
"Tapi b*jingan itu yang aku cintai Ca". Diandra menyematkan sebuah senyum getir. Mengingat betapa bodohnya ia masih mencintai laki-laki yang jelas menorehkan luka dihatinya.
" Dia nggak pantes kamu cintai, Di. Kamu terlalu berharga". Panca mengeratkan genggaman tangannya pada Diandra. Mungkin saja jika dulu Diandra lebih dulu mengenal Panca, Diandra akan jatuh hati pada lelaki baik hati dan tulus sepertinya. Namun takdir tetaplah milik sang kuasa.
"Ya..aku memang sangat berharga kan?". Kelakar Diandra.
" Kau tahu..b*jingan itu yang membuatku sakit. Tapi aku mencintainya, Ca". Panca menggeleng pelan. Tak terima dengan ungkapan cinta Diandra untuk pria yang menurutnya tak pantas untuk gadis seistimewa Diandra.
"Aku sangat bodoh kan?". Tanya Diandra dan Panca kembali menggeleng kuat. Ia tidak menerima jika Diandra mengatakan dirinya bodoh meski kenyataan sekalipun.
"Aku tahu kamu tulus Ca.." Diandra berhenti sejenak tanpa mengalihkan pandangannya dari Panca yang juga menatapnya. Ia tidak sedikitpun meragukan perasaan tulus Panca untuknya. Namun kembali pada takdir, semua sudah digariskan dengan jalan hidup nya masing-masing.
"Percayalah..aku bahagia". Diandra tersenyum dan dapat melihat kekecewaan dari sorot mata Panca.
" Dan percayalah pada Tuhan Ca..kamu akan bahagia. Tapi bukan aku".
"Tapi aku mencintai kamu, Di". Potong Panca cepat hingga membuat Diandra menggeleng.
" Kamu mengagumiku?". Tanya Diandra dan Panca mengangguk cepat.
"Kamu menyayangiku?". Kembali Panca mengangguk.
" Kenapa menanyakan hal itu? Kamu meragukanku?". Kini Diandra yang menggeleng mendengar pertanyaan Panca.
"Lalu?". Tanya Panca tak sabar.
" Kamu tahu..rasa terimakasih dan rasa cinta itu sulit dibedakan". Diandra dapat melihat kerutan dikening Panca.
"Kamu tahu kenapa kamu menyayangi dan mengagumiku?".
" Karena aku mencintaimu, Di". Jawab Panca cepat namun Diandra kembali menggeleng.
"Kenapa?". Tanya Panca tak terima.
" Apa alasanmu sesukses ini?". Tanya Diandra
"Karna semua ucapan mu dulu. Kamu yang memberikan aku semangat Di". Diandra tersenyum lebar.
" Kamu tahu, kamu sangat merasa berterimakasih sama aku, sampai kamu menganggap itu sebuah perasaan cinta. Coba tanya sama hati kamu, Ca". Panca terdiam, ia masih tak menerima jika perasaan nya hanya sekedar rasa terimakasih atas semua yang Diandra lakukan.
"Tapi aku benar-benar mencintaimu". Panca tetap kukuh pada pendiriannya.
" Kenapa kamu benci suamiku?". Tanya Diandra lagi
"Jelas!! Karena dia menghianatimu Di. Dia membuat kamu terluka". Jawab Panca cepat
" Jika dia membahagiakan aku?". Panca diam karena mulai bingung dengan perasaannya sendiri yang tiba-tiba meragu hanya karena beberapa pertanyaan Diandra.
__ADS_1
"See? Kamu bingung kan". Diandra tersenyum dan balik menggenggam kedua tangan Panca.
" Bisakah masih mencintaiku?". Panca langsung menatap Diandra yang terlihat tengah tersenyum padanya.
"Apa maksudmu Di?".
" Cintai aku, Ca. Cintai dan sayangi aku sebagai adikmu.."
"Aku kehilangan kakak. Bisa kah sekarang kamu jadi kakak untukku?". Tanya Diandra
" Aku tahu kamu hanya ingin aku bahagia kan?". Panca reflek mengangguk.
"Aku bahagia dengan suamiku, terlepas dari dia penghianat atau b*jingan sekalipun".
Lama Panca terdiam, ia seolah tengah berperang dengan hatinya. Memikirkan kembali semua ucapan Diandra yang sejujurnya memang. benar sepenuhnya.
Ia kembali menatap Diandra yang masih senantiasa menatap penuh harap padanya. Ia kemudian melepaskan genggaman tangannya dengan Diandra.
" Teman?". Panca mengepalkan tangannya membentuk tinju dan menyodorkan didepan Diandra yang langsung tersenyum sumringah.
"Teman!". Seru Diandra girang. Keduanya berdiri dan Diandra merentangkan tangannya, meminta pelukan pada teman yang kini merangkap sebagai kakak abal-abal itu.
Keduanya berpelukan layaknya seorang teman. Meski Panca masih ragu dengan perasaannya, namun ia menerima dengan ikhlas semua keputusan Diandra jika itu membuat gadis itu bahagia.
Sejak saat itu, keduanya memutuskan kembali bersahabat dan terus saling berkomunikasi. Hingga saat malam itu Abi mabuk-mabukan, Panca yang juga sedang ada disana mengirimkan foto dan video saat Abi terus menenggak minuman haramnya.
oke flashback end..
" Makasih Ca". Gumam Diandra
Abi keluar dari ruangan tempat dirinya menyimpan pakaiannya dan mendapati istrinya tengah duduk termenung dengan sesungging senyum menghiasi bibir tipis yang menjadi candunya itu.
Bahkan sampai Abi sampai didepannya, Diandra masih belum menyadari kehadirannya.
tuk..
Abi mengetuk pelan kening istrinya setelah beberapa kali memanggil namanya namun Diandra masih asyik dengan lamunannya.
"Ish.." Desis Diandra mengelus keningnya.
"Kamu mikirin apa hm??". Abi mencubit gemas hidung mancung Diandra.
" Mikirin apa?". Diandra justru balik bertanya.
"Hish..gemes". Abi mengusak gemas rambut setengah basah istrinya.
" Nih ganti baju dulu, nanti masuk angin kelamaan nggak pake baju". Goda Abi membuat Diandra merengut kesal.
__ADS_1
"Emang ulah siapa". Sungut Diandra
" Mau dibantu sayang??". Tanya Abi penuh maksud.
"Nggak!". Jawab Diandra galak sambil berlalu masuk kedalam kamar mandi dengan jalannya yang masih pelan.
Abi tergelak melihat aksi galak istrinya. Istrinya itu terlihat semakin cantik dan menggemaskan saat sedang merajuk.
" Makasih sayang". Gumam Abi menatap penuh cinta pintu kamar mandi.
( Bukan kamar mandinya ya yang ditatap penuh cinta, maksudnye orang yang didalemnya hahaha )
Sementara dua insan yang kembali memadu kasih itu tengah menikmati masa-masa indah yang sempat hilang, diperusahaan yang Abi pimpin tengah terjadi kericuhan akibat ulah dua orang dengan kasta tertinggi disebuah rumah tangga itu.
"Terus Abi dimana Vin?". Tanya mama Ana tak sabar.
" Iya, mantu saya kemana sih? Masa kerumah nggak pulang, dicari disini juga nggak ketemu". Mama Dita menimpali.
Alvin yang dikepung oleh dua nyonya besar itu hanya bisa mende sah pasrah dengan posisinya yang berstatus sebagai orang paling dekat dengan bos nya.
Alvin menghela nafas panjang dan mulai menceritakan tentang Abi yang semalam kembali mabuk-mabukan, hingga dirinya berkali-kali dipukul oleh ibu dan mertua bosnya itu.
Namun pukulan itu langsung terhenti seketika saat Alvin sampai pada saat Diandra datang dan membawa Abi pulang ke apartemennya.
Kedua nenek muda itu memekik kegirangan dan tanpa ragu membayangkan sedang apa dua insan itu didepan Alvin yang notabene nya masih jomblo.
"Ya Allah, ni mak emak dua kaga ada perasaan banget ama gue. Pada lupa apa gue masih suci, main ngomongin segala gaya dikasur dibahas". Desah Alvin membuat Tiara yang sejak tadi mendengarkan dirinya disidang mama Ana dan mama Dita terkikik.
" Kita pulang mbak.." Ajak mama Dita yang langsung disetujui mama Ana.
"Kita adain sukuran , Ta". Usul mama Ana yang membuat mama Dita mengangguk.
" Bentar mbak, wa Diandra dulu biar nggak usah buru-buru. Takut kepikiran Gaara". Mama Dita berhenti dan mengodoj tasnya untuk mengambil ponsel.
Setelah menemukannya, ia membuka aplikasi berwarna hijau dengan gambar sebuah gagang telepon itu. Ia kemudian mencari kontak putrinya. Setelah mendapatkannya, ia langsung memfoto cucunya yang terlelap didalam strollernya.
"Nggak usah buru-buru pulang, nak. Gaara aman kok". Sebaris tulisan itu sudah centang dua, menandakan sudah terkirim.
Kedua nenek muda itu kembali terkikik, kebahagiaan tidak dapat keduanya tutupi mendengar kabar Diandra menjemput Abi. Meski keduanya belum yakin jika keduanya sudah melakukan hubungan sejauh yang keduanya inginkan, namun keduanya berharap jika putra putrinya itu kembali menemukan kebahagiaan nya.
Mereka sudah terlalu lama menderita dan terlalu lama memeluk perasaan sakitnya dalam diam. Keduanya hanya bisa mendoakan kebahagiaan Abi dan Diandra.
****-------****
**Double up dimalam yang sudah larut ini..semoga sukaaa
jangan lupa dukungannya yaaa**..
__ADS_1