Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
dilema


__ADS_3

Kondisi perusahaan sudah kembali stabil setelah sempat oleng karena ulah orang dalam. Diandra pun kembali sibuk dengan kesehariannya mengurus Gaara.


"Kamu mau ke makam lagi Di?". Tanya mama Dita yang melihat Diandra sudah rapi dengan kerudung hitam yang tersampir dikepalanya.


" Hm.." Diandra hanya berdehem menanggapinya.


Ini adalah rutinitas wajib bagi Diandra setiap hari kamis. Ia akan ke makam kakaknya bersama Gaara. Diandra tidak ingin Gaara lupa tentang siapa yang melahirkannya kedunia ini.


"Gaara ikut??". Tanya mama Dita lagi dan dijawab anggukan kepala oleh Diandra.


" Diluar sangat panas..kamu yakin mau membawa Gaara??". Diandra melirik keluar jendela. Cuaca hari ini memang terik, padahal jam sudah menunjukkan angka 3.


"Kalau hari ini Gaara sama mama dirumah aja gimana?". Mama Dita menawarkan diri. Biasanya mama Ana akan membantunya meyakinkan Diandra. Namun sudah hampir satu minggu ini mama Ana menemani papa Ihsan pergi ke luar kota untuk urusan bisnis.


" Iya nak..kasian anakmu kalau panas-panasan. Bisa-bisa dia sakit". Papa Herman yang baru datang membantu istrinya meyakinkan putrinya itu.


Apa yang dikatakan kedua orang tuanya memang benar. Akan sangat egois jika ia memaksakan diri dengan membawa Gaara. Biar lah hari ini putranya itu berdiam diri dirumah bersama oma dan opanya. Ia akan ke makam sang kakak seorang diri.


"Titip Gaara, ma.." Mama Dita mengangguk senang.


Dengan langkah ringan ia melangkahkan kakinya mwnuju pemakaman yang hanya berjarak beberapa 5menit dari rumah jika Diandra berjalan kaki seperti saat ini.


Namun langkahnya terhenti saat dirinya sudah tinggal beberapa langkah sampai ke makam sang kakak. Ia melihat lelaki yang amat ia kenal sedang khusu berdoa dipusara makam kakaknya.


Ya, lelaki itu adalah Abi. Orang yang sudah menjadi suaminya selama beberapa bulan ini.


"Apa kamu sekarang sudah tenang disana??". Diandra mengurungkan niatnya untuk mengunjungi makam kakaknya. Ia ingin mendengar apa yang dibiarakan Abi dimakam kakaknya.


" Ah..pasti kamu sudah tenang dan bahagia". Meski tak melihat wajahnya, namun Diandra bisa membayangkan bagaimana wajah lelaki tampan itu saat mengatakan hal itu.


"Adikmu tidak adil, De..." Diandra semakin menajamkan pendengarannya saat Abi menyinggung tentang dirinya. Tidak adil?? Bagian mana Diandra tidak adil??


"Dia memaafkanmu.." Diandra bisa mendengar jelas suaminya itu menghela nafas berkali-kali. Seolah ada beban berat yang menghimpit dadanya dan menyulitkannya berbicara.

__ADS_1


"Dia bahkan sangat menyayangi putra kita.."


"Tapi kenapa dia tidak memberikan kesempatan padaku.." Dari suaranya terdengar seperti orang yang putus asa.


"Bahkan untuk sekedar menjelaskan kejadian yang sebenarnya saja dia tidak memberi aku kesempatan, De.." Diandra semakin terdiam. Selama ini dirinya memang selalu menghindar saat semua orang berusaha membuka kembali kisah Deanita kakaknya dan Abi, yang saat itu masih berstatus kekasihnya.


"Apa aku juga harus menyusulmu agar aku juga mendapatkan maafnya?". Diandra terkesiap, seolah ada benda tajam yang menggores hatinya mendengar ucapan Abi.


" Aku tahu kesalahanku bahkan mungkin tidak pantas dimaafkan..tapi apakah aku tidak bisa menjelaskannya De??". Abi terus berbicara tanpa tahu jika Diandra terus menyimak semua yang terucap dari bibirnya.


"Setidaknya dia tahu alasan apa yang membuatku menikahimu.."


"Ini salahku, De.."


"Seandainya saat itu aku berani berkata jujur padanya, mungkin semua tidak akan seperti ini. Aku terlalu takut pada kebenciannya..tapi sekarang..." Lagi dan lagi, Abi menghela nafasnya panjang.


"Bahkan kebenciannya padaku semakin besar..mungkin jika tidak ada Gaara, aku sudah menyusulmu agar dia juga memberikan maafnya padaku.." Diandra memilih pergi, tak bisa lagi mendengar Abi yang seperti sedang mengakui segala dosanya.


Sepanjang jalan pulang, Diandra terus berpikir. Haruskah sekarang dirinya mulai mencari tahu tentang alasan yang membuat semua orang menghianati kepercayaannya?? Atau harus tetap seperti sekarang saja. Dirinya masih terlalu takut jika nantinya alasannya sama menyakitkannya seperti kenyataannya saat ini.


" Hah?". Diandra tergagap.


"Oh..gapapa. Aku masuk dulu mau bebersih.." Diandra berlalu, meninggalkan kedua orang tuanya yang terlihat bingung.


"Kenapa Diandra pa??". Tanya mama Dita yang dijawab gelengan kepala oleh suaminya.


" Tumben cepet pulangnya..belum juga setengah jam kan??". Mama Dita tahu persis seperti apa kebiasaan Diandra beberapa bulan ini. Gadis itu akan menghabiskan waktu paling cepat satu jam dimakam kakaknya.


"Kan papa sama mama..ya mana papa tahu kenapa udah pulang". Mama Herman kembali sibuk bermain dengan cucunya yang semakin hari semakin terlihat menggemaskan.


Tak lama setelah Diandra pulang, mobil Abi juga memasuki pekarangan rumah. Abi memang tinggal dirumah mertuanya setelah menikah dengan Dea. Dan kini saat menikahi Diandra, Abi tetap tinggal disana. Kedua orang tuanya pun tak mempermasalahkan tentang dimana keduanya tinggal. Karena memang jarak rumah keduanya hanya beberapa meter saja.


" Assalamualaikum.. "

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam..." Balas mama dan papa serempak, Abi tersenyum melihat putranya. Ia menyalami kedua mertuanya. Namun ia mengerutkan keningnya saat tak melihat Diandra. Biasanya jika Diandra mendengar deru mobilnya, gadis itu akan keluar dan menyambutnya meski dengan wajah masam.


"Tumben udah pulang, Bi". Tanya papa Herman yang merasa heran karena menantunya sudah pulang saat jam masih sore.


" Oh..iya pa. Tadi ke makam Dea dulu. Udah lama nggak kesana.." Kedua mertuanya saling pandang.


"Kenapa pulangnya nggak bareng Diandra?". Kini ganti Abi yang terlihat bingung mendengar pertanyaan ibu mertuanya.


" Bareng kemana ma?". Abi balik bertanya.


"Ya bareng pulang ke rumahnya lah..barusan Diandra juga ke makam.." Dari raut wajah Abi terlihat jelas kebingungan.


"Tapi aku nggak ketemu Diandra, ma.." Mungkinkah Diandra pulang cepat karena ada Abi dimakam Dea? Mama dan papa tampak berpikir.


"Ah yasudahlah..ayo kita masuk saja". Mama Dita berusaha mengalihkan Pembicaraan. Ia membawa cucunya masuk kedalam rumah diikuti suaminya.


Sementara Abi masih mematung diteras rumah. Apa benar Diandra ke makam?? Tapi kenapa dia tidak bertemu dengan Diandra?


" Apa kamu kembali karena aku di makam Dea.." Lirih Abi yang merasa dada nya semakin sakit. Sebegitu tidak sudinya kah istrinya itu berada satu tempat dengannya. Hingga di makam pun Diandra menghindari dirinya.


Didalam kamar Diandra tengah merebahkan tubuhnya setelah membersihkan diri. Memorinya kembali memutar semua ucapan Abi saat di pusara makam kakaknya beberapa waktu tadi.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?"


"Alasan apa yang membuat kalian tega menghianati kepercayaanku?". Tanya Diandra yang seperti bertanya pada dirinya sendiri.


" Apa aku harus mencari tahu alasan kalian?".


"Tapi bagaimana jika semua lebih menyakitkan saat aku tahu alasan kalian sampai tega menghancurkan hatiku seperti ini.." Diandra terus berperang dengan pikirannya.


Ia berada dalam dilema, ingin mengetahui apa alasan mereka menyakitinya namun takut jika akan semakin menambah luka hatinya yang masih belum kering itu jika mengetahui alasan dibalik penghianatan orang-orang terkasihnya itu.


Suara ponselnya mengalihkan semua resahnya, nama sang sahabat yang terpampang membuat senyumnya merekah indah.

__ADS_1


Ia segera menggeser layar ponselnya dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Assalamualaikum Nay.."


__ADS_2