
Diandra terkejut saat melihat putranya yang baru saja keluar dari sekolah berlari sambil menangis ke arahnya.
"Sayang..kamu kenapa??". Tanya Diandra khawatir.
Tidak biasanya anak tersayangnya itu menangis didepan banyak orang seperti saat ini.
" Ma..ma.." Gaara menangis sesenggukan didalam pelukan sang ibu.
"Bilang sama mama..kamu kenapa? Siapa yang bikin jagoannya mama kaya gini hm??" Diandra semakin khawatir karena sejak tadi anaknya hanya menangis sambil memeluknya. Dan pelukan itu semakin lama semakin erat dilehernya.
"Abang..bilang sama mama..ada apa?". Diandra memaksa melepas pelukan putranya dan memegang dua lengan kecil itu.
Ia yakin pasti ada sesuatu hingga putranya menangis hingga seperti ini. Sudah pasti ada yang tidak beres.
" Me-meleka bilang.." Suara Gaara terputus-putus karena tangisan yang belum berhenti.
"Mereka siapa sayang?". Telunjuk kecil itu menunjuk segerombolan ibu-ibu yang juga menjemput anak-anak nya disekolah yang sama dengan Gaara.
" Mereka bilang apa?". Diandra sudah merasakan firasat buruk, sudah pasti mulut orang-orang itu membuat hati putranya terluka.
"Abang--abang bukan anak ma-ma". Diandra tersentak mendengar penuturan mulut mungil itu.
" Yang mana sayang? Yang mana yang bilang kalo Gaara bukan anak mama?". Geram Diandra namun Sebisa mungkin ia menekan suaranya.
Diandra kembali memeluk putranya dan mengelus lembut punggung Gaara. Setelah Gaara sedikit tenang, Diandra melepas pelukannya dan menghapus air mata anaknya itu.
Dengan senyum lembut, Diandra meminta anaknya lebih dulu kedalam mobil dan Gaara langsung menurutinya. Setelah memastikan putranya aman didalam mobil Diandra meninggalkan Gaara.
Dengan langkah pasti, Diandra berjalan dengan langkah tegapnya. Wajah cantik yang biasa tersenyum ramah itu kini terlihat bak gunung es yang amat dingin.
Tujuan kaki jenjang itu bukanlah para wanita yang masih saling berbisik sambil sesekali melirik dirinya yang melewati mereka begitu saja.
Sampai didepan ruangan kepala sekolah, Diandra mengetuk pintu dan langsung masuk setelah dipersilahkan oleh pemilik ruangan itu.
Tak lama Diandra didalam, hanya beberapa menit kemudian keluar lagi dan kembali berjalan melewati para wanita yang rupanya masih ada ditempatnya tadi.
"Mama kemana?". Tanya Gaara saat Diandra sudah duduk dibalik kemudinya.
__ADS_1
" Ada urusan sedikit sayang. Langsung pulang?". Tanya Diandra sambil mengelus pucuk kepala Gaara.
"Abang pengen sesuatu?". Tanya Diandra yang sudah hafal dengan semua yang ada pada putranya menyadari jika pasti ada yang Gaara inginkan jika dirinya mengajak pulang namun putranya tak kunjung menjawab.
" Ice cream.." Cicit Gaara membuat Diandra tersenyum lucu.
"Sedikit saja ma..abang janji". Gaara langsung memberikan jari kelingkingnya pada Diandra yang sudah terkekeh.
" Janji?".
"Janji!". Gaara cepat menyambar kelingking Diandra dan menautkannya dengan kelingking kecilnya.
" Oke let's go jagoan mama..kita jajan ice cream kesukaan abang".
"Hollleee..." Seru Gaara girang.
***"""***
Dua orang wanita tengah duduk saling berhadapan, hanya ekspresi wajah keduanya saja yang berbanding terbalik. Jika salah satunya menatap tajam penuh amarah, maka wanita yang satunya lagi hanya menundukkan kepalanya saja tanpa berani menatap lawannya.
Kini kedua wanita yang tak lain adalah Diandra dan wanita yang bernama nyonya Latif itu tengah duduk berhadapan diruangan kepala sekolah.
" Saya..saya minta maaf nyonya Diandra ". Diandra hanya tersenyum miring.
" Mudah sekali anda meminta maaf setelah merusak mental putraku". Sindir Diandra membuat nyonya Latif mengangkat wajahnya.
Dirinya merasa sangat s*al berurusan dengan istri pengusaha ternama kota ini. Dirinya merasa benar-benar bodoh karena tidak tahu jika anak yang selalu ia bicarakan dan ia sebut anak tiri itu adalah anak pengusaha muda ternama dan cucu dari pemilik sekolah dimana anaknya kini belajar.
Sesungguhnya Diandra tidak ingin menggunakan kekuasaan untuk mengancam seseorang. Tapi jika itu semua menyangkut putranya, segala hal akan ia lakukan termasuk menggunakan nama besar sang ayah juga sang suami.
"Saya..saya benar-benar minta maaf. Saya tidak tahu kalau Gaara ada putra tuan Abi dan cucu tuan Herman". Diandra menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang tak dimengerti.
Sedangkan kepala sekolah hanya bisa menjadi pendengar dan menunggu keputusan apa yang akan diambil oleh anak dari pemilik sekolah dan juga pewaris tunggal harta kekayaan papa Herman itu.
" Lalu anda merasa berhak merusak mental anak saya jika dia bukan anak dari pengusaha ternama dan cucu dari pemilik sekolah ini?". Sengit Diandra membuat nyonya Latif menggeleng cepat.
"Wah..benar-benar menyebalkan". Gumam Diandra sedikit keras.
__ADS_1
" Kenapa belakangan ini orang-orang sangat senang mengurusi kehidupan orang yang lain". Cibir Diandra
"Saya bisa menuntut anda meskipun apa yang anda katakan adalah kenyataan sekalipun". Ancam Diandra kemudian. Menghadapi manusia bermulut besar dan suka membicarakan orang lain seenaknya harus dengan cara keras dan penuh ancaman agar mereka jera.
" Jangan nyonya..saya mohon jangan". Nyonya Latif bersimpuh dihadapan Diandra yang langsung menggeser kaki nya.
"Saya akan lakukan apapun, tapi tolong maafkan saya". Mohon nyonya Latif membuat Diandra tersenyum miring.
" Berhenti mengurusi urusan orang lain. Karna saya bukan seorang yang sabar. Ini peringatan pertama dan terakhir!. Tidak akan ada lain kali". Diandra bangkit dan berlalu setelah berpamitan pada kepala sekolah dan wali kelas putranya.
Belum Diandra keluar dari ruangan kepala sekolah, kepalanya tiba-tiba terasa pusing dan sekelilingnya berputar. Ia berpegangan pada apa saja yang bisa ia raih disekitarnya. Namun sesaat kemudian semuanya menjadi gelap.
Diandra hanya mendengar sayup-sayup orang meneriakkan namanya sebelum dunia benar-benar gelap seutuhnya.
Mata yang sudah dua jam terpejam itu mulai bergerak, orang-orang yang sejak tadi panik menunggu dirinya sadar segera mendekat begitu lelaki disampingnya menyerukan nama Diandra.
"Sayang.." Seru Abi lagi saat perlahan mata itu mulai terbuka.
"Mas.." Lirih Diandra menyesuaikan cahaya yang masuk mengenai kornea matanya.
"Aku disini sayang.." Diandra merasakan tangannya digenggam. Ia ingin segera membuka lebar matanya, namun kepalanya terus terasa berputar hingga ia memutuskan memejamkan matanya lagi.
"Pusing mas". Lirih Diandra mencengkeram tangan Abi yang sedang ia genggam.
"Mama..kenapa mama bobo lagi?". Bocah berusia 4tahun itu terlihat sangat khawatir.
" Mama nggak kenapa-kenapa sayang..mama cuma capek, jadi istirahat". Mama Ana menenangkan cucunya yang sudah mulai menangis.
Tak lama pintu ruangan terbuka, menampakkan seseorang dengan sebuah snelli putih diikuti dua orang perawat dibelakangnya.
"Bagaimana bu Diandra? Sudah sadar?". Tanya nya dengan tenang.
" Sudah dok..tapi kenapa istri saya masih pusing?". Tanya Abi cepat. Sementara sang dokter hanya tersenyum saja menjawab kekhawatiran Abi.
"Hal tersebut biasa pada seorang ibu yang sedang hamil muda pak. Jadi tidak perlu terlalu khawatir.." Terang dokter membuat semua orang menghela nafas lega.
"Apa?!! Hamil??!". Tanya semua orang serempak sesaat setelah mereka mencerna penjelasan dokter.
__ADS_1