Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
ayah


__ADS_3

"SARAAAAAP!!!!!". Teriakan melengking itu memenuhi seluruh penjuru rumah hingga membuat semua orang berjengkit kaget.


Siapa lagi pelaku nya jika bukan si santen kesayangan semua orang.


"Astaga. Kenapa lagi mereka". Gumam Diandra yang ada didapur sedang menyiapkan sarapan.


"Pagi mama.." Gaara menghampiri sang mama. Mengecup lembut pipi malaikat cantiknya yang masih terlihat awet muda.


"Pagi sayang.."


"Balikin nggak!! Gue kepret beneran lo ya!!!". Diandra menghela nafas saat melihat kedua anak kembarnya berlari kejar-kejaran.


"Astaga anak-anak itu", Diandra menepuk keningnya.


"Pinjem doang ah elah. Pelit amat lo". Raffa terus berlari karena Kara masih mengejarnya.


"Tolongin aku pa. Si santen mau mukulin aku". Abi menggeleng lemah melihat kedua anaknya yang tak pernah akur ini.


"Papa awas ih. Aku mau ngambil barang aku di Rapa". Abi benar-benar pusing, Kara ada didepannya, dan Raffa bersembunyi dibelakang tubuhnya. Kepalanya semakin bertambah pusing karena Raffa terus memutarkan tubuhnya yang digunakan sebagai tameng agar adik kembarnya tidak bisa menjangkaunya.


"Siniin nggak!!".


"Nggak. Wleee". Raffa meledek dan menjulurkan lidahnya pada Kara.


"Pagi mama". Baim yang baru bergabung di meja makan menghadiahkan sebuah kecupan dikening sang mama yang tersenyum bahagia.


"Kenapa lagi mereka?". Tanya Baim pada Gaara yang sudah rapi. Gaara hanya mengendiikan bahunya acuh dan mulai memakan nasi goreng yang baru saja diambilkan Diandra.


"Raffa, Kara! Stop!". Teriak Diandra namun dua anak itu masih terus memperebutkan sesuatu yang Diandra belum tahu apa itu.


"Kalian ini sudah kelas 3 SMA. Sebentar lagi mau lulus dan kuliah. Kenapa masih kaya anak kecil sih". Omel Diandra namun keduanya masih tetap berdebat dengan Abi ada ditengah-tengah keduanya.


Ya, ini sudah hampir tiga tahun berlalu. Hubungan Kara dan Baim pun berjalan semestinya orang berpacaran. Dan hingga kini, kedua orang tua mereka tidak ada yang tahu tentang hubungan mereka. Mereka benar-benar pandai menyimpan rapat hubungan mereka.


Hanya Gaara dan Raffa yang mengetahuinya. Itupun karena tanpa sengaja bertemu saat keduanya nonton. Dan setelah didesak, akhirnya Kara dan Baim pasrah dan mengaku tentang hubungan mereka.


"Maafin kakak Raf. Maafin gue juga Ga. Kalian pasti kecewa ama gue", Ucap Baim sesaat setelah hubungan keduanya diketahui Raffa dan Gaara.


"Selagi dia bahagia". Ucap Raffa menatap Kara yang terus diam.


"Gue bakal diem. Terserah kalian selagi kalian nyaman sembunyi kaya gini. Tapi kalo lo nyakitin Kara. Tangan gue sendiri yang bakal bikin lo babak belur". Peringat Gaara membuat Kara dan Baim tersenyum bahagia.


"Rapa balikin nggak?!". Kara melotot sambil berkacak pinggang.


"Jangan galak-galak elo tu jadi cewe. Ntar cowo pada takut". Ledek Raffa melirik Baim yang menggelengkan kepalanya.


Meskipun berpacaran dengan Baim, Kara benar-benar tidak merubah kebiasaannya. Entah itu didepan Baim atau saat tidak ada Baim. Dia tetap menjadi dirinya karena Baim pun lebih senang Kara yang apa adanya.


Kara pernah mencoba menjadi lebih lembut dan selalu berdandan serta memakai dress agar lebih feminin. Berharap Baim suka dengan penampilan barunya. Bersikap sok dewasa dan tidak merepotkan Baim. Namun Baim justru marah dan bilang agar Kara menjadi dirinya sendiri. Baim lebih senang Kara yang pecicilan dan manja terhadap dirinya.

__ADS_1


"Biarin!! Buruan balikin hoodie gue!!!". Dengan jahilnya, Raffa justru memakai hoodie yang sejak tadi menjadi alasan perdebatan kedua anak itu.


"Yah..udah gue pake". Ucap Raffa santai membuat Kara kesal setengah mati.


"RAPAAA!!! Ngeselin!!!". Kara menghentakkan kaki nya ke lantai.


"Woooi, awas roboh ni rumah kalo lo kaya gitu". Senang sekali Raffa menggoda saudaranya hingga marah-marah seperti saat ini.


Kara menatap Baim dengan wajah masam serta bibir mengerucut, dan lelaki itu hanya tersenyum lembut sambil mengangguk. Meminta Kara untuk membiarkan Raffa meminjam hoodie pemberiannya.


Sebenarnya bukan masalah besar jika hoodie yang dipakai Raffa bukan pemberian Baim. Namun hoodie itu adalah hoodie kesayangannya yang dibelikan Baim bahkan jauh sebelum keduanya berpacaran.


"Aw aw..sakit pa". Raffa memekik saat telinganya di jewer oleh Abi.


"Jangan kelewat jahil kamu. Pusing papa denger kalian ribut mulu". Raffa nyengir, menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi.


"Sukurin!". Ledek Kara menjulurkan lidahnya dan berlalu meninggalkan Raffa yang masih dijewer Abi. Senang sekali melihat penderitaan saudara kembarnya yang jahil itu.


"Abang mau ke kantor?". Tanya Kara saat melihat Gaara sudah rapi dengan setelan kerja nya.


"Iya..Ayah minta abang kesana bantuin beliau". Kara mengangguk mengerti.


Diandra menatap putranya dengan bangga. Gaara benar-benar menepati janjinya saat masih kecil. Ia benar-benar menerima ayah kandungnya setelah Abram menebus semua kesalahannya didalam penjara selama sepuluh tahun.


flashback


"Hari ini dia bebas ma.." Diandra terdiam lalu tersenyum.


"Kalau begitu pergilah, nak. Jemput dia, dan terima dia seperti janjimu dulu padanya". Gaara memeluk Diandra dengan erat.


"Makasih ma. Makasih mama udah besarin aku. Semua kasih sayang yang mama kasih buat aku. Semua pengorbanan yang mama lakuin demi kebahagiaan aku. Aku bersyukur ma..sangat sangat bersyukur dibesarkan oleh malaikat seperti mama". Diandra tersentuh dengan semua ucapan putranya.


"Mama juga sangat bersyukur memiliki anak sehebat dirimu. Tapi..."


"Tapi apa ma?". Tanya Gaara melepaskan pelukannya.


"Kamu akan terlambat menjemputnya jika tidak pergi sekarang". Diandra melirik jam di dinding ruang tamu.


"Gaara pergi dulu ma. Aku sayang banget sama mama.." Gaara mengecup kening mama nya lembut dan berlari keluar sambil melambaikan tangan.


Gaara berdiri didepan pintu rumah tahanan dimana seseorang yang sudah sepuluh tahun berada didalam sana akan segera keluar.


Tak butuh waktu lama Gaara menunggu. Seseorang keluar dengan senyum di wajahnya. Senyuman itu semakin lebar saat melihat siapa yang berdiri didepannya.


"Gaara.." Abram menatap tak percaya siapa yang menjemputnya.


"Selamat..anda sudah bebas. Semoga anda menjadi manusia baru setelah semua yang anda lewati". Gaara mengulurkan tangannya pada Abram yang sudah berkaca-kaca saat menerima uluran tangannya.


"Bisakah aku memelukmu?". Gaara tersenyum tipis kemudian merentangkan tangannya.

__ADS_1


"Terimakasih nak. Terimakasih untuk kesempatan besar ini. Papa berjanji akan menjadi orang yang lebih baik". Gaara menepuk pelan punggung sang ayah dan melepaskan pelukan.


"Kita pulang sekarang. Oma dan opa sudah menunggu dirumah". Abram kembali melongo, kedua orang tuanya kah yang dimaksud oma opa oleh anaknya ini?


"Ayo.." Gaara mengambil tas kecil Abram dan berjalan menuju mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Abram tak henti menatap putranya. Perasaannya menghangat dan kini ia sangat bahagia. Kesabarannya selama sepuluh tahun kini berbuah manis.


"Sampai.." Ucapan Gaara menyadarkan lamunan Abram. Ia melihat kedua orang tuanya sudah menunggu nya didepan rumah.


Gaara menatap haru pertemuan ayah dan kakek serta neneknya. Ya..selama ini Gaara selalu mengunjungi orang tua dari ayahnya itu. Mau bagaimanapun mereka juga kakek neneknya. Dan Gaara tahu mereka sangat menyayanginya.


"Kita masuk nak.." Bu Yuli tak melepaskan diri dari putranya yang sudah sepuluh tahun tak ia temui.


Ya, tidak ada yang pernah menjenguk Abram dipenjara. Bukan karena tak mau, tapi itulah permintaan Abram. Ia benar-benar ingin merenungi kesalahannya dan merasakan bagaimana jika dirinya benar-benar tak dipedulikan. Itu yang memecut semangatnya untuk merubah diri. Ia hanya meminta dikirimi foto Gaara bertumbuh setiap tahunnya. Itulah mengapa ia bisa langsung mengenali Gaara meskipun sepuluh tahun tak pernah bertatap muka.


"Kamu pernah menginap disini?". Tanya Abram tak percaya saat melihat Gaara dengan santai memasuki dan kemudian keluar dari sebuah kamar yang Abram tahu adalah kamar tamu.


"Itu kamarku.." sahut Gaara santai namun berhasil membuat Abram terkejut.


"Pa-papa nggak salah denger?".


"Sebelumnya maaf. Aku sudah mempunyai papa, jadi tidak bisa memanggilmu papa". Abram menunduk sedih, tapi setidaknya putranya sudah tak sedingin dulu.


"Ya..maaf". Lirih Abram


"Aku harus pulang dulu. Sebaiknya ayah beristirahat dulu..besok aku akan kesini". Abram kembali mengangkat wajahnya. Menatap tak percaya pada putranya yang baru saja memanggilnya ayah.


"A-apa?". Abram terbata.


"Aku memang sudah punya papa. Tapi aku juga punya ayah". Gaara tersenyum menatap Abram yang masih melongo.


"Ayah istirahat lah. Aku akan kesini lagi besok". Gaara memeluk Abram yang langsung membalas pelukan anaknya dengan erat.


"Terimakasih". Gaara mengangguk karena sang ayah selalu mengucapkan maaf dan terimakasih.


"Gaara pamit dulu oma, opa.. Jaga kesehatan dan jangan sampai telat makan". Bu Yuli dan pak Burhan tersenyum sambil memeluk cucunya.


"Oma cantik.." Goda Gaara sambil mencium sekilas pipi neneknya yang terkekeh.


"Dasar anak nakal.."


...•••¥¥¥•••...


Flashback dulu gapapa ya, nyeritain juga abangnya lah ya. Kasian kalo dikacangin si abang ganteng..


Cuma dikit kok, nanti bab abis ini juga paling tinggal setengahnya aja flashback. Takut uueeek kalo baca Kara ama Baim jadi bucin😂😂😂


Happy reading, dan semoga nggak eneg☺️😅

__ADS_1


__ADS_2