
Bibir Kara terus melengkung sempurna saat menatap tangannya yang saat ini digenggam begitu erat oleh Baim. Rasanya masih seperti mimpi baginya. Perasaannya terbalas, dan bahkan ternyata lelaki yang dicintainya itu juga sudah menaruh hati pada dirinya sejak lama.
"Nggak capek senyum mulu?". Tanya Baim yang gemas melihat wajah Kara berbinar.
Kara menggeleng cepat. Sepertinya hari ini akan menjadi hari bersejarah dalam hidupnya. Setiap menit dan detiknya akan selalu ia ingat di sepanjang hidupnya.
"Tapi ngomong-ngomong kakak tau dari mana kalo aku di cafe tadi?". Baim terlihat tersenyum tipis.
"Ada deh.." Goda Baim membuat Kara mencebik.
"Tadi kakak nggak sengaja liat postingan Nala". Dahi Kara berkerut mendengar ucapan Baim.
"Postingan apa?". Tanya Kara membuat Baim merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya.
"Kakak langsung telpon Nala buat nanyain kamu kemana sama laki-laki tadi". Kara bisa mendengar jelas ketidaksukaan dari nada suara Baim. Dan itu sukses membuat lengkungan dibibirnya semakin sempurna.
"Terus?". Bahkan kini Kara sudah mengalungkan tangannya dilengan kekar Baim. Senang sekali melihat wajah cemburu Baim.
"Ya menurut kamu? Kakak kesana lah buat nyusulin kamu. Lagian kamu ngapain sih pergi berdua ama laki-laki tadi?". Tanya Baim tiba-tiba ketus membuat Kara terkekeh pelan.
"Namanya kak Bara, kak". Baim mendengus kesal.
"Nggak pengen tau siapa namanya". Aaah, Kara ingin berteriak karena bahagia melihat bagaimana Baim menunjukkan semua perasaannya tanpa ragu seperti saat ini.
"Kan aku ngasih tau aja.." Kara semakin mengeratkan pelukannya dilengan sang kakak. Rasanya benar-benar nyaman, dan aman.
"Jadi ngapain kamu pergi sama dia?". Tanya Baim tak sabar karena Kara tak kunjung menjawab.
"Ouh..kak Bara tuh mau perform di cafe tadi". Baim mengernyitkan dahinya.
"Katanya sih udah izin ama ownernya. Dia mau nembak cewe disana. Dia minta bantuan aku, kak". Lega, rasanya beban yang sejak tadi membebani hatinya musnah mendengar penjelasan Kara tentang siapa lelaki yang bersamanya tadi.
"Kakak sih keburu dateng. Maksa pulang lagi. Kan aku jadi nggak tau gimana kelanjutannya. Diterima apa ngga. Ah aku jadi penasaran kan". Baim terdiam sesaat, namun kemudian ia tersenyum lembut bahkan mendaratkan kecupan lembut dipucuk kepala kekasih kecilnya.
"Iya..maaf ya. Nanti kakak cari tau deh.." Kara mendongak menatap Baim dengan tatapan bingung.
"Cari tau? Gimana caranya?". Tanya Kara namun tak mendapat jawaban dan justru hidung mancungnya dicubit gemas oleh Baim.
"Aku bahagia banget deh kak.." Baim menoleh, mengelus lembut kepala Kara penuh kasih sayang. Kara tak tahu saja jika Baim jauh lebih bahagia saat ini karena berhasil menyatakan perasaannya pada Kara.
__ADS_1
Tak berbeda jauh dengan Kara. Baim pun merasakan kelegaan pada hatinya. Memendam perasaannya selama lebih dari 4tahun bukan masalah baginya. Ia masih bisa mengontrol dirinya untuk bersikap selayaknya seorang kakak pada adiknya.
Namun mendengar pengakuan Kara yang mencintainya. Sungguh Baim dibuat tak berdaya. Pertahanan kokohnya selama empat tahun mulai goyah. Ditambah Kara yang mendiamkannya selama hampir satu bulan membuatnya hampir gila.
"Mau makan?". Kara mengangguk semangat. Mana mungkin ia menyia-nyiakan tawaran makan gratis.
"Gemesin banget sih". Baim mengusak rambut Kara hingga berantakan.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Baim membuat wajah Kara bersemu. Meski Baim sering melakukannya dulu, namun kini terasa berbeda karena status baru mereka.
"Tunggu ya, kakak pesen dulu". Kara mengangguk patuh. Ia menopang wajahnya dengan kedua tangan, menatap penuh cinta pada punggung lelaki yang baru beberapa jam lalu menyatakan cinta padanya.
"Kakak mencintai kamu tulus. Kakak nggak tau kapan tepatnya perasaan ini tumbuh, Ra. Doakan kakak agar bisa menjadi lelaki yang pantas bersanding dengan gadis se istimewa dirimu. Kakak akan berjuang, meski nanti akan banyak duri dan batu terjal dijalan. Kakak akan tetap memperjuangkanmu". Kara kembali tersenyum saat mengingat betapa manisnya Baim mengungkapkan keyakinannya.
"Manis banget siiih". Kara jadi senyum-senyum sendiri mengingat semua perlakuan Baim.
"Kamu kenapa?". Kara terkejut karena Baim sudah kembali duduk disampingnya.
"Gapapa..seneng aja jadi pacar kakak". Senyum Kara menular pada Baim yang ikut bahagia melihat wajah Kara yang kini sudah kembali ceria.
"Kakak juga seneng liat kamu bahagia gini". Keduanya benar-benar sedang dimabuk asamara hingga tak menyadari ada dua orang tengah berjalan ke arah mereka dengan tatapan penuh tanya.
"Eh bener bang. Kirain salah orang". Orang yang tak lain adalah Raffa dan Gaara duduk dihadapan dua orang yang kini terlihat salah tingkah.
"Enak nih kayanya". Raffa mencomot kentang goreng yang ada didepan saudara kembarnya itu.
"Ish!! Beli sendiri sono". Gerutu Kara melihat makanannya diambil Raffa.
"Kaga boleh pelit. Kuburan lo sempit ntar". Kara mendengus kesal.
"Dimana-mana kuburan emang sempit. Mau luas mah beli rumah". Kesal Kara membuat Gaara dan Raffa terbahak, sedangkan Baim hanya menggeleng melihat tingkah Kara dan Raffa yang tak pernah akur dimanapun keduanya berada.
"Kok kakak bisa ama santen?". Panik? Jelas keduanya panik. Bingung bagaimana menjawab pertanyaan Raffa. Ditambah sekarang tatapan Gaara dan Raffa yang memicing menatap curiga keduanya.
"Tadi nggak sengaja ketemu. Makanya gue ajak makan". Jelas Baim didukung Kara dengan anggukan kepala.
"Iya..tadi ketemu didepan". Sahut Kara meyakinkan membuat Gaara dan Raffa mengangguk sambil terus menghajar makanan yang ada dihadapan mereka. Memang dasar saudara tak berakhlak mereka berdua itu.
"Udah baikan lo berdua?". Tanya Gaara dengan mulut penuh mengunyah burger milik Baim.
__ADS_1
"Baikan?". Beo Kara bingung menatap Gaara dan Baim bergantian.
"Katanya lo ngambek ama si Baim". Jelas Gaara melihat kebingungan Kara.
"Oh itu..eehm, iya udah nggak ngambek". Kara menunjukkan senyum kaku yang justru membuat Gaara dan Raffa saling menatap dengan penuh arti.
"Banyak gaya lo pake ngambek segala". Cibir Raffa membuat Kara mendelik.
"Udah nggak usah ribut. Masa dimana-mana ribut terus kalo bareng". Lerai Baim yang sudah melihat Kara siap menyemprot saudara kembarnya. Pun dengan Raffa yang sudah memasang wajah mengejek pada Kara.
"Lo berdua kenapa bisa disini?". Tanya Baim mengalihkan pembicaraan tentang dirinya dan Kara.
"Bukannya tadi lo berdua lagi main game?". Tanya Baim lagi.
"Oh iya. Kita bosen. Makanya keluar nyari angin ya bang". Gaara mengangguk menyetujui.
"Sepi dirumah kaga ada santen yang berisik". Ledek Raffa membuat Kara mendengus kesal.
"Lo dari tadi ngajak ribut mulu ya".
"Gelut aja yuk". Sengit Kara membuat Raffa tergelak melihat kekesalan saudaranya.
"Lo bener-bener ya, Rapa! Makanan gue lo abisin?! Astaga! Sodara kaga ada akhlak lo emang". Kara nampak sangat kesal melihat makanannya sudah habis dimakan oleh Raffa.
"Yaelah, ini juga kakak yang beliin kan. Minta lagi aja ama kakak". Sahut Raffa acuh
"Dasar sarap!!!". Desis Kara namun Raffa justru meledek dan menjulurkan lidahnya.
"Gue seneng kalo lo udah bisa senyum lagi, Ra. Gue seneng kalo lo bahagia. Lo harus selalu bahagia". Batin Raffa tersenyum. Meski hampir tak pernah akur, Raffa selalu menyebut Kara dalam setiap doanya. Mendoakan kebahagiaan untuk saudara kembarnya yang begitu ia sayangi itu.
...\~\~\~€€€\~\~\~...
Oke wis cukup lah ya 4bab loh ini. Beneran khilaf kan aku ampe nulis satu bab lagi. Bener-bener demi temen-temen online nya si santen🙄😌
Dibikin adem dulu sebelum dinaikin roller coaster lagi yak.. kasian kalo langsung naik roller coaster lagi. Napas juga belom😂😅
Dah ah, othor mau tidur dulu. Nyimpen tenaga buat nulis lagi besok. Mudah-mudahan otak othornya kaga keabisan ide buat nulis cerita si santen gurih yak.
Selamat malam pembaca semuaaa. Sampai bertemu lagi besok. Semoga diberikan kesehatan dan keberkahan selalu oleh yang Kuasa..aamiin🤲🏻🤲🏻
__ADS_1