Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
kontraksi


__ADS_3

Baim berlari dan memeluk Diandra yang terkejut melihat putranya ada dibelakangnya. Apa putranya mendengar semua kata-katanya?


"Kenapa diluar sayang?". Tanya Diandra yang mengelus kepala putranya yang masih membenamkan wajahnya diperut buncit tempat bayi kembarnya tumbuh.


" Baim sayang sama mama.." Diandra tersenyum bahagia memdengar ucapan anak angkatnya itu.


"Mama tahu..mama juga sayaaaang banget sama Baim". Ingin rasanya Diandra merengkuh tubuh kecil itu, namun perut besarnya membuat wanita muda itu tidak bisa berjongkok untuk membalas pelukan anaknya.


Dalam hatinya Baim berjanji akan menjaga dan membuat ibu angkatnya itu bahagia. Ia berjanji pada dirinya akan menjaga keluarga malaikatnya itu meski nyawanya yang dipertaruhkan. Dan kini ia benar-benar menyayangi Diandra dan keluarganya, sama seperti ia menyayangi neneknya.


####****####


Seperti hari yang sudah-sudah, saat hari libur tiba, maka kepala Diandra akan lebih pusing dari hari biasa karena kelakuan suami dan anak nya, Gaara.


Gaara yang semakin posesif dan Abi yang sangat senang menggoda putranya benar-benar kombinasi sempurna yang mampu membuatnya harus lebih bersabar.


Kehamilannya yang sudah mendekati waktu persalinan membuatnya hanya bisa menghela nafas panjang jika perdebatan anak dan suaminya dimulai. Ia lebih memilih menyimpan energinya daripada memarahi suaminya.


Seperti siang ini, Abi kembali membuat Gaara berteriak kesal lantaran Abi yang terus menempel pada Diandra dan berkali-kali memberi kecupan lembut dipipi dan perut Diandra.


"Papa!!! Papa Ndak boleh deket mama". Amuk Gaara mendorong tubuh Abi agar menjauh dari sang mama. Namun Abi sengaja berdiam diri dan tak bergerak sesenti pun.


" Huaaa...mama!!". Teriak Gaara tak terima karena Diandra juga diam saja.


"Kalian ini benar-benar. Nggak kasian sama mama? Pusing tiap hari liat kalian ribut". Mama Ana yang baru datang menggeleng melihat kelakuan pasangan bapak dan anak itu


" Papa yang nakal, oma.." Adu Gaara menunjuk Abi yang memasang wajah mengejek pada putranya.


"Awas mas. Aku mau pipis". Diandra menggeser kepala suaminya yang senantiasa nemplok dipundaknya.


" Papa awas! Mama mau pipis". Gaara kembali mengomeli papanya.


"Kakak bantu, ma". Baim dengan sigap memegang tangan Diandra hingga membuat Diandra tersenyum.


" Makasih sayang". Diandra kembali menoleh saat Abi dan Gaara terlibat perdebatan.

__ADS_1


"Mama nggak apa-apa?". Tanya Baim saat Diandra keluar dari kamar mandi.


" Mama baik-baik aja sayang.." Diandra mengelus kepala Baim


"Mama bolak-balik ke kamar mandi terus". Diandra terkekeh pelan, Baim benar-benar memperhatikan dengan seksama perihal dirinya.


Bahkan dirinya sendiri tidak menyadari jika dalam kurun waktu satu jam ia sudah lebih dari sepuluh kali buang air kecil.


" Mama kenapa?". Giliran Gaara yang terlihat khawatir melihat mamanya keluar dari kamar mandi.


"Memangnya mama kenapa sayang??". Diandra balik bertanya.


" Mama..pucet". Gaara mengelus pipi Diandra dan kemudian mengusap keringat yang ada dipelipis Diandra.


"Mama juga pipis terus.." Timpal Baim


"Mama nggak apa-apa kok sayang". Diandra menenangkan dua bicah yang terlihat khawatir padanya.


" Kamu yakin sayang??". Abi yang sedari tadi memperhatikan ikut mendekat. Wajah istrinya memang terlihat lebih pucat dan kini bahkan istrinya itu berkeringat, padahal udara sedang tidak panas.


" Ada apa Bi?". Mama Ana dan mama Dita mendekat ketika mendengar kegaduhan kedua cucu mereka. Mungkin jika hanya Gaara yang heboh, mereka tahu jika Abi yang mengganggunya. Karena Gaara dan Abi sudah terlalu sering berdebat memperebutkan Diandra. Keduanya mendekat karena Baim yang biasanya tenang-tenang saja, kini ikut panik.


"Diandra ma.." Belum sempat Abi menjelaskan, terdengar suara Diandra memekik menahan sakit.


"Mama.." Teriak Baim dan Gaara bersamaan. Keduanya bahkan sudah menangis tatkala melihat sang mama meremas kuat lengan sang papa dengan setetes cairan bening keluar dari ujung matanya.


"Huaa..mama kenapa?!". Gaara sudah menangis heboh melihat mama nya kesakitan. Pun dengan Baim yang menangis dalam diam melihat malaikatnya terlihat kesakitan.


" Mama nggak apa-apa sayang". Ucap Diandra dengan nafas sedikit tersengal. Baru saja ia merasa perutnya teramat sakit hingga untuk mengatakan dirinya baik-baik saja ia tak sanggup. Kini rasa sakitnya sudah sedikit berkurang hingga ia mampu menenangkan kedua putranya.


"Bawa istrimu ke rumah sakit, nak". Perintah mama Dita.


" Aku gapapa ma.." Ucap Diandra namun mama Ana dan mama Dita menggeleng. Mama Ana bahkan sudah membawa tas berisi perlengkapan bayi yang sudah Diandra siapkan jauh hari.


"Aaw..iissshh.." Diandra kembali meringis menahan sakit diperutnya. Kontraksi yang ia rasakan datang lagi hingga membuatnya kembali meremas lengan suaminya.

__ADS_1


"Mama..." Bu Ratih segera menahan kedua bocah yang hendak menghambur kedalam pelukan Diandra. Ia tahu jika saat ini malaikat penolongnya itu akan melahirkan jika dilihat dari tanda-tandanya.


"Nenek, kita mau ke mama.." Rengek Gaara didukung oleh Baim.


"Abang sama kakak, sama nenek Ratih dulu ya.." Keduanya menggeleng membuat bu Ratih tersenyum haru melihat bagaimana kedua anak itu menyayangi Diandra.


"Abang sama kakak dengerin nenek dulu.." Bu Ratih berjongkok, meskipun ingin mendekati Diandra namun kedua anak itu tetap menuruti dan mendengarkan apa yang diminta bu Ratih.


"Kalian mau lihat adik kembar?". Sambil terisak keduanya mengangguk.


" Adik kembar juga pengen cepet ketemu abang sama kakak". Imbuhnya


"Ta-tapi kenapa mama nangis, nenek?". Tanya Gaara sambil menatap sang mama yang masih terlihat meringis, Sementara mama Ana berusaha membantu Diandra untuk bisa mengatur nafasnya.


" Soalnya, adik kembar udah nggak sabar mau keluar". Keduanya terdiam, menatap dalam wanita tangguh yang selama ini melindungi mereka.


"Kenapa adik bikin mama sakit?". Tanya Baim membuat bu Ratih tersenyum sambil berpikir. Bagaimana cara menjelaskan pada dua bocah lelaki ini.


" Eehmm..karna memang sudah seperti itu kodratnya sebagai perempuan nak.." Jawaban paling aman menurut bu Ratih. Akan sangat rumit jika menjelaskan pada dua anak pintar ini, bisa-bisa malah dirinya yang dibuat bingung nantinya.


"Mama nggak akan sakit lagi kalau adik kembar sudah lahir.." Jelasnya sambil mengelus lembut kepala keduanya.


"Tapi.. mama harus ke rumah sakit biar adik bisa cepet lahir. Dibantu dokter dan perawat disana.." Imbuhnya membuat keduanya mengangguk.


"Boleh ikut?". Tanya keduanya bersamaan.


" Boleh..nanti kita susul ya. Sekarang mama biar diantar sama papa dulu". Meski masih menangis, keduanya mengangguk dengan patuh kemudian perlahan mendekati Diandra yang terlihat sudah lebih tenang.


"Mama masih sakit?". Tanya Gaara lebih dulu.


Keduanya duduk didepan Diandra sambil bersimpuh, memegang dua tangan mama mereka sambil menatap netra hitam yang selalu menatap keduanya penuh kasih sayang.


"Mama baik-baik aja sayang.." Kedua tangan Diandra terulur membelai kepala keduanya. Sumber kekuatan yang membuatnya merasa jadi wanita paling beruntung.


"Adik kembar..kalau mau keluar langsung keluar aja ya, jangan bikin mama sakit". Gaara mengelus perut Diandra.

__ADS_1


" Kakak sama abang udah nunggu dirumah..jadi jangan bikin mama nangis ya". Baim melakukan hal yang sama hingga membuat Diandra tersenyum bahagia.


__ADS_2