
"Antar kan Nala pulang. Mama harus pulang karna papa bentar lagi pulang". Diandra bangkit dari duduknya setelah memberikan ceramah panjang bagi Gaara dan Nala.
"Mama pulang dulu ya sayang.." Diandra memeluk Nala sesaat sambil mengelus punggung gadis itu.
"Maaf kalau mama memaksa. Tapi mama hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang akan merugikan kamu, nak". Diandra mengelus lembut kepala Nala. Memang Diandra sangat dekat dengan Nala, bahkan sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri.
"Maafin aku juga kalau udah kecewain mama. Tapi aku sama abang bener-bener nggak ngapa-ngapain kok ma", Diandra mengangguk dan tersenyum.
"Mama percaya sama kamu sayang. Tapi mama nggak percaya sama anak ini". Diandra menunjuk wajah Gaara yang terlihat lebam dibeberapa bagian.
"Astaga ma..aku anak mama". Gerutu Gaara. Sejak dulu selalu begini, Diandra akan lebih percaya dan menyayangi Nala jika sedang bertiga. Meski Gaara tahu Diandra juga menyayanginya. Namun kadang ia cemburu dengan perhatian Diandra pada Nala.
"Karna kamu anak mama. Mama tahu persis seperti apa watak dan kelakuan kamu". Cibir Diandra membuat Gaara mendesah pasrah.
"Iya..iya..." Cara terbaik adalah pasrah dan mengalah. Dengan begitu ia akan bebas dari omelan panjang mama nya.
"Langsung minta Gaara anter pulang ya sayang". Nala mengangguk.
"Mama sama siapa??". Tanya Gaara membuat Diandra berpikir sejenak sebelum menjawab. Terlalu asyik mengomel membuatnya lupa jika didepan pintu ada tiga mahkluk hidup yang menunggu diriny.
"Bareng sama kita aja ya ma.." Nala bersuara
"Nggak usah sayang. Mama dianter supir kok". Sahut Diandra cepat.
"Yaudah kita anter ke depan ma". Gaara mengikuti Diandra dan Nala dari belakang.
"Padahal nggak usah dianter juga nggak apa-apa". Diandra meninggikan suaranya, berharap ketiga orang didepan pintu mendengarnya dan segera bersembunyi.
Dan benar saja. Nick yang mendengar ucapan Diandra segera memberitahu Kara dan ketiganya berlari menuju lift.
"Mbak..si bos nganter keluar". Dengan kecepatan penuh, baik Kara maupun Nick dan Baim berlari.
"Yaampun, gini amat mau bikin orang nikah". Gerutu Kara yang bersandar didinding lift dengan nafas tersengal.
Diandra yang baru keluar segera mengedarkan pandangannya. Ia bernafas lega karena ketiga orang yang membuatnya berada ditempat ini sudah mengamankan diri sehingga tidak menimbulkan kecurigaan Gaara dan Nala.
"Mama cari apa?". Tanya Gaara yang melihat mama nya mennengok ke kanan dan kiri.
"Nggak ada. Mama pulang dulu ya". Diandra kembali memeluk Nala dan mencium keningnya. Sementara Gaara mencium punggung tangan sang mama dan memeluknya sekilas.
"Inget ya. Anterin pulang calon mantu mama". Peringat Diandra sebelum berjalan menjauh
"Iya ma..iyaaa". Gaara yang hendak masuk menghentikan langkahnya saat Diandra berbalik.
__ADS_1
"Apa mama??". Tanya Gaara saat melihat Diandra menatapnya.
"Asah lagi kemampuan beladiri kamu. Masa iya satu lawan satu bisa babak belur kaya begitu. Sama Kara juga masih jagoan si santen, payah", Cibir Diandra yang kembali melanjutkan langkahnya tanpa menunggu tanggapan Gaara.
Sementara Nala melipat bibirnya. Menahan tawa yang hampir pecah saat Diandra meledek Gaara.
"Payah.." Gumam Nala dengan senyum tertahan.
"Kamu ketawain abang??". Nala langsung merubah mimik wajahnya.
"Enggak. Siapa yang ketawain abang". Nala menolehkan kepalanya kesembarang arah. Ia takut tak bisa menahan tawanya.
Saat ini keduanya sudah kembali masuk ke apartemen Gaara. Lelaki itu menatap intens Nala, karena ia tahu gadis itu sejak tadi terus tersenyum meledek dirinya yang diremehkan Diandra.
"A-abang mau apa?!". Nala tersentak saat tiba-tiba Gaara menarik pinggangnya hingga tubuh keduanya merapat sempurna.
"Ja-jangan macem-macem ya bang. Aku bilangin mama". Gaara justru tersenyum penuh arti mendengar ancaman Nala.
"Laporin aja..bagus dong. Kita bisa cepet dinikahin". Gaara memainkan alisnya naik turun. Membuat Nala melebarkan matanya tak percaya.
"Lepas bang". Nala terus bergerak, mencoba melepaskan diri dari Gaara.
"Jangan banyak gerak, sayang. Nanti ada yang bangun". Gaara mengedipkan sebelah matanya yang membuat Nala langsung membeku, ia bukan gadis bo doh yang tidak tahu apa yang Gaara maksud. Ia sangat tahu apa yang dimaksudkan Gaara.
"Aaaahhhh...dasar laki-laki ngeselin!!!!". Jerit batin Nala. Ia benar-benar tak berani bergerak bebas. Takut jika benar ada sesuatu yang bangun dan dirinya yang akan kesulitan sendiri nantinya.
Nala semakin melebarkan matanya saat Gaara me ***** habis bibirnya. Ciuman lembut yang membuai, membuat Nala akhirnya pasrah dan menutup matanya.
Nala membuka matanya saat tautan bibir keduanya terlepas. Matanya semakin melebar saat Gaara membawanya kedalam dekapan hangat lelaki itu. Membenamkan wajahnya kedada bidang yang terasa begitu nyaman bagi Nala.
"Abang janji akan bahagiain kamu, La. Mungkin ini cara Allah jawab semua doa abang. Meskipun caranya nggak romantis sama sekali karna dipaksa mama..tapi abang bener-bener cinta sama kamu". Nala mendongakkan kepalanya, tingginya yang hanya sebatas dagu Gaara membuatnya harus mendongak untuk menatap Gaara.
"A-aku..."
"Kamu nggak perlu lakuin apapun. Biar abang yang buktiin kalo semua ini terbaik untuk kita. Abang akan buktiin kalo abang emang cinta sama kamu..abang akan bahagiain kamu". Seolah terhipnotis, Nala tersenyum tipis dan mengangguk.
Nala yang tadi tak membalas pelukan Gaara, kini gadis itu lebih dulu memeluk Gaara dan kembali menyusupkan wajahnya di dada bidang lelaki itu. Menikmati aroma wangi maskulin yang sangat menenangkan baginya.
Gaara semakin melebarkan senyumnya saat merasakan Nala memeluk pinggangnya begitu erat. Dirinya seolah mendapat kekuatan untuk memperjuangkan Nala.
"Abang anter pulang ya.." Gaara melerai pelukannya. Menatap Nala yang mengangguk dengan semburat merah di pipi nya yang semakin membuatnya cantik.
"Cantik banget sih calon istri abang". Gaara menyempatkan diri mencuri sebuah kecupan dari bibir Nala.
__ADS_1
"Abang ganti dulu ya..." Tanpa menunggu jawaban Nala, Gaara bergegas ke kamarnya.
"Manis banget sih sekarang.." Gumam Nala sambil senyum-senyum sendiri di ruang tamu. Ia tak menyangka jika bongkahan es yang dulu ia tinggalkan itu kini sudah mencair.
Sementara di parkiran, Kara dan Baim serta Nick masih mencoba mengatur nafasnya. Saat ini mereka bersembunyi di mobil Baim karena takut Gaara dan Nala mengantar Diandra hingga parkiran.
"Untung mama kasih kode. Kalo engga udah amburadul rencana kita Nick". Ucap Kara yang disambut anggukan kepala oleh Nick.
"Iya mbak. Yang pasti saya bakal dipecat mbak. Mbak Kara sih enak, nggak ada teorinya mecat adik". Kara tergelak mendengar ocehan Nick. Asisten Gaara itu kadang bak mesin pendingin, namun disatu saat seperti saat ini, lelaki itu lumayan cerewet.
"Itu mama.." Kara langsung mengalihkan fokusnya. Dilihatnya sang mama yang berjalan tenang dengan wajah penuh binar kebahagiaan.
"Gimana ma??", Tanya Kara saat Diandra baru masuk ke dalam mobil.
"Mama lama banget ngomelin abang. Hampir aja tadi kita ketiduran". Omel Kara membuat Diandra tersenyum.
"Maaf..maklum namanya juga ibu-ibu sih Ra.." Ucap Diandra membuat Kara mencebik.
"Jadi gimana bu??". Tanya Nick tak sabaran. Menatap Diandra penuh rasa ingin tahu.
Diandra menatap bergantian Nick dan Kara serta Baim. Ia lalu menunjukkan jempolnya pada ketiganya disertai senyum kepuasan.
"Aman!! Kita berhasil!!". Seru Diandra membuat Baim tersenyum lega.
"Yes!!!", Untuk kedua kalinya, Nick dan Kara ber tos. Terlihat jelas jika kedua orang itulah yang paling bahagia mendengar kabar yang di baw Diandra.
"Tinggal gimana abang kamu aja. Bisa dapetin hati calon mertuanya apa engga". Kara mengangguk.
"Saya yakin si bos bisa, bu". Ucap Nick yakin didukung anggukan kepala oleh Baim.
...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...
double up nih..tambahin jangan?? Jangan ah..tremor ntar othornya🤣
Dah tinggal nunggu si abang aja nih. Bisa apa nggak kira-kira bikin calon mertua kasih lampu hijau🙄🤔
Disusahin jangan nih???🤗
Jangan lah. Kasian amat disusahin mulu..takutnya si abang nekat gantung diri lama-lama dipisahin ama kuman😂😂
Jangan lupa ya, tampol like komen sama vote nya👍🏻👍🏻
sarange sekebon readers💋💋💋🥰🥰💐💐
__ADS_1