
Kara segera memanggil ojek pangkalan yang ada tak jauh dari sekolahnya. Tujuannya saat ini adalah apartemen kekasihnya.
Kara sudah menanyakan dimana posisi kekasihnya itu, dan saat ini lelaki tampan itu sedang ada diapartemennya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di apartemen Baim. Segera menekan tombol beberapa angka untuk membuka pintu yang terkunci itu.
"Kakak.." Baim yang sedang sibuk dengan pekerjaannya terkejut mendapati Kara sudah ada didalam apartemennya.
"Sayang..kamu ngapain disini?". Baim segera bangkit dan berjalan mendekati kekasihnya yang langsung menghambur memeluk Baim dengan erat.
"Kamu kenapa ada disini? Ini masih jam sekolah sayang.." Baim membalas pelukan Kara tak kalah erat.
"Sayang.." Baim mencoba mengurai pelukannya karena merasakan tubuh Kara bergetar, namun Kara tetap memeluk Baim dengan sangat erat. Tak mengijinkan Baim melepaskan pelukan barang sedikitpun.
"Aku nggak mau dijodohin kak..aku mau sama kakak". Suara Kara bergetar, menahan sesak didadanya yang terasa menghimpit hingga beenafas pun terasa sangat sulit.
"Sstt..jangan nangis dong sayang". Baim mengelus lembut punggung Kara.
"Kakak akan perjuangin kamu, Ra". Kara melonggarkan belitan tangannya ditubuh Baim. Seolah tak percaya jika Baim akan benar-benar memperjuangkan dirinya.
"Kakak janji..apapun yang terjadi, kakak akan memperjuangkan kamu. Meskipun mama dan papa akan membenci kakak sekalipun". Kara masih menatap mata Baim, mencoba mencari kebohongan dimata yang selalu menatapnya lembut itu. Namun hanya kesungguhan yang terpancar nyata di mata itu.
"Kak..." Lirih Kara membuat Baim tersenyum lembut. Ia tahu betapa meragunya kekasih hatinya itu terhadap kesungguhannya. Namun Baim sudah bertekad, ia akan memperjuangkan Kara meski pada akhirnya akan menerima kebencian dari kedua orang tua yang sangat-sangat ia cintai itu.
"Kalo mama sama papa nggak ijinin?". Tanya Kara membuat Baim kembali tersenyum.
"Kalo mereka nggak ijinin. Kita kabur aja ya kak.." Sebuah ide gila terlintas dibenak Kara. Ia sudah lumayan frustasi dengan kegigihan sang mama yang terus mencoba membuatnya dekat dengan Arkan.
Bukan Arkan tidak baik, namun bagi Kara, Baim adalah segalanya. Seluruh kebahagiaannya terdapat pada sosok tampan itu. Hingga sebaik dan setampan apapun lelaki lain, Kara tak pernah merasa tertarik untuk mengenal lebih.
"Hust..jangan ngaco kamu kalo ngomong". Baim melotot tak percaya, bisa-bisanya Kara berpikir mengajaknya kabur berdua.
"Aku takut kak.." Baim kembali membawa Kara dalam pelukannya. Memberi ketenangan pada gadis yang saat ini sedang kalut itu.
__ADS_1
"Kakak akan perjuangin kamu sebagai seorang laki-laki, Ra. Gimana mungkin kamu minta kakak jadi pengecut dengan bawa lari kamu". Kara semakin terisak, jika sudah menyangkut urusan cinta nya, Kara selalu berubah menjadi gadis cengeng yang selalu mudah menangis.
"Kok jadi cengeng gini sih pacar aku.." Goda Baim membuatnya mendapat sebuah pukulan dari Kara.
"Kamu tenang aja..malam ini kakak akan ngomong sama mama sama papa". Kara langsung melepaskan pelukannya. Menatap Baim tak percaya namun Baim terlihat sangat bersungguh-sungguh.
"Percaya sama kakak. Kamu cuma perlu percaya sayang.."
"Kalaupun hari ini mama dan papa nggak ngerestuin kita, kakak akan terus mencoba sampai hati mama dan papa luluh, sampai akhirnya akan merestui kita dengan kerelaan mereka sendiri".
Baim mematung saat Kara menempelkan benda kenyal itu pada bibirnya. Membiarkan bibir mereka bertemu untuk waktu yang lama dan Baim menikmatinya. Dirinya seolah diberi kekuatan sekaligus ketenangan.
"Aku percaya sama kakak..aku juga akan berjuang buat bantu kakak. Aku akan meyakinkan mama sama papa kalo aku cuma bahagia sama kakak". Kedua insan yang saling mencintai itu saling memberi kekuatan.
Baim sudah menyelesaikan pekerjaan besar. Membuatnya mendapatkan proyek besar untuk pengerjaan sebuah perumahan.
Kali ini tekadnya sudah bulat. Malam ini ia akan menemui kedua orang tua angkatnya dan akan jujur tentang hubungannya dengan Kara. Ia akan berjuang semampu nya malam ini. Meski menyakiti hati banyak orang, namun Baim tidak bisa mundur lagi.
Kara masih diam di apartemen Baim hingga kini waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Bahkan mungkin kini teman-temannya sudah pulang dari sekolah.
Beberapa kali Arkan juga menelpon dan mengirim pesan padanya. Mengatakan padanya bahwa hari ini lelaki itu kembali ke kota tempat tinggalnya bersama sang mama.
Meski merasa bersalah dan merasa tidak enak pada Naya dan Arkan. Namun Kara belum siap jika kembali dipojokkan oleh sang mama.
"Kita pulang sekarang ya.." Kara yang sedang melamun memandangi layar ponselnya tersentak saat Baim menepuk pelan pundaknya.
"Aku takut kak.." Baim terkekeh pelan, gadis bar-bar nya lenyap entah kemana di saat seperti ini. Dan Baim paham jika memang hal ini cukup sulit, apalagi untuk gadis seusia Kara.
Jangankan Kara yang bisa dibilang masih remaja dan labil. Dirinya yang sudah dewasa pun sebenarnya merasa sangat takut dan gugup akan menemui kedua orang tua angkatnya.
"Ada kakak..kamu nggak percaya sama kakak?". Kara langsung menggeleng. Ia pecaya, bahkan sangat percaya dengan semua kesungguhan Baim.
Bukan takut jika Baim akan mundur lagi yang kini ia rasakan. Ia takut jika Baim akan terluka oleh jawaban yang akan kedua orang tuanya katakan nantinya.
__ADS_1
Sungguh hanya itu yang Kara takutkan. Ia bahkan tak takut jika papa dan mama nya akan mengomeli dirinya atau bahkan mungkin memukulnya. Namun Kara tidak akan bisa dan tidak akan sanggup melihat Baim terluka.
"Pegang tangan kakak, dan percaya sama kakak. Semua akan baik-baik aja". Baim menggenggam erat tangan Kara dan menciumnya lembut.
"Kita berangkat sekarang ya.." Kara mengangguk dan membalas senyum manis kekasihnya.
Sepanjang perjalanan, baik Kara maupun Baim sama-sama diam. Membayangkan akan seperti apa reaksi Diandra dan Abi saat tahu hubungan keduanya yang sesungguhnya.
"Apa mama akan menerima? Aku takut kakak terluka". Batin Kara melirik Baim yang fokus mengemudi meski pikiran lelaki itu melayang entah kemana.
"Jangan khawatirin kakak, sayang. Kakak akan baik-baik aja apapun yang dikatakan mama sama papa". Kara terhenyak, tak percaya jika Baim bisa tahu ketakutannya padahal lelaki itu sejak tadi diam dan fokus pada kemudinya.
"Nggak ada yang perlu kamu takutin sayang. Semua akan baik-baik aja.." Baim menggenggam tangan Kara, memberi kekuatan serta keyakinan pada gadis itu. Serta mencari kekuatan dari genggaman tangan itu.
Kara mencoba tenang dan mensugesti dirinya bahwa apa yang dikatakan Baim adalah benar. Tidak akan terjadi apapun dan semua akan baik-baik saja.
Namun keyakinan Kara semakin memudar bersamaan dengan semakin dekatnya mobil yang mereka tumpangi dengan rumah megah milik keluarganya.
Berkali-kali Kara menghela nafas panjang. Mengisi paru-parunya dengan banyak oksigen karena berpikir jika didalam akan kesulitan, bahkan hanya untuk menghela nafas.
"Kita turun.." Kara menatap Baim. Lelaki itu sudah turun dari mobil dan bahkn sudah membukakannya pintu. Mengulurkan tangannya pada Kara yang masih diam ditempat duduknya.
"Ayo.." Kara menerima uluran tangan Baim. Menggenggam erat tangan Baim, sama seperti lelaki itu menggenggam erat tangannya.
"Bismillah.."
Keduanya melangkahnya kaki bersama, dengan tangan saling bertaut. Terus berdoa dan meminta kemudahan pada sang pencipta dan berharap sang mama tidak akan murka dan kecewa.
...---¥¥¥---...
Happy ending kok nanti..tapi nggak tau siapa yang happy ending😂😂
Engga-engga, insyaallah happy ending lah ya..takut dilempar panci aku juga mau bikin sad ending😅😩
__ADS_1
Sabar dulu ya..namanya jugs cinta. Apalagi didunia halu, kudu dibikin berjuang dulu atuh ya..jadi jangan pada ngamuk dulu✌🏻😁