
"Ma!!! Ma!!!". Abi seperti orang kesetanan ketika memasuki ruang tamu rumah keluarga Diandra. Ia terus berteriak memanggil semua orang.
" Abi.." Suara parau mama Dita membuat Abi menoleh.
Disana, diruang tamu itu sudah berkumpul semua orang. Kedua orang tuanya dan kedua orang tua Diandra serta kakaknya, Deanita.
Para wanita sedang menangis. Sedang papa Herman, Abi melihatnya tengah sibuk menjawab telepon dari orang yang diduga menculik Diandra.
"Gimana Diandra? Udah ada kabar?". Tanya Abi dengan nafas terengah pada sang ayah yang tengah mencoba menenangkan mama Ana.
Papa Ihsan hanya menggeleng tanpa berkata apapun.
" Kenapa bisa diculik? Gimana ceritanya?? ". Tanya Abi lagi dengan tidak sabar.
" Papa nggak tahu pasti, Bi. Papa sama om Herman lagi meeting pas dapet kabar dari tante Dita kalo Diandra belum pulang padahal udah jam pulang". Papa Ihsan menghela nafas sebelum kembali bercerita.
"Papa suruh supir buat ke sekolah Diandra, tapi sekolah udah sepi. Bahkan kata satpam semua murid udah dipulangin dari jam 11 karena para guru ada acara". Abi mendengarkan dengan seksama. Ia berharap menemukan sedikit petunjuk dari cerita sang papa.
" Terus??". Tanya Abi tak sabar.
" Mama udah coba hubungin temen Diandra?? Mungkin dia disana ma". Abi menatap mama Dita yang sedang dipeluk Dea.
"Sudah semua..kita udah hubungin temen deket Diandra. Tapi adek nggak ada disana". Jelas Deanita disela tangisannya.
" Mungkin Diandra lagi main ma, pa. Dia nggak mungkin diculik kan". Abi mencoba berspekulasi meski sebenarnya dirinya yakin bukan sikap Diandra pergi tanpa berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Om Herman dapat pesan yang berisi foto Diandra sedang diikat dengan mulut terlakban". Penjelasan papa Ihsan berhasil memantik amarah Abi.
" Gimana Man??". Tanya papa Ihsan saat melihat papa Herman mendekat.
Disana juga sudah ada beberapa polisi yang memang dihubungi oleh papa Herman sejak tadi. Pihak kepolisian juga sedang bekerja dan berusaha menemukan kemana Diandra dibawa.
__ADS_1
"Mereka hanya minta kita mundur dari proyek di Bali. Dan aku akan mundur jika itu bisa menyelamatkan Diandra". Jelas papa Herman tegas.
" Ya..proyek itu tidak sebanding dengan keselamatan putri kita! Ba*ingan mana yang berani menculik anak gadisku!". Geram papa Ihsan.
"Berani-beraninya mereka menculik Diandra hanya demi sebuah proyek remeh seperti ini". Imbuhnya lagi.
" Aku sudah mengatakan jika aku akan mundur. Tapi mereka mematikan teleponnya. Bahkan kini tidak bisa dihubungi". Jelas papa Herman frustasi.
"Lalu Diandra bagaimana pa???". Teriak mama Dita panik.
Sejak tadi ia sudah pingsan berkali-kali membayangkan bagaimana takutnya Diandra.
" Ini udah mau malam pa. Adek nggak suka kalo gelap masih diluar". Mama Dita semakin terlihat panik, air matanya semakin deras mengalir.
"Ma..Abi yakin Diandra akan cepat ditemukan. Diandra kita kuat ma.." Abi berjongkok didepan mama Dita dan menggenggam tangannya. Walau hatinya juga kalut, namun ia berusaha menenangkan ibu dari gadis yang ia cintai.
"Temukan adek, Abi. Mama takut adek kenapa-kenapa". Mama Dita semakin menangis membayangkan hal buruk menimpa putrinya.
" Aku akan minta bantuan teman-temanku pa. Papa terus kabari aku kalo ada perkembangan apapun tentang Diandra. aku akan kesekolahnya Diandra dulu, siapa tahu ada petunjuk". Pamit Abi yang diangguki oleh papa Herman.
"Hati-hati, Bi. Kabari papa kalau kamu menemukan petunjuk apapun itu tentang adek". Abi mengangguk dan segera berlalu. Ia pulang terlebih dahulu untuk mengambil motornya.
Yang pertama Abi lakukan adalah menghubungi Alvin. Sahabat yang saat ini berstatus sebagai asistennya. Ia meminta Alvin menghubungi teman-teman dari club motornya dan memberikan foto Diandra. Meminta bantuan teman-temannya untuk menemukan Diandra atau mungkin jika ada yang melihatnya.
Setelahnya Abi memacu motornya menuju sekolah Diandra setelah mengenakan helm dan jaketnya. Ia berharap ada orang yang melihat kekasihnya itu sebelum menghilang.
Namun sayang, satpam yang berjaga pun tak melihat Diandra. Ia melihat Diandra terakhir berjalan keluar gerbang sekolah bersama beberapa temannya. Setelah itu ia sudah tidak mengetahui apapun lagi.
Abi mulai frustasi, karena setiap teman dekat Diandra yang ia kenal tak ada satupun yang tahu keberadaan Diandra.
Saat sedang membuka pesan diponselnya, mata Abi terfokus pada sebuah pesan. Diandra? Diandra mengiriminya pesan siang tadi? Kenapa ia tidak tahu? Bahkan pesan suaranya berdurasi cukup lama.
__ADS_1
Abi segera membuka pesan suara yang dikirimkan Diandra untuknya, karena tidak biasanya kekasihnya itu mengirim pesan suara.
"Aku mau dibawa kemana om.." Mata Abi membelalak saat mendengar suara Diandra didalam pesan suaranya.
"Lu diem aja!! Jangan banyak tanya".
" Mobil sedan hitam, plat nomor x 123 xx". Abi menghentikan sejenak pesan suaranya. Diandra nya memberi petunjuk penting agar dirinya bisa dengan mudah menemukannya.
"Ngoceh apaan lu!". Bentak si penculik
"Tutup mata ni bocah, jangan ampe liat jalan!" Imbuhnya lagi.
"Jangan..aku nggak mau!!" Teriakan Diandra membuat Abi meringis. Pasti kekasihnya itu sangat takut saat ini.
"Tutup sekalian mulutnya!". Tangan Abi terkepal kuat mendengar percakapan Diandra dan orang yang menculiknya itu.
" *Bawa ke pinggiran kota sesuai perintah si bos".
"Siap kang*!".
Setelah itu Abi sudah tidak mendengar apapun kecuali suara eraman Diandra yang mulutnya sudah tersumpal. Abi segera mengetikkan nomor plat mobil yang disebutkan oleh Diandra. Ia mengirimkannya pada Alvin dan teman-temannya dan kemudian menghubungi papa Herman dan papa Ihsan.
Memiliki banyak teman sangat membantu Abi dalam melacak keberadaan mobil dengan plat nomor yang sudah Diandra sebutkan dalam pesan suaranya.
Dibantu anggota kepolisian membuat keberadaan Diandra semakin cepat diketahui. Saat ini mobil penculik itu tengah berada dipinggiran kota. Tepatnya di sebuah gedung terbengkalai bekas bangunan gudang penyimpanan.
######
**Masih flashback ya readers..
tapi flashbacknya dilanjut besok, takut kesiangan bangun buat sahur..hihihi
__ADS_1
Tunggu kelanjutannya ya..maaf cuma bisa up dikit, semoga sukaaaa**..