
*Masih flashback yaa**☺️*
Masuk ke dalam mobil yang akan di kendarai Baim, Diandra langsung mencecar Kara dengan berbagai pertanyaan.
"Sekarang bilang sama mama. Ada apa sebenernya?". Tanya Diandra yang masih sangat penasaran.
"Mama tahu kan kalo kuman udah balik". Diandra mengangguk. Pasalnya gadis manis yang dulu ia gadang akan menjadi menantunya itu sudah menemui dirinya dan sang suami beberapa hari setelah kepulangannya ke kota ini.
"Terus apa hubungannya??", Diandra tak paham.
"Tadi di mall, aku sama Nala ketemu sama laki-laki. Nggak tau siapa namanya.."
"Terus?". Kara mencebik, sepertinya sikap tak sabarannya itu menurun dari sang ibu.
"Nabrak ma kalo terus terus.." Diandra berdecak kesal. Bisa-bisanya si santen bercanda saat ia serius mendengarkan.
"Iya iya...nggak sabaran banget". Kara melanjutkan ceritanya. Menceritakan apa yang Nick ceritakan. Hal apa yang Nala alami akibat laki-laki yang jujur Kara lupa menanyakan namanya.
"Astagfirullah..kasian banget Nala". Diandra membekap mulutnya. Tak menyangka Nala mengalami hal sesulit itu karena cinta dari seorang pria.
"Ya makanya kita harus bantu Nala ma.." Diandra mengangguk setuju.
"Nala tuh pindah kesini, salah satu alasannya buat menghindari laki-laki beristri itu ma"
"Jadi mama mau bantu Nala kan??", Diandra kembali mengangguk.
"Mau dong. Nala udah kaya anak mama sendiri.." Kara tersenyum puas.
"Tapi cara bantu nya gimana, Ra?". Kara tersenyum penuh arti.
"Nikahin Nala sama Gaara, ma". Baim yang sedari diam ikut angkat suara. Padahal Kara belum mengatakan apa isi pikirannya.
"Kakak hebat.." Kara mengacungkan dua jempolnya. Lelakinya itu memang paling mengerti dirinya.
"Nikahin Nala sama abang kamu gimana sih?", Diandra tak mengerti.
"Ya biar laki-laki itu nggak ngejar Nala, harus ada yang udah milikin Nala ma". Jelas Kara
"Iya mama tahu..mama paham. Tapi gimana ceritanya bisa langsung nikahin Nala sama Gaara?".
"Belum tentu juga Nala mau. Kamu nggak lupa kan gimana dulu abang kamu perlakuin Nala". Kara mengangguk paham. Ia juga sependapat dengan sang mama.
Tapi dengan rencana yang ia susun bersama sang asisten koplak, Kara yakin jika kedua orang yang sebenarnya masih saling cinta namun bingung dengan perasaannya itu akan menuruti perintah Diandra nantinya.
__ADS_1
"Pasti mau ma". Kara berkata dengan keyakinan penuh.
"Ck..nggak usah terlalu yakin", Cibir Diandra. Ia belum tahu jika Nala dibawa Gaara ke apartemennya.
"Pasti mau ma..semua tergantung mama".
"Mama??". Beo Diandra dan dijawab anggukan kepala oleh Kara.
"Berdasarkan info dari Nick.."
"Asisten abangmu?". Tanya Diandra dan Kara mengangguk
"Tadi abis abang gelut ama itu laki, Nala dibawa pergi. Kata Nick, sekarang abang sama Nala ada diapart nya abang". Jelas Kara
"Terus kamu mau mama ngapain??". Tanya Diandra membuat Kara mendengus. Kenapa mama nya tidak peka.
"Ck..mama gimana sih". Kesal Kara membuat Baim justru terkekeh.
"To the point aja sayang.." Ucap Baim
"Nanti kita gerebek mereka ma..Terus mama paksa abang nikahin Nala". Mata Diandra melebar. Bagaimana mungkin ia memaksa anak gadis orang menikah dengan putranya? Meski ia sangat ingin Nala jadi menantunya, tapi ia tak mau memaksa.
"Nggak bisa dong, Ra..itu namanya pemaksaan. Mama nggak mau". Tolak Diandra.
"Abang tuh cinta banget sekarang sama Nala ma..dari dulu juga cinta sih. Cuma dulu otak nya agak bermasalah. Kabelnya belum nyambung". Ucap Kara kesal
Kalau saja dulu kakaknya itu cepat menyadari perasaannya pada Nala. Semua kejadian memusingkan ini tak perlu terjadi.
"Emang mama mau..abang jadi bujang seumur hidup",
"Amit-amit. Lengkara, kamu kalo ngomong suka nggak disaring deh ah.." Omel Diandra
"Atau mama mau, abang balik sama jelangkung yang ada dikantor nya abang??? Kara sih nggak mau punya kakak ipar model perempuan itu". Diandra langsung menggeleng cepat.
"Kamu kira mama mau? Mama juga nggak mau". Baim menghela nafas pelan, kedua wanita kesayangannya memang wanita istimewa. Pembahasannya selalu melebar kemana-mana dan menyimpang jauh dari pokok pembahasannya.
"Ya makanya mama harus mau. Aku sih yakin, abang pasti nyosor terus ke Nala". Cibir Kara yang pernah sekali melihat kakaknya itu mencium Nala padahal sahabatnya sudah menolak.
"Tapi Ra..." Diandra terlihat ragu. Ia takut jika keputusannya untuk memaksa keduanya menikah justru akan menyakiti keduanya terutama Nala.
"Okey, kita lihat dulu. Kalo abang terus nempelin Nala, mama harus bikin abang nikahin Nala". Akhirnya dengan segala bujuk rayu dari mulut manis si santen yang gurih itu, Diandra mau mengikuti rencana putrinya. Ia terus mengatakan pada hatinya jika ini untuk kebaikan putranya dan juga Nala.
Dan disinilah mereka sekarang. Didepan pintu apartemen Gaara yang sudah dibuka sedikit oleh si asisten tak berakhlak. Rupanya Nick sudah lebih dulu sampai.
__ADS_1
"Lagi apa mereka?". Tanya Diandra berbisik.
"Baru selesai makan bu.." Nick pun memelankan suaranya.
"Tuh ma..lihat kan. Abang nyosor terus.." Si kompor terus beraksi.
"Sorry La..gue cuma mau lo bahagia. Dan gue tau kalo abang kebahagiaan elo. Karna gue juga nggak rela elo sama laki-laki gila tadi". Batin Kara
"Tuh ma...ngapain tuh ma si abang???". Mereka tak terlalu mendengar percakapan Nala dan Gaara. Namun bahasa tubuh Gaara sudah cukup meyakinkan Diandra jika rencana Kara memang sudah tepat.
Diandra tak mau ada Deanita kedua. Hamil karena lelaki yang dicintai lalu dicampakkan setelah mendapatkan apa yang pria itu inginkan.
Diandra membuka pintu apartemen yang memang tak sepenuhnya tertutup itu lalu berteriak keras hingga dua makhluk yang sebenarnya tidak melakukan apapun itu terlonjak kaget.
Sementara didepan pintu, ada Kara, Baim serta Nick yang setia menguping setiap percakapan Diandra dan Nala serta Gaara.
Nick dan Kara melakukan tos saat mendengar Diandra mengeluarkan perintah pada Gaara untuk bertanggung jawab dan menikahi Nala.
Sungguh bukan hanya Kara, namun Nick juga lega. Karena sejujurnya ia melakukan ini karena ia juga tahu betapa besar cinta si bos pada Nala, pun sebaliknya.
Melihat bagaimana Nala khawatir pada bosnya, Nick sudah bisa membaca jika sesungguhnya keduanya memang masih sangat saling mencintai.
Hanya saja mungkin Nala terlalu takut untuk memberi kesempatan dan berharap pada Gaara. Dan Nick cukup memahami itu sebenarnya.
Ia tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk mempersatukan Gaara dan Nala saat tadi ia melihat Haikal. Haikal tipe lelaki nekat yang pantang menyerah.
Jika batu saja bisa berlubang jika terus terkena tetesan air, apalagi hati manusia yang selalu diberi perhatian dan curahan cinta. Tidak menutup kemungkinan lama kelamaan Nala akan luluh pada sikap Haikal. Untuk itulah, Nick melancarkan jurus jitunya. Yaitu mengajak si kompor, santen sachet untuk bekerja sama membuat kedua manusia didalam sana bersama kembali.
*abis deh flashbacknya**😄*
...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...
Hollaaaaa...pakabar semua?? Sehat ya?? Tambah sehat dapet vitamin pagi ini ya..semoga☺️
hah, lega nya punya asisten yang walaupun rada sengklek tapi pengertian. Punya adek yang walaupun nggak ada akhlaknya tetep baik banget...
Makasih ya santen sachet sama Nick..lopelope sekebon deh ama kalian😂😂😂
Cepetin jangan nih nikahinnya???🙄🤔
Jangan ah, keburu end kalo cepet-cepet😂😂 becanda deng..kita ikuti alur aja lah ya..oke👍🏻👍🏻
Yang penting jangan lupa, tampol like, koment sama vote nya ya☺️☺️
__ADS_1
sarange sakebon kalian semuaaa💋💋🥰🥰💐💐