
Hari ini Nala pergi ke kampus, dirinya membawa kendaraan sendiri karena rencananya setelah kelasnya usai, ia akan menyambangi kantor lelaki yang hari kemarin melamarnya dengan sangat tidak romantis sekaligus mengantarkan makanan yang sudah ia masak pagi tadi, dan ia tempatkan diwadah yang bisa menjaga suhu makanan buatannya.
Sampai di kampus, Nala sudah disambut oleh sahabat baiknya. Siapa lagi jika bukan si santen sachet kesayangan semua orang.
"Kumaaaan..." Nala memejamkan matanya sesaat mendengar suara melengking milik sahabat baiknya itu.
"Gila tu bocah suaranya. Jangan-jangan suara gue juga gitu ya?". Gumam Nala yang baru tergikir jika ia dan Kara hanya sebelas duabelas jika soal berteriak.
"Mulut-mulut. Pagi-pagi udah kaya tarzan aja sih, Ra". Omel Nala yang disambut cengiran oleh si santen.
"Kemaren kemana?? Kenapa nggak ngampus? Pergi sama abang ya??", Kara bertanya beruntun tak memberi jeda apalagi kesempatan Nala untuk menjawab.
"Satu-satu Ra..yaampun". Nala menggeleng tak paham. Kenapa bisa ia betah bersahabat dengan gadis sejenis Kara. Mungkin karna ia tidak menyadari jika dirinya mirip-mirip seperti si santen.
"Eh masuk-masuk..." Salah seorang teman Nala dan Kara menghampiri keduanya yang masih mengobrol.
"Buruan. Dosennya udah jalan ke kelas". Seru teman mereka hingga akhirnya Nala dan Kara menunda cerita dan masuk ke kelas.
Sepanjang perjalanan menuju kelas, beberapa mahasiswi membicarakan dosen baru yang katanya masih muda dan kini berstatus duda. Sontak kehadiran dosen muda itu membuat heboh seisi kampus, apalagi dengan status dudanya.
Perasaan Nala mulai tak enak. Mungkinkah yang ia pikirkan benar adanya. Atau hanya ketakutan yang tak beralasan?.
"Pada ngomongin apa sih mereka?". Tanya Kara yang sama tak pahamnya dengan Nala.
Nala hanya mengendikkan bahunya, karena dirinya juga tak tahu apa yang memicu kehebohan teman-teman kampusnya.
Sampai didalam kelas, belum ada dosen pengajar hingga membuat keduanya menghela nafas lega. Tak perlu berurusan dengan dosen atau segala hukumannya.
"Tadi malem abang pulang kerumah.." Nala yang sedang mengeluarkan bukunya menengok pada Kara dengan alis terangkat seolah bertanya 'ada apa?'.
"Nggak tau ngapain. Aku diusir suruh ke kamar. Papa sama mama ngobrolnya juga diruang kerja papa. Ngeselin, pake rahasia-rahasiaan segala". Si bibir mungil itu tak berhenti mengoceh. Sedangkan pikiran Nala melayang pada sosok lelaki yang saat ini mengganggu pikirannya.
Ia tersenyum dalam diamnya tanpa memperdulikan ocehan Kara. Kara yang melihat Nala senyum-senyum sendiri menelengkan kepalanya, lalu kemudian meletakkan punggung tangannya didahi Nala.
"Apasih, Ra". Nala memundurkan wajahnya saat tiba-tiba Kara menyentuh keningnya.
"Masih sehat kan kamu, La??". Dahi Nala berkerut mendengar pertanyaan Kara.
__ADS_1
"Sehat lah! Kalo nggak sehat ya nggak disini, dirumah sakit". Ketus Nala membuat Kara bernafas lega.
"Apaan sih?? Nggak jelas ah.." Nala hendak menyibukkan dirinya kembali dengan bukunya.
"Barusan aku liat kamu mesem-mesem sendiri La. Serem aku liatnya.." Ucap Kara pelan membuat Nala melotot.
Belum sempat Nala membalas ucapan Kara, dosen yang akan mengisi jam pagi mereka sudah masuk. Seorang wanita dengan perut besar yang terlihat kesusahan bahkan hanya untuk sekedar berjalan.
"Selamat pagi semua.."
"Pagi bu.." Sahut para mahasiswa.
Setelah mengabsen para mahasiswa nya, sang dosen menyampaikan pengumuman.
"Saya sudah akan cuti. Dan selama saya cuti, akan ada dosen pengganti". Beberapa mahasiswa mulai berbisik, membicarakan dosen pengganti yang dimaksud.
"Silahkan pak.." Mata Nala membola melihat sosok yang berjalan tenang masuk kedalam kelas. Semua benar-benar tak dapat ia percaya.
"Itu...." Kara tampak berpikir keras, mengingat wajah yang sepertinya pernah ia lihat sebelumnya.
"Ha...itu laki sableng yang ketemu kita di mall kemaren itu kan??". Suara Kara lumayan keras hingga beberapa temannya menatap pada dirinya yang langsung tersenyum kaku.
"Iya sorry..kelepasan". Kara kembali nyengir hingga menampakkan deretan giginya yang putih rapi.
"Tapi bener nggak sih? Itu yang kemaren berantem sama abang kan?". Tanya Kara berbisik. Kedua gadis itu tak mendengarkan lelaki didepan sana memperkenalkan dirinya. Mereka benar-benar masa bodoh dan lebih asyik dengan pembahasan mereka.
"Hm,,," Gumam Nala membenarkan.
"Yang dibelakang. Sudah selesai ngobrolnya?". Kedua gadis itu tersentak saat suara lelaki didepan sana menginterupsi obrolan mereka.
"Saya tidak suka ada yang mengobrol dikelas saya. Silahkan keluar kalau masih ingin mengobrol". Dosen yang tak lain adalah Haikal itu tampak menatap keduanya.
Nala tahu Haikal memang dosen yang tegas dan terkenal galak. Tapi bagus lah jika hari ini dirinya malah diusir keluar, dia tak perlu mengikuti pelajaran lelaki itu.
Nala bangkit dari duduknya hingga membuat Kara menoleh dengan wajah bingung. Matanya melebar saat Nala berjalan tenang menuju pintu.
"Wah gila tu anak..beneran keluar". Gumam Kara menggeleng tak percaya melihat Nala benar-benar keluar dari kelas.
__ADS_1
Sementara Haikal menatap punggung Nala dengan tatapan yang tak bisa Kara artikan. Haikal merasa ngilu didalam hatinya. Rupanya Nala benar-benar membencinya. Bahkan mengikuti kelasnya pun Nala tak mau. Ia lebih memilih keluar tanpa memikirkan nilainya nanti.
Haikal tersenyum pahit. Seolah ingin menyerah namun ia tak ingin melepas Nala. Dirinya sudah melepaskan Nia, ia tak mau lagi kehilangan Nala.
Kara ingin menyusul Nala, namun ia mengurungkan niatnya itu. Bukan karena tak setia kawan, tapi ia masih memikirkan nilainya.
Kara yakin dosen baru itu tidak akan memberikan nilai jelek pada Nala meskipun Nala tak mengikuti kelasnya. Karena melihat sekilas dari cara dosen itu menatap Nala saja, Kara tahu jika dosen yang ia tahu bernama Haikal itu memiliki perasaan lebih pada Nala.
"Nyari mati kalo gue ikut keluar. Nala sih oke, tu dosen demen ama dia. Kalo gue ikut keluar, auto didepak gue". Gumam Kara yang kembali meletakkan tasnya yang sebelumnya sudah ia sampirkan dibahunya.
Kelas dimulai setelah beberapa saat hening akibat keluarnya Nala dari dalam kelas. Teman-temannya berpikir apa alasan Nala begitu berani menentang dosen yang baru pertama mengajar itu.
Sementara Nala, gadis itu berjalan menuju parkiran. Memasuki mobilnya dengan wajah ditekuk. Kesal bukan main saat tahu dosen yang sejak pagi dibicarakan teman-temannya adalah Haikal. Lelaki yang tidak ingin lagi Nala temui, apapun alasannya.
Nala mencari ponselnya yang ada didalam tas. Mencari kontak bertuliskan 'abang♥️' dan langsung menghubunginya.
Nala menunggu beberapa saat namun teleponnya belum juga diangkat oleh Gaara.
"Abang kemana sih". Gerutu Nala yang semakin kesal saja karena Gaara tak kunjung mengangkat teleponnya.
"Abang dimana??!". Belum juga Gaara bersuara, Nala sudah lebih dulu berbicara dengan nada sewot.
"Aku kesana sekarang. Abang jangan pergi-pergi ya". Tanpa mendengar jawaban Gaara, Nala mematikan teleponnya.
Gadis itu memasang sabuk pengamannya dan kemudian menyalakan mesin mobilnya sebelum pergi meninggalkan parkiran kampus dengan segala perasaan kesalnya.
"Apa dia emang udah gila?? Apa dia sengaja pindah kesini? Mau bikin gue menderita lagi apa tu orang". Nala terus mengomel sepanjang perjalanan menuju kantor Gaara.
Ia mengabaikan ponselnya yang terus bergetar dengan sebuah panggilan. Tak hanya telepon, entah ada berapa pesan yang masuk kedalam ponselnya. Namun ia memilih mengabaikannya. Yang ia mau, ia segera sampai dikantor Gaara dan bertemu dengan lelaki itu.
...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...
Sabar dulu...sabaaar..jangan keburu ngamuk🤫🤫
Tapi emang itu laki kaga ada urat malunya. Bisa-bisanya ngintilin Nala. Nggak abis pikir deh😓😓
Bentar lagi ya...bentar lagi tu laki dilempar jauh-jauh deh ama aku. Beneran janji✌🏻✌🏻 Tapi sabar jangan diamuk apalagi disantet online ya✌🏻😁😁
__ADS_1
Happy reading readers tersayangkuuuh😘😘 Lopelope se-se-se gedegedenya deh pokoknya ya😘😘😘😘 sarangheo😘😘😘