
Gaara benar-benar dibuat kesal oleh sikap Nala yang terus mengganggu dan mengejar dirinya kemanapun ia pergi.
Ia sering menjadi bahan ledekan teman-temannya karena kehadiran Nala. Meski teman-temannya pun memuji kecantikan Nala. Apalagi sikap Nala yang sangat pandai bergaul dan ceria membuat sebagian teman Gaara bahkan menaruh rasa pada gadis itu.
"Lo nggak ada jadwal kuliah apa gimana sih? Ngikutin gue mulu". Gaara menatap jengah Nala.
Baru kali ini ia merasa menyesal melanjutkan pendidikan s2 nya dikampus yang sama seperti sebelumnya ia mengejar gelar sarjananya.
"Gue udah kelar bang..makanya dampingin calon suami, biar kaga ditikung orang lain". Gaara mendelik saat melihat beberapa mahasiswi menatap kearah mereka. Bukan tanpa sebab, namun Nala mengatakan calon suami dengan suara yang cukup kencang hingga mereka berdua menjadi fokus perhatian beberapa orang.
"Hish! Ni mulut kalo ngomong". Gaara membekap mulut Nala dan kemudian menarik tangan gadis itu menjauh dari teman-temannya yang sedang menertawakannya.
"Ish..ish..ish..kasian amat si kuman ya kak. Abang juga kenapa sih galak banget ama kuman". Kara yang menemani Nala hanya menatap kasihan pada sahabatnya.
Sementara Baim yang duduk disamping Kara hanya tersenyum. Terlalu sulit untuk membuat Gaara membuka hati untuk wanita lain sementara bayang masa lalunya masih senantiasa mengikutinya hingga kini.
"Gaara juga nggak dalam kondisi yang mudah sayang.." Baim mengelus pucuk kepala Kara dengan lembut.
Jangan dikira hubungan keduanya mulus. Semua tidak semudah saat ini. Banyak hujatan dan kata-kata pedas yang dulu diterima keduanya saat hubungan asmara mereka mulai diketahui banyak orang.
Banyak yang mencibir tentang hubungan mereka yang naik tingkat, dari sepasang kakak beradik menjadi sepasang kekasih. Namun karena perasaan cinta mereka yang kuat, lambat laun semua cibiran itu menghilang dengan sendirinya.
Tak jauh dari mereka, Amandha menatap sendu lelaki yang sudah ia sukai sejak lama itu duduk rapat dengan gadis yang dulu ia tahu sebagai adik lelaki itu. Mengapa dunia tak berpihak padanya.
Kembali pada Nala dan Gaara. Kini kedua manusia itu tengah berdiri berhadapan disamping mobil milik Gaara.
"Berhenti La. Gue nggak mau nyakitin perasaan lo. Lo tau kan, gue udah nganggep lo sebagai adik. Sama kaya Kara". Gaara membuka suara lebih dulu.
"Gue sakit kalo jauh-jauh dari elo, bang. Makanya gue suka kalo deket-deket elo. Lagian mami gue nggak pernah lahirin elo, jadi kaga ada rumusannya gue jadi adik lo". Senyum di wajah gadis itu tak sedikitpun surut meski berulang kali Gaara berkata pedas.
__ADS_1
"Sampe kapanpun gue nggak akan bisa bales perasaan elo, La. Lagian belom tentu yang lo rasain itu perasaan cinta". Gaara mencoba membuat Nala meragukan perasaannya sendiri.
Nala tampak berpikir, lalu sesaat kemudian ia tertawa. Namun hanya sesaat, karena detik berikutnya, Nala menampakkan wajah serius.
"Kasih gue satu kesempatan bang. Tiga bulan. Kasih gue waktu tiga bulan buat bikin lo jatuh cinta ama gue bang..kalo selama tiga bulan lo tetep nggak punya perasaan ke gue, gue janji bakal pergi jauh dan nggak akan pernah gangguin lo lagi". Gaara terhenyak, setelah dua tahun lalu Nala menyatakan cintanya, untuk pertama kalinya, Nala meminta dirinya memberi kesempatan untuk gadis itu memperjuangkan cintanya.
Nala menahan nyeri didadanya, sebenarnya ia sudah cukup lelah berjuang selama 2tahun lebih, mencari perhatian lelaki itu bahkan dengan merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Namun Nala mencoba acuh dan terus berusaha membuat Gaara menatapnya.
"Nggak akan pernah ada kesempatan, La. Karna sampe kapanpun, lo cuma sebatas adek buat gue". Jawaban Gaara membuat Nala tersenyum miring.
"Kak Baim juga pernah ngomong kaya gitu ke Kara. Tapi sekarang? See??". Nala kembali tersenyum saat melihat wajah Gaara yang nampak berpikir.
"Tiga bulan. Cuma tiga bulan..nggak lebih". Gaara memutuskan memberi kesempatan pada Nala. Toh ia yakin jika tidak akan pernah jatuh hati pada gadis itu. Jangankan tiga bulan, mau tiga tahun sekalipun, Gaara yakin tidak akan mencintai Nala.
"Yes!", Seru Nala girang membuat Gaara tanpa sadar mengangkat sudut bibirnya hingga
membentuk sebuah senyuman tipis.
"Ya kalo abang nggak mau coba buka hati buat gue, semua usaha yang bakal gue lakuin sia-sia lah". Nala menjelaskan maksud ucapannya. Dia semakin membulatkan tekadnya untuk membuat laki-laki didepannya ini bertekuk lutut dan mencintainya.
"Gue nggak janji". Sahut Gaara acuh membuat Nala kesal, namun sesaat kemudian ia tersenyum.
"La.." Suara Gaara tercekat saat Nala tiba-tiba memeluknya. Merasakan kehangatan dari tubuh lelaki yang sudah sangat lama ia idamkan.
"Ini bakal jadi agenda rutin gue mulai sekarang, bang. Jadi biasain jantung lo mulai sekarang". Dengan jahil, Nala mengedipkan sebelah matanya hingga membuat Gaara tersentak.
Nala tersenyum dalam hati, selain karena senang bisa memeluk Gaara. Ia juga sangat senang bisa mendengar jelas detak jantung Gaara yang berdegub begitu kencangnya. Tak berbeda jauh dengan jantungnya yang sudah marathon sejak tadi.
"L-lepas La". Gaara sedikit terbata, entah mengapa pelukan Nala terasa begitu nyaman. Apalagi gadis itu menelusupkan wajahnya tepat didada bidang Gaara.
__ADS_1
"Bentar lagi bang..nyaman banget". Bukannya melepaskan pelukannya, Nala justru semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya didada bidang Gaara.
"Nyaman banget.." Batin Nala tersenyum.
Tak ada penolakan dari Gaara, namun tidak ada penolakan dari lelaki yang sepertinya juga menikmati sesi pelukan ini.
Setelah cukup lama memeluk Gaara, Nala melepaskan pelukannya. Menatap dalam pada netra tajam yang mampu membuatnya tergila-gila itu.
Mata Gaara melebar saat sebuah benda kenyal tiba-tiba menempel dibibirnya. Ia menatap tajam Nala yang justru menampakkan senyum tanpa dosanya.
"Anala." Geram Gaara menekankan nama Nala. Namun gadis cantik itu tak menampakkan sedikitpun ketakutan saat Gaara terus menatapnya tajam.
"Bonus buat gue bang". Nala nyengir, menampakkan deretan gigi putihnya hingga memperlihatkan lesung pipinya yang semakin membuatnya terlihat semakin cantik.
"mulai sekarang, abang harus siapin diri buat dapet kejutan dari calon istri ini". Nala kembali mengedipkan sebelah matanya.
"Daaa calon suami.." Nala meninggalkan Gaara yang terpaku karena ia mencuri sebuah kecupan di pipi laki-laki itu. Biarlah ia dianggap rendahan. Namun demi cintanya, ia rela bahkan jika akan dihina.
Sepeninggal Nala, Gaara masih terpaku ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun. Ia meraba pipi dan bibirnya yang baru saja dikecup oleh gadis nakal dan sangat berani itu.
Bagaimana bisa Nala seberani itu. Gaara kembali meraba bibirnya, lalu tangannya turun hingga dada. Ia masih bisa merasakan detakan jantungnya yang begitu cepatnya.
"Ada apa ama gue". Gumam Gaara yang masih merasakan jantungnya berdetak begitu cepatnya sejak saat Nala memeluk dirinya.
"Berani banget tu bocah". Gaara kembali bergumam dengan seulas senyum tipis yang menghiasi bibir seksinya.
...¥¥¥•••¥¥¥...
Waaah bener-bener ya si kuman. Beranian banget main sosor anak orang..
__ADS_1
karakter Nala memang beda sama santen ya. Kalo santen malu-malu dan ragu, beda lagi sama si kuman yang lebih berani mengekspresikan perasaannya.
Kira-kira luluh apa kaga ni si abang? Dikasih waktu tiga bulan sesuai permintaannya, kira-kira si kuman berhasil apa dibikin patah hati?🤔🙄