
"Kenapa kamu ngehindar dari aku, La?". Nala segera menoleh mendapat pertanyaan yang seharusnya lelaki itu sudah tahu pasti jawabannya.
"Anda benar-benar tidak tahu jawabannya?". Nala balik bertanya dengan wajah yang teramat sinis.
"Apa salahnya La? Apa salahnya kalau aku---"
"Salah!!! Jelas semua itu salah! Bukankah anda sadar? Tidak seharusnya anda memiliki perasaan tidak pantas itu untuk saya!". Dada Nala tampak naik turun menahan gejolak amarah yang tiba-tiba membuncah.
"Dimana letak kesalahan mencintai seseorang, Anala??? Dimana letak kesalahannya???". Pertanyaan Haikal semakin memantik amarah Nala.
"Dimana??? Anda benar-benar tidak tahu dimana letak kesalahan perasaan anda?!". Tanya Nala berang. Apa lelaki itu tidak berpikir akan menyakiti hati wanita lain dengan perasaan gilanya itu.
"Semua orang berhak jatuh cinta, La", Jawaban Haikal membuat Nala tersenyum sinis.
"Saya tidak menyalahkan perasaan cinta, pak Haikal. Tapi perasaan cinta anda benar-benar tidak berada ditempat yang seharusnya". Sengit Nala. Ia benar-benar tidak percaya Haikal bisa berkata seperti itu.
"Lalu dimana seharusnya aku meletakkannya? Aku tidak bisa melarang hatiku untuk mencintaimu, La". Haikal berusaha mendekat namun Nala langsung mengangkat tangannya.
"Jangan bergerak sedikitpun dari tempat anda!". Peringat Nala dengan wajah memerah menahan ledakan amarah.
"Aku benar-benar tidak bisa melupakan perasaan ini, La". Wajah Haikal tampak sendu. Namun begitu, tidak sedikitpun Nala bersimpati padanya.
"Anda harus menghapus perasaan terlarang itu, pak".
"Aku tidak akan bis---"
"Bisa! Anda pasti bisa! Dan anda harus bisa!". Tegas Nala memotong cepat ucapan Haikal yang sudah ia tebak.
"Kenapa kamu tidak mau menerima perasaanku ini. Apa yang kurang dari diriku".
"Jika karena Nia..aku akan mening---"
"Jangan pernah berpikir untuk menyakiti mbak Nia!! Akan seperti apa perasaan mbak Nia jika tahu anda begitu kejam! Menghianati perasaan cintanya! Dia istri anda pak Haikal!!". Suara Nala naik satu oktaf mengingat wanita yang berstatus istri Haikal itu.
Wanita lembut yang selama ini selalu memberinya perhatian selayaknya kakak perempuan. Ia merasa memiliki keluarga baru saat dikenalkan dengan Haikal dan Nia. Namun lelaki itu menghancurkan hubungan mereka dengan pernyataan cintanya yang sangat konyol itu.
"Tapi aku tidak mencintai Nia lagi! Cinta tidak bisa dipaksakan lagi La.." Lirih Haikal membuat Nala ingin sekali melempar lelaki disampingnya itu kedalam danau.
"Jika begitu, jangan juga paksakan cinta anda pada saya. Karena sampai kapanpun, saya tidak akan pernah membalas perasaan anda!", Nala bangkit dari duduknya, namun langkahnya kembali terhenti saat pergelangan tangannya dicekal Haikal.
"Akan aku buktikan jika aku sangat serius dengan perasaanku. Aku akan menceraikan Nia, untukmu".
__ADS_1
plaaakkk
Tamparan keras mendarat mulus dipipi Haikal. Bahkan kini Nala merasa tangannya kebas setelah berhasil melayangkan tamparan keras pada lelaki tak berperasaan ini.
"Saya juga seorang wanita jika anda lupa, pak Haikal. Jika kepada wanita yang selama ini menemani anda saja, anda bisa setega ini. Lalu bagaimana bisa saya mempercayai ucapan cinta dari lelaki yang juga tega meninggalkan istrinya untuk wanita lain yang baginya lebih menarik". Nala kembali tersenyum sinis menatap Haikal yang nampak terhenyak dengan kalimatnya.
"Saya harap saya tidak pernah lagi melihat anda, pak Haikal! Saya sangat membenci anda dengan seluruh jiwa dan raga saya!". Sentak Nala kemudian berlalu pergi meninggalkan Haikal yang masih memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras Nala.
Haikal menjatuhkan tubuhnya diatas bangku panjang yang menjadi saksi penolakan Nala terhadap perasaan cintanya. Entah sudah berapa kali ia ditolak, namun hatinya juga menolak untuk menyerah. Ia jatuh hati sejak melihat Nala untuk pertama kalinya.
"Aku nggak bisa lupain kamu, La. Bahkan sejak pertama bertemu, kamu sudah berhasil menarik hatiku keluar dari rasa mati.." Lirih Haikal yang kemudian menunduk sambil meremas rambutnya.
"Maafkan aku, Nia. Tapi aku benar-benar sudah tidak mencintaimu". Imbuhnya lagi menatap langit yang menggelap seolah sejalan dengan hatinya yang tengah mendung.
Nala berjalan cepat meninggalkan taman, segera menghentikan taksi dan masuk kedalamnya. Mengatakan tujuannya saat ini pada sang supir dan menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam.
"Manusia gila". Gumamnya ditengah terjangan rasa marah dan kecewa yang melebur menjadi satu.
"Bagaimana mungkin ada manusia tak berhati seperti lelaki itu didunia ini. Kenapa harus wanita yang menjadi korban". Nala terus bergumam dengan mata terpejam.
Keinginan dan semangatnya untuk ke kampus sirna seketika. Entah kabar dan gosip apalagi yang kini akan menerpanya. Mengingat ada beberapa pasang mata yang melihat langsung kejadian pagi tadi.
Beberapa hari ini Nala harus menerima kenyataan tidak menyenangkan tentang berita yang berhembus dikampus tentang kedekatannya dengan Haikal. Nala yakin, berita itu akan semakin kencang berhembus dengan ditambahnya sikap Haikal pagi ini. Sudah pasti akan semakin banyak mahasiswi yang menganggapnya sebagai pelakor.
Dan kini, ia harus bersiap kembali menjadi bahan gunjingan setelah kejadian pagi tadi saat Haikal menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam kendaraannya.
"Huh.." Nala menghela nafas kasar. Ia harus menyiapkan diri dan mentalnya untuk kembali digunjingkan.
"Jen.." Gumam Nala sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan nama sahabatnya itu.
"Assalamualaikum Jen.."
"Aku nggak akan ke kampus lagi. Mood aku udah rusak.."
"Hmm..besok aku ceritain. Sekarang aku mau pulang aja".
"Iya..wa'alaikumsalam.."
Nala kembali menghela nafas, memasukkan kembali ponselnya kedalam tas miliknya. Ia kembali memejamkan matanya, rasa bahagianya pagi tadi terhempas entah kemana. Bahkan pesan dari Gaara saja masih belum sempat ia balas.
Dan benar saja, apa yang ditakutkan Nala benar-benar terjadi pagi setelahnya.
__ADS_1
Pagi ini Nala datang ke kampus diiringi tatapan sinis hampir semua mahasiswa disana. Tatapan penuh kebencian dan jijik ia dapatkan.
Nala hanya bisa menghela nafas mendapat perlakuan demikian. Karena sebenarnya ia sudah bisa memprediksi hal mengerikan ini akan terjadi pada dirinya.
Dari jauh ia melihat Jen berlari ke arahnya dengan wajah khawatir. Nala hanya bisa tersenyum getir menatap sahabatnya yang semakin mendekat itu.
"La...kamu nggak apa-apa?". Kening Nala berkerut, memang dirinya kenapa?
"Gila ya, nggak nyangka. Kelihatannya diem, taunya pelac*r".
"Mukanya aja polos. Ternyata licik juga ya".
"Belum juga dua tahun, udah ngegaet dosen",
"Dosen beristri pula".
"Murahan. Bener-bener murahan". Nala hanya bisa menghela nafas mendengar cacian dan cibiran teman-teman di kampusnya. Selama ini dirinya memang lebih banyak menyendiri, menghindari bergaul dengan banyak teman. Hingga seperti inilah dirinya sekarang, hanya memiliki satu sosok teman yang benar-benar mengenal dan mempercayainya.
"Tutup ya mulu lo semua!". Sentak Jen pada gadis-gadis yang melewati ia dan Nala diiringi tatapan sinis.
"Kita semua bicara fakta Jen. Mending lo jauh-jauh deh..atau lo juga bakal ngerasain kehilangan pacar gara-gara dia". Jen semakin terpancing emosi mendengar ucapan temannya.
"Tuduhan kalian nggak berdasar". Desis Jen
"Nggak akan ada berita ini kalo nggak berdasar Jen. Foto-foto ini juga nggak mungkin tiba-tiba ada kan?". Empat gadis yang kini berdiri didepan Nala dan Jen menatap jijik Nala.
Sementara Jen masih tak terima dan bertambah kesal saat salah seorang dari gadis itu menunjukkan berita yang ramai dibicarakan di grup kampus tentang Nala dan Haikal.
"Udah lah Jen.." Nala memegang lengan Jen yang masih terlihat emosi.
"Nggak bisa La. Ini semua nggak bener". Nala menggeleng pelan. Saat ini semua tengah termakan berita dan foto dirinya dan Haikal yang tersebar seantero kampus. Tak akan ada yang mau memdengarkan penjelasannya saat ini.
Yang bisa dilakukannya hanya menerima dan pasrah sambil memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan permasalahan yang membelitnya saat ini.
"La.." Jen menatap sendu sahabat yang juga calon adik iparnya itu.
"It's oke, Jen. Aku baik-baik aja", Nala memberikan senyum meyakinkan pada Jen yang matanya sudah memerah. Sedih dan tak terima melihat dan mendengar apa yang dibicarakan banyak orang tentang Nala.
...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...
Hurrraaaa..nah loh kan, mumet kaga tuh? Siapa nih biang nyinyir ama biang gosipnya?? Kuy kita cari terus kita ajakin ngupi bareng-bareng😤
__ADS_1
Othor tepatin janji yaa, 2bab untuk readers setia yang senantiasa mendukung karya si othor amatiran ini😁yang nanyain babang Gaara, sabar dulu ya. Ntar si kang gara-gara dikeluarin pada saatnya😅
Makasih banyak buat semua dukungannya selama ini ya🙏🏻🙏🏻🙏🏻semoga selalu dilimpahkan kesehatan dan kebahagiaan untuk kita semua..aamiin🤲🏻🤲🏻