Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
pertolongan


__ADS_3

Kara masih menunggu didepan gerbang sekolahnya. Sesuai perintah sang kakak, Kara menunggu untuk dijemput sang kakak yang pagi tadi sudah berjanji akan menjemput dirinya.


"Udah lewat 5menit". Gumam Kara menghela nafas kasar.


"Tenang Ra. Baru lewat 5menit, mungkin jalan macet". Kara mencoba berpikir positif.


"Hai cantik.." Kara yang sedang duduk mendongak. Ia mendengus kesal melihat lima orang pemuda yang sama seperti yang dulu bermasalah dengannya dan Raffa sudah berdiri angkuh didepannya.


"Kaga usah gangguin gue deh. Mending pada pergi lo pada". Ketus Kara tanpa menatap kelima pemuda itu.


"Daripada sendiri, mending sama kita-kita aja". Goda salah satunya yang hendak menyentuh lengan Kara. Namun dengan kasar Kara hempaskan.


"Jangan kurangajar ya lo pada. Gue lagi nggak mood ngeladenin orang-orang nggak penting kaya lo semua". Sinis Kara


"Ayolah, lo cuma sendiri. Nggak usah jual mahal. Anggep aja ini pembayaran lo yang waktu itu bikin kita babak belur". Kara berdiri, merasa dirinya terancam ia memasang sikap waspada.


"Emang banci semua lo ya. Berani cuma pas cewek sendiri. Cih". Kara mendecih menatap jijik para pemuda itu yang langsung terlihat marah karena ucapan Kara.


"Mulut lo emang kudu diajarin sopan santun". Geram salah seorang pemuda yang hingga kini Kara tak tahu siapa namanya itu.


"Bukannya harusnya kalian yang harus belajar sopan santun?". Kara tersenyum meremehkan membuat lawannya semakin gelap mata. Tanpa banyak berkata, dua orang diantaranya maju dan menyerang Kara.


Ketiga pemuda lainnya saling menatap saat tak ada satupun pukulan yang bisa mengenai Kara. Kemampuan gadis itu memang tak bisa dianggap sepele.


"Kita hajar bareng! Tu cewek harus dikasih pelajaran". Usul salah satunya dan disetujui yang lainnya.


Akhirnya siang itu Kara berjibaku melawan lima orang pemuda sekaligus. Jelas bukan suatu pertarungan yang seimbang. Wajah Kara sudah beberapa kali terkena pukulan. Pun tubuhnya yang beberapa kali terkena tendangan kuat hingga berkali-kali terpental ke belakang.


"Si*l. Gue nggak bakal bisa menang". Gumam Kara menatap geram kelima lawannya yang tersenyum licik. Ia mengusap kasar sudut bibirnya yang mengeluarkan cukup banyak darah.


Meraih ponsel yang ada disakunya, Kara mencoba menghubungi Raffa. Saat ini hanya Raffa yang memungkinkan membantu dirinya dengan cepat.


Namun sungguh bukan keberuntungan bagi seorang Lengkara. Panggilan nya pada Raffa belum tersambung, namun ponselnya sudah terpental karena ditendang oleh lawannya.


"Kenapa heuh? Mau cari bantuan?". Sinis musuhnya membuat Kara mengetatkan rahangnya.


"Gue masih sanggup ngadepin pengecut kaya lo semua". Kara adalah Kara, ia tak akan pernah mau terlihat lemah apalagi didepan lawannya. Terlebih disini dirinya sama sekali tidak memulai keributan.


"Dasar cewek sombong!". Sentak salah seorangnya yang langsung menghadiahkan tendangan kuat tepat di perut rata Kara hingga gadis itu terpental cukup jauh.

__ADS_1


"WOOOIIIII!!!!! Anj*ng lo semua!!!! Beraninya cuma ama cewek!!!!". Kelima pemuda itu menoleh ke sumber suara. Saling menatap satu sama lain seolah bertanya siapa pemuda yang menantang mereka.


"Maju sini lo! Lawan gue kalo berani! B*jingan lo semua berani-beraninya ngehajar cewe ampe kaya gitu!!!". Dan pertarungan kembali terjadi, di kondisinya yang lemah Kara menatap dengan sesungging senyum lirih.


"Bahkan saat gue butuh, bukan lo yang nolong gue kak.." Lirih Kara memegang perutnya yang terasa sakit.


"Minggat lo semua!!! Dasar anj*ng!!!!". Lelaki yang membantu Kara terus mengumpat dengan kata-kata indah yang membuat Kara terkekeh pelan.


"Lo gapapa, Ra???".


"Sans aja kak. Gue oke". Lirih Kara sambil meringis menahan sakit.


"Oke pala lo pitak". Lelaki yang tak lain adalah Bara nampak ikut meringis melihat luka di wajah Kara.


"Ni satpam pada kemana sih? Makan gaji buta aja anj*r". Umpat Bara karena tak menemukan satu orang pun satpam yang berjaga.


"Mulut lo kak. Kebon binatang aja lo pindah semua kesini". Kekeh Kara membuat Bara mendengus. Bisa-bisanya dengan kondisi terluka seperti ini, Kara bercanda.


"Lo tunggu sini. Gue ke dalem dulu minta obat. Atau mau gue anter ke rumah sakit aja?". Tanya Bara dijawab gelengan kepala oleh Kara.


"Nggak parah. Nggak perlu ke rumah sakit". Sahut Kara pelan karena bibirnya terasa sangat perih saat digunakan berbicara.


"Tunggu sini. Gue cariin obat". Bara berlalu sambil berlari meninggalkan Kara yang tersenyum perih.


Tak berselang lama, terdengar deru mesin mobil yang berhenti tak jauh dari tempat Kara duduk saat ini.


"Dek..maaf kakak telat jemput. Tadi kakak nolong Mandha dulu, mobilnya mogok". Kara mengangkat wajahnya saat mendengar suara Baim dan langkah kaki mendekat padanya.


"Muka kamu kenapa?". Seru Baim begitu terkejut melihat wajah Kara terluka.


"Kamu berantem lagi??".


"Siapa yang mukulin kamu? Bilang sama kakak". Dari wajahnya, Baim terlihat sangat khawatir.


"Ra..ini obat---nya". Kara menoleh, mendapati Bara sudah kembali dengan kotak p3k ditangannya.


"Kamu. Kamu yang bikin adik saya seperti ini?". Tanya Baim pada Bara yang kebingungan.


"Ayo pulang kak". Kara berjalan mendahului Baim. Berhenti tepat dihadapan Bara dan tersenyum tulus.

__ADS_1


"Makasih ya kak pertolongannya. Kalo nggak ada kakak, gue udah mati kayanya". Kekeh Kara membuat jantung Baim seolah ditikam benda tajam.


"Ra..kamu belum jelasin apapun ke kakak". Baim mencekal tangan Kara.


"Ntar aja. Kita pulang dulu". Sahut Kara dingin melepaskan tangan Baim


"Sekali lagi makasih ya kak. Gue baik-baik aja. Sampe ketemu besok". Bara hanya bisa mengangguk dan membiarkan Kara pergi dengan seorang pria yang ia tak tahu siapa itu.


"Ra.." Kara terus berjalan dan masuk kedalam mobil tanpa menghiraukan panggilan Baim.


"Jadi buat nolongin dia? Lo telat jemput gue kak. Segitu nggak penting nya gue?". Gumam Kara menatap sendu Baim yang terlihat berbicara dengan Bara. Entah apa yang dikatakan, Kara tak tahu dan tak mau tahu lagi.


"Kita ke rumah sakit". Tanpa membuka matanya, Kara menggeleng.


"Pulang aja. Gue gapapa". Baim menoleh, menatap Kara yang memejamkan matanya. Ia yakin adiknya kembali merajuk. Dan kali ini ia benar-benar mengutuk dirinya yang terlambat menjemput Kara.


Baim melajukan mobilnya, namun bukan kerumah. Melainkan ke apartemennya. Ia tidak mungkin membawa Kara pulang dalam kondisi seperti itu. Bisa pingsan mamanya melihat Kara babak belur.


"Kenapa kesini? Gue pengen pulang".


"Kita obatin dulu luka kamu. Nanti baru pulang". Baim turun, memutari mobil dan membuka pintu Kara.


Malas berdebat, Kara turun dan berjalan mendahului Baim. Ia terlalu lelah dan sakit jika harus menatap Baim bahkan sekedar punggungnya sekalipun.


Kara terus diam, merasakan sakit diwajah dan tubuhnya. Namun bukan itu yang membuatnya lemas. Melainkan kenyataan bahwa Baim lebih mementingkan Amandha dibanding dirinya. Sakit di tubuhnya tak sebanding jika dengan luka hatinya dan kekecewaannya. Harusnya tadi ia tidak perlu menunggu Baim. Ia tidak akan babak belur andai saja pulang bersama Nala.


"Tunggu sini ya..kakak ambilin obat dulu". Baim bergegas masuk kekamar. Meninggalkan Kara di ruang tamu seorang diri.


"Heuh, miris banget nasib lo Ra. Emang lo ngarepin apa? Kak Baim prioritasin elo gitu?". Kara terkekeh sendiri menyadari kebodohannya.


"Sampai kapanpun status lo nggak akan pernah berubah. Terima aja kalo kalian bakal jadi kakak adek buat seterusnya".


...----¥¥¥----...


Jangan ngamuk dulu..ntaran dulu ya kalo mau ngamuk..


Pelan-pelan, bab abis ini dikasih kejutan deh. Hari ini juga update nya, insyaallah tapi😁😅


Temen-temennya santen yang sabar ya. Nanti Kara juga seneng kok..kalo langsung sat sit set, othornya ntar keabisan bahan tulisan atuh ya😅😄

__ADS_1


Sabar dan nikmati saja alurnya ya teman-teman halu ku sekalian. Mak othor mau menghalu lagi nulis, doain langsung lolos review jadi bisa langsung dibaca🙏🏻


Happy reading semuaaah🥰🥰❤️💋💐


__ADS_2