
Diandra termenung menatap gelapnya langit malam ini, segelap hatinya saat ini. Hingga saat sang suami masuk kedalam kamar, Diandra tak menyadarinya.
"Sayang.." Abi menyentuh lembut pundak istrinya yang terlihat sedikit terkejut dengan kehadirannya.
"Disini dingin, kita masuk ya.." Ajak Abi namun Diandra menggeleng.
"Aku masih mau disini dulu mas". Tolak Diandra dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Apa terjadi sesuatu sayang?". Abi ikut duduk disamping istrinya, berdua menikmati semilir angin malam dan menatap langit yang malam ini terlihat mendung dari balkon kamar mereka.
Diandra menatap suaminya sesaat lalu menghembuskan nafas kasar. Ia bingung harus memulai dari mana. Saat ini dirinya tengah diliputi ketakutan akan semua hal yang dikatakan Monika.
"Katakan sayang. Jangan dipendam sendiri..kasian anak-anak". Diandra terhenyak, terlalu kalut membuatnya melupakan anak yang butuh perhatian dan kasih sayangnya.
"Apa mereka sudah tidur mas?". Tanya Diandra duduk menyamping menghadap Abi.
"Sudah. Gaara dan Baim membacakan dongeng untuk Raffa dan Kara". Sahut Abi mengelus lembut pipi Diandra yang terasa dingin karena terpaan angin malam.
"Kita masuk ya, nggak baik sayang lama-lama kena angin malam". Diandra mengangguk patuh dan menerima uluran tangan dari suaminya.
"Mas.." Keduanya sudah ada diatas ranjang, Diandra tengah bersandar pada da da bidang suaminya yang bersandar pada kepala ranjang.
"Katakan ada apa Di. Aku yakin ada sesuatu yang sejak tadi kamu tutupi". Abi membelai lembut rambut Diandra.
"Gaara benar-benar anakmu kan? Anak kamu sama kak Dea. Kamu yakin kan mas?". Abi mengernyitkan dahinya. Bingung dengan pertanyaan Diandra yang sangat aneh.
"Kamu ngomong apa sih sayang?".
"Jawab aku mas. Dia anak kalian kan? Dia benar-benar darah dagingmu kan? Aku mohon jawab iya mas.." Pinta Diandra dengan suara yang mulai bergetar.
Saat ini ia sungguh berharap Abi lah lelaki yang menghamili kakaknya. Ia sudah terlalu mencintai putranya, Gaara. Ia tidak yakin akan sanggup melanjutkan hidupnya dengan normal jika apa yang dikatakan Monika benar-benar terjadi dalam kehidupannya yang sudah sempurna ini.
"Kamu kenapa sih?? Pertanyaan kamu tuh aneh Di". Abi menegakkan tubuhnya, memegang kedua bahu Diandra hingga kini keduanya saling berhadapan.
"Jawab aku sayang..ada apa sebenarnya?". Abi semakin curiga jika telah terjadi sesuatu antara Diandra dan Monika.
"Aku ingin melihat Gaara dulu mas.." Abi menahan tangan istrinya. Ia tidak akan membiarkan Diandra keluar dari kamar sebelum menjelaskan semuanya.
"Katakan ada apa, atau kamu nggak akan pernah keluar dari kamar ini, Di". Tegas Abi dengan wajah serius.
Diandra kembali duduk, namun kini ia tak berani menatap wajah Abi. Ia duduk membelakangi suaminya.
__ADS_1
Setelah mengumpulkan keyakinan dan memantapkan diri, Diandra memulai ceritanya. Tentang semua hal yang diucapkan Monika beberapa jam lalu diacara reuni yang ia dan suami serta anak-anaknya hadiri.
"Jadi sekarang aku mohon mas. Katakan padaku kalau kamu dan kakak memang melakukannya. Gaara adalah putra kalian kan? Aku mohon jawab iya mas.." Mohon Diandra membuat Abi menariknya masuk kedalam pelukannya.
"Tenang sayang..jangan seperti ini". Abi terus mengelus punggung bergetar istrinya.
"Aku nggak akan bisa tenang mas. Aku nggak mau kehilangan Gaara". Diandra semakin terisak membuat Abi sedih.
"Tidak akan ada yang bisa mengambil Gaara dari kamu sayang. Dia anak kita, dan selamanya akan seperti itu". Diandra mengeratkan pelukannya, ia benar-benar takut akan apa yang dikatakan Monika.
Diandra terbangun dari tidurnya, entah sejak kapan dirinya terlelap namun yang terakhir ia ingat adalah ia tengah menangis didalam pelukan suaminya.
Diandra mendongakkan kepalanya, menatap Abi yang tidur dengan damai sambil memeluknya. Matanya melirik ke dinding kamarnya. Masih pukul 2 dini hari.
Perlahan Diandra menyingkirkan tangan Abi yang memeluk perutnya. Dengan sangat hati-hati Diandra turun dari ranjang, membuka pintu dengan sangat perlahan agar tidak mengganggu tidur suaminya yang terlihat kelelahan.
Kaki jenjang wanita itu membawanya ke kamar putra sulungnya. Diandra melakukan hal sama, membuka pintu dengan sangat perlahan dan masuk.
Ia duduk disamping ranjang anaknya, duduk bersimpuh sambil menatap wajah putranya yang seperti gelisah dan tidak nyenyak tidur.
"Apa kamu menangis sayang?". Diandra melihat jejak air mata diwajah putranya, disudut mata anak itu pun masih tergenang cairan bening.
Setetes cairan bening mengalir dari mata Diandra, sebisa mungkin ia menahan isakannya agar tidak mengganggu tidur putranya.
"Kamu anak mama sayang.."
"Sampai kapanpun kamu anak mama..mama nggak akan biarin siapapun ambil kamu dari mama. Mama akan melawannya bahkan jika itu adalah malaikat maut". Diandra tergugu, ia semakin erat membekap mulutnya karena semakin sulit menahan tangisannya.
Diandra mengusap kasar air matanya saat melihat Gaara bergerak. Ia tak mau sampai anaknya melihat dirinya dalam kondisi menangis.
"Mama.." Suara Gaara terdengar serak khas orang bangun tidur.
"Sayang..." Diandra kaget karena Gaara tiba-tiba memeluknya. Namun Diandra segera menguasai diri dan kemudian membalas pelukan anaknya sambil mengelus punggung putranya.
"Jangan tinggalin abang ma.." Diandra tersentak. Ada apa? Mengapa putranya tiba-tiba berkata seperti itu? Kini ketakutannya semakin bertambah besar.
"Mama nggak akan tinggalin abang..sampai kapanpun mama akan ada dideket abang". Diandra mengeratkan pelukannya pada buah hatinya.
"Abang takut.."
"Takut apa sayang? Ada mama disini..abang nggak perlu takut". Diandra melerai pelukannya, ia sedikit kaget karena Gaara menangis.
__ADS_1
"Abang kenapa hm??", Tanya Diandra lembut menghapus air mata putranya.
"Abang takut ma.." Gaara menunduk, tidak berani menatap sang ibu.
"Apa yang kamu takutin sayang? Disini ada mama, ada papa, Baim sama adik-adik kamu". Diandra mengangkat wajah Gaara, memaksa anaknya untuk menatap padanya.
"Abang boleh tanya sesuatu?". Tanyanya ragu-ragu, dan Diandra segera mengangguk.
"Apa yang mau abang tanyain?". Ucap Diandra lembut.
"Apa bener.." Gaara terlihat menarik nafas panjang, seolah pertanyaan yang akan ia ajukan pada sang mama adalah pertanyaan sulit.
Diandra dengan sabar menunggu meski jantungnya berdetak begitu kencang. Perasaannya semakin tak nyaman melihat sikap Gaara sejak kepulangan mereka dari acara reuni beberapa jam lalu.
"Apa aku bukan anak papa?".
Deg...
Jantung Diandra seakan berhenti berdetak mendengar pertanyaan Gaara. Diandra mulai berpikir, mungkinkah putranya itu mendengar semua ocehan Monika.
"Sayang..kamu ngomong apa sih. Kamu anak mama dan papa. Sampai kapanpun itu akan sama". Diandra menggenggam tangan putranya.
"Aku takut ma..aku takut kalo aku bukan anak kandung papa". Diandra sudah tak bisa lagi membendung air matanya karena Gaara yang juga sudah menangis.
"Kamu anak papa bang. Mama yakin kamu anak papa.."
"Aku bukan anak kandung mama. Aku takut kalo aku juga bukan anak kandung papa". Diandra menarik tubuh Gaara kedalam pelukannya. Mencoba menenangkan putranya meski sejujurnya hatinya sendiri tak tenang.
"Jangan dengerin siapapun sayang. Karena sampai kapanpun kamu anak kami". Tegas Diandra.
"Aku takut dipisahin dari mama.."
"Nggak akan ada yang bisa pisahin abang dari mama. Bahkan tuhan sekalipun". Diandra membulatkan tekad. Apapun nanti kenyataannya, ia tak akan menyerahkan Gaara pada siapapun. Bahkan jika anak lelaki itu benar-benar bukan darah daging Abi sekalipun, Diandra tidak akan melepaskannya.
---^^^---
Holla semuaaa..Semoga masih setia nunggu kelanjutan cerita mereka ya..
Konfliknya nggak akan lama kok, karna balik lagi, othornya nggak pinter bikin konflik yang panjang dan kelamaan.
Insyaallah nanti dikasih satu bab lagi, semoga suka semua🙏🏻🙏🏻
__ADS_1