Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
kamu anak mama, selamanya..


__ADS_3

Senyum Diandra surut saat seorang wanita menghampiri dirinya dan Gaara yang masih asyik mengobrol. Perasaan Diandra mulai tidak tenang melihat wajah yang sejak dulu memang enggan ia lihat.


"Hai..Diandra". Sapa wanita itu dengan senyum yang tak Diandra mengerti apa maksudnya.


" Waaah..ini Gaara ya? Anak kak Dea kan?". Diandra sudah mengepalkan tangannya yang bebas. Sementara sebelah tangannya ia gunakan untuk mendekap Gaara.


"Monika". Desis Diandra seolah memperingati Monika untuk menjaga lisannya didepan Gaara.


" Hallo Gaara.." Seolah tuli, Monika justru menyapa Gaara dengan melambaikan tangannya.


"Hallo.." Balas Gaara sekenanya. Anak itu memang dingin pada orang asing. Wajahnya akan sedingin gunung es pada orang yang tidak ia kenal. Persis seperti Abi, ayahnya.


"Wah..mau nonton ya". Monika bahkan duduk disamping Gaara yang langsung merapatkan tubuh pada sang mama.


" Nonton sama siapa nih Gaara". Diandra ingin menjambak rambut perempuan jadi-jadian didepannya ini.


Gaara tidak menjawab dan justru menatap Diandra dan beralih ke atas pangkuan Diandra.


"Mama.." Lirih Gaara yang terlihat tidak nyaman dengan wanita disampingnya itu.


"Tante nggak galak kok..kenalin nama tante, tante Monika". Monika mengulurkan tangannya dan diterima oleh Gaara meski ragu. Diandra dan Abi mendidik Gaara menjadi anak yang sopan. Meski tak menyukainya, Gaara tetap sopan dan menerima uluran tangan Monika.


" Iih..pinter banget sih". Puji Monika.


"Tante itu temennya mama kandung Gaara, mama Dea". Diandra mengangkat tubuh Gaara dan menggendongnya.


" Cukup ya Mon!!! Jangan ganggu anak aku!!". Peringat Diandra.


"Dia kan cuma anak tiri kamu, Di". Diandra benar-benar ingin mencabik bibir tajam Monika saat ini.


" Tutup mulut kamu!!". Sentak Diandra namun Monika justru tersenyum penuh makna.


"Anak tiri apa mama??". Tanya Gaara. Diandra memang belum memberitahu perihal status Gaara. Memberi penjelasan pada anak seusia Gaara tidak lah mudah. Butuh proses yang tidak sebentar. Dan sekarang, Monika seolah ingin menghancurkan segala jerih payah Diandra yang secara perlahan memberi penjelasan pada putranya.


" Loh..Gaara nggak tahu ya kalo Gaara bukan--"

__ADS_1


"Bukan apa-apa sayang". Potong Diandra cepat dan menatap tajam Monika.


" Aku harap kamu tahu batasan kamu ya Mon!". Diandra menekankan setiap kata-katanya.


"Aku cuma kasih tau apa kebenarannya kok". Ucap Monika santai.


" Mama.." Suara Gaara membuat Diandra sadar jika saat ini dirinya harus menahan emosinya.


"Abang anak mama sayang..sampai kapanpun". Diandra menatap lembut putranya dan mengecup kening Gaara.


" Iya..anak tiri aja sih tetep". Monika tampak santai saat mengucapkannya. Tak tahukah Monika jika saat ini Diandra takut Gaara akan semakin penasaran.


"Gaara kan nggak dilahirin sama mama Diandra. Jadi---". Belum sempat Monika menyelesaikan semua ucapannya. Tubuhnya sudah terdorong kesamping karena seseorang.


" Mas.." Lirih Diandra menatap sendu Abi.


"Abang, ternyata film yang bagus hari ini udah abis tiketnya. Kita pindah yuk, kayanya di mall yang lain masih ada tiketnya deh.." Tentu saja Abi berbohong. Saat ini yang terpenting menjauhkan putranya dari orang seperti Monika.


"Yaaah.." De sah Gaara kecewa.


"Abang mau pindah??". Tanya Diandra sambil melirik Monika yang masih menatap mereka. Dari matanya, Diandra bisa melihat jika wanita itu tetap menatap penuh cinta pada suaminya.


"Abang sama papa sebentar ya sayang..mama ke toilet dulu". Gaara mengangguk patuh. Sementara Diandra memberi kode suaminya untuk membawa putra mereka menjauh dari sana.


Diandra menatap dua lelaki tercintanya menjauh dan beralih menatap Monika yang masih berdiri ditempatnya. Rupanya wanita gila itu juga menatap kepergian Abi dan Gaara.


" Ini peringatan pertamaku. Dan aku harap tidak akan ada peringatan selanjutnya!". Diandra sudah berdiri didepan Monika dengan tatapan tajam.


"Jangan ganggu keluargaku, apalagi merusak mental anakku!". Monika mendecih meremehkan.


" Hanya anak tiri! Tidak usah berlaku seperti kau benar-benar ibunya, Di. Menyedihkan". Diandra mengetatkan rahangnya mendengar ucapan Monika.


"Dia anakku! Siapapun yang melahirkannya, dia tetap anakku sampai kapanpun". Diandra mencoba mengontrol emosinya. Ia takut lepas kontrol dan menghajar Monika.


" Urus saja hidupmu dan jangan ganggu kami. Atau aku akam membuat kamu menyesali semua". Desis Diandra memberi peringatan keras pada Monika.

__ADS_1


"Apa yang akan ku sesali memangnya? Aku akan menyesal kalau biarin kamu bahagia". Diandra yang sudah hendak melangkah kembali berbalik. Menatap Monika dengan sesungging senyum sinis.


" Jangan sampai kemesraanmu dengan semua rekan bisnis papa mu tersebar ke publik, Mon. Aku masih baik". Mata Monika membeliak.


"A-apa maksudmu. Jangan sembarangan". Ucap Monika terbata. Bagaimana bisa? Selama ini dirinya selalu bermain rapi.


Diandra berjalan mendekat dan membisikkan kata yang semakin membuat Monika terbelalak kaget.


" Akan jadi apa kamu kalau semua video indah itu aku kirimkan pada istri-istri mereka? Aku rasa kamu akan dibunuh ramai-ramai". Diandra mundur selangkah dan tersenyum puas melihat wajah pucat Monika.


"Berbuat baiklah padaku dan keluargaku. Jangan usik kami terutama putraku. Karna kamu tahu, aku bukan seorang penyabar". Diandra berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Monika yang masih terkejut dengan apa yang Diandra ketahui tentang dirinya.


" Ngg-nggak mungkin. Dia pasti cuma ngegertak aja kan?". Gumam Monika sambil menggeleng.


Sementara Monika masih mematung ditempatnya tadi. Diandra sudah menyusul dua lelakinya dan kini tengah dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan yang lain.


"Mama.." Gaara yang ada dipangkuan Diandra mendongak, menatap mata ibunya yang selalu menatap dirinya begitu teduh.


"Apa sayang?". Tanya Diandra begitu lembut sambil mengelus pipi gembul putranya.


" Siapa tante tadi?". Tanya Gaara membuat kedua orang tuanya saling lirik.


"Kenapa bilang abang anak tili?". Gaara memang belum terlalu mahir mengucap kata, ia masih sedikit cadel.


" Memang apa anak tili?". Diandra menghela nafas panjang. Ketakutannya terjadi. Usia Gaara adalah usia dimana ia ingin tahu segala hal yang didengarnya. Apalagi Gaara termasuk dalam jajaran anak cerdas yang akan terus bertanya jika merasa belum puas dengan jawaban yang ia dapat.


"Disekolah juga, Aldo bilang kalo abang bukan anak mama". Saat ini Gaara menunduk.


Diandra terhenyak, siapa yang berani menghancurkan hati putranya? Mengapa setega itu?.


Diandra mengangkat wajah putranya yang terlihat sendu. Betapa tak tega nya dirinya.


" Abang percaya sama mereka?". Tanya Diandra namun Gaara diam tak menjawab, namun sedetik kemudian kepala kecil itu mengangguk penuh semangat.


"Abang tau mama sayang abang?". Gaara kembali mengangguk. Menatap netra legam sang mama yang selalu memancarkan kasih sayang tulus yang menenangkan dirinya.

__ADS_1


" Kalo gitu..jangan dengerin omongan orang yang bilang kalo abang bukan anak mama.." Diandra mengelus pipi gembul putranya dan mencubit nya pelan.


"Karna sampai kapanpun..kamu itu anak mama..selamanya". Tukas Diandra membuat Gaara kembali memeluknya. Dalam hati, ia mengutuk siapa saja yang membuat putranya berpikir jika ia bukan ibu dari Gaara.


__ADS_2