
"Masakan kamu enak, La". Puji Haikal tulus.
Nala melongok piring Haikal dan tersenyum miring. Membuat alis Haikal mengerut.
"Bukan aku yang masak. Yang aku masak cuma ada dipiring abang aja". Nala tidak berbohong, karena sisa masakannya ia letakkan didapur. Ia tak rela masakannya dinikmati oleh Haikal.
Haikal tersenyum canggung mendengar jawaban Nala. Terlihat jelas gadis itu membenci dirinya.
Jika saja bisa memilih, maka Haikal akan lebih memilih melarikan diri saat ini. Matanya terasa sakit melihat kemesraan yang diumbar oleh Nala dan Gaara.
Bukan hanya matanya, hatinya pun tak kalah sakit. Ia pikir setelah bercerai dengan Nia, dirinya akan lebih mudah mendapatkan Nala. Namun semua itu hanya ada dalam pikirannya saja. Karena pada kenyataannya, Nala kini bersama dengan Gaara.
"Ayo Haikal jangan malu-malu makannya".
"Eh..i-iya tante". Gaara melirik sinis pada Haikal yang terlihat masih berusaha mencari simpati papi dan mami.
Dan semua yang Gaara lakukan tidak luput dari papi. Lelaki paruh baya itu tersenyum penuh arti melihat Gaara.
"Tambah lagi ya bang.." Gaara menoleh pada Nala. Sejak makan, gadis itulah yang menyuapinya.
Meskipun kesal dengan kedatangan Haikal, namun disisi lain Gaara juga senang. Jika bukan karna Haikala ada, Nala tidak akan semanis ini padanya.
"Kenyang sayang..." Gaara mengelus perutnya yang terasa penuh. Nala mengangguk kemudian mengambil selembar tisu dan membersihkan sisa makanan dibibir Gaara.
"Makasih sayang.." Ucap Gaara tulus membuat Nala tersenyum sambil mengangguk.
Kali ini keduanya tidak berperan, karena mereka hanya mengikuti naluri saja. Jika Haikal merasa tak suka, itu adalah bonusnya.
"Manis banget sih kalian.." Ucap mami yang gemas melihat interaksi Gaara dan Nala.
Sepertinya menikahkan keduanya bukan hanya akan menjadi rencana saja. Mami berpikir jika sebaiknya keduanya memang segera dinikahkan saja.
Selama makan, papi berusaha tetap tenang dan mengobrol dengan Haikal yang jelas terlihat tidak nyaman. Apalagi melihat keintiman Gaara dan Nala yang terlihat begitu alami.
Kini Haikal sudah tak tahan lagi. Setelah selesai makan malam, lelaki itu cepat-cepat pamit. Bahkan meski mami dan papi Nala mencegahnya, Haikal tetap berpamitan.
Kini tinggalah Nala dan kedua orang tuanya beserta Gaara yang tengah tertawa puas. Mereka bukan jahat, tapi bagi mereka Haikal lebih dari pantas mendapat semua itu. Terlebih lelaki itu seolah tak memiliki perasaan bersalah setelah semua yang terjadi.
"Apa rencana selanjutnya pi?". Tanya mami Nita setelah bisa meredam tawanya. Rasanya cukup puas melihat wajah pucat Haikal.
__ADS_1
"Iya pi, dia nggak akan nyerah gitu aja". Timpal Gaara yang meyakini jika Haikal akan melakukan berbagai cara untuk mendekati Nala.
"Sebenarnya dia bukan lelaki jahat". Semua menatap papi dengan tatapan tak suka saat lelaki itu membela Haikal.
"Astaga, bukan berarti papi akan diam saja. Kenapa kalian menatap papi menyeramkan begitu". Keluh papi yang tersenyum kaku saat mendapat tatapan tajam dari istri dan putrinya.
"Papi hanya bilang dia bukan laki-laki jahat dulunya. Hanya saja perasaannya tidak berada ditempat yang seharusnya. Obsesinya salah". Sambung papi membuat Nala dan mami mendengus.
"Tetep aja namanya jahat". Ucap mami dan Nala bersamaan hingga membuat papi nyengir saat kedua wanitanya memelototinya.
"Kamu ada rencana apa Ga?", Papi beralih menatap Gaara yang sejak tadi terus menatap Nala. Mendengar suara papi, membuat Gaara mengalihkan pandangannya.
"Kita lihat apa yang akan dia lakukan dulu, pi. Tapi..."
"Tapi..." Beo Nala dan kedua orang tuanya, ketiganya menatap Gaara dengan wajah serius sekaligus penasaran.
"Tapi aku harap papi dan mami mengizinkan aku untuk secepatnya menikahi Nala". Mata Nala membola. Lelakinya itu benar-benar ingin menikahi dirinya? Sudah berulang kali Gaara menyampaikan keinginannya untuk menikahi Nala pda kedua orang tua gadis itu.
"Selain untuk membuat Haikal tidak lagi memiliki kesempatan mendekati Nala. Aku juga sangat mencintai putri kalian.." Gaara menatap Nala dalam. Yang ditatap jadi grogi dan salah tingkah sendiri.
"Jadi aku mohon...izinkan aku menikahi Nala pi, mi". Papi dan mami saling menatap dalam diam. Seolah bertanya bagaimana baiknya. Lalu beberapa saat kemudian keduanya mengangguk seolah paham dengan pikiran masing-masingnya.
"Papi dan mami merestuimu.." Senyum Gaara mengembang saat ia mendapat lampu hijau dari orang tua gadisnya.
"Tapi semua kembali pada Nala. Karna dia yang akan menjalani pernikahan ini. Jika dia setuju, papi dan mami mendukung saja". Imbuh mami menatap putrinya yang hanya diam saja.
Kini Gaara menatap Nala, menanti jawaban gadisnya itu. Jujur Gaara takut, ia merasa tak memiliki kepercayaan diri. Takut juga jika Nala menolak dirinya karena masih tak percaya padanya.
"Bicarakan dulu..tidak perlu buru-buru". Papi menepuk bahu Gaara sambil berlalu dari ruang keluarga.
"Tapi lebih cepat lebih baik kamu mengambil keputusan sayang". Mami memeluk anak gadisnya sekilas. Memberi kekuatan serta keyakinan agar anak gadisnya bisa mengambil keputusan yang kelak tidak akan ia sesali.
Kini diruang keluarga hanya tersisa Gaara dan Nala yang sama-sama diam. Gaara yang menatap Nala serta Nala yang hanya menunduk dengan kedua tangan saling me re mas satu sama lain.
Gaara menghela nafas, ia tahu tak mudah berada diposisi Nala. Memberi kesempatan pada laki-laki yang jelas-jelas dulunya menyakiti bahkan menolaknya. Gaara tahu itu pasti sangat sulit.
"Jangan dipaksain, sayang.." Nala mengangkat wajahnya saat Gaara mengelus punggung tangannya. Mata keduanya bertemu dengan tatapan yang sama-sama dalam.
"Abang tahu kamu ragu.." Gaara tersenyum manis berusaha menenangkan Nala.
__ADS_1
"Pernikahan bukan main-main bang.." Cicit Nala membuat Gaara mengangguk dengan senyum yang masih stay diwajah gantengnya.
"Abang tahu..abang nggak akan paksain kamu kalo memang belum yakin. Nggak akan baik, jangan dipaksakan kalau memang tidak yakin". Nala kembali menatap Gaara.
Lelaki didepannya ini sudah banyak berubah dari saat terakhir dirinya bersama dengan laki-laki itu. Sudah tak sedingin bongkahan es, tak segalak singa dan perhatiannya yang kini mampu membuat Nala begitu nyaman dan senang.
"Abang..." Panggil Nala lembut membuat Gaara menoleh.
"Abang kenapa pengen nikahin aku?". Pertanyaan berhasil membuat Gaara terpaku sesaat. Seolah dirinya juga bertanya pda dirinya sendiri mengapa begitu ingin menikahi Nala. Obsesi kah? Atau hanya sebuah pembuktian semata? Atau memang karena cinta.
Gaara tersenyum setelah meyakinkan dirinya sendiri mengapa begitu ingin menikahi gadisnya itu.
"Dua tahun.." Gaara menatap lurus kedepan. Sementara Nala menatapnya dari samping. Masih sama, lelaki itu tetap tampan dari sisi manapun dilihat.
"Dua tahun , abang butuh lebih dari dua tahun buat tahu seperti apa perasaan abang sebenernya ke kamu". Gaara menoleh, menatap Nala hingga keduanya saling menatap.
"Abang kira abang bisa. Abang kira abang akan bahagia saat kamu pergi karena nggak akan aada lagi yang ganggu abang". Gaara menghela nafas panjang mengingat kebodohannya.
Gaara menceritakan bagaimana gila nya dirinya dalam bekerja setelah kepergian Nala. Sedangkan gadisnya itu hanya mendengarkan. Karena bagi Nala, jawaban Gaara kali ini yang akan menentukan apakah ia akan menerima lelaki itu lagi atau tidak.
"Abang sadar udah terlalu banyak nyakitin kamu. Abang cuma berusaha nunjukin ke kamu kalo sekarang abang bener-bener cinta sama kamu. Terlalu sulit buat abang jauh dari kamu apalagi bayangin kamu hidup sama laki-laki selain abang". Gaara menggenggam erat tangan Nala.
"Jadi semua abang kembaliin ke kamu. Meskipun sulit, tapi kalo jauh dari abang bisa bikin kamu bahagia. Abang akan terima.." Nala memejamkan matanya. Mendengar perkataan Gaara barusan membuat jantungnya seolah tertikam benda tajam yang menyakitkan bagi dirinya.
Masih cinta kah dirinya pada Gaara?? Harus kah ia menerima lamaran lelaki itu??
"Satu hari..." Gaara menatap Nala dengan tatapan bingung.
"Kasih aku satu hari bang. Besok aku bakal kasih jawaban ke abang.." Gaara tersenyum dan mengngguk.
...¥¥¥••••¥¥¥...
Wes panjang banget ini aku nulis kayanya😁
Sabar ya, yang mau menghempas pak Haikal harap bersabar...ntar dihempas tapi bentaran lagi ya🤭
Ini sgini dulu aja soalnya tangannya udah tremor😂😂
Happy reading readers tercintaaahh..sarangheo sekebon jagung😘😘
__ADS_1
Jangan lupa tampol like komen sama vote nya yak👍🏻💋💋😘💐