Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
abang, ayo menikah


__ADS_3

"Lama banget sih". Ketus Nala saat Hani mengantarkan jus pesanannya ke ruangan Gaara. Hani terlihat menahan amarahnya, senyum yang terpatri diwajahnya juga terlihat dipaksakan.


Sebenarnya Nala bukan gadis arogan apalagi suka memerintah. Tapi bagi wanita didepannya ini, semua sikap baiknya adalah pengecualian dan hukumnya haram.


"M-maaf mbak.." Sumpah demi apapun, Hani ingin menyiramkan jus yang baru saja ia letakkan ke wajah Nala. Namun semua itu hanya ada dibayangannya saja.


Ia melirik Gaara yang sibuk berbicara dengan Nick. Melihat ada kesempatan, Hani menunduk sedikit dan berbisik pada Nala.


"Buat apa kamu kembali? Harusnya kamu enyah..Kamu nggak akan pernah berhasil bikin Gaara cinta sama kamu". Nala tersenyum miring saat Hani menunjukkan wajah aslinya. Inilah yang membuat Nala tak pernah menyukai Hani, wanita itu bermuka dua dan sangat pandai bermain peran.


"Aku? Bermimpi saja untuk mengenyahkan aku wanita si alan! dan Abang? Nggak cinta sama aku?? Ayo kita buktikan". Nala balas berbisik dengan mengerlingkan matanya.


Hani buru-buru menegakkan tubuhnya saat Nala bangkit dari duduknya.


"Abang..." Gaara menoleh saat Nala merengek manja.


"Kenapa sayang?". Sahut Gaara lembut. Hani membeku, Gaara sangat lembut. Bahkan lelaki itu menghentikan kegiatannya yang tengah membahas proyek penting dengan Nick hanya karena Nala merengek. Hal yang tak pernah Gaara lakukan pada dirinya.


"Masih lama enggak?". Gaara tersenyum gemas lalu melambaikan tangannya pada Nala yang langsung beranjak mendekati kursi kerja Gaara.


"Sini.." Gaara menarik tubuh Nala hingga terjatuh diatas pangkuannya.


Nick mengulum bibir menahan agar tawanya tak meledak. Sekilas ia melirik Hani yang berdiri kaku seperti patung. Wajahnya memucat dan bola matanya sepertinya sedikit lagi melompat keluar.


"Abang selesaiin ini sebentar ya.." Gaara mengelus sayang rambut Nala yang meletakkan kepalanya dibahu lebar Gaara.


"Jangan lama-lama. Aku udah laper.." Gaara tak tahan, ia mengecup gemas pipi Nala. Tak peduli disana ada Nick dan Hani sekalipun. Nala terlalu menggemaskan untuk tak ia cium.


"Sebentar lagi ya.." Nala mengangguk pelan dan semakin membenamkan wajahnya diceruk leher Gaara.


Setelah Gaara kembali sibuk berdiskusi dengan Nick, Nala melirik Hani yang masih mematung disana. Ia menyunggingkan senyum penuh ejekan dan tak lupa menjulurkan lidahnya menatap Hani penuh kemenangan.


Jika dulu ia mengalah karena Gaara yang tak punya pendirian dan masih peduli dengan wanita itu, maka kini jangan harap. Apalagi setelah Gaara dengan tegas dan yakin melamar dirinya dan memintanya untuk menjadi istri lelaki itu.


Dengan wajah merah padam memendam kekesalan, Hani keluar dari ruangan Gaara tanpa berpamitan. Sedangkan Nala segera bangkit dari pangkuan Gaara setelah memastikan wanita jelmaan kuda lumping itu keluar.

__ADS_1


"Kemana sayang??". Tanya Gaara saat Nala tiba-tiba bangkit.


"Mau di sofa aja. Sempit disitu.." Gaara mengernyit bingung melihat wajah wanitanya kembali ditekuk. Sedangkan Nick kembali melipat bibir saat melihat Nala dalam mode galak. Sejak masuk kedalam ruangannya, Nala memang sudah menekuk wajah. Terlihat memendam kekesalan.


"Abang cepetan dong diskusinya. Dari tadi nggak kelar-kelar". Nick dan Gaara saling menatap dengan alis terangkat.


Tak ingin terjadi hal yang tak diinginkan, Nick langsung membereskan berkas yang mereka bahas. Bisa bahaya jika sampai pawang si bos mengamuk. Susah payah ia memaksa Nala kembali ke kota ini, jangan sampai terjadi hal yang akan menyulitkan dirinya kedepannya.


"Saya permisi dulu bos.." Gaara mengangguk. Lalu berpindah ke sebelah Nala setelah Nick keluar.


"Kamu kenapa? hmm?? Dari tadi keliatan kesel banget sih sayangnya abang.." Gaara duduk disamping Nala dan membelai lembut rambut Nala yang kini sudah memanjang.


Nala tampak menyibukkan diri mengeluarkan bekal makanan yang memang sudah ia siapkan pagi tadi. Saat ini jam memang belum menunjukkan waktu makan siang. Tapi biarlah, toh dirinya juga hanya membuat pasta saja. Tak akan terlalu mengenyangkan.


Yang penting kini mengganjal perutnya dulu sebelum ia menceritakan kegilaan Haikal yang lain. Tiba-tiba kepala Nala terasa pusing, masalah Haikal belum sepenuhnya selesai, dan kini harus menghadapi buaya betina yang sama-sama tak punya malu seperti Haikal.


"Aaa.." Gaara menurut dan membuka mulutnya saat Nala menyodorkan segulung pasta kedepan mulutnya.


Meskipun sangat penasaran dengan apa yang membuat kekasih hatinya kesal, namun Gaara coba menahan semua yang ingin ia tanyakan pada Nala.


"Minum dulu bang.." Nala menyodorkan air putih dalam gelas kepada Gaara yang langsung menerimanya dengan senang hati.


"Makasih sayang..masakan kamu emang nggak pernah gagal". Gaara mengecup sayang pipi Nala yang membalasnya dengan tersenyum tipis.


"Kayanya cinta abang ini berawal dari mulut, turun ke hati deh.." Nala terkekeh pelan mendengar gombalan Gaara yang terdengar aneh karena lelaki kaku itu yang mengucapkannya.


"Nggak pantes abang tuh ngegombal". Kekeh Nala membuat Gaara ikut terkekeh pelan.


"Beneran..kok dibilang gombal sih". Nala kembali tersenyum tipis.


"Kamu kenapa hm??". Nala membeku sesaat ketika Gaara memeluknya dari samping secara tiba-tiba.


Mata tajam itu menatap teduh pada netra Nala yang terlihat gelisah dan memendam sebuah kekesalan.


"Ada masalah di kampus??". Tanya Gaara yang seolah sudah membaca sinyal, dimana gadis itu memiliki masalah. Pasalnya ia cukup hafal jadwal kuliah Nala meski tidak sepenuhnya. Dan ia sangat yakin dan ingat betul jika wanitanya itu semalam mengatakan ada kelas pagi.

__ADS_1


Nala menoleh pada Gaara. Bagaimana lelaki itu bisa tahu jika ia memiliki masalah dikampus? Masalah yang sangat besar dan membebaninya.


"Huh.." Nala menghela nafas panjang, membuat Gaara terkekeh pelan sambil mencium lembut pipi Nala.


"Cerita sama abang..ada apa?". Suara lembut Gaara mampu membuat Nala nyaman. Bahkan sangat nyaman, emosi yang tadi begitu meluap-luap saat mengingat kini Haikal adalah dosennya perlahan sirna.


"Cerita aja sayang..kenapa ragu gitu sih.." Gaara mengelus pipi Nala dengan lembut. Ia sangat suka berdekatan dengan Nala seperti saat ini.


Gaara tersenyum saat Nala memeluknya. Menyembunyikan wajahnya didada bidang milik Gaara sambil memeluk tubuh lelaki itu dengan erat.


"Abang..ayo menikah.." Gaara membeku tak mampu berkata-kata. Pikirannya kosong setelah mendengar ucapan singkat Nala yang pengaruhnya sangat besar untuknya.


Nala mendongak setelah beberapa saat tak mendapat respon dari Gaara. Dilihatnya Gaara tengah melamun, mungkin karena terkejut. Dan Nala tahu itu karna ajakan menikahnya.


Sejujurnya ia masih memiliki sedikit keraguan pada Gaara. Namun tak ada jalan lain untuk menyingkirkan Haikal dari hidupnya. Ditambah makhluk jelmaan buaya betina yang ia yakin pasti kini tengah menguping pembicaraan mereka saat ini.


"Abang.." Nala membelai rahang Gaara dengan lembut kemudian mengecupnya singkat hingga membuat Gaara tersadar.


Keduanya saling menatap dalam. Seolah menyelami betapa dalamnya perasaan mereka masing-masing. Ada getaran yang membuat Nala memajukan wajahnya dan mencium bibir Gaara walau sebentar.


"Ayo kita menikah, bang.."


...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...


Selamat morning kesayangan🥰🥰🥰 sehat-sehat ya semua?? Insyaallah sehat..aamiin🤲🏻🤲🏻


Hiyaaaaa...si Haikal belum ilang kita tambah sama buaya betina ya..biar ramenya sekalian😂😂


Nala udah pusing akut diganggu kang Haikal, akhirnya dia sendiri yang ngajak nikah setelah kemaren dilamar masih ngegantung jawabannya😅😅


Yuk ah dukung kuman ama abang biar cepet kawin, eh nikah maksud othor🤭🤭


Jangan lupa tampol like sama komennya ya readers tercintahh☺️☺️


Lopelope sekebon kalian semuaaa..sarangheo seempang🥰🥰😘😘💋💐💐

__ADS_1


__ADS_2