
Keduanya terus melangkah dengan debaran jantung yang semakin bertambah cepat saat kaki keduanya semakin dekat dengan pintu utama yang terlihat menjulang tinggi itu.
"Gimana bisa Kara nggak bareng kamu? Sekarang dimana anak itu". Dari luar Kara mendengar suara Diandra yang terdengar panik.
"Mama malu, tante Naya sama Arkan nungguin itu anak sampe sore tapi malah kabur nggak tau kemana". Kara semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Baim.
"Kan Kara udah bilang nggak mau dijodohin. Mama ngotot sih pengen jodohin, kan jadi kabur si santen". Kara menatap Baim saat mendengar suara Raffa membelanya.
"Mama cariin yang terbaik loh, Raf. Arkan anak baik dan bertanggung jawab kok". Diandra tak mau kalah.
"Gimana ini kak?". Tanya Kara takut.
"Gapapa, kita masuk ya.." Kara enggan bergerak karena terlalu takut hanya dengan mendengar sedikit kemarahan Diandra.
"Ya kan terbaik versi mama. Belom tentu menurut Kara juga terbaik". Raffa kembali bersuara.
"Orang tua tu pilihin yang paling baik diantara yang terbaik, Raffa.." Diandra benar-benar tidak mau kalah.
"Kan belum tentu buat---" Ucapan Raffa menggantung saat mendengar seseorang mengucap salam.
"Assalamualaikum.." Baim mengucap salam. Membuat semua mata yang ada disana menatap padanya.
"Loh kakak, tumben kesini". Tanya Diandra heran, karena tidak biasanya Baim datang jika bukan hari nya menginap. Namun sedetik kemudian ia melihat sesosok gadis bersembunyi dibelakang tubuh Baim.
"Ini nih anaknya. Jadi kamu seharian ngumpet di rumah kakak kamu? Bisa-bisanya kabur pas calon suaminya mau pamit". Diandra langsung mengomel saat melihat Kara.
"Tapi Kara nggak mau ma". Rengek Kara menyembulkan sedikit kepalanya dibalik punggung Baim.
"Arkan itu baik, sayang. Kamu kenapa nggak mau". Tanya Diandra lembut. Ia menatap tautan tangan kedua anaknya yang sejak tadi tak sedikitpun terlepas. Bahkan sangat terlihat erat.
"Tapi Kara nggak suka. Kara nggak ngerasain apa-apa ke kak Arkan". Baim masih diam, membiarkan Kara mengeluarkan keluh kesahnya yang sudah gadis itu pendam beberapa waktu.
"Kenapa? Kalian bisa mengenal sedikit demi sedikit. Mama yakin kamu akan menyukai Arkan kalau sudah kenal". Tanya Diandra menatap intens pada dua anaknya.
"Sayang, Kara pasti capek. Biarkan dia ganti baju dulu, setidaknya biarkan dia membersihkan dirinya dulu". Abi yang baru bergabung menyentuh pundak istrinya lembut.
"Yaudah sana, lagian bentar lagi juga makan malam". Diandra beranjak, menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Udah sana.." Baim memberi kode agar Kara menuruti ucapan Diandra.
"Bersihkan dulu tubuhmu. Nanti kita bicarakan lagi setelah makan. Abangmu juga belum pulang". Abi menatap putrinya yang sejak tadi tidak sedikitpun beranjak dari sisi Baim.
"Udah sono..ntar keburu mama ngebahas kak Arkan lagi". Raffa ikur menimpali karena Kara hanya diam saja.
__ADS_1
Akhirnya dengan berat hati, Kara melepaskan tangannya dari Baim dan berjalan gontai menaiki satu persatu anak tangga menuju ke kamarnya.
"Ayo, sebelum mama kalian ngamuk". Bisik Abi pada Raffa dan Baim sambil terkekeh.
"Apa papa masih akan sehangat ini saat tahu perasaan Baim ke Kara? Sejujurnya Baim takut, pa. Sangat takut..Memiliki orang tua seperti papa dan mama adalah anugerah terbesar dalam hidup Baim. Limpahan kasih sayang yang kalian berikan benar-benar membuat Baim merasakan hangatnya keluarga. Maaf kalau nanti Baim akan menyakiti perasaan papa dan mama. Dan maafkan Baim, karena Baim juga tidak sanggup kalau harus melepaskan Kara".
"Ayo kak..kamu kena sembur mama lama-lama berdiri disitu". Suara Abi membuyarkan lamunan Baim.
"I-iya pa.." Baim segera berjalan cepat menghampiri papa dan adik angkatnya.
Abi merangkul hangat pundak Baim yang merasa semakin bersalah pada Abi. Sungguh ia tak bermaksud untuk menyakiti kedua orang tuanya, namun ia juga tidak bisa melepaskan Kara yang sudah lama menghuni hatinya.
Tak lama, Gaara pulang. Lelaki itu segera membersihkan dirinya dan bergabung dengan anggota keluaganya yang lain.
"Si santen mana sih? Lama banget. Kaga tau apa gue laper". Gerutu Raffa yang sudah gelisah di meja makan.
Makanan sudah tersaji semua, namun Kara masih juga belum menampakkan batang hidungnya.
"Susulin gih. Abang juga udah laper". Gaara menatap lapar hidangan diatas meja. Terlihat menggiurkan hingga perutnya terus berbunyi.
Baru saja Raffa beranjak, Kara sudah terlihat menuruni anak tangga dengan langkah pelan. Seolah gadis itu enggan untuk bergabung dengan anggota keluarga yang lain.
"Lama banget sih jalannya, gue ama abang udah kelaperan gara-gara nunggu elo". Sembur Raffa membuat Kara mendengus kesal.
"Heh, sesama doyan makan kaga usah banyak protes lo ya". Sambar Raffa cepat
Diandra dan Abi hanya bisa menggeleng melihat bagaimana ributnya Raffa dan Kara.
"Sudah..sudah. Bisa sampai subuh kalo kalian ribut terus". Lerai Abi yang melihat keduanya sudhah saling menghunuskan tatapan permusuhan.
"Makan yang banyak ya, sayang.." Diandra mengisi piring suami dan anak-anaknya sesuai selera mereka.
"Makasih ma.." Diandra tersenyum dan mengusap kepala Baim dengan lembut.
"Ya Allah, apa aku berdosa mencintai Kara. Apakah aku akan menyakiti malaikat ini nantinya. Tolong kuatkan aku.." Batin Baim menangis menatap Diandra yang sudah kembali duduk. Meski masih terlihat awet muda, namun Baim sadar jika sang mama kini sudah semakin bertambah umur.
"Kok bengong sih..ayo makan". Diandra menyadari jika sejak tadi Baim menatapnya.
"I-iya ma.." Baim memulai memakan makanannya. Meski sulit menelan makanannya, namun Baim berusaha menghabiskan makanan yang sebenarnya enak itu. Tapi karena perasaan bersalahnya, makanan lezat itu terasa hambar.
Seperti makan malam sebelumnya, makan malam kali inipun diisi dengan perdebatan Kara dan Raffa. Baim tersenyum menatap Raffa. Karena ia tahu, Raffa sengaja mencari gara-gara dengan Kara untuk mengalihkan kegugupan Kara yang sejak tadi jelas sangat terlihat.
Semua anggota keluarga kini berkumpul di ruang keluarga karena Diandra memiliki pengumuman yang membuat Kara maupun Baim was-was. Sebenarnya berkumpul setelah makan malam sudah menjadi rutinitas harian mereka, namun Diandra yang mengatakan akan membicarakan hal penting membuat Kara dan Baim tidak tenang.
__ADS_1
"Ada yang mau mama bicarain sama kalian semua". Semua anak Diandra menatap sang mama penasaran.
"Ada apa ma?". Tanya Gaara membuat Diandra menghela nafas dan menatap anak-anaknya secara bergantian.
"Mama sudah memutuskan..minggu depan Kara akan bertunangan dengan Arkan". Semua mata melebar mendengar ucapan Diandra.
"MA...!!" Seru semua orang bersamaan.
"Kenapa sih?". Tanya Diandra santai.
"Kara nggak mau!". Ucap Kara tegas
"Yaudah kalo gitu kakak aja yang mama jodohin ama Icha ya.." Mata Kara semakin melebar. Semakin ngawur saja mama nya ini.
"Mama..!!". Kara hampir berteriak karena ucapan mamanya yang terlampau santai itu.
"Kalian pilih.." Diandra duduk, melipat kedua tangannya didepan dada dan menyilangkan kakinya menatap Kara dan Baim bergantian dengan senyum miring.
"Mama kenapa sih?", Gaara menatap tak percaya pada sang mama. Kenapa mama nya berubah menjadi orang tua egois begini.
"Kenapa? Atau abang yang mau mama jodohin?". Gaara melongo tak percaya mendengar ucapan Diandra.
"Jangan ngawur, ma". Gaara mende sah frustasi. Ada apa dengan mama nya? Kenapa begitu ingin menjodohkan adiknya.
"Maaf ma..aku nggak bisa". Diandra menatap Baim yang akhirnya buka suara.
"Kenapa? Kakak juga seperti abang? Sudah punya kekasih?". Tanya Diandra membuat Baim mengangkat kepalanya. Menatap mata teduh sang mama yang selalu membuatnya damai.
Baim kemudian menatap Kara yang matanya sudah berkaca-kaca. Sungguh ia paling tidak bisa melihat kekasih hatinya itu menangis lagi. Sudah cukup beberapa waktu belakangan Kara selalu menangis dan bersedih perihal perjodohan yang Diandra bicarakan. Kini sudah saatnya ia menjadi lelaki yang sesungguhnya dan berkata jujur.
"Kakak?". Suara Diandra menyadarkan Baim yang kemudian kembali menatap sang mama.
"Ya..aku punya kekasih".
...\~\~\~β’β’β’\~\~\~...
Segini dulu ya..ternyata tangannya nggak sanggup ngetik lagiππ
Dilanjut besok lagi yaaa, kira-kira gimana nih reaksi mak Diandra? Aku mah takut kalo Baim ditolak..
Kalo Baim ditolak udah pasti aku babak belur dilempar panci ama temen-temennya si santenπ©π
Jangan lupa dukungannya ya..makasih yang masih setia baca cerita amburadul iniππ»ππ
__ADS_1