Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
pingsan


__ADS_3

Sepanjang acara berlangsung, tak sedikitpun Gaara melepaskan pandangannya dari Nala. Semua yang gadis itu lakukan tak ada sedikitpun yang terlewat.


Bahkan ia tak mendengar dan tak memperhatikan bagaimana berjalannya acara ijab qabul adiknya lantaran matanya tak bisa berpaling dari Nala yang selalu memasang senyum terbaiknya pada lelaki yang terus ditempel oleh Nala.


Hatinya semakin terasa panas terbakar melihat interaksi Nala dan Zayn. Terlihat sekali Zayn sangat menyayangi Nala. Bahkan lelaki tampan yang tidak diakui ketampanannya oleh Gaara itu tak segan mengusap bekas makanan yang menempel disudut bibir Nala.


Semakin terasa panas saja ruangan tempatnya berpijak saat ini. Dan bukan Nala tidak menyadari jika sejak tadi ada sosok yang memperhatikannya. Ia hanya berusaha tidak peduli dan menghindari kontak mata dengan lelaki itu.


"Kakak kerasa panas nggak sih?". Tanya Kara memancing keributan. Karena jujur, ia senang melihat Gaara yang tak melepaskan tatapannya dari Nala yang duduk beberapa kursi didepan mereka.


"Panas?". Tanya Baim yang belum melihat kode mata sang kekasih.


"Ini aku ngerasa panas banget deh kak.." Ucap Kara pelan tapi masih bisa mendengar dengan jelas ucapan adiknya.


Gaara mendengus mendengar sindiran adiknya. Ia bukan lelaki bodoh yang tidak memahami kemana arah pembicaraan adiknya itu. Bagaimana mungkin ruangan penuh ac yang terasa dingin ini dikatakan panas oleh si santen sachet.


"Masa sih sayang?". Kara ingin sekali memukul kepala kekasihnya itu. Bagaimana mungkin lelaki itu tak kunjung paham kode matanya.


"Kaga usah nyindir deh. Mau abang cubit ginjalnya?". Kara terkikik, rupanya Gaara peka juga dengan semua sindirannya.


"Gandengannya Nala ganteng banget kan, bang?". Tanya Kara


"Biasa aja, gantengan abang kemana-mana". Ketus Gaara membuat Kara hampir tertawa lepas jika Baim tidak mengingatkan dimana mereka saat ini.


"Dih, diliat dari mana juga gantengan mas Zayn lah". Semakin senang saja Kara membuat kakak tersayangnya kepanasan.


"Jadi namanya Zayn?". Batin Gaara


"Iya kan kak?". Baim yang hendak mengangguk mengurungkan niatannya melihat tatapan Gaara yang setajam mata pisau.


"Liat kak..ya ampun. So sweet banget kan kak. Mas Zayn emang pria impian deh". Bibir Kara tak hentinya memuji Zayn. Baik penampilan maupun perbuatannya pada Nala.


Kara semakin bersemangat melihat Zayn yang terlihat sangat menyayangi Nala. Bahkan beberapa kali mengusap kepala Nala dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Zayn dewasa banget ya, sayang. Keliatan banget kalo dia sayang banget sama Nala". Baim akui, kedua kakak beradik itu memang terlihat sangat saling menyayangi.


Jadi seandainya Gaara salah paham pun ia memaklumi. Karena keduanya memang lebih terlihat seperti sepasang kekasih yang saling melengkapi.


"Iih bukan lagi kak. Liat deh gimana perhatiannya ke Nala. Ya pantes aja Nala nyaman.." Dasar bibir si santen, emang udah sinkron sama otaknya. Bakar teroooss sampe si abang mendidih.


"Liat kak..mukanya juga mirip kan. Katanya sih kalo mirip berarti jodoh kak". Kara melirik Gaara yang semakin cemberut.


"Mirip darimana nya. Orang buta yang bilang mirip". Kesal Gaara membuat Kara segera memalingkan wajah menyembunyikan senyumannya.


"Ssst..udah sayang. Kamu nggak liat itu udah ngebul". Bisik Baim yang melihat aura Gaara semakin menggelap.


"Seru tau. Biar tau rasa, abang jadi ngerasain dulu Nala gimana". Balas Kara ikut berbisik.


Tak bisa lagi menahan kekesalan, Gaara memilih meninggalkan ruangan pesta yang masih penuh dengan tamu undangan.


Gaara duduk di sudut ruangan besar itu, dekat dengan kolam ikan yang penuh dengan ikan-ikan hias. Menatap ikan-ikan yang berenang kesana kemari. Seolah tanpa beban, tak seperti dirinya saat ini.


"La, tenang dulu dong.."


"Mas Zayn, Ra".


"Mas..bangun". Nala menepuk pelan pipi sang kakak yang tiba-tiba tak sadarkan diri.


Beberapa tamu undangan yang mengerubungi diminta menjauh oleh Baim. Ia pun bergegas hendak mengangkat tubuh Zayn, namun sepertinya ia tak akan kuat.


"Ga, bantuin". Ucap Baim yang melihat Gaara justru mematung menatap Nala yang menangis.


"Abang!". Sentak Kara yang melihat Gaara masih mematung.


"Astaga". Geram Kara yang kesal karena Gaara justru mematung.


"Abang..tolong". Suara yang amat ia rindukan menyapa telinganya hingga membuatnya tersadar dari rasa terkejutnya.

__ADS_1


"Cepetan!". Sentak Kara tak sabar hingga membuat Gaara segera membantu Baim mengangkat tubuh Zayn.


Nala terus menangis, memangku kepala sang kakak dan terus mengelusnya. Gaara hanya fokus pada kemudinya dan sesekali melirik ke belakang. Hatinya pun merasa sakit melihat dan mendengar tangisan Nala.


Sementara Kara dan Baim tengah mengkondisikan acara pesta pernikahan saudara kembarnya yang sempat heboh karena pingsannya Zayn. Ia dan Baim akan menyusul ke rumah sakit nanti saat urusannya dirumah istri Raffa selesai.


"Mas..bangun. Jangan bikin aku takut mas.." Ucap Nala dengan suara serak karena tangisan yang belum juga bisa ia hentikan. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada sang kakak.


"Maafin aku mas..harusnya kita nggak usah dateng". Ucap Nala penuh penyesalan. Lantaran pagi tadi Zayn sempat mengeluh pusing padanya. Namun lelaki itu tetap memaksa mengantarkan dirinya ke acara pernikahan Raffa dan Delisha.


Gaara terus memacu mobilnya ke rumah sakit terdekat. Dan sepanjang perjalanan Nala tak berhenti menangis, membuat Gaara seolah ikut merasakan sakit ketika melihat Nala menangis.


Dengan kesusahan Nala mengikuti brangkar yang tengah didorong oleh beberapa perawat yang menampung tubuh kakaknya. Ia terus menangis sementara Gaara mengikuti langkah Nala yang kepayahan karena kain yang ia kenakan.


Nala menghempaskan tubuhnya saat pintu ruang periksa IGD tertutup. Ia duduk dengan tangisan yang belum juga reda. Menutup wajah dengan kedua telapak tangannya untuk menutupi wajah bersimbah air matanya.


Gaara menatap sendu Nala, sebegitu besarnya rasa cinta gadis itu pada lelaki bernama Zayn itu. Mungkinkah ia memang sudah tak memiliki makna dihati gadis cantik itu.


Melihat Nala terus menangis membuat Gaara tak tega dan akhirnya ikut duduk disamping gadis itu. Dengan ragu, tangannya perlahan terulur menepuk pundak Nala pelan untuk menenangkan gadis yang masih menangis itu.


Namun diluar dugaan Gaara, Nala menabrak dada bidangnya dan menangis sambil memeluknya. hmmm..si kuman bisa ae cari-cari kesempatan😌😂


"Abaang.." Panggilan itu begitu Gaara rindukan. Terasa berbeda saat Nala yang mengucapkannya.


"Mas Zayn.." Nala kembali menangis sesenggukan.


"Ssst..tenang. Dia pasti baik-baik aja". Perlahan tangan Gaara membalas pelukan Nala. Pelukan yang dulu bisa setiap hari ia rasakan namun sudah satu tahun lebih tak lagi ia rasakan.


Gaara terus mencoba menenangkan Nala yang tak kunjung menghentikan tangisannya. Membuat hati Gaara ngilu karena melihat wajah sembab gadis yang baru ia sadari telah menjadi pusat dunianya saat gadis itu telah pergi jauh.


...¥¥¥•••¥¥¥...


Lanjutin bang salah pahamnya, biar si santen ama readers seneng liat si abang keder sendiri😂😂

__ADS_1


__ADS_2