Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
mama dan papa baru


__ADS_3

Selesai makan, Diandra membawa Baim dan sang nenek untuk kembali ke ruang tamu. Dengan sigap mama Ana membawa bu Ratih duduk disampingnya. Ia sudah melihat gelagat jika bu Ratih akan kembali duduk dilantai seperti saat pertama datang tadi.


"Baim umur berapa?". Tanya Diandra yang duduk disamping Baim.


" 5tahun, nyonya.." Sahut Baim lirih.


"Waah, seumuran Gaara ya". Bocah kecil itu mengangguk sopan.


" Baim bisa baca?". Tanya Diandra lagi menatap wajah tampan anak seusia Gaara itu.


"B-bisa nyonya.." Balasnya lagi sambil menunduk.


Diandra mengangkat wajah anak itu, menatap lembut netra hitam yang terlihat jelas penuh kesedihan itu.


"Baim sekolah ya.." Baim yang sudah kembali menunduk langsung mengangkat wajahnya mendengar ucapan Diandra, namun sesaat kemudian menunduk lagi.


"Kenapa sayang?." Tanya Diandra lembut mengelus pucuk kepala anak itu.


"Kami hanya orang rendah nyonya..mana mampu saya menyekolahkan cucu saya. Walaupun saya ingin". Lirih bu Ratih yang juga menundukkan kepalanya.


" Bu Ratih, kalau saya minta tolong boleh?". Tanya Diandra yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Bu Ratih tanpa keraguan sedikitpun.


"Tolong biarkan Baim sekolah ya..boleh?". Bu Ratih menunduk sedih. Ia ingin cucunya mengenyam bangku pendidikan, namun ketidakberdayaannya membuat ia tidak mampu menyekolahkan cucunya itu.


" Boleh bu?". Tanya Diandra lagi.


"Bukan saya tidak mau nyonya. Tapi saya hanya buruh cuci". Cicit bu Ratih mengusap ujung matanya yang tergenang air.


" Baim mau sekolah sayang?". Kepala kecil itu mengangguk.


"Besok Baim sekolah ya..bareng Gaara". Baim mendongak, menatap wajah Diandra yang tersenyum menatapnya.


" Nyonya.." Lirih Baim dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan panggil nyonya sayang.."


"Mama..panggil mama ya nak". Baim menangis, pun dengan bu Ratih.


" Baim sekarang anak mama Diandra ya..mau kan??". Tanya Diandra. Ia sudah mendiskusikan ini dengan suami, kedua orang tua serta mertuanya. Dan semua setuju membantu Baim bersekolah hingga nantinya anak itu mampu berdiri dengan kakinya sendiri.


"Nyonya.." Lirih bu Ratih


"Ibu dan Baim tinggal disini ya. Buat temen saya kalau dirumah". Mama Dita menggenggam tangan bu Ratih.


" Ini terlalu berlebihan untuk kami nyonya.." Bu Ratih sudah menangis sesenggukan.


"Ini semua rezeki untuk anak sholeh seperti Baim, bu". Diandra memeluk Baim dan Gaara bersamaan.


" Jangan panggil saya nyonya, bu. Panggil Diandra saja ya.." Bu Ratih menggeleng.


"Tolong biarkan saya mengabdi pada keluarga anda nyonya. Sebagai tanda balas jasa saya atas kebaikan anda dan keluarga". Pinta bu Ratih membuat Diandra yang kini menggeleng.


" Saya akan bahagia kalau bu Ratih mau memanggil saya dengan nama saja". Keukeuh Diandra.

__ADS_1


"Saya merasa tidak tahu diri jika seperti itu nyonya". Bu Ratih tak kalah kukuh dengan pendiriannya.


" Setidaknya jangan nyonya..saya mohon". Pinta Diandra dengan wajah memelas.


Bu Ratih nampak berpikir tentang panggilan apa yang pas untuk Diandra. Ia merasa sangat tidak sopan jika memanggil nama saja.


"Kalau...neng, boleh??". Tanya bu Ratih hati-hati. Ia takut menyinggung. Sementara Diandra tersenyum puas dan langsung mengiyakan.


" Itu jauh lebih baik, bu.."


"Baim sekolah sama Gaala kan mama??". Tanya Gaara antusias dan Diandra mengangguk.


" Benelan mama??". Tanya nya lagi memastikan.


"Memang mama pernah bohong??". Gaara bersorak kegirangan dan memeluk erat sang mama, kemudian beralih memeluk Baim.


" Holleeee..Baim sekolah sama Gaala ". Seru Gaara senang.


" Terimakasih nyonya.." Ucap Baim tulus.


"Mama. Kalau Baim mau bilang makasih, harus panggil mama". Diandra memeluk Baim dan Gaara ikut memeluk nya.


" Ma-mama Dian?". Cicit Baim membuat wajah Diandra berseri.


"Ah senengnya..mama punya dua jagoan sekarang". Diandra terlihat sangat bahagia.


Sementara itu, Gaara langsung berbicara banyak. Menceritakan jika saat ini sang mama tengah hamil adiknya yang kembar. Mengajak Baim untuk membantu dirinya menjaga adik kembarnya yang ada didalam perut sang mama.


" Belalti sekalang adik bayi punya dua abang yang jagain, ya kan mama?". Diandra kembali menganggukkan kepalanya melihat antusiasme putranya mendapat apa yang diinginkannya.


Awalnya bu Ratih menolak keras. Namun paksaan dari Diandra dan kedua mamanya, akhirnya bu Ratih pasrah. Ia pulang diantar supir untuk mengambil berkas-berkas penting seperti akta kelahiran Baim dan kartu keluarga miliknya.


###


Diandra menyambut sang suami yang baru pulang bekerja. Ia mengambil tangan Abi dan mencium punggung tangan nya dengan takzim.


Namun Abi mencegah saat sang istri hendak mengambil alih tas kerja nya. Abi juga merangkul istrinya dan memberi kecupan hangat dikening sang istri.


"Apa hari ini mereka menyusahkan mamanya?". Tanya Abi yang sudah berjongkok didepan Diandra dan mengelus perut buncit istrinya.


" Sama sekali nggak mas..mereka anak pintar". Diandra mengelus rambut suaminya.


"Dimana jagoan kita? Kenapa tidak menungguku bersama denganmu sayang?". Abi celingukan mencari putra sulungnya.


" Jangan terlalu berharap untuk beberapa hari kedepan mas..dia sedang sangat senang karena memiliki teman baru". Diandra merangkul lengan kekar sang suami dan mengajaknya masuk.


"Teman baru? Dia sudah disini sayang?". Tanya Abi dengan kening berkerut.


" Hmm..mereka sedang bermain". Diandra menunjuk Gaara yang sedang bersama bocah kecil seusianya.


Awalnya Abi kurang setuju dengan keputusan Diandra membawa anak itu tinggal dirumah mereka. Lebih tepatnya rumah kedua orang tua Diandra. Namun keyakinan Diandra dan juga rengekan Gaara membuat Abi akhirnya luluh dan membiarkan apa yang dilakukan istrinya.


"Jangan galak-galak ya. Awas aja.." Ancam Diandra ketika ia membawa Abi mendekati Baim yang sedang asyik bermain dengan Gaara, atau lebih tepatnya menemani Gaara bermain karena sejak tadi anak itu hanya diam saja melihat Gaara bermain meski Gaara sudah memaksanya bermain. Katanya takut merusak mainan Gaara.

__ADS_1


"Galak banget sih.." Abi mencubit pipi Diandra yang terlihat lebih berisi sejak hamil anak kembarnya.


"Papa...!!". Seru Gaara menghampiri Abi, namun bukan untuk memeluknya melainkan memarahi sang papa karena memegang sang mama.


Galaknya tak berubah meski sudah mau memiliki adik. Baginya sang mama hanya miliknya dan calon adiknya.


" Jangan cubit mama abang. Ndak boleh!". Amuk Gaara membuat Diandra tersenyum sementara Abi mendengus sebal.


"Kan udah perjanjian sama papa. Mama nya punya berdua.." Abi berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan sang putra.


"Ndak boleh. Mama punya abang sama adek kembal". Abi yang gemas pada putranya langsung memeluknya dan menggelitiki perut Gaara hingga bocah itu tertawa terbahak.


" Sini Baim..deket mama". Diandra melambaikan tangannya pada Baim yang dengan patuh langsung duduk sebelah Diandra. Keduanya memperhatikan Gaara yang masih bergelut dengan papanya itu.


"Baim tolongin Gaala.." Teriak Gaara meminta pertolongan saudara barunya.


Abi melepaskan putranya dan duduk disamping Diandra namun segera digeser oleh Gaara.


"Astaga sayang..kenapa anak kamu sensi banget sih sama aku". Gerutu Abi membuat Diandra terkekeh.


" Itu temen abang gapapa deket mama..Kenapa papa nggak boleh?". Abi seperti anak kecil yang protes tak mendapat jatah mainan yang sama.


"Dia temen abang..temen buat jagain mama sama adek. Iya kan Baim?". Baim mengangguk lalu menunduk, tidak berani menatap Abi karena takut.


" Temennya Gaara ya?". Tanya Abi setelah Diandra mencubit lengannya.


"I-iya tuan". Cicit Baim membuat Abi terhenyak karena Baim memanggilnya tuan. Rasanya hatinya sakit mendengar anak seusia putranya memanggilnya dengan sebutan Tuan.


" Sudah lama?". Tanya Abi lebih lembut membuat Diandra tersenyum senang. Baim kembali mengangguk.


Abi bergeser dan duduk disamping Baim, ia mengelus kepala anak itu.


"Papa jangan takutin temen abang.." Abi benar-benar tak mengerti dengan putra sulungnya. Kenapa seolah menganggap dirinya musuh besar.


"Astaga bang..papa nggak ngapa-ngapain juga masih diomelin". Gerutu Abi


" Namanya siapa?". Tanya Abi lagi pada Baim setelah berdebat dengan Gaara.


"Baim tuan.." Abi melihat jelas jika anak ini sangat sopan dan mungkin takut padanya.


"Kenalin..papa nya Gaara". Abi mengulurkan tangannya dan disambut Baim yang langsung mencium punggung tangan Abi.


" Maaf merepotkan tuan.." Cicit Baim.


"Papa..sekarang papa Gaara juga papanya Baim. Jadi panggil papa..ya?". Baim mendongak, menatap tak percaya dengan orang yang duduk disampingnya ini.


" Tu-tuan?".


"Papa..sekarang Baim punya papa baru. Oke?". Abi tersenyum hangat membuat Baim menangis.


Abi membawa anak itu kedalam pelukannya. Mengelus lembut pucuk kepala bocah itu penuh kasih sayang.


Sementara bu Ratih yang melihatnya dari pintu dapur sudah tak mampu menahan air matanya lagi. Wanita tua itu menangis sesenggukan karena merasa sangat beruntung bertemu dengan keluarga baik seperti Diandra.

__ADS_1


Akhirnya cucunya bisa merasakan kasih sayang orang tua yang lengkap setelah kedua orang tuanya tiada didunia ini.


__ADS_2