
Nala berteriak keras saat melihat wajah Kara yang masih berdiri didepan pintu rumahnya. Bagaimana tidak, wajah ayu sahabatnya sudah tak berbentuk lagi saat ini.
"Ini kenapa bisa kaya gini??!". Teriak Nala panik
"Berisik lo ah. Gue pengen ngerebah". Keluh Kara karena sejujurnya kepalanya kini terasa sedikit pusing.
"Biarin masuk dulu lah. Takut pingsan". Ucap Raffa yang merasa kasihan pada Kara. Nala segera mengangguk dan menyingkir dari pintu. Membiarkan Kara lewat dan masuk kedalam rumah.
"Ati-ati Ra.." Pekik Nala ketika melihat Kara sedikit limbung saat berjalan. Untung Raffa sigap memapah tubuh saudaranya itu.
"Ke rumah sakit aja ya.." Ajak Raffa yang semakin khawatir karena wajah Kara memucat.
"Gue cuma butuh tidur aja Rap. Ntar juga ilang pusing gue". Tolak Kara
"Tapi lo pucet, Ra". Sungguh Raffa benar-benar khawatir dengan kondisi Kara.
"Kaga usah lebay ah. Gue baik-baik aja". Kara yang sudah didudukkan disofa ruang tamu segera memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di sofa.
"Nyokap bokap lo?". Nala langsung menggeleng. Ia tahu maksud Raffa
"Mereka lagi dinas luar. Paling lusa baru balik". Nala menjelaskan membuat Raffa menghela nafas lega.
Meskipun kedua orang tua Nala sudah menganggap mereka seperti anak sendiri, namun sudah pasti berita Kara yang kembali berkelahi akan sampai ditelinga kedua orang tuanya. Dan saat ini Raffa sedang tidak menginginkan hal itu terjadi.
"Lo yakin kaga mau ke rumah sakit Ra?". Tanya Raffa sepeninggal Nala ke kamarnya.
"Engga, Rapa. Lo balik gih sana. Bawain baju ganti gue ama bilang ke mama ama papa kalo gue nginep sini beberapa hari". Tanpa membuka matanya, Kara memerintah Raffa agar segera mengambilkan baju ganti untuk dirinya. Dirinya ingin segera membersihkan diri dan segera merebahkan tubuhnya yang kini baru terasa sakit semua akibat pertarungannya tadi.
"Mandi dulu sana. Gue udah siapin air hangat buat elo". Nala kembali setelah beberapa waktu berada dalam kamarnya.
"Ntar aja, nunggu si Rapa balik bawain baju ganti gue". Sahut Kara masih dengan mata terpejam. Sungguh kini kepalanya terasa berdenyut.
"Masih ada baju lo disini, komplit ama isiannya. Baju yang waktu itu lo tinggal pas tidur sini". Jelas Nala membuat Kara mau tak mau membuka mata.
"Gue gendong aja". Tak menunggu persetujuan Kara, Raffa langsung mengangkat tubuh Kara yang kini terasa lebih panas dari suhu tubuhnya.
"Gue udah bisa sendiri. Lo pulang sana". Usir Kara saat Raffa menurunkannya didekat bathup kamar mandi Nala.
__ADS_1
"Gue pulang dulu. Ntar gue langsung balik lagi bawain baju. Jangan lupa makan ama obat lo diminum". Kara mengangguk lemah. Air didalam bathup sudah melambai memintanya untuk segera masuk kedalam sana.
"Iya udah sono. Gue pengen cepet mandi ini". Usir Kara lagi membuat Raffa akhirnya keluar dari kamar mandi.
"Titip Kara bentar ya, La". Nala mengangguk paham.
"Kalian tuh saling sayang. Tapi hobinya ribut mulu kalo deket. Dasar kembar aneh". Gumam Nala tersenyum kecil mengingat semua tingkah kedua sahabat anehnya itu.
Nala sudah mulai tak tenang, sudah hampir 30menit Kara berada dalam kamar mandi. Tapi belum ada tanda-tanda temannya itu akan keluar. Nala bahkan sejak tadi terus mondar-mandir didepan pintu kamar mandi.
"Ra!! Lo nggak tidur kan?". Nala menggedor pintu kamar mandi.
Sejak tadi ia terus berteriak memanggil nama sahabatnya, namun Kara terus berkata masih ingin berendam.
"Kara!". Panggilannya semakin keras karena kini Kara tidak menyahuti panggilannya.
"Ra!! Jangan becanda lo ya! Gue dobrak nih pintu!". Ancam Nala yang kini benar-benar khawatir dengan kondisi Kara. Nala mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar mandi. Namun s*alnya bersamaan dengan itu, Kara membuka pintu kamar mandi hingga membuat Nala yang sudah terlanjur berlari hendak mendobrak pintu tersungkur dilantai kamar mandi.
"Lo ngapain?". Tanya Kara polos melihat Nala terjerembab dalam kamar mandi tepat saat dirinya membuka pintu. Kini Nala seperti sedang bersujud dalam kamar mandi.
"Eh..emang temen kaga ada akhlak lo ya. Gue khawatir ama elo, anj*r". Kesal Nala yang perlahan bangkit.
"Bilang mulutnya sakit buat ngomong. Terus dari tadi nyerocos itu apa namanya??". Kesal Nala membuat Kara nyengir.
"Barusan itu mah kaga sengaja. Anggep aja latihan". Sahut Kara ngawur membuat Nala semakin mencebik kesal.
"Pake tuh baju lo. Gue ambilin makan dulu". Meskipun kesal dengan ucapan Kara, Nala tetap sangat perhatian.
"Makasih sayang aku". Kara tersenyum manis menatap Nala yang terlihat bergidik.
"Dih, ji jik gue". Nala bergidik membuat Kara terbahak meski setelahnya ia meringis karena rasa perih dibibirnya.
Kara kemudian meraih pakaiannya dan mengenakannya perlahan karena tubuhnya terasa remuk redam akibat pukulan dan tendangan yang ia terima.
"Bener kata abang sama kakak. Kayanya gue musti pensiun buat gelut. Udah kaya nini-nini aja gue, abis berantem sakit sebadan-badan". Keluhnya ketika merasakan tulang diseluruh tubuhnya sakit.
Sementara saat ini, Nala sedang kedatangan tamu yang membuatnya tak kunjung kembali ke kamar hingga membuat Kara terpaksa menyusulnya, karena perut dicacingnya sudah memberontak meminta jatah makannya.
__ADS_1
"Lama banget sih, La. Gue udah laper banget". Ucapnya pelan, karena bibirnya sedang tidak bisa diajak untuk main teriak.
"Dek.." Kara langsung mengalihkan pandangannya. Dua pasang mata menatap dirinya penuh kekhawatiran.
Ya, tamu Nala adalah kedua kakak Kara yang segera menuju rumah Nala saat Raffa mengatakan dimana posisi saudaranya.
Gaara dan Baim yang memang sengaja menunggu adiknya dirumah terkejut melihat Raffa pulang seorang diri. Awalnya Raffa bungkam dan tidak mengatakan dimana Kara berada. Namun melihat kekhawatiran dan ketulusan keduanya untuk Kara, akhirnya Raffa mengalah dan mengatakan jika Kara ada dirumah Nala.
Tanpa menunggu Raffa, kedua lelaki itu segera bergegas ke rumah Nala. Mereka sangat khawatir dengan kondisi adiknya. Apalagi adiknya terlihat sangat marah saat terakhir kali mereka melihatnya tadi.
"Gue mau makan dikamar aja, La". Kara berbalik tanpa membalas sapaan abangnya. Ia masih kesal dengan sikap keduanya yang memojokkan dirinya. Seolah-olah semua masalah berawal dari dirinya dan dirinya lah yang selalu membuat keributan.
Namun bukan hanya karena itu. Hati Kara masih belum bisa menerima kenyataan seorang yang mengisi hatinya selama setahun belakangan dekat dengan wanita lain.
"Ra.." Kara benar-benar tak mengindahkan panggilan kedua kakaknya.
"Kan udah gue bilang. Dia nggak bakal mau ketemu ama lo berdua". Raffa yang baru saja datang langsung berkata hal menohok untuk kedua kakaknya. Di tangannya ia membawa sebuah tas yang lumayan besar, berisi pakaian ganti untuk Kara.
"Ada apa sih? Kok tumben itu si santen nggak mau dengerin dua kakak tersayangnya?". Tanya Nala yang memang belum tahu apa yang tadi terjadi.
Raffa mengendikkan bahunya acuh lalu berlalu ke kamar Nala, dimana saat ini Kara berada. Meninggalkan dua kakaknya yang dibuat pusing karena diacuhkan oleh adik yang begitu mereka khawatirkan.
Sejujurnya tak ada niat keduanya memojokkan dan menyalahkan Kara atas segala pertikaian yang pernah gadis itu alami.
Keduanya hanya sangat mengkhawatirkan adik yang begitu mereka sayangi itu. Apalagi Kara adalah seorang perempuan. Sangat tidak pantas beradu kekuatan fisik, apalagi lawannya seorang pria. Sungguh dua kakak itu tidak ingin adiknya terluka.
"Kita emang salah sih. Mau gimana lagi?!". Ucap Gaara lemah.
"Hmm..wajar kalo dia ngambek ke kita. Kita udah keterlaluan tadi". Sahut Baim membuat Nala kebingungan karena tidak memahami isi percakapan kedua kakak sahabatnya itu.
...___•••___...
Kasih tiga bab langsung nih ya..
Buat semua komen, dan dukungan yang lain, makasih banyak yaaa..
Maafin othor yang nggak bisa bales satu-satu. Tapi komen kalian semua aku baca kok..aku jadiin acuan buat diri aku biar bisa lebih baik dalam menulis cerita yang bisa membuat readers aku senang..
__ADS_1
Terus ikuti cerita mereka ya..