
Semua orang menatap Nala yang masih berdiri dan bersandar dipintu dengan memegangi dadanya.
Baik Zayn maupun Kara sama-sama terlihat heran melihat tingkah aneh Nala. Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? Wajahnya memerah dan da danya naik turun seperti baru selesai lari mengelilingi komplek.
"Dek.."
Panggilan Zayn tidak mampu membuat kesadaran Nala kembali. Membuat semua mata memicing menatap curiga pada Nala.
Mereka berspekulasi tentang apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Nala. Mengingat gadis itu terakhir keluar bersama Gaara. Dan semua tahu, siapa Gaara dan bagaimana perasaan Nala pada pria itu. Kecuali Delisha yang baru bergabung menjadi anggota keluarga santen sachet.
"Kuman..!!". Nala tersentak mendengar suara Kara yang melengking. Ia baru tersadar dimana kini dirinya berada.
Menampakkan senyum kaku sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal, ia balik menatap satu persatu pasang mata yang kini terlihat menatap dirinya dengan penuh kecurigaan. Malu, sungguh sangat malu saat ini dirinya. Ingin rasanya ia bersembunyi di lubang terdalam.
"Buset, dari mana aja sih. Nganterin orang keluar rumah sakit aja ampe sejam". Cecar Kara dengan wajah tengilnya. Apalagi maksudnya jika bukan untuk menggoda Nala.
"Eh..itu-- anu tadi tuh---"
Zayn tersenyum geli melihat kegugupan adiknya. Padahal tidak ada yang mengintimidasi dirinya, namun Nala terlihat salah tingkah.
"Mas Zayn gimana? Udah enakan?". Untuk Mengalihkan pembicaraan, Nala memilih menanyakan kondisi sang kakak yang sepertinya sudah jauh lebih baik.
"Udah mendingan dek..kamu dari mana aja sih?". Tanya Zayn dengan wajah penasaran.
"Oh itu..tadi aku--makan dulu. Ya, aku tadi makan dulu mas.." Jawab Nala setelah merasa menemukan jawaban pas tanpa harus mendengar godaan dari sahabat dan kakaknya.
"Dokternya belum visit mas?", Tanya Nala.
"Udah lah. Udah dari kapan taun, untung ada aku". Bukan Zayn yang menjawab, namun Kara si santen sachet yang jahilnya nggak ketulungan.
"Emang iya mas?". Zayn mengangguk membenarkan.
"Dih nggak percayaan ama aku. Dibilangin juga masih aja nggak percaya". Cerocos Kara
"Kan kamu suka usil. Boongin aku mulu". Sungut Nala membuat Kara mencebik.
"Apa kata dokter mas?". Tanya Nala duduk disamping ranjang sang kakak.
"Kondisi aku udah baik. Siang ini juga udah boleh pulang. Tinggal nunggu surat check up nya aja". Ucap Zayn membuat Nala memekik senang.
"Alhamdulillah..aku seneng dengernya". Nala mengucap syukur dan memeluk tubuh kakaknya yang baru ia sadari sudah tak ada jarum infus di tangan sang kakak.
__ADS_1
"Eh, infusnya udah dilepas ya?". Tanya Nala saat menyadarinya dan Zayn mengangguk.
"Aku beresin baju kita dulu ya.." Zayn kembali mengangguk. Senang melihat sang adik yang terus tersenyum bahagia.
Dengan cekatan, Nala mulai merapikan pakaian Zayn yang sempat ia keluarkan beberapa. Ia hanya menyisakan satu stel pakaian untuknya dan sang kakak untuk kepulangan mereka nantinya.
"La.." Gerakan tangan Nala terhenti saat Kara memanggilnya.
"Kita pulang ke rumah mama, ya.." Nala diam kemudian menatap sang kakak yang juga tengah menatapnya.
"Mas Zayn baru sembuh, La. Nggak mungkin kamu ajak langsung pulang kan? Perjalanannya jauh, La. Kasian mas Zayn.." Nala menghela nafas panjang.
Apa yang dikatakan Kara benar adanya. Tidak mungkin ia memaksakan diri dan sang kakak untuk pulang ke kota mereka malam ini juga.
Kondisi Zayn memang sudah terlihat membaik, tapi tentu tidak akan baik bagi kesehatan lelaki itu jika langsung melakukan perjalanan yang lumayan jauh.
"Gimana mas?". Tanya Nala yang kini menatap sang kakak. Bagaimanapun ia harus meminta pendapat sang kakak.
Zayn menatap Kara dan Baim serta Raffa, ia bisa melihat kode yang diberikan Kara melalui kedipan matanya.
"Apa sebaiknya kita balik ke hotel lagi?". Nala kembali bersuara dan menatap Zayn. Sebisa mungkin Zayn menahan bibirnya agar tidak melengkung saat Kara mengibaskan tangannya beberapa kali.
"Ya..ya..ya...Mama juga kangen banget tau ama kamu". Bujuk Kara yang melihat Nala masih menimbang dan berpikir. Ia tak mau melewatkan kesempatan untuk kembali menyatukan Gaara dan Nala.
Jika dulu ia mendukung Nala untuk pergi menjauh dari Gaara karena Gaara yang belum mencintai Nala. Maka kini Kara akan mencoba mempersatukan keduanya, karena yakin jika Gaara sudah mencintai Nala, bahkan sangat mencintai sahabatnya itu.
"Aku ikut gimana maunya kamu, dek". Zayn hanya mengatakan hal itu saat Nala menatap dirinya.
Tak lama datang seorang perawat dengan selembar kertas berwarna putih ditangannya.
"Makasih ya sus.." Kara menerima surat check up itu sebelum Nala menggapainya.
Kara melipat kertas itu dengan rapi dan kemudian memasukkannya kedalam tas miliknya.
"Oke let's go kita pulang.." Kara menarik dua buah koper, milik Nala dan Zayn kemudian memberikannya pada Baim satu dan pada Raffa satu.
"Ra..woii. Aku belum setuju". Seru Nala namun tak dihiraukan oleh Kara.
"Udah ikutin aja, kaya nggak kenal si santen aja". Raffa menepuk pundak Nala yang menatap punggung Kara.
"Ayo.." Ajak Raffa pada Delisha yang mematung melihat interaksi adik ipar dan suaminya dengan gadis bernama Nala itu.
__ADS_1
"Nggak mau bantuin mas turun?". Nala tersadar dan bergegas menghampiri Zayn yang masih duduk diatas ranjang rawatnya.
"Awas mas..hati-hati". Nala membantu Zayn turun dari ranjangnya.
"Gimana ini mas?". Tanya Nala sambil menyampirkan tangan sang kakak di pundaknya.
"Ya mau gimana lagi, koper kita udah dibawa. Kita mau pake apa nanti kalo nggak ikutin mereka". Nala kembali menghela nafas panjang. Si santen emang biang rusuh sejak dulu.
"Nalaaa..ayooo. Kamu mau tidur dirumah sakit?". Nala mendengus mendengar teriakan Kara. Benar-benar sahabat durjana.
"Dasar santen sachet ngeselin". Gerutu Nala, namun tak urung ia mengikuti langkah kaki sahabatnya.
"Sama aja ngeselinnya kaya kamu". Zayn mencubit gemas hidung mancung adiknya itu.
"Hish.."
"Mas Zayn mau pake kursi roda?". Tanya Nala yang masih khawatir dengan kondisi kakaknya itu.
"Mas udah sehat, dek. Masih kuat jalan, lagian ada kamu yang bantuin mas.." Zayn mengedipkan sebelah matanya membuat Nala terkekeh.
Kedua kakak beradik itu lantas berjalan keluar ruangan. Namun langkah kaki keduanya terhenti saat menatap sosok gagah yang berdiri didepan pintu dengan kedua tangan memegang sebuah kursi roda.
"Abang.." Lirih Nala menatap sosok gagah yang tak lain adalah Gaara.
"Ehm maaf..Kara minta tolong.." Gaara terlihat kikuk menatap Zayn dan Nala bergantian. Apalagi posisi Nala dan Zayn saat ini seperti sepasang kekasih yang saling merangkul mesra.
"Santen sachet..." Geram Nala sambil menatap Kara yang berdiri diujung koridor tengah menunjukkan jempolnya.
"Maaf merepotkan.." Nala melotot melihat Zayn duduk di kursi roda yang tengah dipegang Gaara.
"B-biar aku aja bang.." Nala hendak mengambil alih mendorong kursi roda yang kini diduduki Zayn. Namun tangannya dihalangi oleh Gaara.
"Nggak usah..aku aja nggak apa-apa". Gaara kembali menunjukkan senyumannya pada Nala. Sungguh Nala terpesona, jika saja masih sama seperti dulu. Sudah pasti ia akan mencium bibir itu agar tidak lancang memamerkan senyum menawannya dikeramaian seperti saat ini.
Nala hanya bisa pasrah saat Gaara memaksa mendorong kursi roda Zayn. Ia berjalan bersisian dengan Gaara yang nampak fokus menatap ke depan.
...•••¥¥¥•••...
Mana nih yang dukung si kuman ama kang gara-gara balik lagi???
Aku dukung aja deh..ntar pusing lagi bikin ceritanya kalo ga dijadiin satu itu anak dua😂😂😂
__ADS_1