
Sudah beberapa hari berlalu sejak Abi menceritakan perihal dirinya dan Dea bisa menikah. Sejak saat itu pula lelaki jangkung itu tak pulang ke rumah. Bukan karena tidak merindukan anak dan istrinya, namun ia takut akan kembali memaksa Diandra hidup bersama dirinya jika melihat wajah istrinya itu.
Sejak saat itu pula ia tinggal di apartemen nya, saksi bisu tragedi malam naas yang membuatnya dan Dea menghianati Diandra.
Suasana dikantornya pun terasa semakin mencekam, selama ini Abi terkenal tegas dan dingin. Namun sejak beberapa hari lalu, keadaan kantor bagaikan rumah hantu bagi para pegawainya. Bagaimana tidak, big bos nya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Hingga banyak karyawan yang kena imbas dari masalah pribadinya itu.
"Kamu bisa kerja tidak sebenarnya hah!!! Laporan seperti ini saja kamu melakukan kesalahan!!". Lelaki yang tengah berdiri didepan Abi hanya bisa menunduk takut melihat kemarahan bos nya itu.
Sementara diluar ruangannya, Alvin dan Tiara hanya bisa saling pandang. Keduanya pun tak lepas dari amukan Abi. Sudah beberapa kali dalam beberapa hari ini keduanya kena semprot atasan sekaligus sahabatnya itu.
" Si Abi kenapa sih Vin? Masalahnya kan nggak segitunya. Dia ngamuk udah kaya perusahaan rugi miliaran aja". Ucap Tiara karena mendengar makian dan teriakan Abi.
"PMS kali tu orang. Stres gue lama-lama. Tinggal balik kerumah peluk bininya kelar kan ya. Ini amuk-amukan dikantor. Dasar sableng tu bos". Gerutu Alvin yang baru saja kena semprot Abi.
" Periksa kembali laporanmu sebelum diserahkan! Saya tidak mau terjadi kesalahan sekecil apapun!".
"B-baik pak. Saya permisi". Lelaki yang menjabat sebagai manager keuangan itu segera berjalan cepat keluar dari ruangan atasannya yang belakangan ini seperti singa mengamuk.
Abi memijit pelipisnya yang terasa pening. Sudah sejak ia pergi dari rumah beberapa hari lalu, ia kesulitan mengontrol emosinya. Rasa rindu sekaligus rasa bersalah pada istrinya membuatnya sering lepas kontrol dan memaki siapa saja yang melakukan kesalahan, bahkan sekecil apapun.
Pintu ruangannya terbuka dari luar tanpa sebuah ketukan. Hanya Alvin dan Tiara yang berani melakukannya, pikir Abi.
" Kalo masuk ketuk dulu pintunya!". Sengit Abi tanpa melihat siapa yang datang. Hingga tiba-tiba telinganya terasa panas karena tarikan seseorang.
"Ma-mama??". Ucap Abi terbata, pasalnya sang mama lah yang datang dengan wajah tak bersahabat. Beberapa hari ini Abi menghindari telepon dari kedua orang tua bahkan mertuanya.
" Apa mama mama!! Dasar anak nakal nggak tahu aturan!! Kemana aja kamu hm nggak pulang berhari-hari?!! Ditelpon nggak bisa, mau dicoret dari kk kamu hah?!!". Omel mama Ana.
"Udah bikin istrinya nangis terus kabur nggak pulang-pulang. Kamu mau mama kutuk jadi ganteng hah?!!". Mama sudah kembali mengomel sebelum Abi bisa membela diri.
" Kamu apain mantu mama sampe seharian nangis hah?! Bisa-bisanya kamu kabur nggak tanggung jawab". Pelintiran ditelinganya semakin terasa panas. Efek mama yang sewot sampai tidak sadar jika tangannya masih memelintir telinga putranya.
__ADS_1
"Ampun ma..lepas dulu. Kuping aku bisa lepas nanti". Pinta Abi dengan wajah memelas.
Sementara dua orang kepercayaannya yang durjana itu hanya mengintip sambil mencuri dengar percakapan ibu dan anak itu dengan wajah puas lantaran akhirnya ada yang membalas sikap semena-mena Abi terhadap mereka beberapa hari ini.
" Jelasin sama mama!! Mama sampe nggak arisan gara-gara kamu!". Gerutu mama Ana sambil duduk disofa diikuti Abi yang duduk disebelahnya.
Abi menghela nafas panjang. Membayangkan wajah cantik istrinya berderai air mata. Dirinya memang benar-benar b*jingan tak berhati, bagaimana bisa ia mengatakan mencintai istrinya namun justru membuat wanita terkasihnya itu menangis seharian.
"Kok malah diem! Cepet ngomong!! Kamu apain mantu mama!". Cecar mama Ana tak sabar karena Abi justru melamun.
Abi menceritakan semuanya, dia mengatakan pada mama Ana jika dirinya sudah bercerita tentang malam itu pada Diandra. Dirinya juga menceritakan pada sang mama jika dirinya mengatakan akan melepaskan Diandra jika itu membuatnya bahagia.
" Kamu!!!". Geram mama Ana sambil memukul lengan putranya cukup keras.
"Bisa-bisanya kamu ngomong kaya gitu!! ?Mama nggak mau kehilangan menantu kesayangan mama!!". Mama Ana menolak keras apa yang Abi akan lakukan.
" Ma---"
" Ma.." Abi menggenggam tangan mama Ana. Ia tahu jika ibunya ini amat sangat menyayangi istri keduanya sejak dulu. Menjadikan Diandra sebagai menantu adalah salah satu impian terbesar mama Ana. Abi tahu betapa sulitnya melepas Diandra, karena dirinya juga kesulitan melepaskannya.
"Diandra nggak bahagia sama aku ma.."
."Ya kamu bikin bahagia dong!". Potong mama Ana cepat.
"Kamu bisa bikin dia kecewa masa iya nggak bisa bikin dia bahagia". Gumam mama Ana yang masih bisa didengar oleh Abi.
Jika ada istilah wanita selalu benar, maka itu memang benar adanya. Jika saja Abi bisa, sudah pasti Abi lakukan. Membahagiakan istrinya tanpa diminta oleh siapapun juga merupakan impiannya. Namun apa daya, segala hal sudah coba ia lakukan, namun Diandra tetap kokoh dengan pendiriannya.
Tembok pembatas yang dibangun istrinya terlalu tinggi dan kuat hingga sulit ia lewati dan ia hancurkan. Bukan karena tak berusaha, namun usahanya selalu terhalang kesalahan masa lalunya.
" Kalo bisa..kalo aku bisa pasti aku lakuin ma. Mama tahu kan gimana selama ini aku berusaha?". Tanya Abi pada sang mama yang tetap bungkam.
__ADS_1
"Aku mohon ma..kasian Diandra kalo kita paksa ma". Bujuk Abi
" Terus Gaara gimana?". Tanya mama Ana lirih. Tentu bukan hanya cucunya yang ia pikirkan, namun juga putranya. Kehilangan Diandra kala itu saja menjadi pukulan berat bagi Abi hingga kesulitan bangkit. Mama Ana khawatir akan seperti apa putranya jika kehilangan Diandra untuk kedua kalinya.
"Kita akan rawat Gaara bareng-bareng ma. Kita nggak bisa egois dan memanfaatkan Diandra untuk mengurus Gaara". Abi mengelus punggung tangan mama Ana.
" Kamu yakin dengan keputusan kamu?". Tanya mama Ana menatap dalam netra putranya.
Dengan ragu Abi mengangguk. Jika ditanyakan keyakinan, sudah pasti ia meragu dengan keputusannya melepas Diandra. Namun dirinya harus tetap meyakinkan diri bahwa ini yang terbaik untuk wanitanya.
"Mama harap kamu tidak akan menyesal untuk kesekian kalinya, Abi. Jika melepas Diandra akan membuatmu seperti waktu itu, lebih baik pikirkan lagi". Mama Ana melepaskan tangannya dan berlalu meninggalkan Abi yang termenung mendengar peringatan sang mama.
Di lain tempat, Diandra tengah duduk disebuah taman kota ditemani oleh seorang wanita muda yang seusia dengan dirinya. Siapa lagi jika bukan Naya, sahabat nya.
Diandra sudah menceritakan semuanya, cerita Abi serta keraguannya terhadap semua cerita itu. Saat ini keduanya masih sama-sama diam. Bahkan Naya belum memberi saran apapun setelah beberapa saat mendengar cerita sahabatnya itu.
" Sekarang apa yang harus aku lakuin, Nay?". Tanya Diandra dengan suara serak menahan tangis.
Naya menoleh, menatap sahabatnya yang terlihat lebih terpuruk daripada saat mendengar kabar kematian kakaknya berbulan lalu.
"Kenapa hidup aku jadi serumit ini". Gumamnya lagi dan Naya masih mendengarkannya tanpa menyela sedikitpun.
Kepada Naya, Diandra mencurahkan segala keluh kesahnya. Kelemahan dan segala hal yang tidak diketahui oleh orang lain, Naya tahu semua.
" Apa aku pergi lagi kaya dulu Nay? Ninggalin semuanya lagi kaya dulu?". Tanyanya lagi
"Tanya sama diri kamu Di. Kamu bahagia kalo gitu?". Tanya Naya balik membuat Diandra bungkam.
Matanya menatap stroller didepannya yang menampung tubuh putra mungilnya yang terlelap. Diandra kembali berfikir, akankah ia benar-benar bahagia jika pergi dari semua orang? Dari Abi? Dari kedua orang tua dan mertuanya? Dan dari putranya, Gaara??
Diandra kembali termenung, memikirkan dirinya harus apa dan harus bagaimana kini.
__ADS_1