
"Santai dong Nay..kok kamu yang nerveous sih. Kan pak Yohan yang ijab qabulnya". Diandra mengelus lengan sahabatnya beberapa kali.
Saat ini Naya sudah tampil amat cantik dalam balutan kebaya berwarna putih yang membuat Naya semakin anggun. Setelah drama pagi antara Naya dan Kirei, akhirnya Naya selesai bersiap.
" Deg-deg an aku Di.." Naya nyengir membuat Diandra terkekeh.
"Santai aja dong.." Naya menghela nafas berkali-kali untuk menyingkirkan perasaan gugupnya.
Tak lama Kirei masuk kedalam kamar Naya, memberitahukan jika Al sudah selesai mengucapkan ijab qabul dan resmi memperistri Naya.
Diandra berjalan dibelakang Naya yang diapit oleh ibu dan kakak iparnya. Jika tidak menggendong Gaara, mungkin Diandra yang akan ada disamping Naya.
Sementara saat semua orang terpaku menatap pengantin wanita, mata Abi tak sedikitpun beralih dari Diandra yang nampak anggun dengan Gaara yang tetap berada dalam dekapannya.
"Kamu cantik banget Di..seandainya kita masih seperti dulu". Batin Abi sedih ketika mengingat betapa benci dan kecewanya Diandra pada dirinya.
Diandra tersenyum bahagia melihat kebahagiaan sahabatnya. Pernikahan idaman semua wanita, menikah dengan lelaki yang dicintai dan juga sangat mencintai.
" Mungkin jika tidak ada penghianatan itu, aku juga wanita paling bahagia saat menikah denganmu, mas. Namun kenapa menikah denganmu seolah menaburi lukaku dengan garam". Batin Diandra melirik Abi yang rupanya sejak tadi tak lepas menatapnya.
Sejak tadi Diandra terus mencari seseorang yang juga tengah dinantikan oleh Naya. Ya, orang yang ia tunggu adalah Dimas.
Senyumnya merekah saat matanya melihat Dimas yang tengah memberi selamat pada Al dan Naya. Ia melambaikan tangannya saat Dimas melihat ke arahnya. Dimas membalas lambaian tangannya dan juga tersenyum.
Diandra tak sadar jika lelaki disebelahnya tengah merasa terbakar ketika melihat senyum manis Diandra dipersembahkan untuk lelaki lain.
Selesai memberi ucapan selamat pada pengantin, Dimas datang menghampiri Diandra yang sudah duduk disalah satu meja tamu.
"Apa kabar Di?". Sapa Dimas membuat Diandra yang tengah menatap Gaara mengangkat wajahnya.
" Dimas?!". Pekik Diandra senang.
"Kangen ya? Biasa aja kali.." Goda Dimas membuat Diandra mencebik. Dimas celingukan membuat Diandra mengernyit bingung.
"Nyari apa sih?". Tanya Diandra membuat Dimas menatapnya.
" Suami kamu mana?". Tanya Dimas.
"Ambil minum katanya tadi". Sahut Diandra cuek.
" Jadi? Apa ini anakmu sekarang?". Dimas menatap Gaara yang terlihat ketampanannya meski masih bayi.
__ADS_1
"Hmm..apakah tampan?". Tanya Diandra membuat Dimas mengangguk.
" Apa kamu bahagia Di?". Tanya Dimas membuat Diandra kembali menatapnya.
"Aku bertahan untuk anak ini. Kamu tahu pasti soal ini kan?". Diandra tersenyum kecut.
Tanpa sengaja Dimas melihat siluet Abi yang berdiri membelakangi mereka. Sepertinya lelaki itu tengah mencuri dengar percakapan keduanya. Kedua sudut bibir Dimas melengkung hingga membentuk sebuah senyuman usil. Ini saatnya memastikan apakah laki-laki yang pernah menyakiti wanita yang ia cintai itu benar-benar masih mencintainya atau hanya menggunakan Diandra sebagai pengasuh untuk anaknya.
" Jadi? Jika suatu saat anak ini tidak membutuhkanmu lagi..apa yang akan kamu lakukan Di?". Pertanyaan Dimas membuat Diandra terdiam sesaat.
"Aku akan pergi..karna aku disini untuknya. Maka aku akan pergi saat dia tidak membutuhkan aku". Senyum Dimas semakin mengembang melihat Abi mengepalkan tangannya kuat-kuat
" Hmm..brarti aku masih memiliki kesempatan. Aku hanya perlu menunggumu menjadi janda". Tepat sasaran, setelah Dimas mengucapkannya, Abi berbalik menatap keduanya. Dimas berpura-pura tak menyadari jika Abi menatap keduanya. Sedangkan Diandra tak tahu jika sejak tadi Abi disana, pasalnya posisi Diandra duduk membelakangi Abi.
"Hahaha..ya ya ya. Tentu saja". Kelakar Diandra membalas guyonan Dimas. Ia tahu, meski Dimas mencintainya, namun lelaki itu tak mungkin mendoakan hal buruk untuk rumah tangga nya.
" Baiklah, aku akan menunggu dengan sabar kalau begitu, hahaha". Keduanya tertawa lepas.
"Ya, doakan saja temanmu ini cepat menjadi janda". Keduanya semakin terbahak dengan obrolan tak berfaedah mereka.
Abi memilih pergi dengan perasaan sakit dan entah seperti apa lagi. Sementara Dimas merasa lega melihat kecemburuan Abi, setidaknya ia akan bisa dengan lapang dada menerima perjodohan yang sudah direncanakan ayahnya. Ia bisa tenang melepas Diandra hidup bersama dengan Abi.
Keduanya terus berbincang, sesekali Diandra melihat ke sekeliling. Karena sejujurnya sejak tadi ia mencari keberadaan Abi.
"Dimana papa mu sebenarnya. Sejak tadi menghilang". Gumam Diandra masih berusaha menemukan keberadaan Abi. Diandra segera menoleh ketika merasakan tepukan lembut dipundaknya.
" Dari mana aja sih?". Tanya Diandra sedikit sewot.
"Maaf..aku diluar tadi. Kamu asyik banget ngobrol sama temen kamu, makanya aku nggak mau ganggu". Abi berbucara seolah dia tidak mendengar apapun percakapan keduanya. Ini lebih baik daripada menunjukkan kemarahan didepan Diandra.
" Yasudahlah..kita pamit terus pulang". Abi mengangguk dan langsung merangkul pundak Diandra.
Meski kesal namun Diandra sudah lelah untuk sekedar melarang Abi menyentuhnya. Akhirnya Diandra membiarkan Abi memeluk pundaknya.
Diandra dan Abi datang menghampiri Naya dan memberikan ucapan selamat, sekaligus pamit undur diri untuk pulang ke kotanya. Pekerjaan Abi tidak bisa terlalu lama ditinggalkan sehingga mereka memutuskan untuk segera pulang.
"Apa kamu tidak menginap lagi?". Pertanyaan Naya membuat Diandra melotot. Bisa-bisanya pengantin baru meminta sahabatnya menginap saat malam pertama pernikahannya.
" Apa kamu tidak waras?". Bisik Diandra
"Memangnya kenapa? Tidak apa kan kak kalau Diandra menginap lagi?". Kini Naya menatap Al yang tampak canggung menjawab.
__ADS_1
" Tidak perlu, aku harus pulang. Mas Abi banyak pekerjaan Nay.." Diandra memberi kode agar Naya tak lagi memaksanya.
"Kamu mah nggak setia kawan". Bibir Naya mengerucut tak mengindahkan kode yang sudah diberikan Diandra.
" Astaga, dia polos atau apa sih? Bisa-bisanya memintaku menginap saat malam pertamanya. Dasar Kanaya". Diandra menggerutu namun hanya bisa didalam hati. Ia tersenyum kaku menatap Al yang menggaruk kepalanya melihat kelakuan Naya.
"Yasudah..aku pamit ya.." Dengan berat hati akhirnya Naya melepas kepulangan sahabatnya.
"Selamat nona Kanaya atas pernikahannya..selamat juga untuk anda pak Yohan. Semoga pernikahan kalian kekal sampai maut memisahkan". Ucapan Abi diamin kan oleh Naya dan juga Al.
" Terimakasih pak Abi..hati-hati dijalan". Abi dan Al berpelukan sebentar sebelum Abi dan Diandra benar-benar pergi meninggalkan kediaman keluarga Naya.
Abi tersenyum samar saat Diandra duduk disampingnya bersama Gaara. Betapa besar keinginan Abi untuk memeluk dan mencium istrinya itu. Namun semua hanya bisa ia pendam karena sikap dingin Diandra.
"Mau mampir membeli sesuatu dulu?". Tanya Abi memecah keheningan.
" Tidak". Sahut Diandra dingin seperti biasa.
"Baiklah.." Meski berkata demikian, Abi tetap membelokkan mobilnya ke tempat oleh-oleh. Tidak mungkin dirinya pulang tanpa membawa apapun untuk kedua orang tua dan mertuanya.
"Aku harus membeli sesuatu untuk mama dan mama Dita, Di. Tidak mungkin tidak membawakan mereka apapun". Abi langsung menjelaskan saat merasa Diandra menatap dirinya.
" Terserah".
"Turun yuk..panas disini". Ajak Abi
Meski enggan, Diandra turun san ikut masuk kedalam toko pusat oleh-oleh. Dan pada akhirnya, dirinya lah yang paling sibuk memilih. Dirinya tak bisa mencegah keinginannya untuk membeli banyak makanan dan juga beberapa aksesoris yang menurutnya lucu. Semarah apapun, dirinya tetap seorang perempuan yang akan kalap jika melihat hal-hal yang menarik perhatiannya apalagi jika berbelanja.
Abi yang sedang menggendong putranya hanya tersenyum melihat istrinya. Ia tahu betul jika Diandra sama seperti kebanyakan wanita yang suka berbelanja dan membeli oleh-oleh untuk orang-orang terkasihnya.
" Kamu masih sama Di..kamu masih Diandra yang aku kenal. Aku akan lebih berjuang untuk membuatmu kembali". Gumam Abi menatap Diandra yang terlihat bahagia.
"Sudah??". Tanya Abi saat Diandra menghampirinya.
" Udah..bayar yuk". Diandra seolah lupa dengan kemarahannya. Ia bahkan merangkul lengan Abi dengan begitu mesra.
Namun seolah tersadar dengan tindakannya, Diandra segera melepaskan tangannya. Wajahnya memerah karena malu, dan untuk mengalihkan rasa malunya, ia langsung mengambil alih tubuh Gaara dan memberikan trolly belanja nya pada Abi.
"Gaara sama mama yuk, biar papa kamu bayar". Abi terkekeh pelan melihat wajah merona Diandra. Ia mengantri di kasir untuk membayar barang belanjaan Diandra yang saat ini sudah kabur entah kemana.
Abi memberikan sebuah keresek berisi cemilan untuk Diandra, ia tahu Diandra orang yang suka nyemil ketika dalam kendaraan.
__ADS_1
" Buat ngemil sayang.." Abi tersenyum dan mengelus lembut pucuk kepala istrinya yang terdiam merasakan kehangatan atas apa yang dilakukan Abi.