADS_2