Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
surat


__ADS_3

"Aku harap kalian bisa menyerahkan Gaara padaku. Atau maaf, aku terpaksa mengambil paksa dia dari kalian". Gaara menatap Abram dengan tajam. Ia tahu apa maksud ucapan lelaki itu karena sejujurnya sejak tadi ia sudah menguping pembicaraan orang-orang dewasa itu.


"Pergiii!!!". Teriak Diandra tak mau lagi mendengar ucapan Abram.


"Aku menunggu kabar baik dari kalian. Aku harap kita tidak perlu bertemu di pengadilan". Abi semakin tajam menatap Abram.


"Enyahlah!!". Abi yang geram akhirnya menyeret Abram keluar dan menghempaskan tubuh Abram hingga terhuyung.


"Enyah dari kehidupan kami dan jangan pernah kembali!!! Anggap kau tidak pernah mengenal kami sama seperti selama ini yang kau lakukan, s*alan!!". Abi meninggalkan Abram yang masih berdiri mematung didepan rumah Abi.


"Tunggu!". Abram yang baru saja membalikkan tubuh kembali berbalik. Matanya menatap sendu darah dagingnya yang kini justru menatap sengit dirinya.


"Gaara.." Lirih Abram, ingin rasanya ia membawa anak itu kedalam pelukannya.


"Maaf sebelumnya..saya tidak mengenal anda. Dan tidak ingin mengenal anda lebih jauh. Bagi saya, siapapun orang yang menyakiti mamaku adalah musuhku". Dada Abram terasa sakit, bagai ada tombak tajam yang menancap sempurna dijantungnya.


"Tapi nak.." Gaara sudah mengangkat tangannya bahkan sebelum Abram selesai dengan kalimatnya. Anggaplah Gaara tidak sopan, tapi baginya, siapapun yang sudah menyakiti malaikatnya adalah musuh baginya. Tak perlu sopan santun atau apapun itu saat menghadapinya.


"Saya peringatkan. Jauhi keluarga kami karena kami sudah sangat bahagia. Jangan rusak kebahagiaan kami dengan alasan apapun dan jangan pernah lagi muncul dihadapan mamaku. Karena kemunculan anda benar-benar menjadi luka bagi mama". Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Abram. Ia hanya menatap putranya itu dalam diam dengan perasaan sakit.


Kesalahannya memang terlalu besar, wajar jika putra kandungnya saja sangat membenci dirinya. Dan ia sadar akan hal itu.


"Jadi saya mohon..jauhi keluarga kami". Gaara meninggalkan Abram begitu saja tanpa mendengar apa yang lelaki itu ingin katakan.


"Ayo pa, kita temenin mama". Ajak Gaara pada Abi yang masih berdiri menatapnya bangga.


"Masuklah dulu, tenangkan mama". Gaara mengangguk, kini ia benar-benar meninggalkan halaman rumahnya. Meninggalkan Abram yang masih menatap punggungnya yang semakin menjauh.


"Anda sudah mendengarnya sendiri bukan, Tuan Abraham? Jangan membuatnya semakin membencimu karna bagiku kau tetap orang asing. Jangan pernah berpikir untuk mengambil putraku, karena sampai kapanpun Gaara adalah putraku dan Diandra". Abi menutup pintu dengan kencang membuat Abram sedikit terlonjak.


"Maaf.." Gumamnya lalu berlalu pergi dari rumah Abi.


"Mama.." Gaara berlari dan langsung memeluk sang mama yang sudah lebih dulu dipeluk oleh Baim.


"Kalian kembali lah ke kamar. Biar mama, papa yang urus". Keduanya menatap Abi, berat meninggalkan sang mama yang terlihat masih syok.

__ADS_1


"Siapa orang tadi pa?". Tanya Gaara tanpa menjawab ucapan sang papa.


Diandra menatap Abi, ia menggeleng kuat meminta Abi untuk tetap diam dan tidak mengatakan siapa lelaki yang baru saja pergi.


"Dia papaku?".


"Apa dia orangnya?". Abi dan Diandra bungkam. Namun tangisan Diandra yang semakin terdengar pilu sudah menjadi jawaban yang jelas bagi Gaara.


"Aku rasa iya.." Gaara tersenyum sedih membuat Diandra semakin kesulitan menahan tangisannya.


"Sayang..." Lirih Diandra yang berderai air mata.


"Kenapa mama menangis?". Gaara mengusap lembut pipi sang ibu.


"Aku disini, bersama mama dan papa. Aku tidak akan kemana-mana, ma. Lalu apa yang mama takutkan sampai menangis seperti ini?Jangan menangis ma..ini menyakitkan buat abang". Bukannya berhenti, air mata Diandra justru semakin deras mengalir.


"Mama selalu ada buat abang..mama juga sayang sama abang dari dulu". Gaara terus menghapus air mata yang tak henti mengalir dari mata sang mama.


"Abang nggak peduli siapa mama dan papa kandung abang. Abang nggak peduli darah siapa yang saat ini mengalir dalam tubuh abang. Yang abang tahu, abang cuma punya mama sebagai ibu dan papa sebagai ayah. Apa itu nggak cukup buat mama tenang? Abang nggak akan kemana-mana ma.." Diandra menangis meraung, memeluk erat Gaara seolah enggan melepasnya.


Baim? Jangan tanyakan lagi, anak itu sudah menangis sesenggukan sedari tadi. Rupanya memang keduanya tak benar-benar kembali ke kamar. Sehingga keduanya mendengar apa saja pembicaraan kedua orang tuanya dan lelaki asing yang kini mereka ketahui sebagai ayah biologis Gaara.


"Abang tahu..abang tahu kalo mama sayang sama abang sama seperti darah daging mama". Diandra menciumi pucuk kepala putranya.


"Papa tidak akan membiarkan siapapun memisahkan kalian. Tidak ada yang perlu ditakutkan". Abi membawa Baim dan kemudian memeluk istri dan anak-anaknya.


Beruntung sekali hari ini si kembar biang rusuh sedang menginap dirumah kakek neneknya. Entah akan seheboh apa jika kedua bocah itu berada dirumah dan menyaksikan ibunya histeris seperti tadi.


Beberapa bulan berlalu, Abram tidak pernah lagi datang menemui meski Diandra tak pernah menyadari jika lelaki itu terus memantau putranya dari jauh.


"Sekarang sudah waktunya aku mengambil anakku. Maafkan aku Di..tapi aku butuh pewaris untuk keluargaku". Abram menatap Diandra yang tersenyum melambaikan tangannya pada Gaara dan Baim yang langsung berlari memeluknya.


Meski kini sudah duduk dikelas 6, Gaara dan Baim tidak malu menunjukkan sikap manja nya pada Diandra meski itu di area sekolah.


"Kita pulang ya.." Ajak Diandra dijawab anggukan kepala oleh kedua anaknya.

__ADS_1


"Si santen nggak ikut ma?". Tanya Gaara melirik kedalam mobil sang ibu.


"Ish..abang kebiasaan deh manggil Kara, santen". Omel Diandra membuat Gaara tergelak.


"Tau kamu, adek sendiri dipanggil santen". Timpal Baim ikut mengomeli.


"Adik kamu lagi sibuk dirumah, pamer kalo udah kelas 1 SD dia. Semua dipamerin". Gaara dan Baim tertawa, sudah mereka bayangkan seperti apa menyebalkannya Kara saat menyombongkan diri dengan seragam putih merah.


Ketiganya lantas masuk kedalam mobil, Diandra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil bersenda gurau dengan kedua anaknya. Mereka melupakan jika pernah ada lelaki asing datang ke rumah mereka untuk mengambil Gaara.


Sampai dirumah, Gaara dan Baim sudah disambut oleh adik cantiknya yang masih belum melepas seragam sekolahnya.


"Astaga". Gumam Gaara dan Baim bersamaan.


"Kakak, Abang. Aku cantik kan pake seragam ini". Si bungsu berputar-putar sambil mengibaskan rambutnya. Benar-benar centil, pikir kedua kakaknya.


"Kamu nggak ganti baju?" Tanya Gaara


"Abang sama kakak kan belum lihat". Ucapnya polos


"Astaga, Kara santen sachet. Kan tadi pagi abang sama kak Baim udah puas liatnya. Di sekolah juga abang liat". Gaara yang gemas mengacak rambut adiknya hingga si pemilik rambut mulai mengamuk.


"Mama!! Abang nakal! Aku dipanggil santen". Adu si bungsu dengan wajah cemberut.


"Di.." Kedatangan mama Ana membuat semua menatapnya. Mertua Diandra itu datang dengan sebuah amplop coklat ditangannya.


"Kalian bersih-bersih dulu ya. Oma mau ngomong sama mama". Diandra menatap mama mertuanya, perasaannya mulai tak nyaman.


"Ada apa ma?". Tanya Diandra saat anak-anaknya sudah menghilang dari pandangannya.


"Apa ini ma?". Tanya Diandra sambil menerima amplop coklat yang sedari tadi mama Ana pegang.


"Pengadilan?". Gumam Diandra. Semakin tak nyaman saja perasaannya.


"Ap-apa? Apa-apaan ini?". Tangan Diandra bergetar membaca surat yang ia terima.

__ADS_1


__ADS_2