Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
Kenapa harus seperti ini


__ADS_3

Lain hal nya dengan Kara yang mendapat hukuman, beberapa waktu lalu Nala juga seperti seorang hakim didepan dua orang yang teramat ia kenal.


Beberapa bulan ini dirinya memang sudah menaruh curiga pada kakak dan sahabatnya yang sering menghilang disaat bersamaan. Namun ia tidak menduga jika hubungan keduanya sudah berjalan cukup jauh. Dan itu membuat Nala bahagia sekaligus kesal disaat yang bersamaan.


"Kita bisa jelasin kok, La". Jen yang duduk bersebelahan dengan Zayn tampak panik. Apalagi saat Nala memasang wajah sinisnya.


"Kita tuh.." Jen tidak melanjutkan ucapannya saat Nala mengangkat telapak tangannya. Meminta Jen untuk diam.


"Kenapa kamu yang sibuk jelasin sih. Ni orang adem ayem aja deh". Nala melirik kesal sang kakak yang masih diam dengan raut wajah tenang.


"Mas Zayn nggak mau ngomong apa-apa gitu ke aku?". Ucap Nala sambil memelototkan matanya pada kakak lelakinya itu.


"Emang mau ngomong apa?". Tanya Zayn berpura-pura tak paham dengan arah pembicaraan Nala.


"Maaas.." Rengek Nala dengan nada kesal sekaligus frustasi.


"Iya, Jen pacar aku.." Tegas, padat dan jelas. Membuat Jen melongo tak percaya dengan jawaban Zayn.


"Kak Zayn gimana sih. Kan udah aku bilang, rahasiain dulu aja sampe Nala tenang. Astaga". Batin Jen menjerit.


"Dia juga udah tau, Jen. Nggak usah diumpetin lagi". Zayn paham dengan arti tatapan kekasihnya. Membohongi adiknya tentang hubungan keduanya pun akan percuma. Karena ia tahu seperti apa adik perempuannya itu.


"Sejak kapan?". Tanya Nala menatap keduanya bergantian.


"I-itu..."


"Baru tiga bulan". Jen semakin melongo saja. Apa Zayn tidak bisa sedikit berbohong pada Nala? Bisa habis dirinya jika begini.


"Whaaat????!! Tiga bulan?!". Pekik Nala dengan sorot mata tak percaya dengan kepala menggeleng kuat.


"S-sorry La.." Lirih Jen dengan senyum penuh rasa bersalah.


"Kalian udah pacaran tiga bulan dan nggak ada yang ngasih tau aku?? Ck ck.." Nala berdecak kesal.


"Jen takut kamu nggak mau nerima dia. Makanya kita diem. Lagian kasian ama kamu, ntar takutnya kamu frustasi lagi. Kan kamu jomblo". Nala menjatuhkan rahangnya hingga membuat mulutnya terbuka saat mendengar ucapan super menyebalkan kakak lelakinya itu.


"What?? Apa tadi kata mas Zayn?".


"Frustasi?". Nala mengulangi kata-kata menyebalkan Zayn.

__ADS_1


"Seenaknya aja kalo ngomong..." Nala terus mengomel. Dan yang bisa dilakukan sepasang kekasih didepan Nala hanya pasrah saja mendengar semua ocehan dan omelan Nala.


Telinga Zayn sudah terasa panas, sudah hampir satu jam Nala mengomel ngalor ngidul terus menerus membahas perihal hubungan keduanya. Adiknya itu kadang terlihat sangat bahagia, namun kadang terlihat kesal karena tak diberitahu Zayn tentang hubungannya dengan Jen.


"Stop!". Zayn mengangkat telapak tangannya saat sudah tak sanggup mendengar ocehan adiknya.


"Aku belum selesai ya mas". Nala bersikukuh jika acara marahnya belum selesai.


"Udah hampir satu jam, dek. Dan kamu bilang masih belum? Nggak lihat apa kuping aku udah merah denger ocehan kamu dari tadi". Zayn memperlihatkan telinganya yang ternyata sama saja. Tak ada yang berubah.


Nala mencebik kesal, menarik jus berwarna merah didepannya dan langsung meneguknya tanpa sisa. Ia baru sadar jika sudah terlalu lama mengoceh hingga membuat tenggorokannya kering.


"Apaan lagi?". Tanya Zayn saat melihat adiknya menengadahkan tangan didepannya.


"Nggak ada yang gratis didunia ini mas. Pajaknya mana", Nala menggerakkan tangannya yang membuat Zayn mendengus.


Adiknya ini memang tak bisa melewatkan sedikitpun kesempatan yang bisa menguntungkan dia.


"Yes. Ayo Jen, kita kuras duit mas Zayn". Nala bangkit dengan semangat dan menarik tangan Jen yang terlihat syok.


Ternyata ketakutannya tidak terjadi, Nala tidak marah padanya. Tidak juga membencinya karena statusnya sebagai kekasih kakaknya.


"Marah? Kenapa marah?". Nala balik bertanya dengan alis berkerut.


"Karna kita..." Jen melirik Zayn yang duduk tenang dengan seulas senyum. Ternyata kekasihnya belum benar-benar mengenal adiknya.


"Ya ampun Jen. Nggak mungkin lah aku marah, aku malah berterimakasih sama kamu. Bisa luluhin hati pangeran batu itu". Nala terkekeh melirik Zayn yang mendelik ke arahnya.


"Hah?". Jen melongo tak percaya.


"Udah jangan hah heh aja terus, ayo kita kuras isi kartu mas Zayn". Jen tampak ragu, menatap kekasih hatinya yang mengangguk pelan dengan seulas senyum membuat Jen ikut tersenyum.


"Geli banget sih kalian berdua. Mesem-mesem sendiri nggak jelas". Dan akhirnya siang itu, Nala benar-benar menguras isi kartu kakaknya dengan berbelanja aneka macam pakaian dan sepatu.


Zayn hanya bisa pasrah saat Nala memaksa dirinya untuk menjadi pengawal bagi Nala dan Jen.


"Nala,." Nala menghentikan langkahnya saat didepannya ada sosok yang belakangan ini berusaha ia hindari.


"Haikal?". Lelaki yang dipanggil Haikal itu menoleh, terlalu fokus dengan Nala membuatnya tak menyadari sosok lain disana.

__ADS_1


"Zayn? Astaga..lama nggak ketemu. Gimana kabarnya?", Lelaki bernama Haikal itu berjabat tangan dan saling merangkul sesaat dengan Zayn.


"Alhamdulillah, kabarku baik. Bagaimana kabarmu? Dan bagaimana kabar Nia?". Air muka Haikal berubah saat Zayn menyebut nama Nia. Wanita yang berstatus istri Haikal.


Zayn menyadari perubahan wajah Haikal, ia melirik adiknya yang wajahnya juga terlihat tak bersahabat. Kini otaknya dipaksa berfikir tentang apa yang terjadi pada adik dan sahabat baiknya ini.


Bukankah dulu Nala menganggap Haikal sama seperti dirinya? Lalu kenapa sekarang terlihat tidak nyaman saat bertemu dengan Haikal. Atau mungkin terjadi sesuatu di kampus yang Zayn tidak tahu? Mengingat bahwa Haikal adalah dosen di kampus tempat Nala menimba ilmu saat ini.


"Ah Nia, dia baik-baik aja". Tak ingin membuat Zayn semakin curiga, Haikal segera menjawab. Matanya tak lepas menatap Nala yang terlihat enggan membalas tatapannya.


"Mas Zayn, aku sama Jen mau kesana ya". Pamit Nala pada sang kakak yang semakin terlihat curiga.


"Pak Haikal, saya duluan. Mari.." Nala menundukkan sedikit kepalanya pada lelaki muda yang tak lain adalah sahabat kakaknya yang sekaligus dosen dikampusnya.


Zayn semakin yakin jika terjadi sesuatu diantara keduanya. Pertemuan terakhir mereka, Nala masih terlihat ramah. Dan apa tadi? Sejak kapan Nala memanggil Haikal dengan sebutan 'pak' saat berada diluar kampus?


Zayn terus berperang dengan pikirannya. Berusaha menebak dan menerka apa yang telah terjadi antara keduanya hingga sikap Nala berubah acuh dan sedikit menjaga jarak dengan Haikal.


Nala menarik Jen menjauh dari Haikal dan Zayn yang sama-sama menatap punggung Nala yang kian menjauh.


"Apa terjadi sesuatu yang tidak aku tahu?". Haikal menoleh, wajahnya menunjukkan reaksi aneh yang tertangkap oleh mata Zayn.


"Maksudmu?". Haikal berusaha tenang saat membalikkan pertanyaan.


"Tidak ada. Lupakan". Zayn tersenyum tenang.


"Aku harus pergi. Atau adikku itu akan benar-benar menguras semua tabunganku. Sampai bertemu lagi". Zayn menepuk pelan pundak temannya dan berlalu tanpa menunggu reaksi Haikal.


"Kenapa harus begini, Nala".


...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...


Hollaaa semua..apa kabar readers kesayangan?? Semoga selalu sehat..aamiin🤲🏻🤲🏻


Beberapa part abis ini nanti bakal diisi dengan konfliknya Nala, konflik yang Nala dapet setelah pergi dari Gaara dulu ya..


Semoga nggak bosen karena ceritanya muter kanan kiri nggak kelar-kelar😁


Happy reading semuaaah💋💋

__ADS_1


__ADS_2